ASIAN YOUTH DAY 2017

Keuskupan Malang pada hari Sabtu tanggal 29 Juli 2017 kedatangan tamu-tamu dari macanegara mereka  berdatangan dalam acara Day in the Diocese (DID) menghadapi hidup bersama keluarga-keluarga Katolik di Keuskupan Malang.

bersama merajut tali persaudaraan dan persatuan OMK (Orang Muda Katolik)di ASIA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keuskupan Malang ikut terlibat aktif dalam mendukung acara besar ini, Mgr Henricus Pidyarto juga berpesan agar orang-orang muda ini bisa bertumbuh bersama dan ikut mewartakan injil dan kerajaan Alllah dengan aneka kegiatan nuansa orang muda. setelah semua acara dimalang dilalui semua peserta bersama-sama berangkat menuju YOGYAKARTA dalam acara besar sampai tanggal 6 Agustus. Kegiatan ini sangat didukung oleh pemerintah Daerah maupun pusat. Menteri Agama  Bapak Lukman Hakim juga merasakan bahwa Lewat AYD 2017 ini,  beliau juga dapat menangkap dan ikut merasakan kegembiraan yang ditunjukkan kaum muda Katolik dalam kegiatan AYD yang bisa mempromosikan budaya solidaritas di kalangan orang muda Katolik ASIA. Kehadiran peserta AYD menunjukkan komitmen solidaritas untuk membangun hidup bersama kemajemukan budaya RAS, negara dan agama. Semangat ini selaras dengan tema yang diusung yakni ‘Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia’, mewartakan kabar suci kabar sukacita di wilayah ASIA yang memiliki kemajemukan sebagai rahmat dari Tuhan.

“Satu tetapi sekaligus majemuk dan beraneka. Dalam fenomena yang unik itulah kita lahir tumbuh dan saling hidup bersama dengan sesama kita yang mungkin berbeda latar belakang asal-usul maupun kepercayaan, Kenyataan ini membuat kesadaran kita terbangun bahwa kita tidak punya pilihan lain kecuali menerima kehadiran sesama dengan segala keutuhan latar belakangnya menghormati pribadi dan kepercayaannya sehingga tidak ada lagi tempat bagi prasangka rasial atau agama. Penghayatan kita adalah bahwa sesama manusia merupakan saudara. Bahkan saya ingin menegaskan bahwa sesama kita hakikatnya adalah satu keluarga. Inilah yang seharusnya menjadi Ruh dalam persahabatan dengan siapa saja sehingga kita pun aktif menggaungkan kabar sukacita dan pesan solidaritas kepada sesama baik di dalam lingkungan terkecil di sekitar kita maupun di tingkat regional seperti yang kita semua tengah kita lakukan saat ini,” ungkap Lukman Hakim.

Menurut Menteri Agama, situasi kehidupan ASIA memiliki kesamaan dengan masyarakat Indonesia yang selama berabad-abad telah terbiasa hidup berdampingan dengan saudara sebangsanya yang berbeda suku budaya maupun agama. Sebagai bangsa yang menempatkan Pancasila sebagai dasar negara, masyarakat Indonesia selalu berupaya merawat dan memelihara kerukunan yang teraktualisasi ke dalam berbagai bentuk misalnya menghormati hari-hari besar agama lain, menjamin kebebasan beribadah, tidak terprovokasi untuk diadu domba dengan umat lain, serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Kebiasaan-kebiasaan baik ini adalah warisan atau peninggalan para leluhur dan para pendiri bangsa ini untuk meniscayakan kerukunan bahkan jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka.”

Indonesia, lanjut Lukman Hakim memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang tersemat di kaki burung Garuda memberikan bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang memberi tempat istimewa untuk tumbuh dan berkembangnya berbagai suku, budaya, adat-istiadat, bahasa, dan agama.

PROFISIAT BUAT OMK Se Indonesia khususnya OMK Keuskupan Malang dalam Komisi Kepemudaan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *