HIDUP TERSEMBUNYI BERSAMA KRISTUS, BAGAIKAN BUNGA YANG SEMERBAK MEWANGI DI KEUSKUPAN MALANG

Bertepatan dengan Hari Minggu Panggilan tanggal 29 April 2012 biara Rubiah “Flos Carmeli” merayakan pesta emasnya (50 th) di Indonesia. Lima puluh tahun yang lalu, tepat pada tanggal 29 April 1962 yang mulia Mgr. A.E.J.Albers,O.Carm meresmikan dan memberkati biara Rubiah Flos Carmeli di Batu. Bagaikan Bunga yang harum semerbak ditaman Keuskupan Malang itulah ungkapan yang patut disampaikan kepada para suster Rubiah Flos Carmeli. Mengapa seperti itu karena para suster pertapa ini dengan doa dan hidup kontemplatifnya menjadi jantungnya Gereja. Tentu menjadi bunga yang semerbak mewangi di Keuskupan Malang bukan hal yang mudah, melainkan butuh perjuangan tersendiri.

Diawali dengan kisah perjalanan seorang putri bernama Christiana Maria Sri Maharsi Poespowardojo yang memberanikan diri berangkat untuk mengalami hidup bertapa dalam biara Carmelites di negeri Belanda. Seorang putri Jawa sendirian di negeri jauh meninggalkan ayah dan ibunya, bukan suatu perjuangan yang mudah. Tetapi Maria Sri Maharsi yang lebih kita kenal dengan nama panggilan Sr.Brocarda ini menjawab panggilan Tuhan dengan ketulusan hati. Kemudian melalui Kasih Allah yang membimbingnya disertai perjuangannya  bersama dengan Sr. Maria Redempta maka menjadi perintis berdirinya Biara Kontemplatif di Batu Malang.

Awal pendirian sungguh dirasakan adanya tantangan dan cobaan berat, karena pada jaman tersebut terjadi peperangan antara Indonesia dan Belanda. Namun berkat kegigihan dan doa yang tulus kepada Allah, Allah Bapa memberikan jalan yang mulus dalam perjalanan menggapai cita-cita mendirikan biara Rubiah di Batu Indonesia. Dalam proses selanjutnya meski harus merangkak dan berjuang, sedikit demi sedikit namun pasti pembangunan biara di Batu dilakukan oleh Ordo Karmel Indonesia.

Dari kedua Suster pribumi ini misi Rubiah Carmelites mulai dilaksanakan. Karena kuranglah jumlah susternya untuk mendirikan biara baru, maka Romo Jenderal Kilian Healy O.Carm dan Asisten Jenderal Jacobus Melsen O.Carm minta bantuan biara Schlusselau di Jerman. Maka dilipih 3 Suster untuk diutus ke Biara Batu yang sedang dibangun  dan dihuni oleh kedua Suster pribumi tersebut. Berkat dispendsasi yang di berikan oleh Tahta Suci, biara Flos Carmeli boleh didirikan secara resmi dengan 4 Suster kaul kekal dan 1 suster kaul sementara. Jumlah Suster yang ditunutut sebenarnya ialah 5 Suster kaul kekal dan 3 Suster kaul sementara, maka sesudah lama menantikan ijin dari Vatikan, akhirnya ke-3 suster dari Jerman bisa bertolak ke Indonesia, sehingga biara Flos Carmeli diresmikan pada 29 April 1962.. Mengapa dari Jerman? Untuk mengirimkan Suster dari Belanda tidaklah mungkin karena kondisi perang. Tugas ke 3 suster dari Jerman adalah untuk menemani para suster mengemban misi panggilan untuk hidup pertama dalam keheningan dan doa. Ketiga suster yang mengemban misi dari Jerman adalah Sr.M.Elia Debermitz; Sr.M.Teresita Fremunth dan Sr.M.Immaculata Buettner (sampai sekarang masih tinggal di biara Batu). Para suster dari Jerman tersebut dengan gembira hati bersama-sama Sr.M.Brocarda dan Sr.M.Redempta membangun komunitas baru di Indonesia. Satu demi satu panggilan untuk menjadi Suster Rubiah mulai dirasakan. Banyak gadis yang tertarik untuk mengalami hidup dalam laku tapa mendekatkan diri dengan total dan seutuh-utuhnya hanya kepada Allah.

Sampai saat ini anggota komunitas Rubiah Flos Carmeli Batu beranggotakan 16 Suster. Mengingat bahwa kehidupan mereka adalah stabilitas loci dan terikat klausura, namun tidak menutup diri dalam karya kerasulan. Kehadiran mereka sungguh dirasakan dengan bantuan doanya dan pendampingan serta bimbingan rohani yang dilakukan dalam pelayanan sehari-hari ketika ada umat yang butuh bimbingan dan datang ke biara Batu tersebut. Hal itu sungguh merupakan kekuatan bagi umat tersendiri. Selain bimbingan dan kerasulan doa, untuk menghidupi komunitas dan hidup bersama para suster dalam keseharian berkarya membuat hosti untuk kebutuhan keuskupan Malang dan keuskupan-keuskupan lain.  Berkebun dan mengembangkan apa yang bisa diupayakan untuk hidup di seputar biara juga merupakan kegiatan sehari-hari para suster. Namun yang paling jelas bahwa dengan kehadiran yang tidak henti dalam doa itulah kerasulannya semakin nampak dan menguatkan kehadiran Gereja di Keuskupan Malang.

Perjalanan yang panjang dan disertai dengan berbagai usaha kerasulan hingga sekarang ini sudah membuahkan hasil yang mengagumkan. Banyak umat merasakan kehadiran Suster dengan doa-doanya dan banyak umat yang mengalami rahmat lewat doa para suster. Diantara umat dan juga para religius yang lain juga memberikan kesaksian bahwa kehadiran biara Rubiah di Keuskupan Malang ini serasa bagaikan bunga yang harum mewangi menghiasi perjalanan hidup umat Keuskupan Malang. Mereka mengatakan kalau ikut ibadat dan doanya para suster merasakan kenyamanan dan ketenangan dalam hatinya.

Kenangan 50 tahun kehadiran Rubiah Carmelites dirayakan dalam Misa Agung Yubileum yang dipimpin oleh Bapak Uskup Malang, Msgr. H.J.S. Pandoyoputro, O.Carm sebagai selebran utama bersama dengan Romo Albert Herwanto,O.Carm asisten Jendral Ordo Karmel dan Romo Ignatius Djoko,O.carm Provinsial Ordo Karmel Indonesia serta Romo F.K.Purwaadisasmita O.Carm dan Romo F.X.Agis Triatmoko O.Carm sebagai Konselebran. Dalam kotbahnya Bapak Uskup mengakui bahwa karena jasa para pendoa (baik Rubiah Carmelites maupun Rubiah Pasionis) ini Keuskupan Malang yang sudah berusia 85 tahun terasa disuburkan dengan siraman doa-doa yang dipanjatkan oleh Para Suster Rubiah. Keuskupan Malang menjadi seperti sekarang ini berkembang subur karena bentuk penghayatan iman yang didalami para suster yang totalitas menanggapi panggilan Tuhan secara utuh, dan inilah jantungnya Gereja Muda seperti Keuskupan Malang. Dengan kehadiran mereka menjadi nyata bahwa Injil sudah mantap berakar di tempat tersebut. Dengan doa para suster dirasakan oleh semua agama dan kepercayaan di dunia menjadi nyata bahwa Allah tetap mengasihi umat manusia. Dengan caranya para suster pertapa tak henti-hentinya mendoakan dunia agar selalu mendapatkan keselamatan dari Allah.

Bapak Uskup juga menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para Suster dalam sambutannya, penghargaan bukan berupa hadiah tetapi berkat dan rahmat dari Allah semoga menyertai setiap perjalanan Suster. Bangga karena Keuskupan Malang dalam perjalanan pastoralnya didampingi oleh komunitas pendoa yang kiranya sangat membantu dalam menjalankan perutusan pastoralnya. Kekuatan doa kiranya sangat dibutuhkan dalam kegiatan pastoral. Lengkaplah kalau keuskupan kita juga dihiasi dan disuburkan dengan kehadiran biara kontemplatif. Hal lain, rasa bangga juga dirasakan bahwa kehadiran Biara Kontemplatif mampu untuk memberikan kekuatan dan kesaksian bahwa karya pastoral dan kehadiran Gereja bukan semata-mata mengedepankan hal-hal yang jasmani melainkan juga memberikan keseimbangan dengan yang rohani. Para suster Karmelites bisa menjadi referensi betapa kekuatan pastoral kita bukan kehebatan manusianya melainkan juga keberanian mendengarkan kehendak Allah. Kebanggaan yang lain pasti doa-doa suster menyertai karya Pastoral Keuskupan Malang sehingga bapak Uskup di lapangan merasa mantap dan gembira karena tahu ada saudari-saudari kita semua dalam keheningan senantiasa berkanjang dalam doa dan pengorbanan untuk karya dan pelayanan.

Tidak berlebihan kalau ditekankan bahwa menghayati ketaatan pada kehendak Allah juga menuntut dari kita masing-masing untuk berani menghayati kemurnian diri dan hati: “sungguh hidupku kupersembahkan hanya kepada Allah”. Mempersembahkan diri dalam kemurnian diri dan hati untuk zaman ini diperlukan semangat ugahari dan kemartiran rohani. Artinya bahwa kita lebih suka memilih apa maunya Allah dan meninggalkan kemapanan atau kenyamanan diri meski kita merasakannya sakit, tidak enak, rugi dan menderita. Kemurnian mempersembahkan diri pada Allah sungguh menuntut kita masing-masing melulu hidup untuk Allah: mempersembahkan hidup yang terbaik bagi kemulianNya.

Semoga karena peristiwa 50 tahun ini, hidup sebagai Rubiah semakin dicintai oleh orang-orang muda jaman sekarang ini. Itulah Harapan Sr.M.Rosa Sukatmi Rahayu,O.Carm sebagai Priorin, agar dunia semakin aman dan damai, kalau banyak orang muda yang menghiasi keuskupan Malang ini dengan menangggapi panggilan suci ini dengan seutuh-utuhnya hidup murni hanya kepada Allah saja.

Semoga dari perjalanan yang panjang dan indah ini Rubiah Carmelites tetap setia mendoakan umat Keuskupan Malang khususnya dan umat Katolik di Indonesia pada umumnya. Dan juga selalu mendoakan Dunia yang diciptakan indah oleh Allah ini agar tetap damai dan aman, sehingga terhindar dari perpecahan antar manusia.

 

WHY

(Sekretariat Keuskupan Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here