Kepemimpinan Mgr. F.X.S. Hadisumarto O.Carm

Kepemimpinan Mgr. F.X.S. Hadisumarto O.Carm

(Uskup: 1973-1988)

oleh : Rm. Dr. Antonius Deni Firmanto, Pr, M.Pd

 


 

Mgr. Drs. Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta, O.Carm diumumkan sebagai Uskup Malang pada tanggal 1 Maret 1973.[1] Beliau dilahirkan di Ambarawa, 13 Desember 1932. Beliau masuk novisiat Ordo Karmel tahun 1952; mengucapkan kaul pertama 16 Juli 1953; menerima tahbisan sebagai imam 12 Juli 1959 di Malang. Tahbisan uskup diadakan pada tanggal 16 Juli 1973 di halaman tengah susteran Ursulin Cor Jesu, Jln. J.A. Suprapto 55, Malang. Kardinal Yustinus Darmojuwono, Uskup Agung Semarang, Mgr. Leo Sukoto SJ, Uskup Agung Jakarta, dan Mgr. Y.A. M. Klooster CM, Uskup Surabaya, menjadi konsekrator.

Mgr. Hadisumarta memilih semboyan: “Evangelium Christi”. Pengaturan keuskupan yang tertib, teratur, dan mempunyai visi yang jelas “Gereja sebagai communio” menandai 15 tahun masa jabatannya.

 

4.1 KONTEKS NASIONAL

Buah dari Konsili Vatikan II adalah Alkitab dalam bahasa Indonesia diterbitkan sebagai edisi bersama antara Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Sejak tahun 1973, MAWI (sekarang KWI) dan DGI (sekarang PGI) mengeluarkan pesan Natal bersama.

Usaha perluasan dan pemerataan kesempatan belajar dirupakan dalam bentuk Program Bantuan Pembangun­an Sekolah Dasar (Inpres Pendidikan). Perluasan dan sekaligus pemerataan kesempatan belajar pada   SD telah ditingkatkan melalui Inpres No. 6/ 1975, yaitu dengan pem­bangunan 10.000 gedung SD baru yang masing-masing terdiri dari tiga ruang kelas dan satu ruang guru sebagai tahap (unit) pertama,    di samping perbaikan kembali (rehabilitasi) 10.000 gedung SD yang lama. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari pembangunan 6.000 gedung SD yang baru yang masing-masing sudah lengkap ter­diri dari enam kelas dan satu ruang guru (Inpres No. 10/1973 dan Inpres No. 6/ 1974). Guna memenuhi keperluan tenaga guru pada SD baru dalam tahun 1975/76 telah diangkat 40 ribu guru (termasuk 10 ribu, kepala sekolah), yang merupakan penambahan pada 36 ribu guru baru yang telah diangkat dalam tahun-tahun 1973/74 dan 1974/75.

Bertanggal 1 Agustus 1978, Keputusan Menteri Agama No 70/1978 (Pedoman Penyiaran Agama) lebih dimaksudkan “untuk menjaga stabilitas nasional.” Oleh karena itu menurut Menteri Agama H. Alamsyah dalam konsideransnya tak disebut TAP II/MPR/1978 (tentang P4). Sebagai salah satu konsideransnya dicantumkan TAP IV/MPR/1978 (GBHN) yang lebih menyangkut soal stabilitas nasional dan di dalamnya sudah meliputi inti TAP Il/MPR/1978. Dalam SK No. 70/1978 itu antara lain disebutkan bahwa penyiaran agama tidak dibenarkan untuk: ditujukan terhadap orang dan atau orang-orang yang telah memeluk sesuatu agama lain dilakukan dengan menggunakan bujukan/`pemberian materiil, uang, pakaian, makanan/ minuman, obat-obatan dan lain-lain agar supaya orang tertarik untuk memeluk sesuatu agama dilakukan dengan cara-cara penyebaran pamflet, buletin, majalah, buku-buku dan sebagainya di daerah-daerah/ di rumah-rumah kediaman umat/ orang yang beragama lain dilakukan dengan cara-cara masuk keluar dari rumah ke rumah orang yang telah memeluk agama lain dengan dalih apa pun. SK Menteri Agama no. 77/1978 bertanggal 15 Agustus 1978 (tentang Bantuan Luar Negeri Kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia). Antara lain disebutkan, bahwa bantuan luar negeri bagi lembaga-lembaga keagamaan hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan/ rekomendasi dan melalui Menteri Agama. Bantuan itu dapat berupa tenaga, materiil dan atau finansiil yang diberikan pemerintah negara asing, organisasi dan atau perseorangan kepada lembaga keagamaan dan atau perseorangan di Indonesia dengan cara apa pun yang bertujuan atau dapat diduga bertujuan untuk membantu pembinaan, pengembangan dan penyiaran agama di Indonesia. Pasal 3 SK no. 77/ 1978 menyebut antara lain bahwa penggunaan tenaga asing untuk pengembangan dan penyiaran agama dibatasi. Penggunaan tenaga asing untuk melakukan kegiatan di bidang agama hanya dapat dibenarkan setelah mendapat izin dari Menteri Agama. Lembaga-lembaga keagamaan wajib mengadakan program pendidikan dan latihan dengan tujuan agar dalam waktu yang ditentukan tenaga-tenaga warga negara Indonesia dapat menggantikan tenaga asing tersebut.  Program pendidikan dan latihan itu harus dilakukan selambat-lambatnya 6 bulan setelah ditetapkannya keputusan ini dan selesai selambat-lambatnya 2 tahun setelah pelaksanaan program pendidikan dan latihan tersebut.

Pada tahun 1983, pemerintah memberlakukan “azas tunggal Pancasila” bukan Cuma untuk organisasi bernapaskan politik, tetapi juga organisasi kemasyarakatan dan keagam. Menteri Agama mengimbau pimpinan majelis keagamaan untuk menerima azas tunggal itu. Namun, yang disampaikan para pemuka agama kepada Menteri Munawir Sjadzali awal minggu ini adalah masukan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menyusun RUU Organisasi Kemasyarakatan itu. Mereka menyampaikan pokok-pokok pikiran yang berkaitan dengan azas organisasi kemasyarakatan itu. “Masing-masing agama mempunyai dasar agama yang bersifat universal, berlaku untuk semua tempat dan aman, yang tidak boleh ditambah dengan sesuatu paham lain di samping dasar agama yang otentik,” bunyi pernyataan pimpinan puncak MUI, MAWI, DGI, Parisadha Hindu Dharma Pusat, dan Walubi. Dalam kaitan dengan ketetapan Pancasila sebagai azas tunggal bagi kehidupan kenegaraan dan kekuatan sosial politik, majelis keagamaan menyampaikan saran, “pengaturan organisasi kemasyarakatan, termasuk organisasi kemasyarakatan yang berjiwa keagamaan, tidak dimaksudkan untuk mengurangi atau mempersempit, melainkan untuk meningkatkan, peran serta organisasi keagamaan itu sebagai pengamalan Pancasila.” Mereka tetap mengakui, Pancasila sebagai satu-satunya azas bagi kehidupan kenegaraan.

 

4.2 AKTIVITAS KEUSKUPAN: Membangun Persekutuan yang dinamis[2]

Paparan dibawah ini merupakan usaha untuk membangun kesadaran akan tanggung jawab warga Keuskupan Malang untuk meneruskan usaha-usaha pengembangan yang telah dijalankan oleh Keuskupan Malang di bawah pimpinan Mgr. Hadisumarta.

 

a. Menggerakkan segenap jajaran umat

Mgr. Hadisumarta menggerakkan segenap jajaran umat (imam, biarawan, awam) agar benar-benar mewujudkan Gereja sebagai “persekutuan yang dinamis”. Usaha-usaha itu berupa:

  • konsientisasi: usaha memantapkan kesadaran bersama berdasarkan visi bersama mengenai Gereja sebagai Umat Allah yang merupakan tanggung jawab bersama dengan aneka peranan.
  • kepemimpinan pastoral partisipatif, yakni: pastoral bersama, oleh, dan untuk Umat yang berperilaku sebagai subjek hidup dan karya Gereja.
  • pengadaan prasyarat pendukung, yakni: pembentukan dewan-dewan (dewan paroki, dean imam, dewan keuangan, dewan pastoral) dan penyusunan pedoman-pedoman dan statuta Keuskupan Malang yang memberikan garis besar seluk beluk tata kehidupan Keuskupan Malang.
  • kunjungan kerja Uskup ke paroki-paroki dan biara-biara,
  • pertemuan-pertemuan berkala.

b. Pertemuan Tahunan

Pertemuan Tahunan se-Keuskupan pada awalnya merupakan pertemuan tahunan para imam se-keuskupan. Anggot pertemuan ini kemudian berkembang meliputi juga wakil awam dan wakil biarawan-biarawati. Melalui komposisi anggota pertemuan seperti ini, Mgr. Hadisumarta mewujudkan gagasan kepemimpinan pastoral partisipatif. Melalui pertemuan tahunan ini keputusan-keputusan penting yang berlaku untuk seluruh keuskupan dibahas, dirumuskan dan disepakati bersama. Komisi-komisi dan lembaga-lembaga lain memberikan laporan pertanggung-jawaban dalam pertemuan tahunan ini.

c. Publikasi bahan-bahan yang diperlukan dalam bentuk:

  • BKM (Berita Keuskupan Malang) yang memuat berita-berita penting yang terjadi di Keuskupan Malang atau mempunyai kaitan dengan hidup Gereja di Keuskupan Malang. Terbit 4 kali setahun.
  • Seri KKA (Kelompok Kerja Awamisasi) yang menyajikan bahan-bahan penunjang bagi kegiatan kerasulan, khususnya di kalangan para awam. Terbit sejak tahun 1981. Hingga tahun 1988 telah terbit 44 nomor.
  • Analekta Keuskupan Malang, yang dimaksudkan untuk memberikan bekal teologi-pastoral kepada umat di Keuskupan Malang. Terbit 4 kali setahun sejak tahun 1983.

Di samping itu masih ada terbitan-terbitan lain yang pada dasarnya dimaksudkan untuk menggiatkan keterlibatan awam dan menanamkan keteraturan, ketertiban, dan kejelasan untuk menggerakkan umat. Di samping menyediakan bahan-bahan publikasi, Keuskupan juga menggalakkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan umat lewat penataran, rekoleksi, dan hari studi.

 

4.3. GEREJA MANDIRI

Mgr. FX. Hadisumarta memberikan perhatian utama kepada kesadaran hidup menggereja orang Katolik dalam suatu rumusan: menjadi “Gereja mandiri.” Pada pertemuan imam di Batu pada tanggal 11-12 Februari 1976, Mgr. Hadisumarta memaparkan gagasan mengenai “Gereja, fonds solidaritas, UU Perkawinan, pendidikan calon imam, muda-mudi dan dewan imam” kepada peserta pertemuan. Menurut beliau, kesadaran menggereja menjadi dasar dari semua pembicaraan mengenai  katekese, liturgi, ibadat, pelayanan kasih, keberadaan biarawan-biarawati, pembinaan muda-mudi atau pun katekese dewasa.

Perhatian khusus juga diberikan kepada pendidikan calon imam. Mgr. Hadisumarta mengajak orang Katolik Keuskupan Malang untuk memperhatikan kebutuhan Gereja Keuskupan Malang. Beliau meminta agar baik orang maupun para pastor senantiasa memikirkan dan memberikan sumbangan nyata bagi pendidikan dan pembentukan imam diosesan. Berkenaan dengan keprihatinan ini, 54 tenaga imam yang berada di Keuskupan Malang pada tahun 1976 itu terbagi dalam karya paroki, pendidikan atau karya rangkap. Dari 24 paroki Keuskupan Malang, ada 15 paroki yang dilayani seorang imam sendirian. Jumlah biarawan non imam sekitar 270 dengan 17 katekis. Jumlah tersebut sebenarnya memadai bila dibandingkan dengan jumlah orang di Keuskupan Malang (sekitar 40.000). Namun kenyataanya, menurut Mgr. Hadisumarta, tenaga pastoral yang ada belum merupakan kesatuan tenaga yang terkoordinir untuk melayani kebutuhan dan kepentingan Gereja Lokal, yakni umat Allah di Keuskupan Malang. Saat itu, banyak peraturan yang diikuti Ordo atau konggregasi masih merupakan peraturan yang timbul atau dibuat di masa sebelum Konsili Vatikan II. Mgr. Hadisumarta berpendapat bahwa sudah saatnya orang Katolik Keuskupan Malang memikirkan bersama bagaimana menjawab kebutuhan Gereja dewasa ini sebagai Gereja Umat Allah.  Orang Katolik Keuskupan Malang mendapat tugas untuk menyelidiki, mempelajari, menafsirkan, membanding dengan kebutuhan Gereja sekarang, untuk kemudian mencoba menentukan arah yang harus dalam rangka pemeliharaan rohani Umat Allah di Keuskupan Malang selanjutnya.

Sejalan dengan arahan ini, Seminari Tinggi Praja (Wisma Giovanni) dimulai di Jln. Tanggamus 9 pada tahun 1977. Para frater praja yang studi di Yogyakarta menyelesaikan studi mereka di sana; sedangkan yang baru masuk mulai menghuni wisma tersebut adalah calon-calon imam diosesan untuk Keuskupan Malang, Surabaya dan Den Pasar.

 

4.4 KELOMPOK KERJA AWAMISASI

Pertemuan Tahunan para imam se-Keuskupan Malang pada tanggal 20-22 November 1979, yang diikuti juga oleh pengurus BKBKM, membahas SK No.  70 dan SK No. 77 Mentri Agama. Keuskupan Malang membentuk Kelompok Kerja Awamisasi pada tanggal 30 Januari 1980 untuk sebagai kelompok semacam sat-gas (satuan tugas), bukan struktur baru. KKA ini mempunyai anggota 20 orang yang bertugas membuat inventarisasi apa yang dikerjakan awam di bidang pelayanan dalam jemaat, mempelajari bahan yang telah diinventarisasikan, memilih pelayanan mana yang perlu ditingkatkan sehingga kaum awam semakin dapat ikut serta dalam tugas pelayanan.

 

4.5 ANGGARAN DASAR – ANGGARAN RUMAH TANGGA DEWAN PAROKI

Gerak maju bersama dari Keuskupan Malang ditandai dengan usaha menanamkan pemahaman makna dan martabat Keuskupan sebagai bagian dari umat Allah yang membentuk Gereja partikular sebagaimana diterangkan oleh Konsili Vatikan II. Usaha menumbuhkan dan menyebarkan kesadaran dan citarasa hidup menggereja secara aktif dilakukan bukan hanya dalam tingkat keuskupan, tetapi lebih ke taraf paroki dan lingkungan. “Anggaran Dasar Dewan Paroki” yang diberlakukan di seluruh paroki keuskupan Malang sejak 15 Januari 1982 merupakan wujud konkrit kesadaran itu. Orang Katolik di Keuskupan Malang semakin didorong untuk menyadari aneka kebutuhan dan perlunya aneka pelayanan yang memadai terlebih dengan diundangkannya Kitab Hukum Kanonik 1983.

 

Gambaran Keterlibatan Orang Katolik dalam Aktivitas Paroki

Tahun 1995 1998 2001 2004
A 25 26 27 28
B 1441 1394 1479 1691
C 57 53 54 60

Keterangan:

A: Jumlah Paroki[3]

B: Jumlah Orang yang berpartisipasi dalam kepengurusan dewan pastoral paroki[4]

C: Rata-rata jumlah orang Katolik yang terlibat dalam kepengurusan dewan pastoral paroki

 

4.6 SITUASI KEUSKUPAN

 

a. Situasi Umum

Yayasan Karmel menutup dua puluh sekolah pada tanggal 1 Januari 1974 karena berbagai macam kesulitan, khususnya kesulitan dana.

Dewan Imam didirikan pada tahun 1974.

Pertemuan para pastor se Keuskupan di KSB Malang pada tanggal 9 Januari 1975 membicarakan kelangsungan sekolah-sekolah Yayasan Karmel dan soal katekis.

Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Malang dibentuk pada tgl 13 April 1976 dengan ketua Pater AR Datapratiknja, O. Carm.

Pada tanggal 14 Mei 1978 terbit Notae directivae “Mutuae Relationes” tentang penataan hubungan antar uskup dan tarekat religius.[5]

Mulai 1976, Keuskupan Malang dibagi menjadi kevikepan regio Timur dan regio Barat. Regio Barat mempunyai 16 paroki dan regio timur mempunyai 8 paroki. Jember menjadi pusat regio timur. Vikaris Episkopalis (Vikep) pertama untuk Regio Timur adalah Rm. F. Kutschruiter, O.Carm sejak 1 Januari 1976.

Paroki Ksatrian diresmikan pada tanggal 7 November 1982.

Paroki Lodalem. Gereja paroki pertama yang berbentuk pada tahun 1989 akhirnya dibongkar, dengan alasan: tembok gereja sudah banyak yang retak dan terlalu dekat dengan jalan raya. Rm. Bernardus Soedarmojo O. Carm, pastor paroki saat itu, berinisiatif membangun gedung gereja baru berbentuk joglo yang berjarak kurang lebih 30 meter dari jalan raya ke arah timur. Pelindung gereja baru adalah “Hati Tersuci Maria” untuk menggantikan nama “Maria Annunciata” dengan alasan bahwa pesta Maria Annuciata selalu jatuh pada masa Prapaskah. Nama pelindung paroki dikembalikan lagi ke “Maria Annunciata” pada tahun 2009.

 

Wilayah Pelayanan Paroki Lodalem 2011

Nama Tempat Pendirian
Sts.St. Maria Bunda Karmel Tumpak Rejo 1970. Sebelumnya masuk Paroki Purworejo
Sts. St Yohanes Sidodadi 1968. Sebelumnya masuk Paroki Purworejo
Sts. Ora et Labora Sumberpucung 1965. Sebelumnya masuk Paroki Purworejo
Sts. St. Petrus Kedungwaru 1975
Sts. St. Stefanus Panggang Lele 1975
Wilayah St. Paulus Lodalem 1975
Sts. Kaliasri Kaliasri 2001. Pemekaran dari Sts. Tumpakrejo
Sts. Kalitelo Kalitelo 2010. Pemekaran dari Sts. Kaliasri

 

 

4.8 SITUASI KONGREGASI/ TAREKAT RELIGIUS

Badan Koordinasi Barawan-biarawati Keuskupan Malang (BKBKM) didirikan pada tanggal 10 September 1974.

Para suster Puteri Kasih mulai menetap di Gempol Sukun Malang pada tanggal 20 September 1977.

Pada tanggal 25 Agustus 1979, SVD Provinsi Jawa masuk Keuskupan Malang. Pada tanggal 8 Oktober Novisiat SVD diberkati oleh Pater H. Heekeren, SVD.

Postulat Stella Maris O.Carm-SVD didirikan di Batu pada tanggal 19 Juli 1980.

Paroki St. Yusup Jember dipercayakan kepada Ordo Karmel pada tanggal 25 Februari 1980 menurut MP Ecclesiae Sanctae no. 33 par. 1 yang juga dikenakan pada paroki Kayutangan.

Anggaran Dasar Dewan Paroki Keuskupan Malang diberlakukan sejak 15 Januari 1982. Setiap paroki diminta menyusun Anggaran Rumah Tangga Dewan Paroki masing-masing.

Pada tanggal 1 Februari 1982, Paroki Celaket dipercayakan kepada para romo praja.

Para suster pertama dari Hermanas Karmelitas tiba di Malang pada tanggal 12 April 1985.

 

Jumlah Orang Katolik di Keuskupan Malang Tahun 1988[6]

No. Paroki Nama Jumlah
1. Bangkalan Maria dari Fatima 720
2. Banyuwangi Maria Ratu Damai 1313
3. Batu Gembala Baik 2604
4. Blimbing St. Albertus de Trapani 4271
5. Bondowoso St. Yohanes Penginjil 908
6. Celaket Maria Diangkat Ke Surga 6138
7. Curahjati Maria Ratu Para Rasul 1870
8. Genteng Kristus Raja 1024
9. Ijen Maria Dari Gunung Karmel 6012
10. Jember St. Yusuf 7203
11. Kayutangan Hati Kudus Yesus 7157
12. Kepanjen Maria Tak Bernoda 1787
14. Ksatrian Ratu Rosario 1367
15. Langsep St. Vincentius a Paulo 1068
16. Lawang Maria Tak Bernoda 1365
17. Lodalem Maria Annunciata 2128
18. Lumajang Maria Ratu Damai 3863
19. Pamekasan Maria Ratu Para Rasul 898
20. Pandaan St. Theresia 1193
21. Pasuruan St. Antonius 1379
22. Probolinggo Maria Bunda Karmel 3313
23. Purworejo Permaisuri Damai 3253
24. Situbondo Bintang Samudera 1405
25. Sumenep Maria Gunung Karmel 1140
26. Tumpang Maria Diangkat Ke Surga 706
Jumlah Seluruhnya 64.085

[1] AAS 55 (1973), hlm. 272.

[2] Melangkah Bersama: Kenangan perpisahan dengan Uskup Malang Mgr. F.X. Hadisumarto, O. Carm, hlm. 11-15.

[3] Statistik Paroki & Stasi KWI (Thn. 1995,1998,2001,2004), tabel no 1.

[4] Statistik Paroki & Stasi KWI (Thn. 1995,1998,2001,2004), tabel no 13.

[5] AAS 70 (1978), hlm. 473-506.

[6] Buku Petunjuk Keuskupan Malang 1989.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *