Keberadaan Orang Katolik Di Ujung Timur Pulau Jawa & Di Pulau Madura

Keberadaan Orang Katolik Di Ujung Timur Pulau Jawa  & Di Pulau Madura

oleh : Rm. Dr. Antonius Deni Firmanto, Pr, M.Pd

Tidak dapat dipastikan kapan tepatnya kedatangan misionaris awali di daerah ujung timur pulau Jawa. Namun, kemungkinan besar keberadaan mereka dapat dihubungkan dengan keberadaan pelabuhan Pasuruan dan pelabuhan Panarukan (yang merupakan bagian dari kerajaan Blambangan) yang menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan ke arah timur nusantara. Marco Polo, pada tahun 1292, mengunjungi Sumatera dan memberikan beberapa keterangan tentang pulau Jawa.

Pada akhir abad ke-13 atau awal abad ke-14, para Fransiskan yang mengadakan perjalanan dari Eropa ke Cina dapat dipastikan singgah di beberapa pelabuhan nusantara dan merintis penyebaran agama Katolik. Kurang lebih pada tahun 1324, Beato Odoric Pordenone OFM tinggal selama beberapa bulan di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.[1]

Karya misi Katolik yang dilakukan oleh imam-imam sekuler, Agustinian, Kapusin, Karmelit (OCD), Dominikan, Fransiskan, Yesuit, dan Teatin mulai menetap di nusantara ketika para pedagang mulai berdatangan dari eropa mengikuti jalur perdagangan Portugis.[2] Mereka melayani kebutuhan rohani para pedagang yang beragama Katolik. Stasi misi awali didirikan oleh di kepulauan Maluku, Ambon dan Ternate pada tahun 1534. St. Fransiskus Xaverius SJ berada selama 14 bulan di Ambon dan Ternate (1546-1547). Di tempat lain, para Dominikan mendirikan stasi misi di Alor dan Solor pada tahun 1562.

Panarukan pada abad XV merupakan kota kedua dari kerajaan Blambangan dan menjadi pelabuhan masuk ke kerajaan tersebut. Sejak Portugis berkuasa di Malaka, tahun 1511, Panarukan selalu disebut karena kehadiran sejumlah orang Portugis di tempat ini. Sering disebut dengan istilah Patoekangan atau Panaroekan.

Seorang misionaris Yesuit, Balthazar Diaz menulis dalam surat 3 Desember 1559 yang dikirim dari Malaka ke Goa sekelumit keadaan waktu itu : “Dalam pelayaran dari sini ke Solor, orang singgah di Kerajaan Panarukan. Orang Panarukan sangat bersahabat dengan kita.” Menurut B. Diaz, pendudukan Panarukan tidak mau memeluk agama Islam.

Satu dasawarsa kemudian, Pater Gaspar da Cruz dalam catatan yang diterbitkan di Portugis tahun 1569 menulis: umat Katolik di Panarukan ketika itu mendapat pelayanan dari imam-imam Dominikan (OP). Pada masa itu, ordo Dominikan telah memiliki biara besar di Malaka. Mereka berkarya di Flores dan Maluku. Rupanya mereka juga menempatkan misionarisnya di Panarukan. Melengkapi kedua catatan, sebuah penuturan agak panjang ditulis dalam Sejarah Misi Indonesia menggambarkan keadaan umat di Panarukan tiga dasawarsa sesudah tahun1569.

Pada pertengahan Mei 1579, Kapal Diego Lopez de Mesquita meninggalkan Malaka dan mendarat ddekan Paneluca (Panarukan) karena diserang badai. Tiga orang misionaris Yesuit: Pater Bernadino Ferrari (1537-1585; visitator Yesuit untuk misi Maluku),[3] Pater Jorge Fernandez dan Pater Gomez da Amara ikut dalam kapal tersebut menuju pos misi di Ternate. Waktu kapal sedang berlabuh di pelabuhan Panarukan, para awak kapal mendapat serangan dari penduduk lokal. Dua orang imam Yesuit ikut terbunuh: Pater Jorge Fernandez dan Gomes de Amara. Pater Bernadino Ferrari terhindar dari pembunuhan tersebut, karena kebetulan pada waktu itu dia tidak ada di pantai. Dia sedang berada di kota Panarukan, kota kedudukan Adipati. Di sana dia sedang mendengarkan pengakuan dosa dari orang-orang Portugis, yang telah bertahun-tahun menetap di Panarukan. Pater Ferrari diterima dengan sangat ramah oleh Adipati Panarukan dan mendapat hadiah sebidang tanah, untuk membangun sebuah gereja. Tatkala Pater Ferrari mendengar terjadinya pembunuhan di pantai tersebut, maka dia lalu terpaksa bertolak kembali ke Malaka. Pater Ferrari membawa surat Adipati Panarukan yang menyatakan keinginannya, agar dari Malaka dikirim misionaris-misionaris ke Panarukan.[4]

Saat itu, relasi dagang antara pedagang Portugis dan Blambangan sangat intensif. Buku berjudul Livro das Cidades e Fortalezas yang ditulis tahun 1582 menyatakannya,

“Di pulau Jawa ada pelabuhan yang bernama Malambuan, dimana diperoleh banyak barang dagangan berupa emas dan hasil bumi. Tetapi, penguasa Malaka melarang kapal-kapal untuk pergi berdagang di tempat itu, kecuali kapal mereka sendiri. Kapal Portugis sendiri tidak pernah mengumumkan apa yang mereka bawa ke sana dan yang ambil dari sana. Hanya satu hal yang diketahui bahwa tempat itu penting.”[5]

Saat itu, Raja Blambangan mewaspadai penguasa-penguasa dari Mataram dan Pasuruan yang hendak memperluas daerah kekuasaan mereka.[6] Raja Blambangan memerlukan sekutu. Sampai tahun 1575, Kerajaan Blambangan masih merdeka bahkan dapat merebut kembali pelabuhan Panarukan, di pantai utara wilayahnya, dari Pasuruan dengan bantuan tentara dari Bali. Pedagang-pedagang Portugis diperkirakan memberi nasehat kepada Raja Blambangan agar mengundang imam-imam masuk ke daerahnya dengan perhitungan bahwa kedatangan mereka akan memberi jalan persekutuan dengan tentara Portugis untuk melawan musuh-musuhnya.[7] Secara kultural, Blambangan adalah benteng terakhir kebudayaan Hindu di pulau Jawa.

Pada tanggal 5 Oktober 1584, ada 12 biarawan Fransiskan tiba di Malaka. Kira-kira pada tahun 1585 setelah beberapa saat di Malaka, 4 orang dari rombongan itu berangkat ke Panarukan atas permintaan Uskup Malaka yang telah berjanji kepada Raja Blambangan untuk mengirim imam ke wilayahnya. Nama mereka adalah Pater Pedro Arouca, Pater Jorge de Viseu, Pater Manoel de Elvas, dan Bruder Jeronymo Valente.[8] Mereka mencapai Panarukan setelah berlayar selama 27 hari.[9]

Empat misionaris Fransiskan berangkat dari Malaka tahun 1584 atau 1585, menumpang kapal Portugis yang akan ke Maluku, dipimpin Manuel Pintu. Setelah pelayaran duapuluh tujuh hari mereka tiba di Panarukan.

Pater Pedro Arouca dan Pater Jorge de Viseu tinggal di Panarukan. Usaha Pater Pedro de Arauca dan Pater Jorge de Viseu di Pelabuhan Panarukan sangat lancar dan menghasilkan banyak buah. Mereka telah mempermandikan banyak orang, antara lain keponakan raja.

Pater Manuel de Elvas dan Bruder Jeronymo Valente terus ke Blambangan dekat teluk Pangpang, di tepi selat Bali. Dalam pekerjaan misi mereka di ibukota Blambangan, mereka membaptis sekitar 600 orang, salah satunya adalah anak raja yang kemudian meninggal karena sakit. Ada dua pangeran, ayah dan anak, anggota keluarga raja yang juga menerima pembaptisan. Sang ayah diberi nama Antonio dan sang anak diberi nama Paschoal. Paschoal meninggal dibunuh karena imannya. Pater Manoel memakamkannya sebagai martir. Keempat biarawan Fransiskan itu diperkirakan berada di wilayah Blambangan sampai tahun 1588-1589. Ketika pulang ke Malaka, Pater Manoel memakamkan kembali Paschoal di gereja para Fransiskan di Malaka.[10] Setelah kepulangan mereka berempat, beberapa biarawan dikirim ke Panarukan, salah satunya bernama Pater Cosme.[11]

Tanda-tanda kelangsungan karya misi Fransiskan ini ditemukan dari catatan perjalanan Willem Lodewijksz, yang mengikuti perjalanan Cornelis de Houtman (pemimpin armada Belanda yang pertama ke daerah timur).[12] Dalam bagian buku harian yang bertanda tahun 1596, Willem membandingkan Banten dan Panarukan dengan menulis,“Mereka di sini (Banten) tidak memiliki gereja atau kapel sebagaimana di Panarukan dimana ada banyak orang Katolik yang berkulit gelap.” [13] Berita itu menunjukkan bahwa ada imam yang menetap di daerah Panarukan.

Catatan perjalanan itu menceritakan juga terjadinya perang antara Blambangan melawan Pasuruan pada tahun 1596. Karena tidak berhasil menundukkan Panarukan, raja Pasuruan langsung menyerang ibukota Blambangan. Catatan perjalanan Willem Lodewijksz yang bertanggal 19 Januari 1597, ketika mereka sampai di Bali, menyebutkan bahwa pengepungan kota Blambangan sudah berlangsung selama tiga bulan dan masih ada biarawan Fransiskan yang bekerja di Blambangan. Pada akhir tahun itu, ada berita yang sampai Malaka bahwa orang-orang Portugis dan orang Katolik Jawa mengalami banyak kesusahan akibat perang itu. Olivier van Noort yang pada 3 Februari 1601 tiba di Gresik mencatat bahwa Blambangan telah dikalahkan oleh Pasuruan.[14] Jika Blambangan dikalahkan oleh Pasuruan satu atau dua tahun setelah kedatangan Cornelis Houtman, maka Kerajaan Hindu terakhir di Jawa itu dan satu-satunya misi Katolik di pulau Jawa sebelum abad ke-19 lenyap sekitar tahun 1598 atau 1599. Perkiraan ini kurang lebihnya cocok dengan tulisan Godinho de Heredia, yang ditulis sekitar tahun 1599, yang menyatakan bahwa pemukiman orang Katolik di Panarukan telah dihancurkan dan tidak dihuni lagi.[15] Tempat yang bernama “benteng” itu terletak kira-kira di daerah Kuta Bedah, sekitar 2 kilometer Timur-Laut (north-east) kota Panarukan sekarang. Riwayat Gereja Panarukan zaman Portugis tampaknya tamat setelah perang Blambangan-Pasuruan itu. Sisa peninggalannya hanya berupa kebiasaan warga setempat menyebut “Tugu” yang letaknya di Kuta Bedah.

VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan maret 1602. VOC menjadi penguasa baru untuk perdagangan. Akhirnya, bukan hanya menguasai perdagangan, VOC juga menguasai daerah-daerah nusantara. VOC melarang misi Katolik di daerah kekuasaannya.[16] Pada abad ke-17 dan ke-18, praktis misi Katolik di nusantara rusak total, kecuali di daerah Timor timur yang masih dikuasai Portugis, karena VOC mendukung penyebaran Kristen Protestan.[17] Pembubaran VOC pada tahun 1799 menyebabkan wilayah nusantara menjadi wilayah Kerajaan Belanda.

Revolusi Perancis menyebabkan pendudukan Belanda oleh Perancis sejak tahun 1795. Napoleon Bonaparte menjadikan saudaranya sebagai raja Belanda. Louis Bonaparte sebagai Raja Batavia memaklumkan kebebasan beragama pada tahun 1806. Dengan adanya kebebasan itu, imam-imam Katolik dapat mendampingi orang-orang Katolik yang beremigrasi ke daerah Hindia Belanda.[18]

Dengan terbukanya kemungkinan pekerjaan misi untuk perawatan rohani orang-orang Katolik di Hindia Belanda, datanglah dua imam sekuler, Jacob Nelissen Lambertus dan Prinsen, di Batavia (Jakarta sekarang) pada tanggal 4 April 1808.[19] Prefektur Apostolik Jakarta ditetapkan pada tanggal 8 Mei 1807. Surabaya menjadi stasi prefekturat Batavia dengan imam menetap.[20] Imam sekuler Jacob Nelissen menjadi Prefek Apostolik Batavia dari tahun 1808-1817. Dilanjutkan oleh imam sekuler Lambertus Prinsen dari tahun 1817-1830. Kemudian diteruskan imam sekuler Johannes H. Scholten (1831-1842) dan imam Hubertus J. Cartenstat (1842-1845). Pemerintahan Hindia Belanda memberlakukan surat izin khusus (radicaal: surat keterangan memegang suatu jabatan dalam dinas sipil di Hindia Belanda). Dengan surat itu, imam Katolik dapat memberikan pelayanan rohani kepada orang-orang Eropa yang beragama Katolik dan mereka dapat meminta ganti biaya perjalanan kepada pemerintah. Tanpa surat izin itu atau jika surat izin itu dicabut, maka yang bersangkutan akan diusir dari daerah Hindia Belanda.

Prefektur Apostolik Batavia ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik pada tanggal 20 September 1842 dengan wilayah seluas wilayah Hindia Belanda. Imam sekuler Jacobus Grooff menjadi Vikaris Apostolik pertama. Mgr. Grooff tiba di Batavia dengan membawa empat imam sekuler yang tidak mempunyai radicaal. Ia berselisih dengan pemerintah karena ia menganggap bahwa pemerintah ikut campur tangan dalam urusan Gereja. Tahun 1846, Mgr. Grooff dengan ke-4 imam itu diusir dan mereka pulang ke Belanda. Sebagai kelanjutan dari kejadian itu,  terbitlah Nota der Punten pada 2 Januari 1847. Nota tersebut berisi kesepakatan antara Takhta Suci Vatikan – Pemerintah Kerajaan Belanda yang membolehkan misionaris Katolik bekerja di pulau Jawa dan pulau sekitarnya asal tidak meminta gaji dari pemerintah Hindia Belanda. Kuota misionaris Katolik yang menerima subsidi pemerintah adalah delapan orang.[21] Pada tahun 1853, terbit Regering-Reglement dengan pasal 123 mengenai peraturan penyebaran agama (kelak diubah pada tahun 1922 pada pasal 177 dalam Undang-undang Hindia Belanda) yang melarang penyebaran agama Katolik di daerah Batak dan Toraja dan yang mengharuskan adanya izin dari pemerintah (yang dapat dicabut setiap saat) bagi misionaris Katolik yang bekerja di wilayah Hindia Belanda.

Imam sekuler Petrus Maria Vrancken melanjutkan Mgr. Grooff (sebagai koajutor: 1847-1852; sebagai Vikaris Apostolik: 1852-1871). Ia datang bersama dengan 5 imam sekular, namun ia tetap berada dalam keadaan sulit karena kurangnya tenaga imam. Dari tahun 1808-1845, 14 imam sekular tiba di Hindia Belanda. Namun, hanya empat orang yang bertahan pada tahun 1845. Suster-suster Ursulin mulai masuk Batavia sejak tahun 1856. Karena itu, ia berpendapat bahwa daerah misi Hindia Belanda sebaiknya ditangani oleh imam-imam reguler.[22] Permintaan ini menjadi awal dari kedatangan para Yesuit dari propinsi Belanda. Mereka masuk daerah Hindia Belanda pada tahun 1859. Pada tahun 1859, Pater Martinus van den Elzen SJ (1822-1866) dan Pater Johannes Baptista Palinckx SJ (1824-1900) tiba di Batavia dan memulai pekerjaan misi di Hindia Belanda. Pater Palinckx berkeliling melayani wilayah antara Yogyakarta dan Banyuwangi.

Kemudian berturut-turut sebagai Vikaris Apostolik Batavia adalah Adamus C. Claessens (1874-1893), Walterus J. Staal SJ (1893-1897), dan Edmundus S. Luypen SJ (1898-2 Mei 1923). Pada masa Mgr. Luypen inilah wilayah misi Hindia Belanda mulai dibagi-bagi. Para Karmelit misionaris pertama masuk Jawa pada masa Mgr. A.P.F. van Velzen SJ sebagai Vikaris Apostolik Batavia (1923-1933).

 

Jumlah Orang Katolik Di Pulau Jawa Pada Tahun 1903[23]

No. Tempat Orang Katolik
Eropa Tionghoa Jawa Jumlah
Sipil Militer
01. Ambarawa 1.398 653 33 2.084
02. Batavia 2.925 1.091 81 142 4.239
03. Bogor 839 117 15 971
04. Cirebon 1.179 635 1 3 1.818
05. Yogyakarta 1.680 179 37 6 1.902
06. Madiun 1.168 103 1.271
07. Magelang 496 473 23 992
08. Malang 896 232 1.128
09. Mendut 145 145
10. Muntilan 195 195
11. Semarang 2.585 208 15 78 2.886
12. Surabaya 3.526 441 25 27 4.019
16.692 4.132 159 667 21.650

 

Sacra Congregatio de Propaganda Fide (selanjutnya disingkat SCPF), Departemen Tahta Suci Vatikan yang mengurus daerah-daerah misi, mulai memecah-mecah daerah misi Serikat Yesus di Hindia Belanda sejak  awal 1900-an dengan pendirian:

  • Prefektur Apostolik Nieuw-Guinea/ Amboina (20 Desember 1902; ditangani oleh Misionaris Hati Kudus [MSC]),
  • P.A. Borneo-Nederland / Kalimantan (11 Februari 1905; ditangani oleh para Kapusin),
  • P.A. Padang (13 Juni 1911; ditangani oleh Pater Kapusin), P.A.Celebes / Sulawesi (19 November 1919; ditangani oleh pater MSC),
  • P.A. Kepulauan Sunda Kecil (12 Maret 1922; ditangani oleh misionaris SVD),
  • P.A. Bengkulu (27 Desember 1923),  dan
  • P.A. Bangka dan Biliton (27 Desember 1923; ditangani oleh Pater SS.CC [Picpus]).
  • Para Yesuit memusatkan misi mereka di pulau Jawa.

Pemecahan daerah misi ini ada dalam perjanjian antara Tahta Suci Vatikan dan pemerintah Belanda pada tahun 1913 bahwa Vikaris Apostolik Batavia tetap menjadi penghubung utama antara daerah-daerah misi dengan pemerintah Hindia Belanda.[24] Pada tahun 1920-an, praktik ini yang melatar-belakangi pembentukan Kerkhoofdenconferentie (Konferensi Wali Gereja Indonesia) dan Centraal Missiebureau (kantor misi pusat; sekarang kantor KWI).

 

Gambar 1: Para Vikaris Dan Prefek Apostolik, Dan Superior Missionis Bersama Delegatus Apostolik Pada Tahun 1925. Pater Clemens berdiri di ujung sebelah kiri dengan menggunakan jubah karmelit.

 

Pada tahun 1925 diadakanlah untuk pertama kali pertemuan para vikaris apostolik, prefek apostolik, dan superior missionis se-Hindia Belanda yang dipimpin oleh Delegatus Apostolik di Afrika Selatan Mgr. G. Gijlswijk. Mereka membahas soal kebersamaan dalam bertindak, soal formasi klerus pribumi, baik reguler maupun sekuler, soal aktual berkenaan dengan perkembangan nasionalisme dan menanggapi peraturan pemerintah Hindia Belanda tentang kebebasan penyiaran agama, soal apa yang harus dilakukan bagi penduduk pribumi, dan soal pendidikan.[25]

 

 

 

 


[1] T.W. GELDORP, “Indonesia,” dalam New Catholic Encyclopedia, McGraw-Hill Book Company, New York 1967, hlm. 478.

[2] Para pedagang Portugis menduduki Malaka sejak 1511.

[3] DH, Ferrari-Bernardino, hlm. 1404.

[4] FIA, hlm. 46.

[5] FIA, hlm. hlm. 44.

[6] Pasukan Mataram dan Pasuruan menyerang Blambangan pada tahun 1540, 1580, dan 1590. RICKLEFS M.C., A History of Modern Indonesia, The Macmillan Press Ltd., London 1981, hlm. 36.

[7] FIA, hlm. 46.

[8] FIA, hlm. 47.

[9] Uskup Malaka dalam surat yang bertanggal 31 Desember 1588 menerangkan situasi geografisnya sebagai berikut, “Balambuam… na qual ilha está o porto de Panaruqua.” FIA, hlm. 49.

[10] FIA, hlm. 50.

[11] FIA, hlm. 52.

[12] Cornelis de Houtman berangkat dari eropa tahun 1595 dengan 4 kapal. Juni 1596 mencapai banten, berlayar ke timur menyusuri laut Jawa. Tahun 1597, ia pulang dengan rempah-rempah dalam 3 kapal. RICKLEFS M.C., A History of Modern Indonesia, hlm. 24.

[13] FIA, hlm. 53.

[14] FIA, hlm. 53; RICKLEFS M.C., A History of Modern Indonesia, hlm. 36.

[15] FIA, hlm. 54.

[16] MDE, hlm. 24. Pedagang Spanyol diusir dari Ternate dan tiga Yesuit terakhir diusir dari Sulawesi Utara  pada tahun 1677.

[17] MDE, hlm. 24.

[18] Kekalahan Napoleon menyebabkan Hindia Belanda dikuasai Inggris (1811-1816). Kemudian, Hinda Belanda kembali lagi ke pemerintah kerajaan Belanda (1816).

[19] B. HAGSPIEL, Along the Mission Trail, vol.2, In the Netherlands East Indies, Mission Press SVD, Techny (Illinois), 1925, hlm. 24.

[20] J. SCHMIDLEN, Catholic Missions History, Mission Press SVD, Techny (Illinois), 1933, hlm. 614.

[21] AS, fondo NS vol. 846, rubrica 65/1, no. prot. 3175/1925 dan 3210/1925.

[22] MDE, hlm. 26.

[23] Mulai tahun 1890, misi Yesuit menerbitkan Claverbond setiap kuartal yang memberikan statistik karya misi tahun sebelumnya. K. STEENBRINK, Catholics in Indonesia 1, A Documented History 1808-1903, KITLV Press, Leiden 2003 hlm. 461.

[24] TH. VAN DEN END – J.S. ARITONANG, 1800-2005: A National Overview, dalam J.S. ARITONANG – K. STEENBRINK (Ed.), A History of Christianity in Indonesia, Brill, Leiden-Boston 2008, hlm. 171.

[25] AS, fondo NS vol. 846, rubrica 65/1, no. prot. 3118/1925.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *