HARI PAGUYUBAN PAROKI SITUBONDO PERINGATAN 20 TAHUN PERISTIWA PAROKI MARIA BINTANG SAMODRA

Abad boleh berganti……….

Manusia pun satu per satu akan pergi…………….

Tetapi “Sejarah” itu akan abadi, tetap disini

Bertepatan dengan peringatan HARI PAGUYUBAN PAROKI MARIA BINTANG SAMUDERA SITUBONDO ke-20 sekelumit kenangan ingin kami hadirkan disini, bukan ingin membuka luka lama, bukan sekedar pemenuhan dokumentasi tetapi ingin mengajak kita semua para penghuni Paroki ini untuk kembali merefleksi diri ;

“Benarkah kita sudah mengerti arti Paguyuban itu sendiri?”

“Benarkah kita sudah menjadi bagian dari Paguyuban yang sejati ?”

Seiring dengan makin berkurangnya para saksi sejarah dan menipisnya data otentik tentang sejarah Paroki karena berbagai hal, baik karena peristiwa kelam kerusuhan 10 Oktober 1996 yang menyebabkan data – data Paroki musnah terbakar, maupun bencana yang tak kalah dahsyat, banjir bandang yang melanda Situbondo tercinta di tahun 2002 dan 2008, Panitia Hari Paguyuban Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo Tahun 2016 berusaha menggali sisa – sisa cerita yang ada guna mengingatkan kita semua yang menimba “Air Surgawi” di Paroki ini akan sebuah sejarah di masa lalu yang pernah tertoreh disini, mengantar kita semua menjadi seperti sekarang ini.

Sekelumit cerita yang tersaji ini, sekaligus sebagai bentuk ungkapan syukur kita, bahwa di tahun 2016 ini Gereja kita dipilih oleh Keuskupan Malang sebagai salah satu destinasi Ziarah Rohani Katolik Tahun Yubelium Kerahiman Ilahi Keuskupan Malang sebagai saksi sejarah kebangkitan Gereja, yang berarti bahwa kita boleh berbagi “Berkat dan Semangat” dengan seluruh umat, khususnya se-Keuskupan Malang.

Akhir kata, semoga kita semua disini menjadi umat yang tau menghargai sejarah dan masih mewarisi seluruh semangat kasih persaudaraan yang ditimbulkan oleh sebuah peristiwa kelam yang menjadikan kita semakin disatukan dan dikuatkan, dan akan tetap mewariskan semangat yang sama kepada anak cucu kita kelak……

Peristiwa dikala itu…

Menyitir sebuah kata bijak :

“…JANGAN PERNAH MENYEPELEKAN APAPUN YANG TELAH KAMU MILIKI, KARENA MUNGKIN YANG MILIKI ITU SANGAT DIINGINKAN OLEH ORANG LAIN…”

Sepertinya berlaku bagi kondisi umum Gereja pada saat itu.

Kedamaian , kerukunan dan kebersamaan serta kedewasaan pola pikir Umat Kristiani sejak dahulu rupanya menjadi sebuah “kilau permata yang sangat berharga” yang bisa jadi tidak dimiliki oleh orang lain, atau dimiliki juga tetapi tak seindah yang kita miliki.

Itulah mengapa orang – orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai musuh kita, selalu berusaha memporak – porandakan kita, karena mereka khawatir hal ini akan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa dan mengancam mereka. Pendek kata, mereka selalu akan membenci kita.

Hal ini bisa kita lihat dari asal mula peristiwa kerusuhan 10-10-1996, yang menurut akal sehat samasekali tidak ada signifikasi / hubungannya antara terdakwa kasus penodaan agama, Mohammad Soleh, yang menyudutkan K.H. Samsul Arifin Asa’at sebagai seorang Kiai besar yang sangat dihormati warga saat itu dengan kehidupan sebuah Gereja.

Sebuah ketenangan dan kedamaian tiba – tiba tercabik – cabik oleh sebuah isu SARA yang sangat tidak bertanggung jawab. Hari itu hari Kamis, 10-10-1996 saat sekitar pukul 10.00 WIB Pengadilan Negeri Situbondo dengan Majelis Hakim M. Ridwan R. Sumaryanto dan Suhartono memvonis seorang terdakwa bernama Mohhamad Soleh dengan putusan 5 tahun penjara atas kasus penodaan Kiai Besar di Situbondo. Tiba – tiba kerumunan massa di luar ruang sidang berteriak – teriak histeris karena kecewa terdakwa tidak dijatuhi hukuman mati. Kekecewaan itu membuat mereka menyerang para Aparat Keamanan dengan melempar batu dan berusaha merebut terdakwa untuk diadili sendiri. Aparat yang dengan sigap menyelamatkan terdakwa Moh. Soleh yang membuat massa semakin beringas karena kehilangan jejaknya dan mulai membakar gedung Pengadilan Negeri Situbondo. Disinilah awal cerita dimana sebuah kedewasaan pola pikir dan Iman dibuktikan …….

Selang 30 menit kemudian, hanya berbekal sebuah isu jahat bahwa Mohhamad Soleh disembunyikan di Gereja Bethel Indonesia Bukit Sion yang terletak di dekat Pengadilan Negeri itu, maka isu itupun dianggap sah oleh massa untuk dijadikan dasar merusak, menghancurkan bahkan membakar Gereja tersebut dan seluruh Gereja – Gerja Kristen dan Katolik di wilayah Kabupaten Situbondo serta beberapa pertokoan,

tak terkecuali Gereja kita Maria Bintang Samudera tercinta, lengkap dengan SD Katolik Fransiscus Xaverius yang berada satu halaman dengan Gereja, dan juga Kapel Stasi St. Yosep – Asembagus dn Kapel St. Mikael – Besuki serta Susteran SPM Situbondo beserta TK Katolik St. Theresia.

Sebuah isu yang sangat fantastis, yang membuat massa yang begitu dangkal pola pikir dan Imannya, secara spontan bergerak tanpa menyadari, bahwa mereka  ditunggangi oleh massa lain yang baru datang beberapa truk dari arah barat dan bergerak begitu sistematik dan terencana, yang berbicara dalam bahasa Madura namun bukan berdialek Situbondo. Hal ini diungkap oleh Komandan Kodim 0823 Situbondo saat itu, Letkol Imam Prawoto. Sejumlah saksi lain juga menyebutkan bahwa para pembakar Gereja terdiri dari berbagai kalangan tua muda dengan berkelompok – kelompok, dan tiap kelompok mempunyai pemimpin yang berbadan atletis, ikat kepala hitam dan diikuti dengan para anak buahnya yang bergaya pesilat yang memprovokasi dengan sangat beringas. Mereka merusak seluruh Gereja dengan membabi buta, memecah kaca- kaca, merusak pintu, menjungkirbalikkan bangku – bangku dan mulai membakar, bahkan membawa korban  Pendeta Iskhak Christian sekeluarga dari Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), 5 orang termasuk istri dan anak – anaknya harus hangus terbakar di dalam Gerejanya karena terkepung kobaran api tanpa sempat meloloskan diri.

Pada malam hari, barulah situasi dapat dikendalikan, dengan bantuan Aparat setempat dibantu Kompi 514 Bondowoso dan Kompi 512 dari Rampal Malang. Keadaan begitu mencekam. Umat diliputi berbagai perasaan takut, lemas, sedih, ngeri dan bahkan marah melihat Rumah Tuhan yang hancur tinggal puing- puing. Isak tangis umat tak terbendung di tengah kepulan asap usai pembakaran di malam itu. Peristiwa Sepuluh sepuluh ini dengan sangat cepat meluas menjadi berita Nasional bahkan Internasional. Berbagai kalangan dengan cepat dan tanggap menyatakan keprihatinan terhadap umat Situbondo dengan berkunjung dan saling menguatkan untuk bangkit.

Pembangunan Gereja kembali dimulai tanggal 16 Januari 1997. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh dua Uskup , yakni Mgr. HJS Pandojo Putro,O.Carm (UskupMalang) dan Mgr. Hadi Wikarta,Pr. (Uskup Surabaya) dan disaksikan oleh sejumlah Pejabat Pemerintah. Selama Sembilan bulan pembangunan berjalan, perayaan Misa dilaksanakan di “GEREJA SENG” yang terletak di lokasi Pastoran bersebelahan dengan Gereja yang hancur. Hingga kini, kita masih mengabadikan bentuk Gereja yang terbakar dan juga Gereja “Seng” yang kini dikenal dengan AULA VILLANOVA sebagai sebuah saksi sejarah yang selalu mengilhami dan menyemangati kita terus – menerus dan bahkan boleh kita bagikan kepada seluruh peziarah sebuah pengalaman iman sebagai sebuah Gereja yang Bangkit.

Peristiwa Sepuluh – Sepuluh dalam Refleksi Iman Katolik

“ Gereja memahami bahwa di sepanjang zaman cukup sering terjadi pertikaian dan permusuhan antar umat beragama, untuk itu gereja mendorong agar kita sesama sebagai umat beragama untuk melupakan yang sudah-sudah dan dengan tulus hati melatih hati untuk saling memahami dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian.”

Secara alam pikir manusiawi peristiwa sepuluh-sepuluh yang dialami umat Katolik Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo disadari menimbulkan duka yang mendalam. Bagaimana tidak, Gereja sebagai tempat ibadah harus luluh lantak akibat kerusuhan massa yang notabene pemicunya bukan berasal dari umat Katolik sendiri.

Tetapi sebagai refleksi Iman Katolik, peristiwa Sepuluh-Sepuluh dihayati sebagai sapaan cinta kasih Tuhan kepada umatNya untuk lebih menguatkan iman dan kepercayaan terhadap ajaran cinta kasih yang selama ini dipercaya sebagai inti dari ajaran Agama Katolik.

Mengalami peristiwa Sepuluh – Sepuluh tidak membuat Umat Katolik tercerai berai dan meratapi penderitaan, namun justru sebaliknya peristiwa tersebut membawa kebangkitan iman yang mendalam. Kebangkitan iman bagi Umat Katolik Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo dapat dilihat dan dibuktikan dari 2 (dua) dimensi, yaitu :

–          Dimensi Internal Umat Katolik, dan

–          Dimensi eksternal antar umat beragama di  Kabupaten Situbondo

Kebangkitan internal Umat Katolik

Dengan peristiwa sepuluh-sepuluh ternyata mampu membangkitan suasana kebatinan umat Katolik sebagai suatu keluarga besar umat beriman dengan merasa sebagai Satu Tubuh Dengan Banyak Anggota. Kebutuhan akan berkumpul dengan saudara-saudaranya dalam sependeritaan dan sepenanggungan mampu bangkit menggelora mempersatukan umat.

Puing-puing bangunan Gereja sisa amuk massa tidak membuat takut umat untuk berkumpul, berdoa, dan memuji Tuhan, namun yang terjadi justru sebaliknya melakukan peribadatan bersama umat yang lain dengan sarana seadanya, beralaskan koran, beratapkan langit,

diantara tembok-tembok yang hangus terbakar justru menambah semangat akan berkumpul dengan saudara-saudaranya. Tidak sedikit umat yang sebelumnya jarang ke Gereja justru setelah peristiwa itu menjadi sadar dan kembali ke jalan Tuhan. Demikian pula kegiatan-kegiatan doa lingkungan dan stasi, kegitatan pendalaman iman, katekumen menjadi semakin semarak dan berkembang. Umat Katolik Situbondo semakin guyub dan rukun. Inilah cikal bakal lahirnya HARI PAGUYUBAN Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo.

Kebangkitan Eksternal Umat Katolik (antar umat beragama)

Peristiwa Sepuluh Sepuluh ternyata juga mampu membuka mata dan telinga Umat Katolik akan pentingnya membina persaudaraan sejati dengan masyarakat sekitar yang bergama selain katolik.

Umat katolik menjadi sadar bahwa mewujudkan perdamaian dan keadilan sosial bagi masyarakat hanya dapat diraih kalau kita saling menjulurkan tangan, berjabat tangan dan berangkulan antar umat beragama yang juga adalah sebuah keluarga besar, keluarga umat manusia.

Perbedaan keyakinan bukanlah penghalang bagi kita untuk hidup rukun dan berdampingan. Peristiwa ini mampu meningkatkan semangat toleransi, hormat- menghormati dalam menerima perbedaan keyakinan yang dianutnya.

Hal tersebut terpancar dari berbagai kegiatan sosial yang muncul pasca peristiwa kerusuhan tersebut, seperti Bazzar Murah Ramadhan, Pembangunan Sarana Pendidikan, Pembangunan Sarana Air Bersih dan Dialog Antar Umat Beragama  menjadi kegiatan rutinitas yang indah dengan melibatkan para Tokoh Umat Antar Agama di Kabupaten Situbondo.

Suasana keterbukaan dan persaudaraan sejati ini kembali nyata terlihat, saat Kabupaten Situbondo dilanda banjir bandang pada tahun 2002 dan tahun 2008. Umat Katolik mempelopori berdirinya “Posko Mawar 50” yang bergerak untuk meringankan penderitaan masyarakat korban bencana banjir. Berbekal bantuan seadanya, beras dan mie instant serta telur, umat Paroki bahu-membahu dengan masyakat sekitar di dapur umum untuk menyiapkan nasi bungkus beserta air minum dan didistribusikan kepada masyarakat yang kala itu memang masih belum tersentuh bantuan dari pihak manapun. Dan Berkat Tuhan pun nyata adanya, bahwa bantuan ini bisa menjangkau begitu banyak warga yang membutuhkan dan Dapur Umum ini pun tak henti – hentinya menyalurkan berkat. “Posko Mawar 50” juga membuka layanan pengobatan gratis bagi banyak masyarakat yang kala itu sangat membutuhkan pelayanan kesehatan.

Di bidang Pemerintahan pun, Umat Katolik Situbondo dapat menempatkan wakilnya yang duduk di Legislatif maupun Organisasi Massa yang digagas oleh Eksekutif. Kehadiran dan keaktifan wakil Umat Katolik dalam organisasi seperti Pemuda Katolik (PK), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan juga Forum Pembauran benar – benar dirasakan manfaatnya dan diperhitungkan keberadaannya.  Hal tersebut patut disyukuri sebagai sebuah rahmat dari Tuhan. Hal ini juga senada dengan Ajaran Sosial Gereja yang dihayati yaitu bahwa Gereja memahami di sepanjang zaman cukup sering terjadi pertikaian dan permusuhan antar umat beragama, namun Gereja selalu mendorong kita sebagai sesama umat beragama untuk memaafkan yang sudah terjadi dan dengan tulus hati. Melatih hati untuk saling memahami dan bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian.

Pasca peristiwa Sepuluh-sepuluh, buah-buah Roh makin dirasakan. Melalui permenungan Romo Paroki dan pengurus Dewan Pastoral Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo, sepakat digunakanlah momentum terjadinya Peristiwa Sepuluh-sepuluh tanggal 10  Oktober 1996 itu sebagai hari kebangkitan iman yang ditandai dengan semakin disatukannya Umat Katolik dalam iman, semakin guyup dan rukun . Dan ini secara rutin tiap tahun diperingati sebagai Hari Paguyuban.

 

Ziarkat Tahun Yubelium Kerahiman Ilahi Keuskupan Malang 2016 di Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo

Bertepatan dengan dua decade peringatan kebangkitan Gereja Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo mendapat hadiah istimewa, melalui Surat Keputusan Uskup Malang Gereja Katolik Paroki Maria Bintang Samudera Situbondo ditetapkan sebagai salah satu destinasi (tujuan) Ziarah Katolik bagi Umat Katolik di Keuskupan Malang. Dengan ini, semoga pengalamanan kebangkitan iman yang kami alami juga dapat mengilhami umat katolik Keuskupan Malang lainnya khususnya dan seluruh umat beriman pada umumnya menuju kebangkitan iman dalam membina persaudaraan sejati baik dengan sesama Umat Katolik maupun dengan umat beragama lainnya.

 

“SALAM HARI PAGUYUBAN”

PAROKI MARIA BINTANG SAMUDERA SITUBONDO

(disusun & diolah dari berbagai sumber oleh:Rudi Afianto/Yayuk Yoseph/Linda Indrawati)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *