Kepemimpinan Mgr. Antonius Everardus Johannes Albers O.Carm

Kepemimpinan Mgr. Antonius Everardus Johannes Albers O.Carm

(Prefek Apostolik: 1935-1939;  Vikaris Apostolik : 1939-1961; Uskup: 1961-1973)

Rm. Dr. Antonius Deni Firmanto, Pr, M.Pd

 

 

Semenjak meninggalnya Mgr. C.v.d Pas, Pater M.F. Henckens O.Carm menjabat sebagai pro-Prefek sampai 18 Januari 1935. Pater A.E.J. Albers O.Carm terpilih sebagai Prefek Apostolik pada tanggal 18 Januari 1935. Ia dilantik tanggal 10 Maret 1935. Mgr. Albers dilahirkan di Nijmegen, Belanda pada tanggal 7 Februari 1904, tahbisan imam 14 Juni 1930.

Mgr. A.E.J. Albers

3.1 STATUS DAERAH MISI

Prefekturat Apostolik menjadi Vikariat Apostolik Malang pada tanggal 15 Maret 1939.[1] Mgr. A.E.J. Albers O.Carm ditahbiskan sebagai uskup pada tanggal 10 Agustus 1939 pukul 07.00 pagi di Gereja St. Theresia Malang oleh Pentahbis utama Mgr. Joan Panico, Delegatus Apostolik di Australia didampingi oleh Mgr. P. Willekens SJ,  Vikaris Apostolik Batavia, dan Mgr. Aerts MSC, Vikaris Apostolik Nieuw-Guinea.[2]

Perbandingan Prefekturat /Vikariat Apostolik di Pulau Jawa Bulan Juni 1933[3]

  P.A./ V.A. Orang Katolik Personil Ktkm Ktk Gr G1 G2
G I B S
1. VA Batavia 47005 E 85 101 386 3585 61 1057 15 49
BE 5 12 86
2. PA Bandung 12038 E 12 7 77 100 7 37 3 9
BE 78
3. PA Malang 7269 E 15 17 85 377 41 114 7 12
BE 2
4. PA Purwokerto 4131 E 10 13 49 405 10 41 2 9
BE
5. PA Surabaya 16250 E 22 25 111 443 25 223 4 11
BE

G: golongan; E: Eropa; BE: bukan Eropa (Jawa atau Tionghoa);

Ktkm: katekumen; Ktk: katekis; Gr: guru; G1: gereja yang memuat lebih dari 400 orang; G2: gereja yang memuat kurang dari 400 orang

 

Vikariat Apostolik Malang ditingkatkan menjadi Keuskupan pada tanggal 3 Januari 1961oleh Paus Yohanes XXIII melalui Konstitusi Apostolik Quod Christus Adorandus bersamaan dengan pendirian Hirarki di Indonesia.[4] Paus Yohanes ke-23 menegaskan pentingnya pembentukan Hirarki di Indonesia dalam Surat Apostolik Sacrarum expeditionum bertanggal 20 Maret 1961.

Mgr. A.E.J. Albers O.Carm menjadi Uskup Malang yang pertama. Pelantikan dilaksanakan oleh Inter-Nuntius Mgr. D.G. Alibrandi pada tanggal 10 September 1961. Pada kesempatan itu juga Gereja St. Theresia secara resmi dijadikan Gereja Kathedral dengan nama pelindung  B.M.V. De Monte Carmelo (St. Maria dari Gunung Karmel). Tanggal 16 Juli menjadi pesta pelindung Keuskupan.

SC pro Gentium Evangelizatione mengeluarkan instruksi mengenai prinsip dan norma berkenaan dengan hubungan antara Uskup dan lembaga-lembaga misi (ordo, kongregasi, serikat, atau asosiasi) pada tanggal 24 Februari 1969.[5] Berdasarkan instruksi ini, status hukum “iuris commissionis” yang dimiliki oleh lembaga misi di daerah misi dihapus sejak daerah misi itu menjadi keuskupan. Partisipasi lembaga misi dalam pelaksanaan karya Gereja di keuskupan diatur berdasarkan kesepakatan antara uskup dan pimpinan lembaga misi.[6]

 

3.2 PERKEMBANGAN MISI SAMPAI TAHUN 1942

 

3.2.1 Daerah Misi Malang

Rumah biara suster Ursulin yang terletak di samping kapel diberkati dan mulai dipakai pada tanggal 27 Mei 1934. Biara tersebut dipersembahkan kepada Tritunggal Yang Mahakudus.

Pengembangan paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan terjadi dengan diberkatinya gereja St. Theresia Malang yang berada di Idjenboulevard (sekarang Jln. Raya Ijen) pada tanggal 28 Oktober 1934. Pastoran baru berada di Idjenplein (sekarang Jln. Buring). Buku baptis untuk paroki ini mulai tanggal 1 November 1934 (sebelumnya di Malang-Kayutangan).[7] Pater Blomesath dan Pater Ardts ditunjuk menjadi pastor-pastor pertama di paroki baru ini. Sejak tahun 1935 terbit dari pastoran Malang-Ijen bulanan “Padjar Wetan,” bulanan “Swara Moeda Katoelik Malang,” dan bulanan “Vox voor de Apostolische Prefectuur Malang.” Majalah-majalah ini memuat pengetahuan agama Katolik dan beredar di kalangan Katolik dan bukan-Katolik. Melalui terbitan ini, orang mengenal agama Katolik.

 

Stasi Gereja St. Theresia Malang Pada Tahun 1938[8]

Orang Katolik Tempat
Eropa Turen, Dampit, Mulyoarjo, Supit-urang, Sumber Rawa, Bululawang, Krebet, Wonokerto, Sumber ManggisKidul
Jawa Pakisaji, Kedung-Kandang, Karangsono, Genengan, Sentong

 

Stasi Batu menjadi paroki sejak tanggal 1 September 1935. Buku paroki Batu mulai 1 September 1935 (sebelumnya di Malang-Ijen).[9] Pastor pertama di tempat itu adalah Pater F.J.E. Wouters O.Carm. Pada saat berdirinya paroki, gereja yang ada adalah gereja-bantu bernama St. Teresia, kemudian nama gereja diubah menjadi “St. Simon Stock.”[10] Stasi dari Paroki ini adalah Pujon, Ngantang, Sumberbrantas, Punten, Junggo, Dau. Pastoran berada di Grote Postweg (sekarang Jln. Panglima Sudirman). Suster Sang Timur mendukung misi ini dengan mengurus ELS, yang sudah didirikan oleh Carmelstichting pada tahun 1933 dan sudah memiliki gedung sendiri, dan Fröbelschool-nya. Kemudian, mereka membuka Fröbelschool anak Jawa, dan HCS dan Fröbelschool-nya. Rumah mereka juga terletak di Grote Postweg.

Stasi Blimbing menjadi paroki terpisah dari paroki Hati Kudus Yesus- Kayutangan mulai tanggal 6 September 1936. Buku baptis paroki ini mulai 18 April 1936 (sebelumnya di Malang-Kayutangan).[11] Pater H.J.A. Dillmann O.Carm menjadi pastor pertama. Pastoran ada di Grote Weg (sekarang Jln. A.Yani ). Pendirian paroki didukung oleh perkumpulan St. Melania yang memindahkan Rumah Sakit dan Klinik rawat jalan pada tanggal 12 Januari 1936. Lalu mereka membuka Fröbelschool pada tanggal 1 Februari 1936. Dan, sekolah Melania yang di Betek dipindahkan juga dari Bareng ke Blimbing pada tanggal 1 April 1936 (sekarang kompleks persekolahan Marsudisiwi).

Carmelstichting membuka RK AMS bagian B St. Albertus yang bertempat di Rampal Kulon 3 pada tanggal 1 Agustus 1936. Pater  R.J.A.M. van Haaren, Pater Th. M.M. van Rooy, Pater Barth. Catyn, dan A. Jaspers memulai sekolah menengah itu.

Stasi Tumpang-Wates Balung mendapat pastor yang menetap pada tanggal 1 Desember 1937. Gereja diberkati pada Natal 1937. Buku baptis mulai 1 November 1937 (sebelumnya di Malang-Kayutangan) dan paroki bernama Hemelopneming.[12] Pastoran terletak di Kebonsari. Pater G.A. Vloet menjadi pastor paroki pertama. Carmelstichting telah mendirikan di tempat itu HIS dan Sekolah Kelas II, sekolah pertanian, dan rumah yatim untuk anak laki-laki Jawa pada tahun 1933. Kemudian,  Carmelstichting juga mendirikan HCS. di tempat itu pada tanggal 2 Agustus 1937. HCS dan Fröbelschool tersebut akhirnya dikelola oleh Suster Misericordia yang juga membuka poliklinik, rumah sakit kecil St Yusuf dan perumahan untuk orang jompo pada tahun 1937.

 

Stasi Paroki Tumpang-Wates Balung Pada Tahun 1938

Daerah Nama Tempat
Kepanjen Kepanjen mempunyai gereja (diberkati 24 Desember 1935)
Daerah Biasa Wates Balung, Pulungan, Tamiajeng, Tajinan, Karang Jambe, Bambang, Kebonsari, Bumiayu, Senggreng, Kecopokan, Dadapan, Sumberpucung, Donomulyo, Turus
Perkebunan Ngrejo

 

Pada tanggal 9 Februari 1941, diberkatilah gedung pertemuan bagi orang-orang Jawa di kampung Celaket, yang pada hari Minggu juga berfungsi sebagai gereja.[13]

Pada akhir tahun 1941, diselesaikanlah pendirian gedung RK AMS beserta asrama dan biara bagi para romo Karmelit di Jln. Dempo dan gedung RK AMS dan ELS serta sekolah Montessori milik suster Ursulin di Jln. Panderman.

 

3.2.2    Daerah Misi Probolinggo

Stasi Lumajang menjadi paroki pada tahun 1936. Buku paroki mulai tanggal 1 Agustus 1936 (pencatatan baptis sebelumnya di Probolinggo).[14] Pater W.J.A. Scheurink O.Carm menjadi pastor pertama. Gereja paroki bernama “St. Maria dari Gunung Karmel.”[15] Pastoran sementara ada di Pasirianweg 3 (sekarang Jln. D.I. Panjaitan) kemudian pindah ke Jln. Yos Sudarso sekarang). Gereja dan pastoran Lumajang yang baru ini diberkati pada tanggal 9 Juni 1940. Stasi Sukarena mejadi bagian dari Paroki Lumajang; gerejanya bernama “St. Maria Ratu Para Rasul dan St. Theresia Kanak-kanak Yesus;” misa diadakan setiap minggu pertama. Suster SPM, bertempat di rumah “Villa Cadeau” di Pasirianweg, membuka karya sekolah  pada tanggal 1 Agustus 1936.

 

Stasi Paroki Lumajang Pada Tahun 1938[16]

Jenis Nama Tempat
Daerah Biasa Tempeh, Pasirian, Candipuro, Klakah, Randu-agung, Tanggul, Gumukmas, Kencong, Yosowilangung
Daerah Perkebunan PG Jatiroto dan 19 daerah wilayah kerjanya

Perkebunan: Sumber-wuluh, Kebon-Deli, Sumber-Bopong, Klatakan, Tugusari, Gondang, Kalitengah, Zeelandia, Kalisuko, Suko-Kulon, Sumber-Ayu, Karang-Anom, Gunung-Gambir, Jamintoro, Kaliduren, Kali-Glagah, Lungur-Dawa, Lebakrejo.

 

Stasi Sumenep menjadi paroki sejak 1937. Buku paroki mulai 15 Oktober 1937 (sebelumnya di Malang-Ijen) dan paroki bernama “St. Maria dari Gunung Karmel.”[17] Pater H.H. Visser O.Carm menjadi imam pertama yang menetap di sana. Pastoran (yang juga berfungsi sebagai gereja) berada di Jln. Pabean 280, Sumenep.[18] Berikut ini adalah stasi-stasi Paroki Sumenep: Bangkalan, Krampon, Kamal. Carmelstichting mengambil alih suatu HCS swasta pada tanggal 1 Mei 1936. Lima orang suster Darah Mulia (Beek en Donk) tiba di Sumenep pada tanggal 15 Oktober 1937. Sebagai usaha awal, mereka mengurus HCS yang sejak setahun sebelumnya telah diurus Carmelstichting. Mereka juga membuka pelayanan kesehatan di tempat itu.

HCS Pamekasan di dekat alun-alun diberkati pada bulan Desember 1938. Gereja yang terletak di halaman yang sama dengan sekolah HCS diberkati pada tanggal 8 Januari 1939. Gereja ini adalah gereja katolik yang pertama di pulau Madura yang secara resmi diberkati.

 

3.2.3 Daerah Misi Jember

Pada tanggal 5 Mei 1933 di Glagah Agung sebuah gereja baru khusus untuk orang-orang Jawa diberkati. Tetapi berhubung dengan perencanaan baru yang akan dilaksanakan oleh dinas kehutanan, riwayat gereja ini pendek sekali. Beberapa tahun kemudian, gereja ini beserta penduduk dan segala apa yang ada di tempat itu harus pindah ke desa Curahjati.

 

Pembagian Tugas Stasi  Pastor Paroki Jember Pada Tahun 1933[19]

Nama Minggu Tempat
A. van der Linden ke-2 Situbondo, misa jam 07.00 di Gedung pengadilan negeri
ke-2 Glenmore, misa jam 07.30 di aula ELS
ke-3 Bondowoso, misa jam 07.00 di gedung pengadilan negeri
G.A. Vloet ke-1 Sukarena, misa jam 07.00 di kapel St. Theresia
ke-3 Glagah Agung, misa jam 07.00 di gereja St. Yusuf
ke-4 Banyuwangi, misa jam 07.00 di kantor Asisten Residen

 

Pada tahun 1939, ada tiga pastor berada di Jember. Mereka adalah A.W.C. Blijdenstein, M.L.H. Stultiëns, dan G.P. van Velzen Menurut Buku Tahunan 1939, sejak ada pastoran dan gereja St. Yohanes Pembaptis di Bondowoso, maka misa hari Minggu dapat diselenggarakan sebanyak tiga kali sebulan. Nama stasi Sukarena menjadi bagian dari Paroki Lumajang di Buku Tahunan 1939. Pada tahun 1939 tersebut tercatat stasi-stasi berikut ini dikunjungi secara rutin oleh pastor-pastor Jember: Ambulu, Balung, Besuki, Garahan, Genteng, Kalibaru, Kencong, Puger, Payoman. Pada tahun 1941, dibukalah RK Inheemse MULO di Jember – sekolah MULO pribumi yang pertama di Indonesia – untuk sementara mengambil tempat di rumah keluarga Birnie.

 

Pembagian Perjalanan Dinas  Pastor Jember Pada Tahun 1938[20]

Nama Minggu Tempat
M.L.H. Stultiëns ke-1 Glagah Agung misa jam 07.30; 3 atau 4 hari sebelum minggu ke-1 misa di gereja bantu Setrobendo-Parijatahwetan jam 06.00. Misa di Brassan-kolonie 1 bulan sekali sesuai perjanjian.
ke-2 Glenmore, misa Minggu jam 07.30 di aula ELS
ke-3 Rambipuji. Setiap selasa setelah minggu ke-3 jam 06.00 bertempat di rumah Bapak Ch. Poespowardojo.
ke-4 Banyuwangi. misa Minggu jam 07.00 di kantor Asisten Residen
G.P. van Velzen ke-3 Situbondo. Misa hari Minggu jam 07.30 di gedung pengadilan negeri
ke-1,2,4 Bondowoso. Misa hari Minggu jam 07.00. Misa harian: hari Rabu jam 06.00.

 

Rintisan paroki Bondowoso berawal dari keberadaan beberapa keluarga katolik di tempat itu. Keluarga Katolik pribumi yang terpandang adalah keluarga FX Brodjo Marsono, seorang Guru SR sejak 1929. Keluarga Katolik Eropa yang berpengaruh adalah Keluarga Refuge dari Belgia, Old Heuten dari Belanda, dokter Caselughe dari Cekoslovakia. Sekitar tahun 1932, mereka mulai membicarakan perlunya pendirian gedung gereja. Lahan untuk gedung gereja akhirnya diperoleh dari hibah keluarga Ny. A.L. Luyten. Gereja Bondowoso diberkati pada tanggal 18 Oktober 1936.[21] Sejak itu stasi Bondowoso terpisah dari paroki Jember. Buku paroki mulai tanggal 1 November 1936.[22] Paroki bernama St. Yohanes Penginjil dan Pater J.M. Hendriks menjadi pastor pertama. Pastoran berada di Djemberweg (sekarang Jln.                ).

Gereja dan pastoran Banyuwangi dibangun mulai 1 Agustus 1941.

 

3.3 GAMBARAN UMUM MISI KARMELIT MALANG SAMPAI TAHUN 1942

Perbandingan Kondisi Prefekturat Malang  1933[23]-1935[24]– 1938[25]

  Tempat G Orang Katolik
1933 1935 1938
01. Malang:HKY +

Theresia 1934

E 3.068 4.876 5.314
BE 700 1.753 1.789
02 Probolinggo

1924

E 750 748 543
BE 76 196 394
03. Balearjosari

1925

E 25 38 13
BE 845 955 563
04. Jember

1927

E 905 735 1.118
BE 301 614 559
05. Lawang

1927

E 441 675 776
BE 57 48 78
06. Pasuruan

1932

E 98 280 247
BE 3 86 86
07. Batu

1935

E 281
BE 59
08. Bondowoso

1935

E 233
BE 38
09. Blimbing

1936

E 342
BE 40
10. Lumajang

1936

E 277
BE 95
11. Sumenep

1937

E 243
BE 30
12. Tumpang-WB

1937

E 82
BE 429
      7.269 11.004 13.636

G: Golongan; E: Eropa; BE: Bukan Eropa (Tionghoa atau Jawa)

 

Perbandingan Personil Misi Di Prefekturat Malang  1933[26]-1935[27]

  Tempat G 1933 1935
I B S I B S
01. Malang: HKY+

Theresia

E 9 18 47 9 19 52
BE 1 1
02 Probolinggo

1924

E 2 15 2 5 16
BE 1
03. Balearjosari

1925

E 1 2 1 3
BE
04. Jember

1927

E 2 7 3 8
BE
05. Lawang

1927

E 1 7 2 8
BE
06. Pasuruan

1932

E 1 9 1 8
BE 1
07. Batu

1935

E 1 4
BE

G: golongan; E: Eropa; BE: bukan Eropa; I: imam; B: bruder; S: suster

 

Personil Misi Di Prefekturat Malang Thn 1938[28]

No Tempat Imam Bruder Suster
E BE E BE E BE
01. Balearjosari 1 4
02. Batu 1 5
03. Blimbing 1
04. Jember 3 8
05. Lawang 2 13
06. Lumajang 1 4
07. Malang – Gereja Theresia 3 1
08. Malang – Gereja Hati Kudus 5 23 53 3
09. Malang – A.M.S. 3
10. Pasuruan 1 13 2
11. Probolinggo 2 14 6 17 5
12. Sumenep 1 5
13. Tumpang-Wates Balung 1 4
  Jumlah 27 43 137

E: Eropa; BE: Bukan Eropa (Tionghoa atau Jawa)

 

Perbandingan Jumlah Seminaris Vikariat / Prefekturat di P. Jawa Tahun 1938[29]

V.A./P.A. Seminari Menengah Seminari Tinggi
E BE E BE
Batavia 9 69 13 9
Malang 1 2 1 3
Surabaya 5 1 1
Puwokerto 1 2
Bandung 3 1 3 1

E: Eropa; BE: Bukan Eropa (Tionghoa atau Jawa)

 

3.5 KARYA MISI DALAM BIDANG PENDIDIKAN  SAMPAI TAHUN 1942

 

Karya misi dalam bidang pendidikan menjadi bentuk nyata kehadiran Gereja.

 

3.5.1 Gambaran Umum

Tabel berikut ini menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah misi berupa pendidikan dasar, baik untuk golongan eropa, golongan Tionghoa, dan golongan pribumi.

 

 

 

 

 

 

 

Sekolah dan Murid Di Prefekturat Malang 1933[30] dan 1938[31]

Jenis 1933 1938
  Sk Murid Sk Murid
  Jm Lk Pr Jm Jm Lk Pr Jm
TK 15 330 286 616 22 425 479 904
SD bhs. Belanda

ELS

HIS

HCS

Schakelschool

 

6

5

2

 

441

556

117

 

596

109

227

 

1.037

665

344

 

6

5

12

1

 

741

483

776

35

 

770

114

874

 

1.511

597

1.650

35

Sekolah pribumi

Volkscholen

Standaardscholen

Vervolgscholen

 

20

6

2

 

571

343

41

 

168

167

3

 

739

510

44

 

22

1

9

 

1.170

252

 

595

287

143

 

1.765

287

143

M.U.L.O. 2 36 110 146 2 128 94 222
A.M.S. bagian B. 1 27 27
Sekolah Guru

Kweekschool

Normaalschool

 

1

1

 

29

 

54

 

54

29

 

1

 

 

72

 

72

Kursus kejuruan

Sekolah kejuruan

1

2

24

6

6

24

Curs. Alg. Ontw. 1 58 58
Jumlah 60 2.464 1.720 4.184 86 4.061 3.492 7.553

 

3.5.2 Guru Di Sekolah Katolik

Tabel berikut ini menunjukkan distribusi guru di sekolah misi. Berdasarkan tabel ini dapatlah diketahui bidang pendidikan yang ditangani para suster dan frater dan yang ditangani oleh awam.

 

Perbandingan Jumlah Guru Di Sekolah Katolik Di Prefekturat Malang Tahun 1933[32] Dan Tahun 1938[33]

Jenis Sekolah Guru
1933 1938
Religius Awam Jm Religius Awam Jm
Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr
Taman Kanak-kanak 13 10 23 15 13 28
SD berbahasa Belanda

ELS

HIS

HCS

Schakelschool

 

8

3

 

13

1

7

 

11

 

11

5

2

 

32

20

9

 

15

2

 

21

2

26

 

1

7

1

1

 

14

7

26

 

51

18

53

1

Sekolah pribumi

Volkscholen

Standaardscholen

Vervolgscholen

 

 

1

 

22

13

2

 

1

3

1

 

23

17

2

 

 

2

 

32

11

 

7

8

2

 

39

10

13

M.U.L.O. 3 4 3 10 7 3 3 13
A.M.S. bagian B. 5 8 13
Sekolah Guru

Kweekschool

Normaalschool

 

1

 

4

 

8

1

 

1

 

13

2

 

2

 

4

 

3

 

3

 

12

Kursus kejuruan

Sekolah kejuruan

2

3

3

2

Curs. Alg. Ontw. 4 2 6
Jumlah 15 43 57 36 151 33 80 64 85 262

 

3.5.3 Subsidi Pemerintah Hindia Belanda Bagi Sekolah Katolik

Subsidi pemerintah Hindia Belanda membantu kelansungan karya pendidikan yang dilakukan oleh misi. Misi berhasil mendapatkan subsidi setelah bersusah payah melengkapi persyaratan yang diminta oleh pemerintah. Sekolah-sekolah yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana diminta oleh pemerintah terus diselenggarakan dengan biaya penyelenggaraan yang ditanggung oleh misi. Tabel berikut ini memberi keterangan jumlah sekolah yang mendapat pembiayaan dari pemerintah dan yang dibiayai sendiri oleh misi.

 

Perbandingan Jumlah Sekolah Dasar Bersubsidi Dan Tidak Bersubsidi di Vikariat / Prefekturat di Pulau Jawa per- Juni 1938[34]

V.A. / P.A. ELS HIS Sch. HCS Volks. St./Vg. Jumlah
T S T S T S T S T S T S T S
Batavia 4 26 19 12 16 2 15 1 98 159 33 50 185 250
Malang 2 4 4 1 1 11 1 17 5 7 3 42 14
Surabaya 3 8 3 2 1 1 6 28 14 9 2 50 27
Puwokerto 3 1 7 1 1 6 2 1 20 2
Bandung 5 4 3 1 6 3 5 23 4

Sch: Schakelschool; Volks: Volksschool; St./Vg: Standaardschool/ Vervolgschool; T: Tidak Bersubsidi; S: Bersubsidi

 

Tabel menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah di Prefekturat Malang yang diperuntukkan untuk pribumi tidak mendapatkan subsidi pemerintah Hindia Belanda. Tanggungan ekonomis berkenaan dengan penyelenggaraan sekolah ini sebenarnya sudah dirasakan sejak lama. Dalam surat kepada SCPF bertanggal 30 Mei 1932, Mgr. N. v.d. Pas meminta bantuan dana SCPF untuk pembayaran gaji guru-guru sekolah misi.[35] Pada tahun 1932 itu, Prefekturat Malang memberikan tiga penggolongan gaji yang berbeda:

  • guru Sekolah Kelas I (HIS/HCS) mendapat gaji ƒ 75 per bulan
  • guru Sekolah Kelas II (Standaardschool / Schakelschool) mendapat gaji ƒ 45- ƒ 60 per bulan
  • guru Volkschool / Vervolgschool mendapat gaji ƒ 22,50 – ƒ 45 per bulan.

 

3.5.4 Pendidikan bagi Anak Pribumi

Ketaatan para misionaris Karmelit kepada pesan Prefek Propaganda Fide untuk memajukan pendidikan bagi anak pribumi membawa konsekuensi yang berat. Penyebabnya adalah hampir tidak adanya dukungan finansial dari pemerintah Hindia Belanda dan pemberlakuan sistem pendidikan berlapis oleh pemerintah Hindia Belanda yang menyesuaikan keberadaan tiga golongan bangsa, yaitu golongan Eropa, Tionghoa,  dan pribumi.

 

A. Sistem pendidikan anak Eropa.

Sekolah dasar untuk anak Eropa (ELS: Europese Lagere School) memberikan pendidikan seperti di negeri Belanda kepada anak-anak Eropa atau anak pribumi dari kelas sosial bangsawan kaya. Lama pendidikan adalah tujuh tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Lulusan ELS melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School), kemudian dapat meneruskan ke universitas.

 

B. Sistem pendidikan anak Tionghoa

Sekolah bagi warga Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS) yang dimulai sejak tahun 1908 mengajarkan semua isi kurikulum ELS dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Lulusan HCS dapat melanjutkan ke HBS.

 

C. Sistem pendidikan anak Jawa

Indischstaatsblad no. 125 tahun 1893 memberlakukan dua golongan pendidikan dasar untuk anak pribumi, yakni sekolah kelas I dan sekolah kelas II.

 

1. Sekolah kelas I

Pada tahun 1893, Sekolah Kelas I disediakan untuk anak golongan bangsawan (dan orang kaya). Pada mulanya, lama pendidikan tahun 5 tahun dengan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar.  Pelajarannya adalah membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, ilmu alam, menggambar, dan ilmu ukur.

Pada tahun 1907, lama pendidikan Sekolah Kelas I ini menjadi 6 tahun; perubahannya adalah bahwa bahasa Belanda diajarkan mulai dari kelas 1 sampai kelas 5 dengan menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar . Pada kelas 6, bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar. Lulusannya dapat mendaftar ke sekolah guru (Kweekschool). Namun sekolah ini masih ketinggalan jika dibandingkan dengan ELS karena lulusannya tidak bisa mengikuti ujian untuk menjadi pegawai kelas rendah dan tidak membuka jalan untuk dapat melanjutkan studi.

Pada 1914, sekolah kelas I berubah menjadi HIS (Hollands Inlandse School), sekolah rendah berbahasa Belanda untuk anak pribumi dengan lama studi 7 tahun. Kurikulum yang dipakai adalah sesuai dengan yang tercantum dalam Statuta 1914 No. 764, yaitu meliputi semua pelajaran ELS. Selain itu peserta didik juga diajarkan membaca dan menulis bahasa daerah dalam aksara latin dan Melayu dalam tulisan Arab dan latin. Namun yang lebih ditekankan adalah pelajaran bahasa Belanda bahkan sejarah negeri Belanda pun dipelajari.

Lulusan HIS dapat mengikuti ujian pegawai rendah (Klein Ambtenaars Examen) atau melanjutkan ke sekolah-sekolah kejuruan. Kelemahan HIS 7 tahun ini adalah tidak adanya “sambungan” ke HBS, yang merupakan satu-satunya tangga ke Universitas.

Sejak tahun 1914, tamatan HIS dapat melanjutkan sekolah dengan dibukanya ke MULO dengan lama studi tiga tahun. Program kurikulum terdiri atas 4 bahasa: Belanda, Perancis, Inggris, dan Jerman. Setengah dari waktu digunakan untuk pelajaran bahasa, sepertiga untuk matematika dan ilmu pengetahuan alam, dan seperenam untuk ilmu pengetahuan sosial. Keberadaan MULO meniadakan ujian untuk pegawai rendah.

Sejak tahun 1919, lulusan MULO dapat melanjutkan sekolah dengan dibukanya AMS dengan lama studi 3 tahun. AMS ini terdiri dari dua jurusan: Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan alam ).

Keberadaan MULO dan AMS merupakan hal penting dalam sejarah pendidikan pribumi. Bagi anak pribumi, keduanya membuka mencapai universitas dan memungkinkan mereka melakukan perpindahan kelas sosial melalui jalur pendidikan yang selama itu dibuntu oleh dominasi kelas bangsawan. Jalur pendidikan pulalah satu-satunya jalan mempersiapkan masa depan bagi anak-anak dari keluarga bukan pemilik tanah. Namun, masalah utama terletak pada kesanggupan orang tua untuk menyediakan biaya pendidikan bagi anak mereka karena HIS-MULO-AMS pada waktu itu hanya ada di kota-kota tertentu.

 

2. Sekolah Kelas II

Pendirian Sekolah Kelas II berasal dari maksud pemerintah Hindia Belanda untuk memberikan pendidikan sederhana bagi seluruh rakyat. Bahasa pengantar adalah bahasa daerah. Setelah menyelesaikan sekolahnya, lulusan Sekolah Kelas II berhenti sekolah. Tidak ada jalan seperti lulusan HIS. Baru pada tahun 1921 lulusan Sekolah Kelas II dapat masuk MULO dengan dibukanya Schakelschool (Sekolah Sambungan/ Peralihan).  Lama pendidikan Schakelschool 5 tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.

 

a. Sekolah Kelas II 5 tahun (Standaardschool)

Pada tahun 1893, Sekolah Kelas II dengan lama pendidikan 5 mempunyai kurikulum yang sederhana, yakni meliputi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung.

Sejak tahun 1907, murid-murid sekolah ini disiapkan untuk bidang kejuruan agar mereka dapat menjadi pegawai rendah di kantor pemerintah atau di perusahaan dagang. Akibat dari krisis finansial yang sedang melanda Belanda (1922-1923), maka keuangan pemerintah tidak mengizinkan pengeluaran yang demikian banyak, sehingga perluasan Sekolah Kelas II menjadi sangat terhambat, bahkan dihentikan. Keberatan lainnya ialah perluasan Sekolah Kelas II yang cepat dapat menimbulkan bahaya terbentuknya sejumlah besar manusia yang menjauhkan diri dari kehidupan desa dan pekerjaan kasar dan menginginkan pekerjaan pada kantor pemerintah.

 

b. Sekolah Kelas II 3 tahun

Pada tahun 1907 diciptakanlah sekolah baru, yakni Sekolah Desa (Volksschool). Di samping pelajaran membaca, menulis, dan berhitung  juga di ajarkan pekerjaan tangan membuat keranjang, pot, genteng dan sebagainya. Yang digunakan sebagai tempat belajar sementara ialah pendopo, sambil mendirikan sekolah dengan bantuan murid-murid. Pembiayaan sekolah ini dilakukan oleh desa sendiri (karena itu, tidak semua desa sanggup menyelenggarakannya). Guru-guru diambil dari kalangan penduduk sendiri. Sekolah itu sendiri primitif dimana murid-murid duduk dilantai seperti di rumah sendiri, kaleng kosong yang diperoleh dari toko-toko cina digunakan sebagai alas untuk menulis. Saat mereka sedang belajar, mereka diawasi oleh seorang yang dewasa. Sekolah dibuka jam 09.00-12.00 dan 13.00-15.00. Sekolah Desa sering dikecam karena kurikulumnya yang sederhana dan mutu guru serta pendidikannya yang rendah. Namun sekolah ini juga memberi kontribusi dalam menambah orang yang melek huruf. Sekolah Desa juga membawa pendidikan formal sampai ke pelosok pedesaan dan menjadi penyebar buah pikiran serta pengetahuan barat dan menjadikan masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya pendidikan.

Pada tahun 1915, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Vervolgschool (sekolah rendah lanjutan) sebagai kelanjutan dari Volksschool. Lama pendidikan adalah 3 tahun. Bahasa pengantar tetaplah bahasa daerah. Lulusan Vervolgschool sederajat dengan lulusan Standaardschool.

Lulusan Vervolgschool atau Standaardschool dapat meneruskan ke sekolah pertukangan (Ambachts leergang) atau ke sekolah guru untuk volksschool (Normaal leergang atau Normal Cursus) yang menggunakan bahasa daerah, namun mereka tidak dapat melanjutkan ke sekolah kejuruan yang menggunakan bahasa Belanda.

 

 

Sekolah Kelas I Untuk Pribumi / Tionghoa Yang Diselenggarakan Carmelstichting tahun 1938[36]

Daerah Tempat Jenis Kepala Sekolah
Malang Malang

 

Kepanjen

HIS

 

HC

HCFröbel

Afd. A: Fr. Angelinus

Afd. B: Fr. Angelinus

P. Walewangko

Nn. Tan Sing Hie

 

Sekolah Kelas I Untuk Pribumi / Tionghoa Lainnya Pada Tahun 1938[37]

Tempat Jenis Sekolah Pengelola
Batu

 

Pasuruan

HC Fröbel

HCS

HC Fröbel

HCS “Clara Fey”

Sang Timur

 

Jember

 

Lawang

 

Lumajang

 

Malang

 

Probolinggo

HI Fröbel

HIS

HC Fröbel

HCS

HC Fröbel

HCS

HC Fröbel

HCS

HC Fröbel

HCS I “Mariaschool”

HCS II “Philomena-school”

HI Fröbel

HIS “Agnesschool”

SPM
Malang HIS “St. Michael” Ursulin
Sumenep HC Fröbel

HCS

Darah Mulia
Tumpang HC Fröbel

HCS

Misericordia

 

Sekolah Kelas II Untuk Pribumi Yang Diselenggarakan Carmelstichting pada tahun 1933[38] dan 1938[39]

Daerah Tempat Jenis Kepala Sekolah
Balear-josari Balearjosari

Balearjosari

Sumberbendo Rejosari

Sri Gonco

Sempol

Pagelaran

Vg.

Vk.

Vk.x

Vk.

Vk.

Vk.

Vk.x

Bonifacius Poespaatmadja

A. Martasoegita

J. Doellah+

Romanus Siswamihardja

M. Dwidjaasmara

Tjiptasoeprana

Joh. Soekapdjan+

Jember Jember

Glagah Agung

Kradenan

Payoman

Rambipuji

Sukarena (Lmjg)*

Sukarena (Lmjg)*

Sukarena (Lmjg)*

Sumberkondo

Sumberjati

Barurejo

Wringintelu

Kaliganda

Kaliganda

St.

Vk.x

St.

Vk.x

St.

Vk.

Vk.*

Vg.*

Vk. x

Vk.*

Vk.*

Vk.*

Vk.*

Vg.*

RM W. Notokoesoemo

E. Achmad+

FX Oentoeng Adisoetjipta

M. Dwidjosoemarto+

Ch. Soekarno

Putra: M. Ranggaprakosa+*

Putri: C. Istinah*

Ign. Adikarjana*

A. Martasoewita+

Ign. Soepratignja*

R.M.J. Soekapjan*

Th. Dwidjaatmadja*

P. Sastrawijardja*

D. Pantjawidagda*

Malang Malang

Betèk

Tumpang

Tlogoreja (Da-dapan)

Ngebruk

 

Pakisadji

Kecopokan

Ngreja

 

Ngreja

Tambakasri

Sumberpucung (Bandungreja)

Kedungkandang

Kedungkandang

Karangsono

Purworejo (Donomulyo)

Sc

St.

Vk. x

Vk.

 

Vk.

 

Vk. x

Vk. x

Vk.

 

Vg.*

Vk. x

Vk. x

 

Vk.*

Vg.*

Vk.*

Vk.*

Fr. Soekimin+

C. Darmadihardja+

S. Sastraredja+

Rich. Sastraatmadja+

 

Flor. Mardisoewita+

Ch. Margasoetrisna*

P. Sastrawijardja+

A. Margasoetrisna+

A. Dibjasoesanta+

T. Moeljasoewita*

A.J.D. Adisoewita*

A. Adimarwata+

R.D. Pantjawidagda+

 

Flor. Mardisoewita*

D. Takrib-Takribirana*

J.B. Moensarip Wimbaharsana*

A. Dibjasoesanta*

Probo-linggo Randupangger

Kebonsarikulon

Vk. x

Vk. x

A.S. Hardjasoesiswa+

RM. J. Saliman+

Keterangan. Vk: Volksschool; St: Standaardschool; Sc: Schakelschool; Vg: Vervolgschool; Kode di Jenis sekolah, bertanda +: ada di Buku Tahunan 1933, nama tempat tersebut tidak ada di Buku Tahunan 1939; bertanda *: nama tempat tersebut tidak ada di Buku Tahunan 1933, tapi muncul di Buku Tahunan 1939; Kode di nama kepala sekolah: tidak bertanda atau bertanda + artinya kepala sekolah pada tahun 1933, bertanda * artinya kepala sekolah pada tahun 1939. Ketika Lumajang menjadi paroki, Sukarena menjadi stasi dari Paroki Lumajang.

 

Daftar Tempat Dimana Sekolah Carmelstichting Didirikan Antara 1 Agustus 1938-1941[40]

Tahun Tanggal Tempat Jenis
1938 1 Agustus

1 Agustus

1 Agustus

Karangsono

Kedungkandang

Ngrejo

Volksschool

Vervolgschool

Schakelschool

1939 20 November Gubug-Klakah Volksschool
1940 1 Agustus Kedungkandang Schakelschool
1941 1 Agustus

1 Agustus

1 Agustus

1 Agustus

 

1 Agustus

1 Agustus

Balearjosari

Jember

Ngadas

Ngebruk-Pajaran (Tumpang)

Ngadipuro (Tumpang)

Princi (Batu)

Normaalcursus

RK MULO

Volksschool

Volksschool

Volksschool

Volksschool

 

Sekolah Kelas II Lainnya Pada Tahun 1938[41]

Tempat Jenis Sekolah Pengelola
Balearjosari

Blimbing

Lawang

Malang

Malang

Probolinggo

Probolinggo

Fröbelschool M.M. Postel

Volkschool

Standaardschool

Vervolgcursus

Volksschool putri

Volksschool putri

Vervolgschool putri “Juliaschool”

Suster Misericordia

Perkumpulan Melania

Suster SPM

Suster Ursulin

Suster Ursulin

Suster SPM

Suster SPM

 

3.6 VIKARIAT MALANG PADA ZAMAN JEPANG (1942-1945)

Bahaya perang sudah terasa sejak tahun 1940-an. Pada tanggal 10 Mei 1940 negeri Belanda diserang tentara Jerman dan mulai berkobarlah perang Eropa. Menjelang pendudukan Jepang di Indonesia, pada tahun 1942, 30 imam, 38 bruder, dan 152 suster misionaris berkarya di Vikariat Apostolik Malang.[42]

Tentara Jepang masuk kota Malang dari Surabaya pada tanggal 9 Maret 1942. Tentara Jepang memerintahkan penutupan semua sekolah Belanda pada tanggal 17 Maret 1942. Mulai tanggal 15 Agustus 1942, kotbah di gereja Kayutangan harus diucapkan dalam bahasa Melayu.

Pemerintah pendudukan Jepang (1942-1945) bukan saja meminta gedung-gedung, asrama, rumah sakit untuk kepentingan perang, tapi juga meminta biara, pastoran, gereja dan kapel. Hanya gedung-gedung yang benar-benar digunakan oleh lembaga-lembaga pribumi tidak disita. Pendudukan Jepang menghentikan misi Katolik.

Pada bulan Mei 1943, para pastor dan frater dimasukkan ke marinekamp (pangkalan TNI AL Jln Yos Sudarso sekarang) yang menjadi tempat interniran pria selama empat hari. Pada bulan Agustus mereka dimasukkan kembali ke kamp interniran tersebut. Mgr. Albers dimasukkan ke kamp pada bulan September. Para suster masuk interniran perempuan di kamp Guntur. Dari tempat-tempat itu, mereka dikirim ke kamp interniran di daerah lain setelah mereka yang pribumi atau Tionghoa dipisahkan dari yang Belanda. Pada bulan Oktober 1943 Pater Singgih dan para frater BHK pribumi dibebaskan dari kamp interniran sehingga  saat itu ada dua tenaga imam pribumi yaitu Pater G.I. Singgih dan Pater A. Gondowardoyo yang harus memelihara kehidupan rohani seluruh orang Katolik di Vikariat Malang.

 

 

Para Karmelit di Malang Setelah Tahbisan Mgr. Albers Sebagai Vikaris Apostolik Tahun 1939

 

Imam yang menjadi korban pendudukan Jepang adalah Pater G.A. Vloet dan Pater Gondowardoyo.[43] Tugas Pater G.A. Vloet sebagai almoezenier (pembina rohani tentara) menyebabkan dia ikut ditawan sebagai tawanan perang. Pada bulan Agustus 1944, ia ikut dalam rombongan 1200 tawanan perang yang dikirim ke Thailand. Kapal mereka terkena torpedo dan tenggelam di dekat pulau Sumatera. Pater Gondowardoyo di tangkap Kempeitai, polisi militer Jepang, karena memberikan bantuan rohani kepada orang Indo-Eropa di daerah Jember. Ia meninggal dunia di penjara Sukamiskin Bandung pada tanggal 15 Maret 1945. Sepanjang masa sulit orang-orang Katolik menghidupi iman mereka dengan saling memelihara iman saudara-saudari seiman semampu mereka. Keadaan penduduk amat menyedihkan karena kehidupan mereka diwarnai kerja paksa, kelaparan, dan angka kematian tinggi sebagai akibat mobilisasi penduduk untuk kepentingan perang Jepang khususnya pada tahun 1944-1945..

 

3.7 VIKARIAT MALANG 1945-1961

Sesudah Perang Dunia berakhir, semua yang telah dibangun oleh misi Katolik rusak. Dalam keadaan yang sudah hancur ini, perang kemerdekaan Indonesia menyusul proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Berita itu sampai di Malang pada sore harinya. Masa ini merupakan masa peralihan. Misi mulai mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada usaha Indonesianisasi. Usaha ini terhambat oleh keadaan bahwa semenjak proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 sampai pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Kerajaan Belanda tahun 1949 keadaan daerah-daerah pedesaan dan perkebunan dimana banyak orang Katolik Jawa berada tidak aman untuk perjalanan dinas pastor-pastor Belanda.

 

3.7.1 Vikariat Malang Pada Tahun 1945-1949

Mgr. Albers, beberapa pastor, dan empat frater pulang dari kamp Cimahi pada tanggal 3 September 1945. Gereja Hati Kudus Yesus diberkati ulang pada tanggal 28 September 1945. Frater-frater BHK dapat segera menghidupkan kembali pendidikan untuk pribumi.

Sekitar bulan Oktober 1945 Mgr. Albers, beberapa pater dan frater ditawan oleh beberapa pemuda dan dibawa ke penjara Lowokwaru. Pada saat itu, semua orang eropa yang baru kembali dari kamp tawanan Jepang ditahan lagi. Sr. Inigo OSU dan Sr. Laurence OSU mengupayakan pembebasan Mgr. Albers dengan cara menghadap kepala penjara. Pada tanggal 5 Januari 1946, Mgr. Albers diantar ke biara Ursulin oleh polisi penjaga penjara Lowokwaru. Lolos dari kamp, Mgr. Albers dan beberapa pater serta frater tinggal diam-diam di susteran Ursulin Celaket-Malang.

Suster-suster SPM baru dapat meninggalkan kamp pada bulan Januari 1946. Namun, karena keadaan kurang aman bagi suster-suster bangsa Belanda, suster SPM selama 1,5 tahun berada di Surabaya sebelum akhirnya dapat memulai lagi pekerjaan misi mereka di Malang, Lawang, Probolinggo, Lumajang dan Jember pada bulan September 1947. Mereka pun menemukan tempat mereka berkarya juga dalam keadaan rusak.

Enam orang suster Misericordia pada bulan September 1945 sudah kembali ke Malang, namun mereka baru diizinkan mengurus kembali rumah sakit pada bulan April 1946.

Tanggal 12 Januari 1946, 17 suster PIJ Belanda keluar dari kamp Jepang di Semarang; mereka berangkat naik kapal “Tegelberg” menuju Surabaya. Untuk sementara ditampung di Hotel Laarman kemudian di biara Ursulin Jln. Darmo – Surabaya. Sambil menunggu keadaan Pasuruan dan Batu aman serta dapat dihuni kembali ( karena hancur atau rusak ), para suster bekerja di Surabaya a.l. mengajar di sekolah milik suster Ursulin di Jl. Kepanjen – Surabaya. Empat orang suster Sang Timur dapat kembali ke Pasuruan pada tanggal 15 November 1947. Mereka mendapati bahwa semua perabot sekolah hilang, hanya karena setiap perabot sekolah bertuliskan Clara Fey School mereka mendapatkannya kembali dan membuka sekolah pada tanggal 1 Januari 1948. Suster-suster Sang Timur Batu kembali ke Batu pada tanggal 31 Juli 1948.

Banyuwangi menjadi paroki terpisah dari Jember pada tahun 1945. Buku paroki dimulai tanggal 20 September 1945 (sebelumnya di Jember) dan nama paroki adalah “Permaisuri Damai.”[44] Pastoran di Jln. Stadion 157 E, Banyuwangi.

Pertengahan tahun 1946 terjadilah pengungsian besar-besaran dan penyelamatan orang Eropa dan Indo-Eropa yang banyak tersebar di wilayah Vikariat Apostolik Malang. Mereka dikirim pulang ke Belanda lewat daerah yang diduduki oleh tentara sekutu. Pater Blomesath melukiskan situasi ini dengan menulis:

“Sungguh pantaslah pengungsian besar-besaran ini dianggap sebagai titik tolak pergantian zaman bagi sejarah misi. Bukankah sampai saat ini misi amat banyak bahkan terutama mencurahkan tenaga dan usaha kerasnya untuk keselamatan orang-orang Eropa dan Indo-Eropa yang amat banyak tersebar di seluruh wilayahnya? Ya, memang, dalam hal itu misi pribumi tidak diabaikan; tetapi karena tenaga dan perlengkapannya sangat terbatas untuk mencukupi semua keperluan misi. Karena hal itu, misi tak dapat memperlihatkan perhatian dan ketekunan pengabdiannya kepada misi pribumi sesuai dengan hak hidupnya. Akibatnya, hal-hal buruk tak dapat dielakkan… Jumlah orang, lembaga Katolik, perkumpulan Katolik dan lain-lain, yang masih tinggal sungguh amat sedikit.”[45]

Dengan sisa personil yang ada, pekerjaan misi dimulai lagi. Terjadi kembali pertumbuhan dan perkembangan karena misi telah mendapat nama baik, banyak di antara mereka yang memegang kekuasaan dulu pernah mendapat didikan di sekolah misi, dan ada suatu realitas yang segera disadari juga oleh Pemerintah RI bahwa misi mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada usaha meng-Indonesia-nisasikan golongan rohaniwan dan memberikan bantuan sepenuhnya untuk nasionalisasi tanah air dan bangsa.[46]

Aksi polisionil pertama Belanda pada bulan Juli/Agustus 1947 mengganggu sementara langkah-langkah perbaikan. Misi menderita kerugian berupa pembakaran dan perampokan gedung-gedung sebagai konsekuensi dari strategi “bumi hangus.” Kota Malang di-“bumi-hangus”-kan pada tanggal 23-30 Juli 1947. Para suster Misericordia Balearjosari yang sampai saat itu masih berhasil mempertahankan pekerjaan misi mereka terpaksa harus menyaksikan sendiri rumah sakit dan biara mereka dibakar habis. Suster-suster Misericordia Tumpang mengalami nasib demikian juga berkenaan dengan perintah bumi hangus tersebut. Pater Blomesath memberi penghiburan, “Tak perlulah itu diratapi.”[47] Pater Blomesath melanjutkan,

“Siapa pun yang membaca riwayat singkat ini, akan mengakui, bahwa para suster Misericordia selama tahun-tahun itu sungguh banyak berjasa dan sangat besarlah sumbangan mereka terhadap kaum penderita penyakit dan demi perbaikan kesehatan rakyat.” [48]

Karya suster Ursulin juga mengalami hal yang sama. Pada tanggal 30 Juli 1947, sekelompok pemuda juga menyerbu ke biara dan membakar  gedung sekolah serta asrama Cor Jesu.

Aksi polisionil kedua Belanda pada bulan Desember 1948 mengakhiri pendudukan Belanda. Daerah misi Karmelit kembali ke kekuasaan Pemerintah Indonesia pada tahun 1949. Pada akhir perang itu, diadakan penataan ulang pos-pos misi berkenaan dengan kondisi paroki Balearjosari, Tumpang, Blimbing, dan Sumenep. Pelayanan rohani untuk orang katolik di paroki Balearjosari, Tumpang, Blimbing dilakukan oleh para pastor paroki Malang-Kayutangan. Tempat peribadatan dan sarana untuk pelayanan orang Katolik Jawa di paroki Balearjosari dan Tumpang-Wates Balung hancur dan tidak dapat digunakan lagi. Pastor dan para suster Darah Mulia baru dapat masuk kembali ke Sumenep pada tahun 1950.

 

Perbandingan Jumlah Orang Katolik di Pulau Jawa Antara Tahun 1942 dan Tahun 1948[49]

  Tempat P.A./ V.A. Orang Katolik Jumlah
G 1942 1948 1942 1948
1. Batavia E 19.663 19.100 22.072 21.287
BE 2.409 2.187
2. Malang E 10.471 1.000 14.703 5.350
BE 4.232 4.350
3. Semarang E 14.934 N 45.394 N
BE 30.460 N
4. Surabaya E 15.377 18.000 19.460 20.000
BE 4.263 2.000
5. Purwokerto E 2.852 N 6.877 N
BE 4.025 N
6. Bandung E 18.331 32.091 19.747 33.613
BE 1.416 1.522

G: Golongan; E: Eropa; BE: Bukan Eropa (Tionghoa atau Jawa); N:tidak ada data

 

 

 

 

Perbandingan Jumlah Tenaga Misi Di Pulau Jawa Antara Tahun 1942 dan Tahun 1948[50]

  Tempat P.A./ V.A.   Imam Bruder Suster
1942 1948 1942 1948 1942 1948
1. Batavia E 47 68 60 39 292 270
BE 6 1 6 22
2. Malang E 28 8 35 6 135 44
BE 2 4 3 17 21
3. Semarang E 71 25 101 26 257 182
BE 9 26 28 19 84 125
4. Surabaya E 31 29 34 14 151 101
BE 3 5 9 2 10
5. Purwokerto E 20 4 24 2 100 N
BE 1 2 15 N 4 N
6. Bandung E 24 20 13 8 143 95
BE 1 17 16

E: Eropa; BE: Bukan Eropa (Tionghoa atau Jawa); N:tidak ada data

 

Tabel di atas menggambarkan berkurangnya personil misi di semua keuskupan pada tahun 1948 dibandingkan dengan keadaan tahun 1942. Keadaan tenaga misionaris pada tahun 1948 ini menjadi gambaran salah satu alasan adanya pengalihan pengelolaan karya misi dari satu kongregasi ke kongregasi lain pada tahun 1950-an.

 

Nama dan Tempat Pater Karmelit Bertugas Pada Tahun 1948[51]

No Nama Tugas Tempat
1. Mgr. A.E.J. Albers Vik.Apostolik Malang
2. M.L.H. Stultiëns Pastor Jember
3. I. Singgih Padmowijoto (Jawa) Pastor Lumajang
4. L. Djajoes (Jawa) Pastor Malang
5. J.M. Hendriks Pastor Malang
6. F. Kawi-Hadjoatmodjo (Jawa) Pastor Malang
7. P.N. Kramer Pastor Malang
8. G.J. Schalwijk Pastor Malang
9. A. Soetardam Tedjapratama (Jawa) Pastor Malang
10. J.A. van Wanroy Pemimpin Novis Malang
11. G.P. van Velzen Pastor Pasuruan
12. J.A.J. van den Hork Pastor Probolinggo
13. A.W.C. Blijdenstein Belanda
14. B.J.M. Blomesath Belanda
15. L.H.M. Denteneer Belanda
16. M.F. Henckens Belanda
17. B.G.M. ten Kroode Belanda
18. A. v.d. Linden Belanda
19. J.L. Mulder Belanda
20. Th.M.M. van Roy Belanda
21. W.J.A. Scheurink Belanda
22 J.H. Viester Belanda
23. H.H. Vissers Belanda

 

Tabel di atas menggambarkan bahwa pelayanan rohani orang Katolik dipusatkan di kota berkenaan dengan kurangnya imam sebagai konsekuensi dari hampir separuh pater misionaris berada di Belanda.

 

Nama dan Tempat Pater Karmelit Bertugas Sebagai Almoezenier (Pembina Rohani Tentara) Pada Tahun 1948[52]

No. Nama Pangkat Tempat Dinas
1. H.M.A. Bijlhout Mayor Surabaya
2. P.H.R. Keysers Kapten Palembang
3. J.N.H.M. Klaver Kapten Batavia
4. J.H.M. Konings Kapten Batavia
5. P.J. v. Waterschoot Kapten Surabaya

 

3.7.2 Pendidikan Imam Pribumi

A. Seminari Menengah

Seminari Menengah Marianum berdiri pada tanggal 8 Oktober 1948. Saat itu, siswa seminari ditampung di rumah sewaan di samping gedung KSB Kayutangan di Jln. Gereja 6, Malang. Pater Ammerlaan diangkat sebagai rektor pertama seminari. Pada tanggal 14 Juli 1951, seminari dipindah ke Lawang Jln Argopuro. Pada tanggal 24 Mei 1961, gedung baru seminari di Jln. Sumberwuni 64, Lawang, diberkati oleh Mgr. Albers. Namun, mulai tanggal 1 Januari 1973, seminari dipindahkan lagi ke Malang dan ditempatkan di bekas asrama di Jln. Talang 3, Malang. Kelak pada tahun 1999, seminari menengah dipindah ke Probolinggo di Jln. Panjaitan.

 

B. Imam Reguler

Anak Jawa pertama yang menerima tahbisan imam sebagai imam Karmelit adalah Pater Gerardus Isid. Singgih Padmawijata, O.Carm. Ia ditahbiskan oleh Mgr. Dr. J. Olaf Smit di Seminari Tinggi Karmelit Merkelbeek, Belanda pada tanggal 11 Juli 1937.

Pengiriman novis Karmelit ke Belanda sudah dihentikan sejak tahun 1940. Calon-calon Karmelit dikirim ke Seminari Tinggi di Yogyakarta untuk belajar filsafat. Pada tahun 1942 mereka kembali ke Malang. Pada tahun 1943, ketika semua pater pengajar ditahan Jepang, mereka ditampung di pastoran Kayutangan oleh Pater Singgih sekaligus untuk mengamankan gereja. Mereka bersama dengan beberapa calon yang baru dikirim kembali ke Yogyakarta pada permulaan Agustus 1944. Pada akhir masa pendudukan Jepang, para calon itu bersama dengan beberapa pastor dapat tinggal di susteran Ursulin di Celaket 55. Karena itulah, mereka terhindar dari penahanan pada bulan Oktober 1945. Izin untuk memulai novisiat di tanah misi datang pada tanggal 6 Desember 1946. Gedung KSB Kayutangan di belakang pastoran di­ubah menjadi novisiat Ordo Karmel dan diresmikan pada tanggal 24 Februari 1947. Kemudian, Novisiat dan Seminari Tinggi Karmelit pindah ke Batu di tempat dimana sebelumnya menjadi rumah istirahat bruder St. Aloysius. Tempat itu diberkati pada tanggal 2 Februari 1951.

 

C. Imam Sekuler

Malang memiliki imam sekuler pertama tahun 1953. Romo Yustinus Roesmandjaja menerima tahbisan imam tahun 1953 (lahir: Yogyakarta, 7 Nov 1926 – wafat: Malang, 11 Okt 1990). Selanjutnya, Romo Athanasius Soebonokamdi (lahir: Lawang, 7 Nov 1926 – wafat: Malang, 7 Juli 1991) menerima tahbisan imam tahun 1957. Setelah itu, Romo Floribertus Salim (lahir: Ngrambe-Ngawi, 30 Des 1925 – wafat di Malang 15 Jan 1992) menerima tahbisan imam. Mereka mengikuti pendidikan calon imam di Seminari Tinggi Yogyakarta.

 

3.7.3 Vikariat Malang 1950-1961

Memasuki tahun 1951 dilakukanlah renovasi gedung-gedung misi yang rusak karena perang. Pertikaian politik antara Indonesia dan Belanda sepanjang tahun 1952-1962 mengakibatkan pengusiran semua pengusaha perkebunan berbangsa Belanda dan penasionalisasian semua perusahaan Belanda pada tahun 1956. Misionaris Belanda yang berada di Indonesia tetap diizinkan tinggal dan meneruskan karya mereka, namun visa masuk tidak dapat diperoleh lagi untuk misionaris baru. Karena itu, menjadi nyatalah bahwa Gereja Lokal adalah wajah Gereja Katolik Vikariat Malang.

 

A. Aktivitas Kerasulan Misioner

Pada tanggal 16 Januari 1951 Pater Drs. Joseph Wang CDD tiba di Malang. Sejak itu anggota CDD me­netap di Malang mengkhususkan diri dalam bidang pengajaran. Menurut Mgr. Albers, “Untuk menyampaikan ajaran Kristus kepada orang-orang yang berbahasa Jawa dan berbahasa Indonesia, sudah cukup tenaganya. Tetapi untuk melakukan tugas itu khusus kepada orang-orang yang hanya dapat berbahasa Tionghoa saja, belum ada tenaganya.”[53] Kolese “St. Yusup” di Jln. Dr Sutomo 35 dimulai tanggal 16 Juli 1951. Pater Blomesath menuliskan kesannya atas diri Pater Wang sebagai berikut,

“…karya besar ini … boleh dikatakan hanya ditangani oleh satu orang saja, yaitu Romo Wang. Maka pantaslah seluruh pujian ditujukan kepadanya. Penulis kehabisan kata-kata untuk melukiskan betapa besar tenaga dan jerih payah yang telah dicurahkan untuk usaha itu…”[54]

Pada tahun 1951, presidium pertama Legio Maria dibentuk di Celaket.

Medical Mission Sisters (Biarawati Karya Kesehatan) tiba di Lawang pada bulan Juli 1953. Mereka membuka BKIA, Klinik Bersalin, Postulat dan Novisiat di Jln. Wahidin 40, Lawang. Mereka mengakhiri karya mereka di Keuskupan Malang pada tanggal 4 Agustus 1967. Kemudian, klinik bersalin dan poliklinik rawat jalan diurus oleh suster Misericordia yang masih terkenal sampai sekarang dengan nama “Siti Miryam.”

Pada 16 Agustus 1953, Rumah “Albano” Lawang di Jln. Argomoyo 10 milik para Bruder St. Aloysius diberkati. Pada bulan Juni 1968, Bruder St. Aloysius meninggalkan Keuskupan Malang. Rumah “Albano” menjadi Novisiat bersama sampai 1981 untuk bruder Budi Mulia (BM), bruder Karitas, bruder Maria Tak Bernoda (MTB) dan frater BHK (Bunda Hati Kudus).

Suster Abdi Roh Kudus (SSpS) membeli sebidang tanah beserta bangunannya di Jln. Trunojoyo 88 Batu pada tahun 1953. Segera sesudah rumah itu diperbaiki dan siap dihuni, pada tanggal 20 Februari 1954 ada pemberkatan biara pertama SSpS di Batu. Lebih lanjut, pada tanggal 12 Maret 1958 Biara St. Maria dan pada tanggal 19 Juli 1958 poliklinik Margi Rahayu diberkati.

PMKRI cabang Malang didirikan pada tahun 1957.

Kehadiran suster kontemplatif dirintis dengan pengiriman calon ke Belanda 5 Februari 1954. Pada tanggal 15 Oktober 1961 Biara Pertapaan Karmelites diberkati dan dua orang suster Jawa yang telah dipersiapkan di Belanda memulai kehidupan kontemplatif di Jl. Kutilang – Batu, Sr. Maria Brocarda O.Carm (M.Ch. Poespowardojo) dan Sr. M. Redempta O.Carm (A.M. Dipajuda). Tiga orang suster Jerman datang bergabung pada tahun 1962. Mereka adalah Sr. Immaculata O.Carm (M. Büttner), Sr. Elia O.Carm (B. Debernitz) dan Sr. Theresita O.Carm (F. Fremuth). Sejak tanggal 29 April 1962, hidup kebiaraan di dalam klausura dimulai.

Para suster Darah Mulia setelah 25 tahun mengabdikan diri untuk dapat membuka dan menyuburkan misi di tanah pulau Madura, dan karena kesehatan mereka melemah serta bantuan tenaga dari Belanda tidak dapat diharapkan lagi, mereka meninggalkan Sumenep  dan digantikan oleh suster Sang Timur tanggal 1 Agustus 1959. Pater Blomesath menuliskan kalimat penghargaan ini,

“…Keberangkatan mereka terasa amat berat sekali, tetapi mereka dapat berpuas hati, kalau mereka meninjau kembali betapa banyak dan betapa baik hasil usaha mereka… Hal-hal yang tersebut di atas kami catat dengan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dan juga untuk mengenangkan mereka.”[55]

 

B. Pendirian Paroki

Paroki Sumenep memulai lagi buku paroki per tanggal 1 Agustus 1950.[56]

Pamekasan menjadi paroki sejak tahun 1950. Buku paroki dimulai sejak 1 Mei 1950 (pencatatan sejak 1 Oktober 1937 di Sumenep; dan, sebelumnya di Malang-Kayutangan) dan paroki bernama “Ratu Para Rasul.”[57] HCS milik Carmelstichting di dekat alun-alun Pamekasan telah berdiri sejak 15 Desember 1939.

Paroki baru didirikan di Celaket pada tahun 1953. Buku paroki dimulai sejak 15 September 1953 (sebelumnya di Malang-Kayutangan) dan paroki bernama “St. Maria yang terkandung tak bernoda asal.”[58] Pastoran berada di Celaket 63. Paroki ini mempunyai stasi dengan gereja: Blimbing, Kepanjen, Tumpang-Kebonsari, Pagelaran. Dan, stasi tanpa gereja adalah: Turen-Sedayu, Dampit, Sawahan, Paras.

Stasi Bangkalan menjadi paroki sejak 29 Juli 1956. Buku paroki sejak 1 April 1955 (1 Mei 1950- 30 Maret 1955 di Pamekasan; sebelum tahun 1950 di Malang-HKY) dan nama paroki adalah “St. Maria Fatima.”[59] Pastoran terletak di Jln. Ltn. Mistu 13, Bangkalan.

Stasi Curahjati menjadi paroki sejak tahun 1956. Buku baptis dimulai sejak 1 Agustus 1956 (pencatatan baptis sebelumnya di Banyuwangi) dan paroki bernama “St. Maria Ratu Para Rasul.”[60] Stasi dengan gereja: Kedungrejo, Muncar; stasi tanpa gereja: Wringinpitu, Jajag, Genteng, Kalibaru, Cluring, Kesilir.

Stasi Situbondo menjadi paroki sejak tahun 1958. Buku paroki dimulai sejak 1 April 1958 (pencatatan baptis 1936-1958 di Bondowoso; sebelumnya di Jember) dan paroki bernama “Maria, Bintang Laut.”[61] Pastoran di Jln. Gaduan 1 (sekarang gedung DPRD Situbondo). Stasi tanpa gereja: Besuki, PG Asembagus, PG De Maas, PG Wringinanom,  PG Panji, PG Ocean. Pater Quirinus Kramer O. Carm menjadi Pastor Paroki pertama. Pastoran juga berfungsi sebagai gereja dan kelas untuk Frobel dan SR Carmelstichting yang dimulai oleh Pater Werenfridus Viester O.Carm. Serambi belakang pastoran yang digunakan sebagai gereja luasnya hanya 4 x 8 m2 dengan 9 bangku menampung sekitar 20-30 umat. Untuk pengembangan sekolah pada tahun 1956 Gereja mengupayakan pembelian tanah milik Yayasan Balai Rakyat di Jln. Mawar yang letaknya tak jauh dari Sekolah Kenanga 1. Pembangunan gedung SR dimulai pada bulan Januari 1958 dan diresmikan pada tanggal 2 Nopember 1958 oleh Mgr. AEJ. Albers O.Carm dan Bupati RS. Brotoningrat. Pada tahun yang sama SR mendapatkan tambahan ruang kelas dari Nederlands Stichting Ondewijs yang terletak di seberang Jl. Mawar. Hampir bersamaan waktunya dibangun pula gedung untuk SMPK St. Elias untuk pendidikan lanjut lulusan SR Katolik. Gereja Kenanga 1 pada awal tahun enam puluhan dirasa makin sesak. Jumlah umat ketika itu sudah sekitar 40 orang. Rm. Stultjiens O.Carm paroki Situbondo mulai merencanakan pembangunan Gereja yang akan didirikan dekat lingkungan SDK dan SMPK. Batu pertama yang ditempatkan di landasan pondasi adalah batu eks gereja zaman Portugis. Gereja diresmikan penggunaannya pada tanggal 25 Nopember 1967. Setelah menyelesaikan gedung gereja, dimulailah pembangunan pastoran di dekat gereja yang diresmikan pada tanggal 15 Agustus 1970. Gedung di Jln. Kenanga 1 dikembalikan kepada pemiliknya.

Gereja Purworejo diberkati pada tanggal 30 Maret 1958. Stasi Purworejo menjadi paroki pada tahun 1960. Buku paroki dimulai sejak 30 April 1960 (pencatatan sebelumnya di Kepanjen) dan paroki bernama “Permaisuri Damai.”[62] Stasi dengan gereja: Tambakrejo. Stasi tanpa gereja: Karangrejo, Sumberoto, Tlogosari, Tempursari.

 

3.8 KEUSKUPAN  MALANG (1961-1973)

Peristiwa Internasional Gerejawi yang terjadi pada kurun waktu ini adalah Konsili Vatikan II yang berlangsung dari tahun 1962-1965. Lalu, peristiwa gerejawi nasional yang terjadi adalah kunjungan Paus Paulus VI ke Indonesia pada tanggal 3 Desember 1970.

Peristiwa nasional yang terjadi dalam kurun waktu ini adalah Peristiwa G30S/PKI dan mulainya Orde Baru.

 

3.8.1 Aktivitas Kerasulan di Keuskupan

Suster CIJ tiba di Malang pada tahun 1961. Mereka bertempat di paroki Blimbing. Pada tahun 1973, mereka mengurus TK, SD, dan SMP yang sebelumnya dikelola oleh Yayasan Karmel.

Moeder Oda meninggal pada tanggal 22 September 1963 di Biara Jln. Pandan 2, Malang, dalam usia 82 tahun. Dialah pemimpin misi yang pertama suster-suster St. Perawan Maria dari Amersfoort. Ia telah memimpin suster-susternya di wilayah misi Malang mulai 11 Oktober 1926 sampai 26 Januari 1956. Pater Blomesath menuliskan kesannya sebagai berikut,

“Banyak yang tercapai selama tahun-tahun itu, lebih-lebih berkat jiwa pengabdiannya dan kegiatannya berjuang terus, pantang mundur. Ia sungguh ‘wanita yang kuat’, segala-galanya diperhatikan, segala beban hidup dan kesulitan tidak dihindari.”[63]

Paroki Kayutangan dipercayakan kepada Ordo Karmel pada tanggal 4 Mei 1967.

ALMA ( Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) diresmikan pada 26 Agustus 1967 dengan surat dari Mgr. Albers. ALMA Romo Dr. P. Janssen CM mendirikan organisasi rohani ini dibawah yurisdiksi Uskup Malang. Institut Pastoral Indonesia didirikan pada tanggal 29 Juni 1967.

Bruder St. Aloysius meninggalkan Keuskupan Malang pada bulan Juni 1968. Wisma Albano di Lawang menjadi novisiat bersama para bruder BM, FC, MTB dan BHK sampai tahun 1981. Kemudian, bruder BM menetap di situ.

Suster Agustinus (OSA) masuk keuskupan Malang secara resmi pada tanggal 17 Agustus 1969 untuk menyelenggarakan rumah sakit yang sebelumnya diurus oleh suster Misericordia. Pada saat itu, mereka kemudian juga mengurus dan memikul tanggungjawab keuangan TK, SD, dan SMP yang ada.

 

Jumlah Karya Katolik di Keuskupan Malang Tahun 1962/1963[64]

    Pendidikan RS / Klnk Asrm Mjl
No. Paroki TK SD SKP SMP SMA SGA SGKP Jml
01. Bangkalan 1 1 1 1 4
02. Banyuwangi 2 3 1 2 1 9
03. Batu 1 2 1 4 1 1
04. Bondowoso 1 1 1 3
05. Celaket 5 9 1 5 3 1 19 1 3
06. Curahjati 4 4 1
07. Ijen 2 3 5 3 1 14 1 3
08. Jember 1 4 1 7 1 14 1
09. Kayutangan 2 2 2 1 7 2 4
10. Lawang 1 2 1 4 1 1 1
11. Lumajang 2 2 1 4 9
12. Pamekasan 1 1 1 3
13. Pasuruan 3 1 3 7
14. Probolinggo 2 6 1 3 1 13 3 1
15. Purworejo 6 2 8 1
16. Situbondo 1 1 1 3
17. Sumenep 1 1 1 1 4 1 1
Jumlah 26 49 5 40 11 2 1 129 9 14 3

SKP: Sekolah Kepandaian Putri (setingkat SMP); SGKP: Sekolah Guru Kepandaian Putri (4 tahun, setingkat SMA); RS/Klnk: rumah sakit/klinik rawat jalan; Asrm: Asrama; Mjl: Majalah

Kongregasi Suster Abdi Dalem Sang Kristus (ADSK, sekarang Abdi Kristus) pada Desember 1969 datang di Pandaan. Pada tanggal 1 Desember 1971 mereka membuka BKIA di Genteng.

 

Perhimpunan Katolik di Keuskupan Malang Tahun 1962/1963[65]

No. Paroki Keagamaan Politik Kepemudaan Karitatif Sosial
01. Bangkalan a e f l 15
02. Banyuwangi a,b,c e f,g l,m p,r
03. Batu a,b,c e l q
04. Bondowoso a,c e h l q
05. Celaket a,b,c e f,g,h,j,k l,m,o p,r,t,u
06. Curahjati a,b,c e f,g l,m p,r
07. Ijen a,b,c e f,g,h,i,j l,o p,r,t,u,v
08. Jember a,b,c e f,g,h l,m p,q,r,s,t
09. Kayutangan a,b,c,d e f,g,h,i l,o p,r,u,v
10. Lawang a,b,c e f,h l p,r
11. Lumajang a,b,c e f,g,h l,m p,r
12. Pamekasan a e f
13. Pasuruan a,b,c e f,g l r
14. Probolinggo a,b,c e f,g,h l,n,o p,q,r
15. Purworejo a,c e g l r
16. Situbondo a e p
17. Sumenep a,b e f l p

Keterangan Huruf Kode:

A. Keagamaan: a. Kerasulan Doa, b. Kongregasi Maria, c. Legio Maria, d. Putra-Putri Maria

B. Politik: e. Partai Katolik

C. Kepemudaan: f. Persatuan Pelajar Sekolah Katolik, g. Pemuda Katolik, h. Pramuka Katolik, i. ”Daya Murni” bagian kepemudaan, j. Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, k. Front Muda Katolik Indonesia

D. Karitatif: l. Pengurus Gereja dan Amal, m. Pangrukti Laya, n. Perkumpulan St. Elisabet, o. Perkumpulan St. Melania

E. Sosial: p. Persatuan Guru Katolik, q. Persatuan/Ikatan Warga Katolik, r. Wanita Katolik, s. Koperasi, t. Ikatan Buruh Pancasila, u. Katolika Wandawa, v. Daya Murni

 

3.8.2 Pendirian Paroki

Buku paroki Blimbing dimulai lagi sejak 4 Desember 1960.

Stasi Pandaan menjadi paroki sejak 30 Mei 1969.

Stasi Genteng menjadi paroki sejak tanggal 20 Desember 1970.

Stasi Kepanjen menjadi paroki sejak Januari 1971.

Stasi Lodalem menjadi paroki sejak 15 Juli 1971. Teritorial pelayanan Paroki Lodalem meliputi dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Kalipare dan Sumber Pucung. Keberadaan orang Katolik di paroki Lodalem berawal dari masyarakat dusun Sidodadi yang meminta kepada Kepala Desa Arjosari agar mengusahakan adanya sebuah sekolah dasar. Kemudian, kepala desa mengirim utusan ke Pater G.J.A. Lohuis O. Carm yang pada waktu itu menjabat sebagai pastor paroki Ratu Damai –Purworejo. Menanggapi permintaan tersebut, maka dikirimlah B.J. Martodiharjo, dkk dari Yayasan Karmel untuk memulai usaha pendirian sekolah di desa Arjosari. Akhirnya tepat pada 01 November 1961, berdirilah sekolah dasar dengan nama SRK St. Yohanes. Kelak pada tanggal 17 Juli 1967 berdirilah SMPK St. Antonius. Setiap hari Minggu pagi diadakan doa bersama dipimpin oleh bapak guru sekaligus pewarta sabda, M. Gino Ut. Dan pada sore hari para murid dan orangtuanya berkumpul untuk belajar agama Katolik. Rm. Lohuis sendiri setiap 3 bulan sekali juga datang memberikan pelajaran kepada mereka. Pelajaran agama dan ibadat tersebut akhirnya menghasilkan buah pada Hari Raya Paskah, 19 April 1965. Delapan orang murid SDK St. Yohanes dipermandikan pada saat itu. Mereka adalah: Jumari, Pikir, Sukari, Timan, Kasemin, Tarji dari dusun Sidodadi dan Katirin Serta Jarno dari dusun Kedungwaru II. Untuk pelayanan dan pemeliharaan umat kemudian, Pastor Paroki Purworejo yang dijabat oleh Rm. Lohuis waktu itu, datang dan merayakan ekaristi secara rutin tiga bulan sekali dengan menempuh jarak Purworejo – Arjosari kurang lebih 28 km. Pada tahun 1968, pelayanan Ekaristi ditingkatkan, dari sebelumnya tiga bulan sekali menjadi satu bulan sekali dengan kedatangan Rm. Pius Budiwijaya OCSO. Pada tahun 1968, pelayanan Ekaristi ditingkatkan, dari sebelumnya tiga bulan sekali menjadi satu bulan sekali dengan kedatangan Rm. Pius Budiwijaya OCSO ketika di daerah ini didirikan Stasi Arjosari. Dengan ketekunan para guru SDK St. Yohanes yang berjumlah lima orang dan bersemangat misionaris, didampingi oleh Rm. Lohuis, jumlah umat semakin lama semakin berkembang. Guru-guru itu adalah M. Gino Ut., Sutarmanto, Antonius Tjaturanto, bu Katrin dan bu Kantun. Benih Sabda Allah yang telah bersemi di Stasi Arjosari kemudian menyebar ke desa-desa sekitarnya, terutama ke Desa Arjowilangun. Sabda Allah di desa ini dimulai di dusun Duren yang lokasinya sulit ditempuh. Dusun ini masih cukup jauh dari akses jalan besar. Namun, kondisi demikian tidak menghalangi Sabda Allah bertumbuh dan berkembang ke dusun-dusun lainnya, yaitu Dusun Panggang Lele, Dusun Barisan dan Dusun Lodalem. Awalnya dimulai dari pelajaran agama dari satu keluarga kawin campur, yaitu keluarga Fr. Markawi yang berasal dari Kepanjen. Isterinya berasal dari dusun Pangganglele dan belum Katolik. Waktu itu, mereka tinggal di Dusun Duren. Pelajaran agama ini kemudian diikuti oleh keluarga Suratman, dan beberapa keluarga lainnya. Perkembangan jumlah umat sebagai hasil kerja keras para rasul awam di bawah bimbingan Rm. Lohuis menimbulkaan reaksi keras dari kelompok-kelompok yang tidak menyukai keadaan itu. Aneka persoalan yang kerap dijadikan alasan untuk menjatuhkan semangat beriman. Bahkan, mereka tidak segan untuk menggunakan kekuasaan oknum pejabat tertentu demi menghambat perkembangan Gereja Allah. Pada tahun 1968, dimulailah pembangunan gedung gereja dengan berbentuk dasar “salib” dengan ukuran: 8x24m ke arah Utara, 8x27m ke arah Timur. Tanah peruntukan gereja ini dibeli dari keluarga Murtani Dusun Barisan. Tanah peruntukan gereja ini dibeli dari keluarga Murtani Dusun Barisan. Pembangunan gedung gereja akhirnya selesai pada tahun 1970. Tepat pada malam Natal 24 Desember 1970, dipimpin oleh Rm. Pius Budiwijaya OCSO, gedung gereja baru ini untuk pertama kalinya dipakai. Pada tanggal 27 Juni 1971, Gereja baru ini diberkati oleh Mgr. A.E.J. Albers O. Carm dan diresmikan Camat Kalipare masa itu, Bp. Soepratiknyo. Semakin lama jumlah umat semakin besar bersama dengan hadirnya katekis Aloysius Misidiyanto dari paroki Purworejo yang dikirim ke stasi Arjosari pada 01 Juli 1970. Pada tanggal 21 Juli 1971, Stasi Arjosari–Arjowilangun dipisahkan dari induknya Paroki Bunda Ratu Damai – Purworejo. Nama Paroki baru ini adalah Maria Annunciata – Lodalem. Sebagai pastor paroki pertama ditunjuklah Rm. Lohuis O. Carm. Semangat membangun dan melayani umat yang bernyala-nyala tampak dalam kepribadian Rm. Lohuis. Dalam situasi yang demikian, Tuhan berkehendak memanggil hambanya yang setia ini. Pada tanggal 8 Agustus 1973, di saat sedang bekerja mengangkat tegel untuk penyelesaian rumah pastoran, Rm. Lohuis meninggal karena serangan jantung.

Paroki St. Vincentius a Paulo Langsep diresmikan pada tanggal 9 April 1972. Romo Dr. Wignyapranoto menjadi pastor paroki pertama.

Jumlah Orang Katolik di Keuskupan Malang Tahun 1962/1963[66]

No. Paroki Nama Pastor Stasi Jumlah
01. Bangka-lan P.N. Kramer O.Carm   91
02. Banyu-wangi

 

Steph. Mulder O.Carm

A.  Soebonokamdi Pr.

Dengan gereja:

1. Bagorejo

Tanpa gereja:

1. Rogojampi

349
03. Batu B.H.A. ten Kroode O.Carm   347
04. Bondo-woso

 

H.G. Kortink O.Carm Tanpa gereja:

1. Prajekan

2. Wonosari

3. Tamanan

244
05. Celaket

 

 

A. Hutten O.Carm,

A.J. Mulder O.Carm,

H.F. Demmer O.Carm,

J.R. Roesmandjaja Pr.

Dengan gereja:

1. Blimbing

2. Kepanjen

3. Tumpang

4. Pagelaran

Tanpa gereja:

1. Turen-Sedayu

2. Dampit

3. Sawahan

4. Paras

1.925
06. Curah-jati

 

 

J. Sosrowardojo O.Carm Dengan gereja:

1. Kedungrejo

2. Muncar

Tanpa gereja:

1. Wringinpitu

2. Jajag

3. Genteng

4. Kalibaru

5. Cluring

6. Kesilir

772
07. Ijen P.H. Keysers O.Carm

J.A.J. v.d. Hork O.Carm

T.A.T. Meijerink O.Carm

  1.748
08. Jember

 

 

G.J. Demmer O.Carm;

J. Kachmadi O.Carm

Dengan gereja:

1. Sukarena

2. Tanggul

Tanpa gereja:

1. Ambulu

2. Balung

3. Kencong

1.025
09. Kayu-tangan

 

G.J. Schalkwijk O.Carm

B.J.M. Blomesath O.Carm

Tanpa gereja:

1. Kebon Agung

2. Krebet Baru

1.935
10. Lawang

 

N.J.H. Konings O.Carm Tanpa gereja:

1. Sumberporong 2. Singosari

393
11. Luma-jang

 

A. Tedjapratama O.Carm

G. Singgih O.Carm

 

Dengan gereja:

1. Kedungrejo

Tanpa gereja:

1. Jatiroto

2. Klakah

3. Senduro

664
12. Pame-kasan L. Djajus O.Carm Tanpa gereja:

1. Sampang

131
13. Pasu-ruan

 

P.J. Vollering O.Carm

 

Dengan gereja:

1. Tretes

Tanpa gereja:

1. Bangil

2. Pandaan

462
14. Probo-linggo

 

C. Kwee Thiam Gie O.Carm

 

Tanpa gereja:

1. Kraksaan

2. Sebaung

1.314
15. Purwo-rejo

 

G.J.A. Lohuis O.Carm

 

Dengan gereja:

1. Tambakrejo

2. Donomulyo

Tanpa gereja:

1. Karangrejo

2. Sumberoto

3. Tlogosari

4. Tempursari

245
16. Situ-bondo

 

M.L.H. Stultiëns O.Carm

 

Tanpa gereja:

1. Besuki

2. PG Asembagus

3. PG De Maas

4. PG Wringin-anom

5. PG Panji

6. PG Ocean

192
17. Sume-nep J.B. Borggreve O.Carm Tanpa gereja:

1. Kalianget

257
Jumlah Orang Katolik Di Keuskupan Malang 1962-1963 12.094

 

3.8.3 Keuskupan Malang Sebagai Tempat Pembentukan Tenaga Pastoral

 

1. Kursus Teologi “Regina Apostolorum”

Sumbangan para dosen Seminari Tinggi  Karmel Batu kepada Keuskupan Malang adalah pendirian Kursus Teologi Regina Apostolarum pada tahun 1967. Lembaga ini pada mulanya bernama “Perguruan Theologia Katolik Malang”. Lembaga ini didirikan oleh propinsi Karmel Indonesia pada tanggal 9 Mei 1967 dan diselenggarakan oleh Seminari Tinggi Ordo Karmel di Indonesia “Regina Apostolorum”di Batu-Malang. Pelaksana harian Perguruan Theologia Katolik Malang saat itu adalah Fr. M. Aurelius Rosmuller, BHK. Kuliah-kuliah diberikan di Frateran Jln. Celaket 21, Malang. Kuliah-kuliah diselenggarakan setiap hari selasa dan jumat dari jam 18.00-21.00.

Pada saat pendiriannya, tujuan lembaga ini adalah untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan agama katolik dan untuk mendidik mereka yang mau dan memenuhi syarat-syarat menjadi pengajar agama. Karena itu, program lembaga ini dirancang untuk empat tahun pada awalnya. Pada akhir setiap tahun diadakan tentamen dalam matakuliah tahun itu. Pada akhir tahun kedua diadakan ujian untuk mendapatkan ijazah pertama yang setaraf dengan ijazah PGSLP. Pada akhir tahun keempat diadakan ujian untuk mendapatkan ijasah kedua / ijazah resmi yang setaraf dengan ijazah sarjana muda. Sebagai persyaratan mendapatkan  ijazah yang setara dengan sarjana muda, mahasiswa harus menyerahkan sebuah skripsi. Mereka yang menandatangani ijazah adalah wakil dari Keuskupan Malang, wakil dari Ordo Karmel, Sekretaris perguruan, dan Ketua Perguruan.

Berkenaan dengan tujuan dan ijazah yang didapatkan, mereka yang dapat diterima sebagai  mahasiswa adalah orang katolik, baik biarawan/ biarawati maupun awam, yang ingin memperluas dan memperdalam pengetahuan agamanya. Mereka yang ingin memperoleh ijazah harus juga memilik ijazah SLA dan mengikuti segala kuliah.

 

2. Sekolah Tinggi Pastoral “IPI”

Sumbangan ALMA yang bersifat khas bagi Keuskupan Malang adalah pendirian Institut Pastoral Indonesia pada tanggal 29 Juni 1967 sebagai lembaga pelatihan untuk anggota-anggotanya sendiri dan juga untuk orang awam yang secara tetap mau mengabdikan tenaganya untuk pekerjaan kerasulan. ALMA juga mendirikan Institut Pembangunan Masyarakat pada tanggal 19 Desember 1967 sebagai institut pendidikan untuk pekerja-pekerja sosial dan petugas-petugas pengembangan masyarakat yang bekerja sama dengan Departemen Sosial.

 

3. Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi “Widya Sasana”

Pada tanggal 1 Maret 1971, Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi didirikan oleh Pimpinan Ordo Karmel dan Kongregasi Misi (CM) untuk menggabungkan Seminari Tinggi Karmel Batu dan Seminari Tinggi Lazaris Kediri. STFT Widya Sasana bertempat di biara Karmelit Jln. Talang 5, Malang. Gedung baru STFT Widyasasana diberkati Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm dan diresmikan Bupati Malang, Bapak Eddy Slamet, pada tanggal 1 Mei 1984. Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi ini sekarang sudah terakreditasi atau berstatus disamakan. Untuk mencapai gelar kesarjanaan, tiap mahasiswa harus menempuh studi selama empat tahun. Untuk memperoleh tahbisan imam, seorang mahasiswa harus melengkapi dengan tahun orientasi pastoral selama satu tahun dan studi lebih lanjut selama dua tahun, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi ini memainkan peranan penting untuk masa depan Gereja, tidak hanya karena tugasnya untuk mempersiapkan tenaga inti gerejawi, tetapi juga memberikan sumbangan wawasan dan pemikiran bagi Gereja dan masyarakat.

 

3.8.4 Warisan Pusaka Mgr.A.E.J. Albers: Sekolah Yayasan Karmel

Mgr.A.E.J. Albers mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Uskup Malang karena alasan kesehatan pada tanggal 12 April 1973. Sejak 18 Januari 1935 Mgr. Albers secara berturut-turut telah memimpin Prefektur, Vikariat, dan Keuskupan Malang. Pater Blomesath menuliskan masa kepemimpinan Mgr. Albers yang sekian lama itu sebagai masa yang benar-benar penuh berkat Tuhan. Lebih lanjut, Pater Blomesath menulis kenangan akan karya Mgr. Albers bagi misi pribumi dengan tulisan sebagai berikut,

“Yang oleh Mgr. Albers dianggap nomor satu dan terpenting, ialah urusan persekolahan seperti masa pada masa sebelum perang. Itulah yang diutamakan pada masa sesudah perang ini… Jawab Mgr. Albers dulu dan sekarang selalu, ‘[gedung] gereja itu akan muncul dengan sendirinya, kalau jumlah orang katolik sudah cukup. Itu urusan pastor dan orang-orang beriman. Tetapi sekolah-sekolah tidak datang dengan sendirinya. Dan pada pokoknya, sekolah-sekolah itu sumber-sumber terpenting bagi pengetahuan keagamaan.’ Itulah jawaban yang kiranya kemudian dapat dibenarkan juga oleh setiap orang. Dan pada jawaban itu pula kita temukan mengapa Vikariat / Keuskupan Malang banyak terdapat lembaga-lembaga pengajaran.”[67]

Sejak kemerdekaan Indonesia, sistem pendidikan disederhanakan berupa pendidikan dasar-menengah dan tinggi. Aneka jenis sekolah berdasarkan golongan bangsa disatukan menjadi sekolah nasional yang menerima semua golongan. Sekolah-sekolah yang didirikan Carmelstichting sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia disesuaikan bentuk dan tingkatannya menurut keadaan ini. Sekolah nasional yang didirikan pertama kali oleh Mgr. Albers setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia adalah SDK Dionysius di Jln. Jaksa Agung Suprapto 40 (sekarang menjadi kompleks pertokoan), Malang, yang dibuka pada tanggal 1 Agustus 1946. Sekolah nasional kedua yang didirikannya adalah SMPK St. Petrus di Jln. Diponegoro 27 (sekarang Jln. Gajah Mada), Jember, yang dibuka pada tanggal 16 September 1948.

 

Pendirian Sekolah Oleh Vikariat / Keuskupan Malang yang Dikelola oleh Yayasan Karmel Tahun 1946-1971[68]

Tahun TK SD SMP SMA/SPG
1946-1950 1 3 4
1951-1955 3 5 8
1956-1960 2 10 13 3 (SMA)
1961-1965 9 11 4 (SMA)
1966-1970 3
1971 1 (SPG)
Jumlah: 80 buah 6 27 39 8

 

Hanya delapan dari semua sekolah itu yang mendapat subsidi, sepuluh mendapat bantuan uang, dan sisanya (72 sekolah) menjadi tanggungan Keuskupan. Pembiayaan sekolah-sekolah ini memberi tekanan ekonomi yang hebat bagi Keuskupan. “Deus providebit” (Tuhan akan mengaturnya), demikianlah kata-kata yang biasa diucapkan oleh Mgr. Albers dan juga oleh Moeder Oda.


[1] AAS 31 (1939), hlm. 213-214.

[2] AAS 31 (1939), hlm 182, pada tanggal 15 Maret 1939, menyebutkan Mgr. A.E.J. Albers sebagai Uskup tituler Tobna (Thubune in Numidia).

[3] MCa 1934, hlm. 41.

[4] AAS 53 (1961), hlm. 201.

[5] SCGE (sebelumnya de Propaganda Fide), Instr. Relationes in territoriis missionum, dalam AAS 61 (1969), hlm. 276-281.

[6] Bdk. Instr. Relationes …, no. 2-16.

[7] KM 1939, hlm. 99. Tapi, di GKI 1962-1963 di hlm. 141 menyebutkan tanggal 25 Oktober 1934. Paroki ini menjadi paroki yang kedua di kota Malang. Berkenaan dengan status “paroki,” kedudukan paroki dalam suatu daerah misi yang belum mempunyai hirarki sebenarnya adalah quasi-paroki. Pendirian hirarki Keuskupan Malang pada tahun 1961 menyebabkan terjadinya pengurutan ulang “kelahiran” paroki. Bdk. buku petunjuk misi 1946, hlm. 246.

[8] KM 1939, hlm. 100.

[9] KM 1939, hlm. 92. Tapi, GKI 1962-1963, hlm. 136, menyebutkan pencatatan baptis sebelumnya ada di Malang-Kayutangan.

[10] GKI 1962-1963, hlm. 136.

[11] KM 1939, hlm. 93. SGK, hlm. 1021, menyatakan paroki ini sebagai paroki yang ketiga di kota Malang. Akibat perang, paroki ini digabungkan kembali ke Malang-Kayutangan. Kemudian, ketika paroki Celaket didirikan (1953), pelayanan rohani dilakukan oleh pastor Celaket dan pencatatan pembaptisan di buku paroki Celaket. Gereja baru untuk Blimbing diberkati tanggal 21 Februari 1960 (SGK, hlm. 1038). Buku paroki blimbing dimulai lagi 4 Desember 1960; tapi, nama “Blimbing” di dalam GKI 1962-1963 masih tertera sebagai stasi dari paroki Celaket.

[12] KM 1939, hlm. 109. Pada tahun 1947, terjadi pembakaran gereja Wates Balung dan rumah sakit suster Misericordia. Akibat perang paroki ini digabungkan kembali dengan Malang-Kayutangan; kemudian menjadi stasi dari paroki Celaket (sejak 1953); lalu menjadi stasi dari paroki Blimbing. Akhirnya menjadi paroki kembali

[13] SGK, hlm. 1031.

[14] KM 1939, hlm. 98.

[15] Di GKI 1962-1963, hlm. 138, nama paroki adalah “Permaisuri Damai.”

[16] KM 1939, hlm. 98.

[17] KM 1939, hlm. 109. Tapi, GKI 1962-1963 menyatakan pencatatan baptis sebelum tahun 1937 ada di Malang-Kayutangan. Buku baptis ini hilang akibat perang. Buku baptis baru dimulai 1 Agustus 1950.

[18] SGK, hlm. 1025.

[19] KM 1933, hlm. 74.

[20] KM 1939, hlm. 94.

[21] SGK, hlm. 1021.

[22] GKI 1962-1963, hlm. 137.

[23] KM 1933, hlm. 216.

[24] KM 1936, hlm. 85.

[25] KM 1939, hlm. 89.

[26] KM 1933, hlm. 216.

[27] KM 1936, hlm. 84.

[28] KM 1939, hlm. 88.

[29] KM 1939, hlm. 290.

[30] KM 1933, hlm. 220.

[31] KM 1939, hlm. 90.

[32] KM 1933, hlm. 220.

[33] KM 1939, hlm. 90.

[34] KM 1939, hlm. 290.

[35] AS, fondo NS vol. 1196, rubrica 65/11, no.prot. 2318/1932.

[36] KM 1939, hlm. 91-110.

[37] KM 1939, hlm. 91-110.

[38] KM 1933, hlm. 83-96.

[39] KM 1939, hlm. 91-110.

[40] SGK, hlm. 1027-1032.

[41] KM 1939, hlm. 91-110.

[42] MDE, hlm. 29

[43] Nama suster dan frater yang meninggal di kamp Jepang dapat dilihat dalam buku sejarah masing-masing kongregasi.

[44] GKI 1962-1963, hlm. 135.

[45] SGK, hlm. 1035.

[46] SGK, hlm. 1035.

[47] SGK, hlm. 1069.

[48] SGK, hlm. 1069.

[49] B.J. BODDEKE, Statistieken-Naamlijst-Standplaats, Centraal Missie Bureau, Batavia 1948, hlm.3.

[50] B.J. BODDEKE, Statistieken-Naamlijst-Standplaats, hlm.5.

[51] B.J. BODDEKE, Statistieken-Naamlijst-Standplaats, hlm.12.

[52] B.J. BODDEKE, Statistieken-Naamlijst-Standplaats, hlm.16-17.

[53] SGK, hlm. 1055.

[54] SGK, hlm. 1056.

[55] SGK, hlm. 1075.

[56] GKI 1962-1963, hlm. 151.

[57] GKI 1962-1963, hlm. 146.

[58] GKI 1962-1963, hlm. 145.

[59] GKI 1962-1963, hlm. 135.

[60] GKI 1962-1963, hlm. 152.

[61] GKI 1962-1963, hlm. 150. Buku paroki terbakar pada tanggal 10 Oktober 1996. Buku paroki dimulai lagi tanggal

[62] GKI 1962-1963, hlm. 149.

[63] SGK, hlm. 1064.

[64] GKI 1962-1963

[65] GKI 1962-1963

[66] GKI 1962-1963

[67] SGK, hlm. 1041.

[68] SGK, hlm. 1041-1043.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *