Berita Paroki Lodalem

LODALEMKU TERUSLAH BERKEMBANG DAN MAJU!

Ketupat dicampur jamu, kepada semua umat paroki Lodalem selamat bertemu. Si kembar pergi ke Papua, apa kabar anda semua? Adonan pati ditutupi laken, hati ini terasa kangen. Ketupat dicampuri merica dan madu, selamat merayakan HUT Pancawindu. Semoga anda kalian sehat dan bahagia selalu, amin.

A. Kenangan indah itu

Ketika Rm. Pahala, O.Carm meminta saya untuk menulis apa saja, sebagai bahan untuk merefleksikan dan merayakan HUT 40 tahun Paroki Lodalem, saya langsung menyetujui. Permintaan ini suatu kehormatan pada diri saya sendiri, karena saya pernah selama 4 tahun lebih sekian bulan, boleh mendapat perutusan menjadi Pastor Paroki Hati Tersuci Maria. Terkenal di seantero Keuskupan Malang sebagai paroki Lodalem. Jarang orang mengenal dan menyebut Paroki Hati Tersuci Maria. Ya, Lodalem lebih familier mencirikan suatu daerah alam pradesan.

Saya mempunyai kepanjangan kata Lodalem = Luhur Orangnya dan Lemah Lembut. Ciri khas orang yang hidup di pedesaan dan dekat dengan alam memang seperti itu. Berbeda dengan orang yang hidup di perkotaan penuh kebisingan, kepenatan dan tentu saja persaingan yang ketat, asing dengan alam. Kaki telanjang menginjak tanah saja dapat dihitung dengan jari untuk sehari. Itulah wajah kehidupan kota dan tentu saja pada gilirannya membentuk karakter manusianya.

Saya mengalami masa-masa indah itu di Lodalem. Saya merasakan keluhuran, kelemahlembutan juga kesederhanaan itu dari umat Katolik maupun warga umumnya. Puji Tuhan. Suatu rahmat yang sungguh saya syukuri. Bagaimanapun pengalaman itu bagian sejarah hidup saya dan membentuk diri saya. Di sini saya akui banyak orang yang menjadi guru kebijaksanaan saya baik yang kecil, tua, muda, kaya, miskin dan masih banyak lagi.

Prinsip 3 B (Berdoa, Bekerja dan Belajar), saya alami sungguh berkembang di Lodalem. Saya banyak belajar berdoa dari banyak umat yang bertekun dan semangat. Di Stasi Maria Bunda Karmel Tumpakrejo, biasa si mbok – si mbok itu sambil membawa belanjaan atau dagangannya langsung ikut misa. Saya kagum akan semangat untuk berdoa, berekaristi seperti itu. Tentu pengalaman itu belum pernah saya jumpai di kota. Di kota sibuk sedikit dan payah sedikit sudah menjadi senjata untuk tidak mengikuti Ekaristi. Saya menilai semangat ngabekti, manembah dan berekaristi luar biasa. Teladan inilah yang boleh memancar dirasakan anak-anak muda dan saya sendiri merasakan dan menikmatinya. Matur nuwun nggih?

Tentang bekerja juga sangat hebat. Umat Lodalem para pekerja keras dan ulet. Ladang terkadang tidak seberapa luas tetapi menjadi pusaka dan sumber kehidupan untuk ditekuni. Berangkat pagi pulang siang bahkan sore dari ladang. Ada yang ngarit untuk hewan peliharaan. Ada yang buruh tani. Para pegawai yang paling banyak guru, itu pun tidak terlalu banyak. Saya sangat terinspirasi dan dapat belajar kerja keras lagi ulet dari mereka semua itu. Mereka tidak mudah menuntut-mengeluh. Mereka tabah dan sabar. Sabar terhadap diri sendiri = harapan. Sabar terhadap sesama = kasih. Sabar terhadap Tuhan = iman.

B. Tantangan-tantangan

Di sini saya ingin melihat tantangan-tantangan yang perlu diperhatikan sebagai umat dan pelaku pastoral untuk dapat mengembangkan umat. Saya berangkat mulai dari umat balita sampai dengan umat yang sudah sepuh.

Anak-anak usia dini saya amati cukup banyak entah itu di pusat paroki ataupun di wilayah, stasi-stasi. Pendampingan terhadap mereka di gereja pusat sudah cukup memadai kendati selalu perlu dikembangkan terus, baik metode pendampingan, SDM maupun alat-alat peraga sebagai sarana-prasaranannya. Hanya yang masih memprihatinkan adalah pendampingan anak-anak usia dini di stasi-stasi belum maksimal. Perlu dipikirkan dan diusahakan secara terencana para pendampingnya. Bagus bila para mudika sudah dapat ikut terlibat dalam pelayanan bagi anak-anak usia dini. Pendampingan iman usia dini perlu dilakukan karena mengandalkan pendampingan iman pada keluarga saja tentu tidak cukup.

Anak-anak di atas usia dini (BIUD= Bina Iman Usia Dini), terkadang sudah terpisah, mereka tidak mau lagi bergabung dengan BIUD. Mereka mulai menjadi kelompok kecil tersendiri dalam kelompok Putra/Putri Altar (Misdinar). Saya melihat mereka juga cukup banyak dan sangat potensial sekali, untuk pelayanan dan sasaran aksi panggilan. Seingat saya saat itu, banyak anak yang masuk seminari menengah. Tentu hal itu bukan suatu kebetulan tetapi dapat dilihat sebagai buah pastoral dan pendampingan pada mereka.

Remaka dan mudika tantangannya lebih berat lagi. Apalagi di tengah iming-iming kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Berat bila mereka memang tidak disiapkan secara mental memasuki suatu jaman edan yang terus maju dan mencengkeram. Celakanya lagi, mereka tidak kuat dalam komunitasnya. Apa yang terjadi, pergaulan begitu bebas dan tahu-tahu membawa mereka melangkah terlalu jauh. Kenakalan-kenalakan remaja di luar gereja bisa dengan mudah merembet pada generasi idaman ini. Apa akibatnya? Mereka ada yang harus menikah di usia dini, ditambah menikah di luar gereja lagi. Lebih parah lagi, bila hal itu tidak dikomunikasikan pada pihak gereja. Alhasil akan menjadi hilang dari persekutuan menjadi nyata. Tidak kalah berat lagi mereka yang menjadi TKI ke luar negeri. Mereka yang muda mentalitas dan perilaku berubah drastis. Yang sudah berkeluarga alih-alih menjadi TKI untuk kesejahteraan tetapi malah banyak yang menambah persoalan. Perselingkuhan dan keluarga yang tidak terurus menjadi marak. Mereka memang harus disadarkan membangun keluarga itu tidak identik dengan membangun ekonomi saja. Maka saya senang dengan mendengar usaha pendampingan pengembangan dan pemberdayaan ekonomi umat di daerahnya sendiri.

Umat berusia dewasa tua (sepuh) menjadi pemandangan yang sangat mencolok baik di pusat maupun di stasi-stasi. Artinya gereja dipenuhi mereka semua. Tidak usah dirisaukan. Toh mereka umat Allah yang telah membuktikan kesetiaan dalam imannya. Mereka telah banyak berjasa bagi gereja. Mereka terus akan berjasa, terutama dalam kesetiaan berbakti dan berserah pada Tuhan. Mereka teladan, dalam arti yang sesungguhnya. Kita wajib melaksanakan pendapingan pastoral terus-menerus. Semoga semua umat Paroki Lodalem semakin dewasa dalam iman dan kuat persekutuannya. Ingat, lebih terhormat mantan penjahat daripada mantan Katolik. Selamat dan Berkah Dalem!

Rm A Yudhi Wiyadi OCarm

 

sumber : klik <<

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *