Kepemimpinan Mgr. Clement Van Der Pas O.Carm

Kepemimpinan Mgr. Clement Van Der Pas O.Carm

(Superior Missionis: 1923-1927, Prefek Apostolik 1927-1933)

Rm. Dr. Antonius Deni Firmanto, Pr, M.Pd

Daerah misi Malang berada di ujung timur pulau Jawa meliputi wilayah karesidenan Pasuruan, Besuki, dan Madura. Jumlah penduduk waktu itu kira-kira tujuh juta orang, di antaranya 2800 orang katolik bangsa Eropa yang tempat tinggalnya tersebar dan orang katolik Jawa yang jumlahnya tidak terlalu berarti.[1]

 

2.1 MISI KATOLIK DI DAERAH TIMUR PULAU JAWA

Pater M. v.d. Elzen SJ menjadi pastor yang menetap di Surabaya dari tahun 1859-1866 dengan wilayah kerja seluruh Jawa bagian timur.  Dia dan pengganti-penggantinya di Surabaya memusatkan perhatian mereka pada pemeliharaan rohani orang-orang Eropa yang ada di wilayah itu sejak terbukanya daerah itu untuk perkebunan. Sejak tahun 1883, pater Yesuit sudah mulai mengunjungi tempat-tempat sekitar Surabaya.

2.1.1 Situasi Awal

Gambar 2: Gereja Pasuruan

Malang berjarak empat jam perjalanan dengan kereta api dari Surabaya. Perjalanan kereta api ke Malang melintasi kota Bangil, di Pasuruan. Pasuruan adalah ibukota karesidenan pada waktu itu. Di kota Pasuruan, seorang awam, Alexander Manuel Anthonys membangun gereja yang bernama St. Antonius.  Mgr. W.J. Staal SJ memberkati gereja itu pada tanggal 28 Juli 1895.[2]

Pada tahun 1896, stasi Malang menjadi stasi primer dengan imam residen (pastor yang menetap di tempat itu). Buletin Il Monte Carmelo menerjemahkan tulisan Pater Godefridus Jonckbloet SJ mengenai hari-hari pertamanya di Malang. Pada perayaan Paskah tahun 1896, ia mendapat pinjaman salah satu ruangan di kabupaten dari Bupati Malang karena ketiadaan tempat yang memadai untuk beribadah. Pada perayaan itu, ada 97 orang yang menerima komuni.[3] Pada bulan Agustus 1896, ia mendapat permintaan agar menetap di stasi Malang.[4] Izin dari Mgr. Staal tentang Malang sebagai stasi dengan imam tetap datang pada tanggal 6 Oktober 1896. Untuk mempersiapkannya, ia berangkat ke Malang pada hari berikutnya. Lalu, dengan uang pinjaman, pada tanggal 8 Oktober 1896, ia membeli tanah seluas k.l. 5.000 m2 di tepi jalan sebelah utara Aloon-Aloon Straat (daerah kompleks Bank Indonesia sekarang) dimana sudah ada dua gedung.[5] Ia menjadikan satu gedung sebagai gereja sementara  dan satu gedung sebagai pastoran. Awam yang aktif membantunya bernama J.F. Hoefsmit. Surat keputusan pendirian stasi (quasi-paroki) Malang dari Mgr. Staal keluar tanggal 4 Januari 1897. Surat keputusan pemerintah (gouvernements-besluit) tentang pendirian stasi Malang keluar tanggal 4 Juni 1897. Pater G. Jonckbloet SJ meninggalkan Surabaya untuk  menjadi Pastor pertama Malang itu pada tanggal 2 Juli 1897. [6] Wilayah stasi Malang meliputi 3 kabupaten, yaitu: Pasuruan, Bangil, dan Malang.

Gereja sementara kemudian dirobohkan untuk pembangunan gereja permanen. Gereja baru diberi nama Goddelijk Hart van Jezus (Hati Kudus Yesus) dan diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen SJ, Vikaris Apostolik Batavia, pada tanggal 7 Januari 1906. Menara gereja Kayutangan ini baru selesai dibuat tahun 1930. Orang Jawa pertama yang menerima pembaptisan Katolik tercatat di buku baptis Gereja Hati Kudus Yesus pada tahun 1910 adalah seorang perempuan yang dilahirkan di Salatiga dan pada tahun 1917 adalah seorang perempuan yang dilahirkan di Kediri dan seorang perempuan yang dilahirkan di Jombang.[7] Pada tahun 1916, gereja-bantu di Lawang diberkati. Berikut ini beberapa nama para pater Yesuit yang pernah menjadi pastor di Malang setelah Pater G. Jonckbloet SJ (1897-1908): Pater Bernard Schweitz SJ (1901-1904), Pater F.B. van Meurs SJ (1906), Pater J.D. Op den Kamp SJ (1908Pater Theodorus Korndöfter SJ (1915-1917); Pater Hermanus H.O. Leemker SJ (asisten pastor 1915-1918), Pater Henricus Fischer SJ (1919-1923), Pater L. Sondaal SJ (1923). [8]

Tiga orang suster Ursulin (OSU) berada di Malang sejak 6 Februari 1900.[9] Mereka menempati rumah di daerah Celaket. Mereka memulai sekolah frobel (TK) pada tanggal 1  Maret 1900 dan Sekolah Dasar pada tanggal 1 Mei 1900. Pada akhir tahun 1901, dimulailah pembangunan kompleks susteran Ursulin di Celaket. Sekitar tahun 1925, dilaporkan bahwa suster Ursulin di tempat itu berjumlah 46 orang.[10] Pada tahun 1927, murid di sekolah mereka berjumlah sekitar 792 anak.[11]

Sekelompok orang Jawa Katolik dari Kalibawang pergi ke Jawa Timur dan menetap di Sukoreno dekat Jember pada tahun 1904. Dua puluh tahun kemudian mereka baru mendapat pelayanan pastoral.

Gereja bantu di Lawang selesai dibangun pada tahun 1916

 

2.1.2 Status Daerah Misi: Dari Daerah Misi Yesuit Menjadi Daerah  Misi Karmelit

SCPF memisahkan Karesidenan Pasuruan, Besuki, dan Madura secara de facto dari Vikariat Apostolik Batavia sejak 12 Desember 1922.[12] Jendral Ordo Karmel pada waktu itu, Pater Elias Magennis O.Carm, mempercayakannya kepada para Karmelit provinsi Germano-Hollandica. Para Karmelit sendiri mempunyai ikatan dengan Indonesia dalam diri Pater Dionysius dan Bruder Redemptus yang menjadi martir di Aceh pada tanggal 29 November 1638.

Pelepasan daerah misi Malang dari Vikariat Apostolik Batavia secara de iure terjadi pada 27 April 1927 dengan peningkatan status daerah misi ini menjadi Prefekturat Apostolik Malang.[13] Superior Missionis Pater Clement van der Pas ditunjuk menjadi pemimpin di tempat (prefek apostolik) dan dilantik oleh Mgr. A.P.F. van Velzen SJ pada tanggal 20 November 1927.[14] Pada tahun 1927 itu, prefekturat apostolik Malang ditangani oleh tujuh orang pater Karmelit.

SCPF menerbitkan instruksi mengenai “iuris commissionis” pada 8 Desember 1929.[15] Dengan menerima “iuris commissionis,” lembaga misi tertentu menerima kepercayaan dari Tahta Suci Vatikan atas daerah misi tertentu. Daerah misi ini[16] yang berbentuk prefekturat apostolik atau vikariat aspotolik mempunyai status hukum seperti keuskupan[17]. Kelompok misionaris yang mendapat wewenang ini bertugas menumbuhkan (plantatio Ecclesiae) dan mengusahakan apa saja yang perlu bagi pendirian Gereja di tanah misi .[18]

 

Perbandingan Vikariat Apostolik / Prefektur Apostolik per- Juni 1927[19]

V.A./P.A. Tenaga T. Ibdt K. Misi Orang Katolik
Sc Fr Sr Kt G K S R
P.A. Bangka-Belitung 5 2 10 3 4 5 700
V.A. Batavia 91 78 669 93 40 28 127 6 62.156
P.A. Bengkulu 5 18 5 3 2 6 2 907
V.A. Borneo Nederland 25 14 56 16 10 13 31 17 5.701
P.A. Celebes 13 11 48 104 48 5 59 2 16.034
P.A. Malang 7 -* 14 8 8 9 4 4.200
V.A. Nieuw Guinea Nederland 26 19 129 93 7 98 4 22.052
P.A. Padang 19 13 59 45 13 12 25 7.256
V.A. Sunda Kecil 50 18 37 514 61 15 226 7 118.347

T.Ibdt: tempat ibadat; K.Misi: karya misi; Sc: imam; Fr: bruder; Sr: suster; *: jumlah suster tidak tercatat; Kt:katekis; G:gereja; K:kapel; S:sekolah (semua tingkatan); R: rumah sakit/poliklinik.

 

2.2 KEBERANGKATAN MISIONARIS KARMELIT KE DAERAH MISI

The Carmelite Mission in Java and Madoera melaporkan bahwa ada tiga pater Karmelit perintis misi Jawa. [20] Mereka adalah Pater Clemens van der Pas O. Carm[21], Pater Mattheus Franciscus Henckens O. Carm[22], dan Pater Paschalis Breukel O. Carm[23]. Mereka menerima salib misi dari Pater Dr. Cyprianus Verbeek O.Carm, Provinsial Ordo Karmel Provinsi Hollandia-Germanica pada tanggal 20 Mei 1923 di gereja Karmelit di Oss, Belanda. Sebelum berangkat ke Indonesia, mereka bertiga mengadakan perjalanan ziarah ke Roma. Mereka bertemu dan menerima berkat apostolik dari Paus. Kardinal W.M. van Rossum, Prefek SCPF waktu itu, memberi pesan kepada Pater Clemens v.d Pas yang dipilih menjadi Superior Missionis agar membuka karya misi bagi penduduk pribumi.

Buletin Il Monte Carmelo, terbitan dari pimpinan umum Ordo Karmel di Roma, memotivasi para pembacanya untuk membantu karya misi di seberang lautan. Sebelum keberangkatan mereka ke Indonesia, dalam kolom Missioni Carmelitane, Redaktur menulis,

“… Pada saat para konfrater kita sedang dalam perjalanan ke tanah misi yang jauh, kami berharap bahwa para pembaca tidak menolak permintaan kami, yakni berdoa kepada Allah dan kepada Santa Maria agar mereka dilindungi dalam perjalanan yang berat itu dan agar mereka tiba di tanah misi dalam keadaan sehat dan selamat sehingga mereka dapat memulai karya apostolik mereka… Penyelenggaraan ilahi memang akan menyertai mereka, namun partisipasi kita tetap diharapkan. Karena itu, kami mengundang para pembaca dan mereka yang mencintai karya misi Katolik untuk membantu karya kasih kristiani ini…” [24]

Tiga misionaris pertama Karmelit berlayar menuju Batavia dengan kapal “Johan de Witt” yang bertolak dari pelabuhan Genoa, Italia pada tanggal 6 Juni 1923. Mereka tiba di Batavia pada tanggal 30 Juni 1923. Berikut ini adalah surat dari Pater Clemens v.d Pas yang dia tulis di Bogor dalam perjalanan menuju ke Malang kepada Pater Provinsial di Belanda.[25]

Akhirnya kami tiba di tujuan. Sabtu, 30 Juni, pada jam 07.00 pagi kami tiba di Batavia dimana telah ada seorang pater Yesuit telah menunggu dan menyambut kami dengan ramah. Kami menginap di pastorannya. Sepanjang hari Sabtu dan Minggu kami tidak pergi kemana-mana. Hari Senin pagi kami berangkat menuju Buitenzorg dimana disana  seorang pater Yesuit lain sudah menunggu kami di stasiun. Kami berhenti sejenak dan dapat mengunjungi kebun raya yang sangat bagus. Selasa kami pergi ke Bandung dalam perjalanan yang sangat menyenangkan. Kami melewati daerah berbukit dan berlembah, dimana-mana hutan dan tanah pertanian silih berganti. Sungguh seperti surga. Besok kami akan berangkat menuju Muntilan dimana ada persekolahan Katolik. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Hari Kamis kami akan tiba di Surabaya lalu langsung menuju ke Malang, tujuan akhir dari perjalanan kami. Seperti itulah rancangan perjalanan yang disampaikan oleh Pro-Vicaris Apostolik. Di Malang, hanya ada satu pater Yesuit. Karena itu, kami dapat segera mengawali karya apostolik kita. Tuhan memberkati dan membimbing kita.

Buitenzorg, 3 Juli 1923,

P. Clemens, Misionaris Apostolik

Mereka tiba di Malang pada tanggal 6 Juli 1923 disambut oleh Pater Sondaal SJ. Dua hari sebelumnya, yatu pada hari Rabu 4 Juli 1923, di aula susteran Ursulin telah diselenggarakan  perpisahan untuk para Yesuit yang akan meninggalkan Malang: Pater Sondaal, Pater Fischer, dan Pater vam den Heuvel. Pater Sondaal SJ menyerahkan daerah misi Malang pada tanggal 1 Agustus 1923 dan pada hari berikutnya berangkatlah ia ke posnya yang baru di Bandung.

 

2.3 REKA ULANG MASTER PLAN AWALI (1923-1926)[26]

Sejak tanggal 3 Agustus 1923, para misionaris Karmelit mengemban tanggung jawab rawatan rohani bagi orang-orang Katolik di wilayah Karesidenan Pasuruan, Besuki, dan Madura. Di daerah seluas itu hanya ada stasi induk (quasi-paroki) Malang. Jumlah gereja pada waktu itu hanya 3 buah: gereja di Pasuruan (1895), gereja Hati Kudus Yesus di Kayutangan (1905), dan gereja di Lawang (1916).

Mereka bertempat tinggal di pastoran Roomsch Kerkstraat 2 (sekarang Jln. Mgr. Soegijapranata), Malang. Untuk kelancaran tugas, mereka membagi daerah misi Malang menjadi dua, yakni: afdeeling Malang dan afdeeling Probolinggo berdasarkan keberadaan jalan raya dan sarana transportasi penghubung antar daerah waktu itu.[27] Pater van der Pas menjadi Pastor paroki, Pater Breukel menjadi pastor pembantu untuk tugas dalam kota Malang, dan Pater Henckens menjadi pastor pembantu yang bertugas ke daerah-daerah. Diperkirakan bahwa master plan ini mereka susun setelah kedatangan Pater H.J.A. Dillmann O.Carm dan Pater F.F.J. Wouters O.Carm pada tanggal 21 Maret 1924. Kekuatan para misionaris menjadi semakin besar dengan kedatangan Pater J.W. Jongmans O.Carm dan Pater M.L.H Stultiens O.Carm pada tanggal 27 Agustus 1926 serta Pater A. van der Linden pada tanggal 7 Oktober 1926. Kecermatan mereka menyusun master plan awali inilah yang kurang lebihnya menerangkan mengapa hanya dalam waktu empat tahun saja mereka berhasil menjadikan daerah misi Malang menjadi prefekturat apostolik.[28] Master plan awali ini menjadi dasar dimana mereka menempatkan karya-karya bagi kepentingan penduduk pribumi.

 

2.3.1 Keterangan Daerah: Misi Malang dan Misi Probolinggo (1923-1926)

Daerah 1: Afdeeling Malang. Di daerah ini telah ada gereja Hati Kudus Yesus-Malang (1906) dan gereja St. Maria Dikandung Tanpa Noda Asal-Lawang (1916). Juga ada biara Ursulin dengan kompleks persekolahannya. Kapel susteran Ursulin diberkati tanggal 21 Juni 1925 (dan dipakai sebagai gereja paroki ketika Celaket menjadi paroki pada September 1953).

Centrum Jawa Balearjosari (daerah Malang selatan). Di tempat itu ada perkebunan karet yang dimiliki oleh keluarga Tionghoa kongsi San Lien dimana sejumlah orang Katolik Jawa dari Jawa Tengah dihimpun oleh A. Blijdenstein, pemimpin perkebunan itu.[29] Surat Pater Verdier yang bertanggal 30 Mei 1926 menyebutkan bahwa telah ditempatkan katekis Jawa di Balearjosari. Laporan tahunan Mgr. C.v.d Pas kepada SCPF yang bertanggal 4 Januari 1929 menyatakan bahwa ia menempatkan 3 katekis di Balearjosari yang menjadi centrum Katolik Jawa di jalur selatan Malang.[30] Berdasarkan laporan tahun 1930 ke SCPF, jalur selatan itu adalah rangkaian: Balearjosari, Gununggebang, Karangsari, Wonokerto, Kademangan, Pringgodani, Sumberwaluh, Sumber bendo, Bantur.

Centrum Jawa Wates Balung (daerah dekat Tumpang-Malang Timur). Peta prefekturat Malang cetakan tahun 1928 memuat simbol stasi dengan gereja di tempat Wates Balung. Berdasarkan simbol itu, orang Katolik sudah ada di tempat itu sebelum tahun itu. Surat Pater Verdier yang bertanggal 30 Mei 1926 menyebutkan bahwa telah ditempatkan katekis Jawa di Sonowangi. Laporan tahunan Mgr. C.v.d Pas kepada SCPF yang bertanggal 4 Januari 1929 menyebutkan bahwa ia menempatkan 2 katekis Jawa di Wates Balung.[31] Dalam surat kepada Kardinal van Rossum yang bertanggal 27 Februari 1930, Mgr. C.v.d Pas menerangkan keberadaan centrum Katolik Jawa di Tumpang-Wates Balung itu dan tujuan jangka panjangnya. Surat itu menyertakan juga gambar peta pos-pos misi di jalur timur Malang yang berpusat di Wates Balung.[32] Berdasarkan laporan tahun 1930 ke SCPF, jalur timur itu adalah rangkaian: (dari arah Gondanglegi menuju Poncokusumo) Bulupitu, Randugading, Tajinan, Panda[h]an, Pandanajeng, Karangjambe, Kebonsari, Wates Balung, Ngadireso, Jambesari, Ngembal, Wajak, Sumberrejo, Pandansari. Tumpang baru akan mendapat pastor yang menetap pada tanggal 1 Desember 1937; Gereja diberkati Natal 1937. Ditempat itu pada tahun 1939 ada 380 orang Jawa Katolik.[33]

Daerah 2: Afdeeling Probolinggo. Gereja dan pastoran Probolinggo diberkati pada tanggal 7 Desember 1924. Pada tanggal 11 Oktober 1926, suster-suster SPM tiba di Probolinggo dibawah pimpinan Moeder Oda. Pasuruan yang menjadi stasi dari wilayah ini kelak menjadi Paroki pada tahun 1932, walaupun di daerah ini telah ada gereja St. Antonius-Pasuruan sejak tahun 1895. Menyusul pendirian paroki ini, pada tanggal 29 Mei 1932, para suster Sang Timur tiba di Pasuruan.

 

2.3.2 Sistem Perjalanan Dinas 1923-1926

Afdeeling I: imam-imam residen di Malang membuat perjalanan dinas (dienstreizen) 18 kali setahun ke tempat-tempat: Lawang, Gondanglegi, Turen, Dampit, Balearjosari, Krebet, Singosari, Kepanjen. Ada jalur trem (steamtram) Blimbing-Tumpang, Malang-Gondanglegi, Gondanglegi-Kepanjen, Gondanglegi -Dampit

Afdeeling II: Pater Henckens dan Pater Wouters memulai kerasulan mereka pada tanggal 7 April 1924 di Probolinggo. Gereja dan pastoran untuk mereka baru diberkati tanggal 27 Desember 1924. Ketika Pater Stultiens datang, ia ditugaskan untuk mengadakan perjalanan dinas di Jawa pojok timur khusus untuk Sukarena dan sekitarnya. Imam-imam residen di Probolinggo mengadakan perjalanan dinas ke daerah timur dengan menggunakan kereta api. Mereka membuat perjalanan dinas 10 kali setahun ke tempat-tempat:

  • Pasuruan (ada 4 pabrik gula). Ada jalur trem (steamtram) Pasuruan-Sengon (daerah dekat Purwosari), Pasuruan-Winongan.
  • Bangil (ada 3 pabrik gula)
  • Klakah (ada dipo kereta api pemerintah), Lumajang (ada 1 pabrik gula dan perkebunan kopi-tembakau). Ada jalur kereta api Klakah-Lumajang-Pasiriyan.
  • Jatiroto (ada pabrik gula paling besar di Jawa)
  • Jember (ada 4 perusahaan tembakau). Untuk ke Sukarena, pastor naik kereta dari Jember ke Rambipuji, lalu dengan trem dari Rambipuji ke Balung dan meneruskan dengan sepeda. Ada jalur trem (steamtram) Balung-Puger dan Balung-Ambulu.
  • Bondowoso (ada 2 pabrik gula dan filialnya, perkebunan karet dan kopi), Situbondo (ada 5 pabrik gula). Ada jalur kereta api Kalisat (Jember)-Bondowoso-Situbondo-Panarukan.
  • Banyuwangi (ada 1 pabrik gula dan 25 perkebunan kopi dan karet). Untuk ke Glagah Agung (ada gereja), pastor naik kereta dari Banyuwangi-Rogojampi, lalu naik trem (steamtram) jalur Rogojampi-Benculuk, lalu dari Benculuk meneruskan perjalanan dengan sepeda ke Glagah Agung. Imam harus menelpon dulu ke perkebunan dan jika ada jumlah orang Katolik yang cukup maka ia akan mengadakan misa pada hari minggu perkebunan- (dengan dijemput mobil).

Satu dari imam residen di Probolinggo membuat perjalanan dinas 6 kali setahun ke Madura. Lama tiap-tiap  perjalanan dinas adalah 10 hari. Dia berangkat dari Probolinggo ke Surabaya dengan kereta api, menyeberang ke Kamal, lalu 12 jam dengan trem dari Kamal ke Kalianget. Hari Minggu selalu di Kalianget. Hari-hari lain mengunjungi Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan (misa, pengakuan dosa, mengirim komuni, katekismus). Ada katekis yang mengajar katekismus. Di Sumenep, misa diadakan di rumah keluarga Meier. Di Pamekasan, misa diadakan di rumah keluarga C.J.B. Blom.

Katekis Eropa ditempatkan di: Pasuruan,  Jatiroto, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi. Katekis Eropa digaji oleh pemerintah Hindia Belanda.

Katekis Jawa ditempatkan di: Sumenep, Malang, Sukarena, Balearjosari, Sonowangi, Probolinggo. Katekis Jawa digaji oleh misi.

 

2.4 DAERAH MISI MALANG

 

2.4.1 Malang

Misi Karmelit berhasil mengupayakan pendirian HIS untuk anak laki-laki pada 15 Oktober 1923.[34] Sekolah ini menggunakan rumah penduduk di daerah Kotalama-Malang.  Pater C.v.d Pas mendatangkan seorang guru Jawa dari sekolah guru binaan Yesuit di Muntilan bernama Raden Simon Sudarmo yang juga bertugas sebagai guru agama.

Semangat dan ketekunan Raden Simon Sudarmo membuahkan hasil. Sekolah ini – semula hanya 12 orang muridnya – kemudian segera dibanjiri murid. Murid-murid berpindah ke gedung sekolah di Semerustraat pada tanggal 6 Oktober 1924. Orang-orang yang bersimpati dengan karya misi membantu pembangunan gedung itu. Buletin Il Monte Carmelo terbitan bulan November 1925 memuat laporan Pater Clemens.

“… Pada 1 Juli sekolah harus memulai tahun ajaran baru. Sekolah memerlukan empat ruang kelas, tapi yang ada hanya tiga ruangan saja. Darimanakah dana didapatkan untuk membangun ruang yang keempat? Ketika jalan keluar sudah buntu, Penyelenggaraan Ilahi bekerja memberikan pertolongan. Sumbangan datang sehingga ruang yang keempat dapat dibangun. Begitulah ceritanya sehingga pada 1 Juli sekolah dapat dimulai dengan empat ruang kelas baru…” [35]

Untuk memberikan status hukum misi kependidikan bagi pribumi, misionaris Karmelit mendirikan Carmelstichting sebagai badan hukum yang mengorganisasi karya sekolah dan asrama pelajar serta rumah yatim yang mereka dirikan. Yayasan ini didirikan tanggal 27 Januari 1926 dengan akta pendirian oleh Notaris Maxmiliaan Albert Edmond Andela, no. 31 tahun 1926.

Pada tanggal 9 Maret 1928 dua orang frater Bunda Hati Kudus (BHK) dari Utrecht pertama tiba di Malang, yakni Frater Gregorius dan Wilfridus.[36] Mereka ditugaskan untuk membuka ELS anak laki-laki.[37]

 

Pater C.v.d Pas melaporkan bahwa dua orang murid dari HIS laki-laki di Malang menerima pembaptisan pada tanggal 30 Mei 1925.[38] Dua anak itu satu memakai nama baptis Andreas dan satu memakai nama baptis Albertus. Pada tahun 1925 itu dilaporkan bahwa orang Katolik di wilayah misi Malang berjumlah 2.215 orang Eropa dan 15 orang pribumi.[39] Dan, katekumen berjumlah 75 orang. Berkenaan dengan meninggalnya R. Simon Sudarmo pada tanggal 30 September 1930, Pater Blomesath menulis eulogia:                                                       R. Simon Sudarmo

“Pada hari itulah Raden Simon Sudarmo, yang harum namanya sebagai rasul awam, telah dipanggil ke hadirat Tuhan untuk menyambut pahalanya karena telah mengamalkan segala kebajikannya bagi misi pada umumnya dan bagi pendidikan pada khususnya, baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur.”[40]

Pada tanggal 21 Juni 1925, Mgr. A.P.F. van Velsen SJ datang dari Batavia ke Malang memberkati kapel para Suster Ursulin di Celaket-Malang. Kapel ini tidak hanya dipakai oleh para suster sendiri beserta anak-anak asrama mereka, tapi juga oleh orang-orang Katolik di sekitarnya. Sebagai hasil pembicaraan dengan Mgr. van Velsen, Pater J. Prennthaler SJ, Pastor Mendut, menyatakan diri bersedia untuk mencari sejumlah orang Jawa Katolik yang diduga ada di sekitar daerah Sukarena (daerah selatan antara Lumajang-Jember).

Stasi Lawang menjadi paroki sejak tanggal 1 Desember 1927. Gereja diberi nama “Maria Dikandung Tanpa Noda Asal” sudah ada sejak 1916. Buku baptis sejak bulan Desember 1927 (catatan pembaptisan sebelum tahun itu ada di buku baptis paroki Kayutangan). Pastoran terletak di Karangsono, Schoolweg. Pastoran baru di samping gereja dibangun pada tahun 1930. Suster SPM membuka sekolah di Lawang bersamaan dengan pendirian paroki Lawang (1927). Mereka bertempat tinggal di Pereboomboulevard.

Di kota Malang, jumlah orang Jawa yang menjadi Katolik bertambah cepat sehingga Gereja Hati Kudus Yesus tidak sanggup menampungnya lagi dan harus diusahakan adanya gereja baru. Pada tanggal 10 Maret 1929, gereja khusus untuk orang-orang Jawa katolik diberkati.[41] Gereja ini menjadi centrum untuk orang Katolik Jawa dan dibangun sehalaman dengan HIS dan asrama anak-anak Jawa di Semerustraat. Pencatatan pembaptisan di buku baptis di gereja untuk orang-orang Jawa ini mulai 1 Januari 1935. Gereja orang Jawa ini selalu penuh dikunjungi umat dari Tanjung, Klayatan, Bumirejo, Bebekan dan lain-lain tempat.

Dua orang suster Misericordia pertama dari Boxmeer tiba di Malang pada tanggal 4 Agustus 1929; empat orang suster menyusul datang pada tanggal 23 November 1929.[42] Untuk sementara mereka menumpang di susteran Ursulin Celaket. Mereka mengambil alih klinik milik Profesor Dr. Leber pada akhir November 1929. Dr. Leber telah bertahun-tahun membuka klinik itu dan berusaha untuk menyerahkan kliniknya itu kepada suatu organisasi yang kiranya sanggup meneruskan usaha luhur ini. Para suster Misericordia berhasil mengembangkannya menjadi R.K. Ziekenhuis Sancta Maria Magdalena Postel di Jln. Sawahan 49.[43]

 

2.4.2 Balearjosari

Pater Stultiëns menjadi pastor paroki pertama. Tanggal 24 Desember 1925 adalah hari jadi paroki Balearjosari. Pada hari itu 17 orang dibaptis menjadi Katolik. Blijdenstein ikut menyiapkan pembaptisan itu. Dia juga yang ikut membiayai pembangunan gereja Balearjosari yang bernama St. Aloysius dan St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Gereja itu diberkati pada tanggal 21 Juni 1928. Pada tahun 1931 dibangun gua Lourdes. Setahun sekali diadakan prosesi Sakramen Maha Kudus yang sangat  menarik orang. Prosesi dilewatkan daerah yang indah pemandangannya. Blijdenstein membiayai lagi pembangunan sekolah (yang dibuka tanggal 14 September 1930) dan pembangunan gereja yang bernama St. Yosef (diberkati tanggal 15 Oktober 1930) di desa Pagelaran, dekat Balearjosari. Blijdenstein  ikut mengurusi dan memberikan bantuan keuangan ketika suster Misericordia membuka rumah sakit dan poliklinik “Placide” pada tahun 1931. Pada tahun 1933, suster Misericordia membuka Fröbelschool dan Volkschool “St. Maria Magdalena Postel,” untuk anak perempuan di tempat itu.

 

Aktivitas Paroki Balearjosari 1933[44]

Nama Gereja St. Aloysius dan St. Theresia Kanak-kanak Yesus
Ibadat di Paroki Hari minggu dan hari raya: 05.00 pujian; 6.30 misa dengan kotbah 

Sabtu: 05.00 pujian untuk menghormati St. Maria/ devosi Skapulir St. Maria dari Gunung Karmel

Jumat pertama: 05.00 pujian; 06.45 misa

Pastoran C.O. Balearjosari – Malang
Perjalanan Dinas 1. Pagelaran. Gereja: St. Yusuf. Ibadat: setiap jumat pertama dan minggu pertama dalam bulan. 

2. Untuk interval yang tidak teratur: kunjungan ke Sumberbendo, Banderangin, Sumberkawuh, Sri Gonco, Wonokerto, Brongkal, Sempol, C.O. Sumber-petung, Sumbernongko, Kali-Gading, Bandoroto, Luminu, Purbaya, Sumberperkul.

BPGDA (Kerk- en Armberstuur) Ketua: MLH Stultiëns O.Carm, wakil ketua: C. Welter, anggota: Clemens Kartasoedarma, Paulus Sardja
Paduan suara “St. Cecilia”: ketua: MLH Stultiëns O.Carm, pemimpin: Bonifacius Poespaatmadja; sekretaris: penulis: Augustinus Martasoegita
Kerasulan Doa Pemimpin: MLH Stultiëns O.Carm; Anggota: Clemens Kartasoedarma, Bonifacius Poespa-atmadja, Augustinus Martasoegita, Mathilda Pinah, M. Magdalena Ratminten

 

2.5 DAERAH MISI PROBOLINGGO

Paroki Probolinggo mulai 1924. Buku baptis mulai 7 April 1924. Gereja Paroki bernama St. Maria dari Gunung Karmel. Pastor paroki pertama Probolinggo adalah Pater Wouters O.Carm Gedung gereja Probolinggo adalah gedung gereja yang pertama yang dibangun oleh misionaris Karmelit.

Tujuh orang suster SPM  pertama dari Amersfoort di bawah pimpinan Sr. M. Oda tiba di Malang pada tanggal 7 Oktober 1926 lalu tiba di Probolinggo tanggal 11 Oktober 1926.[45] Mereka bertempat tinggal di Probolinggo di Heerenstrat 34. Pater Blomesath  menulis, “Rombongan para suster yang pertama itu mendapat sambutan yang luar biasa, baik di Malang maupun di Probolinggo.”[46] Pada tanggal 11 Desember 1926, suster SPM membuka Fröbelschool (TK) sebagai karya awal mereka. Lebih lanjut, mereka sudah dapat memulai ELS sejak 6 Juni 1927 dengan gedung baru yang diberkati pada tanggal 8 Desember 1927.

Berkenaan dengan karya misi di pulau Madura, dilaporkan bahwa sampai tahun 1937, belum ada orang pribumi Madura yang meminta pelajaran agama Katolik.[47] Kunjungan itu hanya dapat melayani sedikit orang Eropa dan beberapa orang Tionghoa. Sumenep mendapat imam residen sejak tahun 1937.

Pada permulaan tahun 1932, stasi Pasuruan ditingkatkan menjadi paroki. Pater Jongmans dilantik sebagai pastor yang menetap di situ pada tanggal 31 Januari 1932. Buku baptis mulai tanggal 31 Januari (catatan baptis sebelumnya: dari tahun 1924-1932 di Probolinggo; sebelum 1924 di Malang-Kayutangan). Pada waktu itu juga, di Belanda, diadakan perundingan dengan suster Sang Timur dari Maastricht.[48] Perundingan ini pun berhasil baik. Moeder Francisca Cruce PIJ, Pimpinan Provinsi Belanda, menyetujui untuk membantu pekerjaan misi di Prefekturat Malang. Ia mengirimkan enam suster sebagai pionir. Pada 4 Mei 1932, enam suster Sang Timur pertama dibawah pimpinan Moeder Andrea Ludwiga dengan kapal “Christian Huygens” mendarat di pelabuhan Tanjung Perak-Surabaya dijemput Mgr. Clemens van der Pas  O.Carm dan Blijdenstein. Tanggal 29 Mei 1932 mereka tiba di Pasuruan. Mereka kemudian tinggal di daerah Semarangan, Pasuruan. Mereka segera membuka Fröbelschool dan HCS sebagai karya awal.

 

 

Pater J. Prennthaler SJ dapat menemukan dan mengumpulkan kembali beberapa puluh orang yang dulu pernah dikenalnya setelah ia tinggal beberapa saat di daerah yang diduga menjadi tujuan perpindahan orang-orang Katolik dari Jawa Tengah. Mereka menyatukan diri kembali sehingga pada tanggal 24 Mei 1926 di Sukarena dapat diberkati sebuah gereja dan sekolah desa.[49] Gereja Jember 1928

Stasi Jember menjadi paroki terpisah dari paroki Probolinggo pada tahun 1927. Buku baptis mulai tanggal 2 Juli 1927 (7 April 1924-1927 di Probolinggo; tahun sebelumnya di Malang-Kayutangan) dan nama paroki adalah “St. Yusuf.”[50] Pastoran Jember berada di Schoolstraat 21 (sekarang Jln. Kartini). Pemberkatan gereja dan pastoran di Jember pada tanggal 4 Juni 1928 menjadi buah dari perjalanan pastor-pastor yang sampai saat itu dilakukan dari Probolinggo. Dengan ini, Jember dengan daerah-daerah di sekitarnya terpisah dari Probolinggo. Pater A. van der Linden menjadi pastor paroki Jember yang pertama. Sejak tanggal 22 Desember 1928, empat orang suster SPM mulai menetap di Schoolstraat untuk menangani sekolah.

 

Aktivitas Paroki Jember 1933[51]

Nama Gereja St. Yusuf
Ibadat di Paroki Hari minggu dan hari raya: 05.30 pujian; 7.30 misa dengan kotbah dan dinyanyikan 

Sepanjang minggu: 06.00 misa

Setiap Sabtu dan Jumat pertama: 05.30 pujian

Pastor Pater A. van der Linden O.Carm 

Pater G.A. Vloet O.Carm

Perjalanan dinas 1. Banyuwngi (G.A. Vloet): setiap minggu ke-4 misa jam 07.00 di kantor Asisten Residen 

2. Bondowoso (G.A. Vloet): setiap minggu ke-3 misa jam 07.00 di gedung kantor agraria (Gedung pengadilan negeri)

3. Glenmore (A. van der Linden): setiap bulan pada minggu ke-2 jam 07.30 di gedung ELS

4. Glagah Agung (G.A.Vloet): gereja: St. Yusuf, pada hari setelah minggu ke-3 misa jam 07.00

5. Situbondo (A. van der Linden): setiap bulan pada minggu ke-2 misa jam 07.00 di gedung kantor agraria (Gedung pengadilan negeri)

6. Sukarena (G.A. Vloet): kapel: St. Theresia, setiap minggu pertama dalam bulan misa jam 07.00

7. Pada waktu yang tidak teratur mengadakan perjalanan ke: Garahan, Genteng, Kalibaru, Kalisat, Kencong, Kradenan, Payoman, Rambipuji

Koor Paduan suara perempuan “St. Cecilia”
Klinik Birnie-Kliniek
Karya Kepausan Nona C. Verbeet dan W. Notokoesoemo
Perkumpulan keagamaan 1. Kerasulan doa 

2. Perkumpulan St. Melania untuk orang Jawa

ketua: Ny. Hartog, sekretaris: Ny. Notokoesoemo, Penulis: Ny. Francken. Setiap rabu: 15.30-17.30, kursus menjahit dan kerajinan  tangan di sekolah suster

 

 

 

2.6 AKHIR KEPEMIMPINAN MGR. CLEMENS VAN DER PAS

 

 

Mgr. C.v.d. Pas O. Carm meninggal dunia pada tanggal 16 Desember 1933 dalam usia 48 tahun setelah sakit beberapa hari. Pater Blomesath menggambarkan kehilangan itu dengan tulisan berikut,

“… ‘Kerugian yang tak tertebus,’ kata kronik-kronik. ‘Bencana yang dahsyat,’ tulis redaktur Vox. Dan bukan para penulis kronik dan redaktur Vox saja yang berpikir demikian, tetapi juga beribu-ribu orang dari segala lapisan dan tingkatan masyarakat, yang dua hari kemudia mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Perhatian yang sehebat itu, terhadap meninggalnya seseorang, tak pernah dialami.”[52]

Sebagai kenang-kenangan dan rasa hormat kepada pemimpinnya yang penuh berkat Tuhan itu, berikut ini gambaran singkat mengenai kemajuan yang telah dicapai oleh para pater Karmelit di Jawa Timur selama masa sepuluh tahun.

Gambaran Keadaan Prefekturat Apostolik Malang thn. 1923 dan 1933[53]

Prefektur 1923 1933 Pendidikan 1923 1933
Eropa Katolik 

Bukan Eropa

Gereja

Imam

Frater

Suster

Rumah yatim

2.800 

125

3

2

36

6.547 

2.850

14

17

20

94

4

Fröbelschool 

ELS

HIS

HCS

Volksschool/Vervolg.

Standaardschool

Schakelschool

M.U.L.O

Kweekschool

Normaalcursus

Normaalschool

1

1

1

1

17 

7

5

4

13

6

3

2

1

1

1

4 60

Statistik Umat 1 Juli 1932-30 Juni 1933[54]

Tempat Orang Katolik Baptis Kt Nkh
E BE J A D K S
Balearjosari 

Jember

Lawang

Malang

Pasuruan

Probolinggo

25 

905

441

3068

98

750

845 

301

57

700

3

76

870 

1206

498

3768

101

826

34 

37

4

142

2

16

36 

74

9

160

5

31

120 

58

5

155

3

36

14 

10

22

7

– 

4

1

19

1

2

Jumlah 5287 1982 7296 235 315 377 53 27

E: Eropa; BE: bukan Eropa; J: jumlah; A: anak; D: dewasa;

Kt: katekumen; K: katolik; S: sipil

 

Lanjutan Statistik Umat 1 Juli 1932-30 Juni 1933[55]

Tempat K1 PA KP PK
Balearjosari 

Jember

Lawang

Malang

Pasuruan

Probolinggo

59 

45

18

288

11

47

157 

312

95

1946

126

306

310 

457

173

1770

45

365

8225 

15772

3883

116950

2785

20150

Jumlah 468 2942 3120 167765

K1: komuni pertama; PA: peserta pelajaran agama; KP: komuni paskah;

PK: jumlah penerima komuni sepanjang tahun

 

Pater Karmelit di Prefekturat Malang Tahun 1933[56]

No. Paroki Nama Pastor dan Gereja Stasi
1. Malang-Kayu-tangan Buku Paroki: 2 Juli 1896 

Pastor: Mgr. N.v.d. Pas

Pastor pembantu:

1. Linus Henckens

2. B.J.M. Blomesath

3. H.M.A. Bijlhout

4. A.E.J. Albers

5. J. Rijpma

6. J.L. Mulder

 

Gereja paroki: Hati Kudus Yesus

Gereja untuk orang Jawa: St. Yusuf; rektor gereja: W.J.A. Scheurink

Kapel Ursulin

Kapel BHK

Kapel RKZ

Bagian orang Eropa: Turen, Dampit, Mulyoarjo, Supiturang, 

Sumber Rawa, Ngredja, Bululawang, Kepanjen, Krebet, Batu, Punten, Pujon, Ngantang

Bagian orang Jawa:  Balung, Tumpang, Pulungan, Tamiajeng, Tajinan, Karangjambe, Bambang, Kebonsari, Bumiayu, Senggreng, Kecopokan, Turus, Pakisaji, Dadapan

2. Probo-linggo Buku Paroki: 7 April 1924 

Pastor:

1. F.J. Wouters

2. A.J.L. Ardts

Gereja:

1. Gereja paroki: St. Maria dari Gunung Karmel

2. Kapel Sr SPM: St. Maria Dikandung Tanpa Noda Asal

Kab. Probolinggo 

Kab. Kraksaän

Kab. Lumajang, Jatiroto, Klakah, Pasirian

Wilayah Madura: Pamekasan, Sumenep, Kalianget, Sampang, Krampon, Balega, Bangkalan, Kamal, Batu-Porrong

3. Balearjo-sari Buku Paroki: 24 Desember 1925 

Pastor: M.L.H. Stultiëns

Gereja:

Balearjosari: St. Aloysius dan St. Theresia Kanak-kanak Yesus

Pagelaran: St. Yusuf

 

Sumberbendo, Banderangin, Sumberkawuh, 

Sri Gonco, Wonokerto,

Brongkal, Sempol,

Perkebunan Sumber-petung,Sumbernongko,

Kali-Gading,Bandoroto, Luminu, Purbaya, Sumberperkul

4. Jember Buku Paroki: 2 Juli 1927 

Pastor:

1. A. van der Linden

2. G.A. Vloet

Gereja:

Jember: St. Yusuf

Glagah Agung: St. Yusuf

Sukarena: Kapel St. Theresia

Sukarena 

Kab. Bondowoso,

Kab. Situbondo,

Kab. Banyuwangi,

Glenmore,

Glagah Agung

Kunjungan tidak tetap:

Garahan, Genteng, Kalibaru, Kalisat, Kencong, Kradenan, Payoman, Rambipuji

5. Lawang Buku Paroki: 5 Desember 1927 

Pastor: H.J.A. Dillmann

Gereja: St. Maria Dikandung Tanpa Dosa Asal

Singosari, Purwodadi, 

Nongkojajar,

Purwosari, Sukorejo

6. Pasuruan Buku Paroki: 31 Januari 1932 (1924-1932 di Probolinggo) 

Pastor: J.W. Jongmans

Gereja: St. Antonius

Bangil, Kasri

 

Personil Misi Di Prefekturat Apostolik Malang Tahun 1933[57]

No. Ordo dan Kongregasi Masuk Malang Tempat Jumlah
1. Imam Karmelit 1923 Balearjosari 

Jember

Lawang

Malang

Pasuruan

Probolinggo

2

1

9

1

2

2. Frater BHK 1928 Malang 18
3. Suster OSU 1900 Malang 38
4. Suster SPM 1926 Jember 

Lawang

Probolinggo

7

15

5. Suster Misericordia 1929 Balearjosari 

Malang

9

6. Suster Sang Timur 1932 Pasuruan 6
Jumlah Keseluruhan 118

[1] SGK, hlm. 1000.

[2] A.J.H. VAN DER VELDEN SJ, De Roomsch-Katholieke Missie in Nederlandsch Oost-Indië 1808-1908. Een Historische Schets, L.C.G. Malberg, Nijmegen 1908, hlm. 240.

[3] MC, Tahun IX, September 1923, Fasc. 9, hlm. 202.

[4] MC, Tahun IX, September 1923, Fasc. 9, hlm. 201.

[5] Kisah mengenai hari-hari pertama paroki Hati Kudus Yesus, Kayutangan, dapat diikuti dalam “Buku Kenangan Perayaan 100 Tahun Paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan-Malang” yang disusun oleh F.X.Y. Wijaya Indrakusuma- Fred Dewanto yang diterbitkan pada tahun 1997.

[6] MC, Tahun IX, September 1923, Fasc. 9, hlm. 201; KM 1933 di hlm. 77 menyatakan buku baptis mulai 2 Juli 1896 (sebelumnya di pastoran Kepanjen, Surabaya).

[7] R.I.Md. SUDHIARSA dkk., Christianity in Javanese Culture and Society: Christians in East Java, dalam J.S. ARITONANG – K. STEENBRINK (Ed.), A History of Christianity in Indonesia, Brill, Leiden-Boston 2008, hlm. 719.

[8] K. STEENBRINK, Catholics in Indonesia 1, hlm. 462.

[9] Nama pada masa itu Orde Der Religieuzen Ursulinen van de Romeinsche Unie. Tiga suster ursulin tersebut: Sr. Xavier Smets, Sr. Aldegonde Flecken, Sr. Martha Bierings.

[10] Rivista illustrata della esposizione missionaria vaticana, Tahun II, No. 7, 15 Maret 1925, hlm 218.

[11] MCa 1930, hlm. 357.

[12] Dekrit no. prot. 3344/1922; AS, fondo NS vol. 943, rubric 65/2, no. prot. 891/1926.

[13] AAS 19 (1927), hlm. 282, 304.

[14] Wewenang kepemimpinan prefek apostolik atau vikaris apostolik adalah “atas nama” Paus (bdk. KHK 1983 kan 371 § 1).

[15] AAS 22 (1930), hlm. 111-115.

[16] Bdk. KHK 1983 kan 790 § 1,792.

[17] Bdk. KHK 1983 kan 383,371 § 1.

[18] Bdk. KHK 1983 kan 786. KHK 1983 memberikan gambaran aktivitas misioner oleh uskup dalam kan 782 § 2; oleh awam dalam kan 781, 792 § 2-3; oleh kongregasi  dalam kan 783. Aktivitas ini juga berupa penyiapan katekis dan orang-orang katolik yang mendedikasikan hidupnya bagi karya misi melalui doa, pengurbanan, dan aneka usaha lain (bdk. AG 40; RM 69-70). AG 6 dan 19 menerangkan bagaimana citarasa pertumbuhan yang terjadi di daerah misi sebagaimana diharapkan oleh Gereja. Definisi “keberakaran” Gereja lokal diberikan oleh AG 15.

[19] MCa 1930, hlm. 340-361.

[20] The Carmelite Mission in Java and Madoera. Diterbitkan di Malang tahun 1937.

[21] Nama asal: Nicolaas; nama biara: Clemens; lahir di Heeswijk, 13 Juni 1885, tahbisan: 10 Juli 1910; sebelumnya adalah Prior biara Karmel di Aalsmeer.

[22] Nama biara: Linus; lahir di Blitterswijk [Limburg], 8 Agustus 1893.

[23] Lahir di Gouda, 6 Juni 1886.

[24] MC, Tahun IX, Mei 1923, Fasc. 5, hlm. 129-130.

[25] MC, Tahun IX, Agustus 1923, Fasc. 8, hlm. 181-182.

[26] Disusun berdasarkan:

1. Dua surat dari Pater F. Verdier O.Carm (penanggung jawab misi Jawa dan Madura) kepada SCPF: (i). AS, fondo NS vol. 943, rubrica 65/2, no. prot. 2048/1926 dan (ii). AS, fondo NS vol. 943, rubrica 65/2, no. prot. 2161/1926.

2. Laporan Tahunan 1930 (yang berarti melaporkan keadaan tahun 1929 [AS, fondo NS vol. 1069, rubrica 65/11, no. prot. 886/1930.

[27] J. KLEIJNTJENS, Atlas der RK Missie in Nederlandsch Oost- en West-Indië, Firma van Aelst, Maastricht 1928, hlm. 27.

[28] Permohonannya sudah diajukan oleh Pater Verdier pada tanggal 1 Maret 1926. AS, fondo NS vol. 943, rubrica 65/ sottorubrica no.2, no. prot. 891/1926.

[29] Ia sudah memimpin perkebunan itu sejak 1911. Ia mendapatkan pengetahuan mengenai hortikultura selama pendidikan guru di Maastricht. Pada waktu berusia 54 tahun, tahun 1933, Blijdenstein berangkat ke Belanda untuk masuk novisiat Ordo Karmel. Dia menerima tahbisan imam bersama dengan Pater A. Gondowardoyo O.Carm pada tanggal 10 Juli 1938 di gereja biara Karmelit di Merkelbeek. Ketika pulang ke Indonesia, ia ditugaskan di paroki Jember.

[30] AS, fondo NS vol 1069, rubrica 65/11, no. prot. 464/1929.

[31] AS, fondo NS vol 1069, rubrica 65/11, no. prot. 464/1929.

[32] AS, fondo NS vol 1069, rubrica 65/11, no. prot. 1571/1930.

[33] R.I.Md. SUDHIARSA, Christianity in Javanese Culture and Society, hlm. 723.

[34] MC, Tahun XI, November 1925, Fasc. 11, hlm. 337.

[35] MC, Tahun XI, November 1925, Fasc. 11, hlm. 337.

[36] Nama pada masa itu Fraters van Onze Lieve Vrouw van Het H. Hart van  Utrecht (Fratres de S. Cordis BMV de Utrecht)

[37] Kedatangan kedua frater ini dan juga frater-frater setelah mereka adalah hasil kedua dari perundingan yang diadakan oleh Pater Dr. C. Verbeek O.Carm.

[38] MC, Tahun XI, November 1925, Fasc. 11, hlm. 338. Sejak tahun 1926, katekumen Jawa menggunakan buku “Wosé agama, Kristen Katoelik” (Drukkerij “Canisius” Djokjakarta 1926) berbentuk tanya jawab atas 180 pokok, dalam 26 wulangan (pokok pertemuan). Katekumen berbahasa Belanda menggunakan buku  “Katechismus of Christelijke Leer” (Drukkerij “Canisius” Djokjakarta 1928). AS: fondo NS, vol. 1069, 65/11, no. prot. 464/1929.

[39] Rivista illustrata della esposizione missionaria vaticana, Tahun II, No. 7, 15 Maret 1925, hlm 218.

[40] SGK, hlm. 1011.

[41] Gedung gereja tersebut dijual kepada Bank Surakarta dan sekarang menjadi Gereja Kristen Kalam Kudus, di dekat kompleks Mardiwiyata. Sisa gereja orang Jawa berupa dua buah bangku berukir dan kayu penutup dinding sekarang menjadi penghias ruang tamu biara Karmel Kayutangan.

[42] Nama pada masa itu Zusters der Christelijke scholen der  Barmhartigheid dari Boxmeer.

[43] Berubah namanya menjadi Rumah Sakit Katolik Panti Waluya.

[44] KM 1933, hlm. 73.

[45] Nama pada masa itu Zusters van Onze Lieve Vrouw van Amersfoort. Kedatangan para suster ini merupakan hasil pertama perundingan-perundingan yang diadakan oleh Pater Dr. C. Verbeek, yang maksudnya supaya kecuali pater Karmelit, juga didatangkan suster dan bruder / frater ke daerah misi.

[46] SGK, hlm. 1003.

[47] The Carmelite Mission in Java and Madoera, hlm. 12.

[48] Nama pada masa itu Zusters Van Het Arme Kind Jezus.

[49] SGK, hlm. 1002.

[50] Buku daftar pencatatan baptis paroki Jember per tanggal 2 Juli 1927-15 September 1945 hilang akibat perang. Buku baptis dimulai lagi per tanggal 15 September 1945. Lihat GKI 1962-1963, hlm. 138.

[51] KM 1933, hlm. 73.

[52] SGK, hlm. 1015.

[53] SGK, hlm. 1016.

[54] KM 1933, hlm. 72

[55] KM 1933, hlm. 72

[56] KM 1933, hlm. 70-86.

[57] KM 1933, hlm. 289, 304-305,306-312,345,349,353.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *