Bapak Uskup Henricus Pidyarto Gunawan,O.Carm USKUP TERPILIH UNTUK KEUSKUPAN MALANG

Tahbisan Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm

SEJAK matahari belum keluar dari peraduannya,  Stadion Gajayana yang konon merupakan stadion tertua di Indonesia karena dibangun pada tahun 1924 telah disesaki oleh  begitu banyak orang.  Mereka adalah umat Katolik yang datang dari berbagai daerah yang tercakup dalam paroki-paroki se-Keuskupan Malang. Mereka datang dari  Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Madura dan Malang Raya.

Bahkan umat dari Regio Malang Timur sudah berangkat sejak dini hari dan harus transit ke beberapa sekolah di sekitar Gereja Katedral untuk bersih-bersih  diri dan berganti baju.

Stadion Gajayana pada Sabtu pagi tanggal  3 September 201 kemarin telah menjadi saksi sejarah bagi umat katolik di Keuskupan Malang.  Di stadion ini,   Uskup Malang terpilih, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm,  resmi dilantik sebagai gembala utama umat Katolik di kawasan Tapal Kuda, yang merupakan tlatah warga NU.

Mgr Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm adalah uskup kelima di Keuskupan Malang yang berada di wilayah Provinsi Gerejawi Semarang.  Selain Keuskupan Malang, dua keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Semarang ini adalah Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Purwokerto.

Antusiasme umat Katolik di Keuskupan Malang untuk menyambut Uskup baru mereka tampak sangat besar. Menurut panitia setempat umat yang  hadir lebih dari 10.000-an orang,yang memadati stadion ini. Jumlah ini belum termasuk umat Katolik yang datang dari keuskupan-keuskupan lain maupun para tamu undangan lainnya.

Di antara yang hadir, selain umat Katolik,  tampak pula jajaran para imam dari paroki-paroki, baik yang berasal dari Keuskupan Malang sendiri maupun keuskupan-keuskupan lainnya antara lain Keuskupan Surabaya, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Agung Semarang, para biarawan-biarawati, para frater,  keluarga dan kerabat Mgr. Pidyarto, serta tokoh-tokoh umat lainnya.

Sambil menantikan saat misa tiba, umat diajak berdoa rosario bersama dan mendengarkan beberapa nyanyian. Misa Agung ini dimeriahkan oleh paduan suara yang terdiri dari Komisi Liturgi Keuskupan Malang dan koor gabungan dari paroki-paroki di Dekenat Malang Kota.

Uskup Agung Keuskupan Jakarta sekaligus Ketua KWI, Mgr. Ignatius Suharyo, bertindak sebagai Uskup Penahbis Utama dalam perhelatan besar Dioses Malang ini. Beliau didampingi oleh Uskup Keuskupan Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono sebagai co-consecrator pertama dan Uskup Keuskupan Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunyamin OSC, sebagai co-consecrator kedua.  Sementara Uskup Tertahbis, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm didampingi oleh  Rm. Ignatius Budiono O.Carm, Provinsial Ordo Karmel serta  Rm. YC Eko Atmono, Vikaris Jenderal Keuskupan Malang.

Dalam misa konselebrasi ini,  Uskup Agung Emeritus Keuskupan  Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Nuntius Apostolik untuk Indonesia Mgr Antonio Guido Filipazzi,  bersama 31 Uskup serta lima  Uskup Emeritus dari seluruh keuskupan di Indonesia tampak turut serta untuk ambil bagian. Selain itu, lebih dari 300-an imam ikut berpartisipasi dan berbagi kebahagiaan bersama umat Katolik Keuskupan Malang.

Upacara tahbisan episkopal Uskup Dioses Malang di akhir pekan pertama September ini berlangsung dengan megah, meriah, dan penuh sukacita. Ini bukan saja karena banyaknya umat yang hadir, melainkan karena semua seolah merasakan begitu besar rahmat yang dianugerahkan Allah bagi Keuskupan Malang.

Pada ritus utama, yaitu penahbisan Uskup, dibacakan surat resmi dari Takhta Suci mengenai pengangkatan Uskup Malang oleh Nuntius (Duta Besar Vatikan) untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi dalam dua bahasa; Italia dan Indonesia

Ritus berlanjut dengan  prosesi penumpangan tangan oleh semua Uskup yang hadir. Ini adalah puncak ritus tahbisan episkopal yang sejak abad-abad pertama meliputi dua pokok:  penumpangan tangan di atas kepala Uskup Tertahbis  dan doa konsekrasi oleh para Uskup.  Imam tidak diperkenankan memberikan penumpangan tangan kepada Uskup Tertahbis, karena satus mereka “di bawah” Uskup.

Umat mengikuti ritus ini dengan khidmat dalam suasana hening, sambil tetap berdiri. Yang lebih mengharukan adalah kehadiran Uskup Malang Emeritus, Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro O.Carm yang berjalan tertatih-tatih sambil dipegang oleh beberapa perawat ikut serta memberikan “doa restu”nya bagi penggantinya. Selama beberapa hari terakhir ini, Mgr. Pandoyoputro dirawat di RS RKZ Malang karena sakit. Namun setelah gagal ikut serta dalam Salve Agung, beliau berkeras hati untuk ikut dalam misa tahbisan episkopal meresmikan penggantinya sebagai Uskup Keuskupan Malang ini.

Dalam perhelatan besar itu, khotbah yang menggelitik dibawakan oleh Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin  OSC. Menurut Mgr. Anton, panggilan akrab Uskup Bandung ini, tugas pewartaan Injil harus terus dilakukan dan diulang-ulang agar umat memahami tentang Yesus sebagai Tuhan.  “Ada godaaan dalam berkhotbah untuk mewartakan hal yang populer atau lucu. Yang jauh lebih penting adalah khotbah spiritual tentang Yesus Sang Juruselamat,” tandasnya. Ada tiga hal penting yang harus dilakukan para murid. Para murid dipanggil untuk menyertai Dia, menjadi pewarta Injil dan mengusir setan.

Pertama murid harus akrab dan dekat dengan Yesus sehingga mengenal Tuhan  bak asisten pribadi yang tahu apa yang dikehendaki-Nya agar sehati dan sepikir dengan-Nya. Kemudian tahap selanjutnya sebagai pewarta Injil, yakni para murid menjadi loud speaker Yesus yang kata-katanya dan suaranya adalah suara Tuhan sendiri. Setelah itu, tahap berikutnya para murid diajak untuk melakukan berbagai kebaikan disimbolkan melalui pengutusan mengusir setan. Para murid menjadi seperti direktur eksekutif  yang melaksanakan rencana dan karya Tuhan, ia menjadi aktor dan eksekutor program ilahi  dengan menampilkan wajah ilahi yang penuh belas kasih. “Ia dipanggil menjadi dispenser rahmat Tuhan dan minister berkat Allah,” ungkapnya.

Selanjutnya, Mgr. Anton meyakini bahwa “Di kedalaman hidup spiritualnya  sebagai pewarta Injil inilah yang telah meneguhkan Mgr. Henricus bersedia menerima tugasnya sebagai Uskup dengan komitmen untuk setia mewartakan Injil Kristus. Hal ini mengingatkan dan mengajak kita sebagai orang yang telah dibaptis tugas mewartakan Injil.”

Di akhir khotbahnya Mgr Anton menyemangati dan meneguhkan Mgr. Pidyarto untuk bersama dengan para Uskup yang lain untuk dengan setia mewartakan Injil Yesus Kristus.

Selain itu,  dukungan mengalir deras dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.  Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. Syaifullah Yusuf atau yang akrab dipanggil Gus Ipul, bersama jajarannya hadir dalam acara ramah tamah yang dihelat seusai misa.

Dalam sambutannya, Gus Ipul mengungkapkan kegembiraannya atas terpilihnya Uskup Keuskupan Malang, dan mengundang kerja sama lebih erat lagi serta mempererat tali persaudaraan dari seluruh umat beragama dengan Gereja Katolik di Malang.

Tampak hadir juga walikota Malang, Ir H. Mochamad Anton, yang merupakan keturunan Tionghoa muslim dan memiliki nama lahir Goei Hing An,  Kapolres Malang AKBP Decky, Kapolresta Batu AKBP Leonardus Simarmata yang juga merangkap sebagai wakil ketua , Kapolsek Klojen Malang AKBP Andi, Komandan Kodim 0818 Kota Malang-Batu beserta jajarannya, staf khusus Presiden RI Sukardi Rinakit, serta para tokoh lintas iman.

Dalam kata sambutannya, Mgr. Pidyarto mengatakan bahwa ia tidak pernah bermimpi atau merindukan menjadi seorang uskup karena tahu bahwa persyaratan sebagai “penilik jemaat” sangat berat dan merasa bahwa panggilannya adalah menjadi pengajar bagi para calon imam.

Semoga kerendahan hati Mgr. Pidyarto bisa menjadi teladan dan menginspirasi semakin banyak orang.

Selamat memasuki tugas baru untuk menggembalakan umat di Keuskupan Malang, Monsinyur. Kami semua akan setia menjadi domba-domba yang berbakti di Keuskupan Malang.

Apa Kata Mereka tentang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm

Joseph Heri Adisena, Kakak Tertua Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan