Kepemimpinan Mgr. H.J.S. Pandoyoputro O.Carm

Kepemimpinan Mgr. H.J.S. Pandoyoputro O.Carm

(Uskup: 1989-….)

oleh : Rm. Dr. Antonius Deni Firmanto, Pr, M.Pd


Mgr. Hadisumarto menjadi Uskup Malang selama 15 tahun. Terhitung mulai 1 Juni 1988, beliau menjadi Uskup Keuskupan Sorong-Manokwari. Dari Surat Gembala Perpisahan, yang dibacakan di semua gereja di Keuskupan Malang tanggal 5 Juni 1988, umat tahu bahwa kepergian Uskup mereka dilandasi dengan semangat misioner.

 

 

Uskup Malang bukan ‘dipindah’, melainkan ‘menyediakan diri untuk dipindah’. Ia tidak memilih tempat yang lebih mudah lebih enak, lebih terjamin fasilitasnya, melainkan ke tempat yang justru jauh lebih sulit dan penuh dengan tantangan: tempat yang sama sekali belum terjamah olehnya, namun yang ia ketahui pasti sebagai salah satu ‘medan penggembalaan’ yang tersulit di bumi Indonesia”.[1]

Pada tanggal 30 Agustus 1988, Pater Dr. Piet Go Twan An, O.Carm ditunjuk sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Malang sede vacante. Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro O.Carm diumumkan sebagai Uskup Malang pada tanggal 15 Mei 1989.[2] Beliau ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Malang pada tanggal 3 September 1989.

 

5.1 KONTEKS NASIONAL

Peristiwa nasional gerejawi adalah kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia.

Peristiwa nasional dalam kurun waktu ini adalah peralihan dari “Orde Baru” ke “Orde Reformasi” yang didahului dengan krisis multidimensional. Keuskupan Malang dan beberapa paroki mendirikan Crisis Centre untuk membantu kesusahan masyarakat berkenaan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

 

5.2 AKTIVITAS KEUSKUPAN

Mgr. Pandoyoputro menjadikan “Garis-garis Besar Haluan Keuskupan Malang” 1992 sebagai dasar untuk arah gerak Keuskupan Malang. GBHKM itu membangkitkan kesadaran orang Katolik di Keuskupan Malang berkenaan dengan aneka kharisma mereka sendiri dan serta kesediaan terlibat dalam aneka pelayanan yang dibutuhkan. Perkembangan gerak orang sangat terbantu dengan peran pertemuan orang sendiri lewat pertemuan tahunan keuskupan, rekoleksi imam, adanya dewan imam, gerak dari komisi keuskupan, organisasi dan lembaga dalam keuskupan. Wacana yang disumbangkan oleh STFT Widya Sasana dan penerbitan buku-buku sepanjang tahun 1981-1996 memberi warna hidup menggereja baik dalam bidang organisatoris-yuridis, teologis, pastoral misioner keuskupan.

Wilayah Keuskupan Malang dibagi menjadi dekenat-dekenat sejak tanggal 21 April 1994.

Paroki Tanggul diresmikan pada tanggal 15 Desember 1996.

Paroki ke-27 St. Andreas Jl. Mahameru  Malang diresmikan pada tanggal 21 Maret 1999.

Paroki ke-28 St. Yohanes Pembaptis Janti diresmikan pada tanggal 13 Januari 2002. Romo Yulius Agus Purnomo Pr. menjadi pastor paroki pertama.

Paroki ke-29 Ambulu diresmikan sebagai paroki 2 Januari 2005.

 

Berikut ini adalah organisasi awam yang terlibat dalam kerasulan pemeliharaan rohani orang Katolik di Keuskupan Malang saat ini.

  • Legio Mariae
  • BPK Karismatik
  • Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)
  • Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI)
  • Pemuda Katolik
  • Pelayanan Kesehatan (PERDHAKI)
  • Persatuan Warakawuri (PWK)
  • Kelompok Kharismatik Katolik
  • Ikatan Sarjana Katolik
  • Pengabdian Usahawan dan Tenaga Kerja Profesional Katolik (PUKAT)
  • Kelompok Karyawan Muda Katolik
  • Kelompok Kana (usia akan menikah)
  • Kelompok Simeons (lanjut usia).
  • Kelompok-kelompok orang Katolik dalam aneka bidang kerasulan awam

Berikut ini adalah karya kesehatan yang ada di Keuskupan Malang saat ini.

  • Rumah Sakit Panti Waluyo yang dimiliki oleh para suster Kongregasi Misericordia (Malang).
  • Rumah Sakit Panti Nirmala dikelola oleh Suster Kongregasi Passionis dan pemiliknya adalah dokter-dokter (di Malang).
  • Rumah Sakit Sumber Santosa yang dimiliki oleh para Suster Kongregasi St. Agustinus (OSA) di Tumpang.
  • Poliklinik Margi Rahayu dan Rumah bersalin  dimiliki oleh para Suster Kongregasi SSpS (di Batu).
  • Poliklinik Kolose Santo Yusup (Kolose St. Yusup CDD di Malang).
  • Poliklinik di Curahjati dan Sumenep di kelola oleh para Suster Sang Timur (PIJ).
  • Poliklinik di Kedungrejo, Lumajang dikelola oleh para Suster Abdi Kristus

Bahasa yang dipergunakan dalam ibadat adalah bahasa Indonesia. Bahasa Jawa, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan, masih digunakan dalam kegiatan ibadat di di paroki Purworejo dan Lodalem (keduanya di Malang selatan), di stasi Pronojiwo dan stasi Kedungrejo di Lumajang, dan di paroki Curahjati di Banyuwangi Selatan). Ibadat hari Minggu tanpa imam di stasi-stasi dijalankan oleh awam pemimpin ibadat sukarelawan.

Berikut ini adalah uraian jumlah orang berdasarkan dekenat.

 

Jumlah Orang Katolik di Keuskupan Malang Tahun 2010

No. Dekenat Malang Nama Jumlah
1. Blimbing St. Albertus de Trapani 7.521
2. Celaket Maria Diangkat Ke Surga 7.968
3. Ijen Maria Dari Gunung Karmel 6.155
4. Janti St. Yohanes Pembaptis 1.502
5. Kayutangan Hati Kudus Yesus 3.500
6. Ksatrian Ratu Rosario 3.629
7. Langsep St. Vincentius a Paulo 2.384
8. Tidar St. Andreas 2.521
No. Dekenat Madura Nama Jumlah
9. Bangkalan Maria dari Fatima 961
10. Pamekasan Maria Ratu Para Rasul 839
11. Sumenep Maria Gunung Karmel 632
No. Dknt. Utara Malang Nama Jumlah
12. Batu Gembala Baik 2.891
13. Lawang SPM Tak Bernoda 3.983
14. Pandaan St. Theresia 2.258
15. Pasuruan St. Antonius 2.611
16. Tumpang Sancta Trinitas 854
No. Dknt Selatan Malang Nama Jumlah
17. Kepanjen SPM Tak Bernoda 1.675
18. Lodalem Maria Annunciata 2.077
19. Purworejo Permaisuri Damai 3.136
No. Dknt. Blambangan Nama Jumlah
20. Banyuwangi Maria Ratu Damai 2.592
21. Curahjati Maria Ratu Para Rasul 2.479
22. Genteng Kristus Raja 1.782
No. Dekenat Probolinggo Nama Jumlah
23. Lumajang Maria Ratu Damai 5.272
24. Probolinggo Maria Bunda Karmel 3.294
25. Tanggul Maria Tak Bernoda 810
No. Dekenat Jember Nama Jumlah
26. Ambulu St. Paulus 877
27. Bondowoso St. Yohanes Penginjil 1.432
28. Jember St. Yusuf 9.231
29. Situbondo Bintang Samudera 2.214
Jumlah seluruh orang Katolik di seluruh dekenat 87.080

 

 

5.3 PEMBINAAN ORANG MUDA KATOLIK (OMK)

OMK di sekolah Katolik dikoordinasi oleh penyelenggara sekolah katolik tersebut. OMK di sekolah negeri atau di sekolah swasta bukan-Katolik dilayani oleh guru-guru agama Katolik dari Departemen Agama yang diurus Bimas Katolik bekerja sama Komisi Kepemudaan bagian pastoral pelajar/ pastoral mahasiswa serta Komisi Kateketik Keuskupan Malang. Bahan, metode dan evaluasi pengajaran agama Katolik direncanakan secara nasional oleh Komisi Kateketik KWI. Pengajaran ini lebih menekankan pengetahuan. Dalam model pengajaran agama seperti, aspek penghayatan iman, tumbuhnya kepribadian, dan pembentukan pandangan baru mengenai hidup keagamaan menjadi sangat terbatas. Untuk mengisi kekosongan atau kekurangan ini sekolah-sekolah Katolik menambah program pembinaan hidup keagamaan dengan retret, rekoleksi, atau pun perayaan Ekaristi sekolah. Program seperti ini jarang ditemukan di sekolah-sekolah negeri. Karena itu, Komisi Kepemudaan bagian pastoral pelajar/mahasiswa selalu mencari jalan untuk mengisi kekosongan pembinaan bagi orang muda Katolik di sekolah-sekolah negeri.

Keuskupan Malang memperhatikan sungguh-sungguh pembinaan orang muda Katolik. Seorang imam ditunjuk untuk menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan untuk menjabarkan perhatian Gereja terhadap kaum muda dengan berpegang pada acuan yang dibuat oleh Komisi Kepemudaan KWI di samping aspirasi yang berkembang di Keuskupan.

Di samping itu, Keuskupan melalui Komisi Kepemudaan, Komisi Kerawam dan Komisi Panggilan serta Komisi Kerasulan Kitab Suci, mendorong kaum muda untuk terlibat dalam karya-karya kerasulan, baik dalam lingkup gereja (intern) maupun dalam lingkungan di mana mereka berada. Saat ini di beberapa tempat terdapat Forum Kebersamaan dengan orang muda lintas batas agama, budaya, dan profesi, semacam Forum Doa Bersama di kalangan mahasiswa, Forum Kebersamaan dalam mengarahkan orang muda yang memiliki keterampilan seperti pertanian, peternakan, dan teknologi. Beberapa di antaranya memanfaatkan bantuan dari Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dalam membantu sarana finansial yang masih sangat terbatas. Banyak dari antara kaum muda membentuk Jaringan Pemberdayaan yang ikut memberikan perhatian kepada kaum muda putus sekolah atau yang kurang mampu dalam proses belajar-mengajar. Demikian juga kelompok mahasiswa yang sudah berpredikat sarjana serta kelompok biarawan-biarawati yang memperhatikan anak-anak jalanan secara teratur dan terpadu. Dalam hal ini Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Serikat Santo Vincentius ikut banyak berperan.

 

5.4 SITUBONDO I

Pada tanggal 10 Oktober 1996, terjadi pembakaran gedung gereja, pastoran, susteran, TK-SDK-SMPK dan perusakan 5 kapel (Asembagus, Panarukan, Besuki, dan Galekan).[3] Ragam penafsiran yang berkembang disikapi dengan duduk bersama dalam semangat persaudaraan. Situbondo yang sebelumnya landai dan sepi menjadi begitu semarak oleh gebrakan-gebrakan dan kiprah “Gereja Bangkit, Gereja Memasyarakat, Gereja Ramah Lingkungan”. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1996 di Gereja Maria Bintang Samudera di Situbondo menyadarkan kebersamaan gerejani dengan orang lain dan juga perannya dalam masyarakat. Kehidupan antar agama lebih hidup. Kesadaran akan persaudaraan sejati, hidup berbangsa menjadi kuat dengan permasalahan yang dihadapi negara (reformasi) dan juga perhatian akan keprihatinan masalah-masalah kemanusiaan/ bencana yang dihadapi. Semua berupaya agar masyarakat jangan mudah melupakan peristiwa yang telah berlangsung, menahan diri dari tindak kekerasan dan memupuk rasa hormat satu sama lain, karena di balik peristiwa itu terbentang persoalan dasar kehidupan berbangsa yang selama ini selalu ditutup-tutupi dan ditekan.

Pada tahun 1996, paroki sekeuskupan Malang diajak untuk melihat bersama gerak langkah yang telah dijalani:

1. pengembangan paroki,

2. refleksi atas kesadaran menggereja dan rasa memiliki, kesadaran memasyarakat, kesadaran misioner,

3. kualitas dan kuantitas pelayanan di bidang pewartaan, liturgi, penggembalaan, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial,

4. sumber daya manusia,

5. penyediaan sarana/ fasilitas, dan

6. pendanaan karya gerejani.

Dari refleksi paroki-paroki sekeuskupan, ciri kemandirian orang di paroki menampakkan hasilnya seperti yang diharapkan. Kehidupan menggereja tidak lagi pastor-sentris. Bahkan dalam soal pendanaan, sebagian besar paroki di Keuskupan Malang sudah mandiri.

 

5.5 KEUSKUPAN MALANG SEBAGAI BAGIAN DARI GEREJA KATOLIK INDONESIA DALAM PERGUMULAN UUNTUK MENEMUKAN BENTUK HIDUP GEREJANI 1995-2005[4]

 

5.5.1 Pernyataan-pernyataan Wali Gereja Indonesia

Sidang KWI-Umat 1995 bertema “Mewujudkan Refleksi dan Proyeksi Keterlibatan Orang dalam Sejarah Bangsa”. Kardinal Yulius Darmaatmadja mengarahkan orang Katolik sebagai warga negara Indonesia agar berani menceburkan diri ke dalam masyarakat.

Surat Gembala Prapaskah 1997 berjudul “Keprihatinan dan Harapan”. Dikeluarkan karena kerusakan moral di segala bidang kehidupan, hukum tak diindahkan, keadilan tidak ditegakkan, hak dan martabat manusia tak dihormati. Orang muda diminta terlibat dalam politik yang bermoral.

Surat Gembala Paskah 1999 berjudul “Bangkit dan Tegak dalam Pengharapan”. Dinyatakan bahwa dalam berbagai bidang semakin terlihat jelas penyalahgunaan uang, kekuasaan, jabatan dan fasilitas negara. Para uskup meminta agar orang menggunakan hati nurani dalam Pemilu.

Waligereja Indonesia mengeluarkan seruan KWI “Hentikan Tindak Kekerasan, Cegah Perpecahan Bangsa” pada 25 Desember 2000. Seruan tersebut menyusul hasil SAGKI 2000 bertema “Memberdayakan Komunitas Basis menuju Indonesia Baru”.

  1. Komunitas basis adalah satuan orang yang relatif kecil dan yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan firman Allah, berbagi masalah sehari-hari: baik masalah pribadi, kelompok maupun masalah sosial, dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci.
  2. Komunitas basis ini adalah Gereja yang berbelarasa dengan saudara yang miskin dan tertindas agar tidak mengalami irelevansi eksternal atau insignifikasi sosial.
  3. Dinamika di akar rumput menjadi bahan pergumulan iman.

Surat Gembala Paskah 2001 “Tekun dan Bertahan dalam Pengharapan” dikeluarkan dengan latar belakang pertanyaan apakah moral dan etika sudah mati? Waligereja Indonesia prihatin atas pemimpin yang tidak memiliki sense of crisis.

Nota Pastoral Desember 2003 berjudul “Keadilan bagi Semua” sebagai tanggapan atas kenyataan adanya kehancuran keadaban. Sebelumnya, Waligereja Indonesia telah meminta orang Katolik agar mencari jalan bersama dengan yang lain untuk menemukan dan menentukan bentuk hidup bermasyarakat yang akan menjadi milik bersama.[5] Lalu terbitlah Surat Gembala Pemilu “Carilah Kebenaran dan Keadilan” (20 Maret 2004) & Sapaan Pastoral menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden “Pilihan Anda Sangat Menentukan” (07 Mei 2004) yang meminta orang Katolik memperkuat civil society untuk mencegah disintegrasi bangsa.

Suara Gembala pada akhir sidang KWI 2004 “Tuhan tetap Mencintai Bangsa Kita” yang diikuti Nota Pastoral 2004 “Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa (Keadilan Sosial bagi semua: Pendekatan Sosio-Budaya).” Waligereja Indonesia mendorong diciptakannya budaya tandingan: sikap, budaya dan perilaku hidup yang baru.

SAGKI 2005 bertema “Bangkit dan Bergeraklah”. Gereja Katolik bertekad untuk berperan serta dengan lebih nyata dalam mengatasi keterpurukan bangsa. Melalui SAGKI 2005 ini, Gereja Katolik Indonesia terpanggil untuk bangkit dan bergerak membangun “keadaban publik” dengan menciptakan habitus baru lewat komunitas basis seperti yang dicanangkan SAGKI 2000.

 

5.5.2 Gereja Katolik Indonesia mengenai Dirinya

A. Gereja: komunitas yang berbela rasa

Waligereja Indonesia dalam pesan Natal yang dirumuskan bersama dengan DGI melukiskan konteks kehidupan gerejani dalam kata-kata berikut: “Berbagai krisis yang melilit perjalanan bangsa sejak beberapa tahun terakhir belum kunjung usai, bahkan makin menyengsarakan kehidupan rakyat. Krisis kepercayaan melahirkan iklim politik yang tidak sehat. Suatu keadaban yang diwarnai rasa curiga, iri hati, perselisihan dan balas dendam telah mengganggu hubungan antarwarga bangsa. Bencana alam, wabah penyakit dan kelaparan melanda beberapa wilayah di tanah air. Kebebasan beragama dan beribadah menghadapi berbagai halangan karena melemahnya sikap tenggang rasa. Suasana seperti ini telah membuat kita sebagai bangsa takut untuk memandang masa depan. Sanggupkah kita keluar dari situasi sulit yang melilit kehidupan kita? Kapankah semua persoalan ini akan berakhir?”[6]

B. Gereja: komunitas pengharapan

Ketika Gereja berhadapan dengan dunia dan pengalaman hidup yang suram, tanpa masa depan dan tampaknya kekuatan jahat jauh lebih perkasa dibandingkan dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan,[7] Waligereja Indonesia menyatakan bahwa Gereja adalah komunitas murid-murid Tuhan yang berharap.[8] Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Flp 1:6). Berharap berarti hidup berdasarkan janji Allah: bahwa Tuhan mengarahkan orang manusia dan seluruh ciptaan menjadi “kerajaan yang berpedoman kebenaran dan kehidupan, kerajaan yang memancarkan kesucian dan rahmat, kerajaan yang berlimpahkan keadilan, cinta kasih dan damai.”[9]

C. Gereja: komunitas yang bertobat

Gereja adalah komunitas yang terus menerus bertobat.[10] Gereja Indonesia mengakui telah ikut mengambil bagian dan tidak bisa melepaskan tanggungjawab dalam rusaknya keadaban publik ini.[11] Bertobat berarti mengubah sikap dan hati, menentukan arah dasar hidup serta menata ulang mentalitas.

D. Gereja: komunitas inkarnatoris

Waligereja Indonesia menyatakan bahwa Gereja Indonesia tidak boleh lari dari kenyataan keras dunia yang tidak beradab. Ia juga tidak boleh menunggu sampai dunia ini beradab lebih dahulu, melainkan diutus untuk masuk ke dalam dunia yang tidak beradab itu.[12] Bila Gereja menemukan jati dirinya dalam Yesus Kristus yang menjadi daging, maka seperti Kristus, Gereja pun harus berani mengalami nasib menjadi korban untuk mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan.

Kehendak SAGKI 2000 untuk pemberdayaan komunitas basis yang terbuka (inklusif) di tengah orang akar rumput sebagai awal baru hidup menggereja diperkuat oleh SAGKI 2005 sebagai prasyarat untuk membangun kerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik.[13] Wali Gereja Indonesia mengingatkan kembali pentingnya pembentukan dan penguatan komunitas-komunitas kecil dalam upaya “pembentukan keadaban publik baru” bangsa ini.[14] Bentuk konkret ajakan tersebut, misalnya: melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan positif masyarakat (organisasi dll.), perubahan pola pikir (dikotomis dll.), setia pada proses-tekun-militan, selalu membuka diri terhadap semua kelompok, memberi keteladanan, pewartaan nilai, memperjuangkan “roh kesalehan sosial.”[15]

E. Ekspresi keinginan Gereja[16]

Gereja ingin menjadi sahabat bagi semua kalangan; mendengar dengan hati dan jiwa para penderita, korban, kaum tergusur dan mendoakan mereka; mengupayakan rasa kesenasiban dan keberpihakan; mengadakan pertemuan untuk membagi keprihatinan dan membangun nilai; menyediakan sarana atau kesempatan untuk temu persaudaraan yang mengatasi berbagai macam sekat sosial.

Gereja ingin mengembangkan modal-modal sosial sebagaimana isi kekayaan budaya nasional.

Gereja mau ikut serta dalam prakarsa pemberdayaan masyarakat akar rumput: gerakan pelestarian lingkungan, tani organik, ekonomi kerakyatan.

Gereka mendorong orang untuk masuk ke dalam jejaring sosial yang peduli akan masalah kemasyarakatan dan pemerintahan.

Gereja merasa wajib untuk memberi perhatian khusus kepada pelayanan pendidikan untuk mengembangkan daya berpikir kritis.

Gereja ingin memulai dari diri sendiri dengan perhatian kepada pembinaan administrasi dan disiplin dalam lembaga gerejani.

Prakarsa yang lain harus ditemukan dalam pencarian bersama kontekstual dalam kerangka berpikir bahwa keselamatan bersumber dari partisipasi memperjuangkan kepentingan kerajaan Allah (bdk. RM 14). Lalu, kategori kesucian dan pengudusan diri diindikasikan dalam terminus “terlibat” dan “berbelarasa” (bdk. GS 1). Lebih lanjut, fokus perjuangan bukan sistem atau struktur anonim, melainkan personalitas manusia (bdk. RH 10). Secara singkat, kerelaan untuk dibimbing oleh gerakan Roh Allah untuk terlibat dan berbela rasa menentukan langkah lanjut orang Katolik.

 

5.6 SINODE KEUSKUPAN MALANG 2002

Pada tgl 23 Nopember 1999, Mgr. H.J.S. Pandoyoputro memaklumkan niatnya untuk menyelenggarakan Sinode Keuskupan Malang sebagai rangkaian dari perayaan Yubileum Tahun 2000 dan 75 tahun Keuskupan Malang sebagai ungkapan syukur kepada Allah: “Benih Sabda lIahi yang ditaburkan oleh para imam Serikat Jesus pada akhir abad ke-19, ditumbuhkan oleh para Karmelit sejak tahun 1923, … menghasilkan buah-buah iman yang ikut memantapkan keberadaan Gereja Katolik Keuskupan Malang.” Selanjutnya Mgr. Pandoyoputro mengharapkan bahwa “Segenap orang beriman menyadari pentingnya mempersiapkan menyambut peristiwa penting dalam rangka memperingati, mengevaluasi, perjalanan Gereja Katolik Keuskupan Malang selama 75 tahun.” Disadari bahwa di dalam perutusan menabur kabar baik dan kasih Gereja Katolik Keuskupan Malang menghadapi banyak tantangan dan keprihatinan, ada yang belum tersentuh pelayanan dalam menghadirkan Kerajaan Allah, Kerajaan yang ditandai oleh kebenaran, keadilan dan kasih. Karena alasan tersebut, Sinode Keuskupan Malang merupakan “Momentum penegasan visi-misi Keuskupan Malang sebagai Gereja Partikular dalam perjalanan bersama pada tahun-tahun pertama Milenium III.”

Panitia untuk penyelenggaraan Yubileum 75 tahun dan Sinode Keuskupan Malang dilantik pada 15 Juli 2000. Panitia ini tersusun atas 4 bidang, yaitu: bidang I untuk penyelenggaraan Sinode, bidang II untuk penyelenggaraan misa syukur 75 tahun Keuskupan Malang, bidang III untuk perayaan Yubileum dan bidang IV untuk acara-acara pra-Yubileum. Tema Yubileum, dinyatakan dengan pernyataan berikut: “Membangun cita-rasa, berkomunitas basis, berparoki dan berkeuskupan, untuk mewujudkan Gereja Katolik yang memasyarakat.” Sebagai langkah konkretnya Panitia Yubileum bekerja sama dengan Tim Pemberdayaan Komunitas Basis mengadakan sarasehan warga lingkungan dengan modul panduan yang telah disiapkan Tim. Implementasi komunitas basis tidak sekedar sebatas wacana, namun berbekal kesadaran diri sebagai bagian masyarakat, orang turut serta dalam aneka kegiatan di lingkungan terkecil masyarakat (RT, RW, desa) dan mengadakan aksi yang merupakan wujud nyata semangat komunitas basis yang mengalir keluar dari lingkungan sendiri menanggapi kebutuhan dan keprihatinan masyarakat setempat.

Sinode Keuskupan Malang diselenggarakan pada tanggal 24-27 Juli 2002. Pada akhir proses Sinode, Msgr. Pandoyoputro memberikan amanat berikut: “Keuskupan Malang bisa menyelenggarakan Sinodenya yang pertama sejak 75 tahun berdirinya sebagai Prefektur Apostolik, meskipun sudah sejak bertahun-tahun kita selalu mengadakan Pertemuan Tahunan. Sebagai wakil dan pelayan Anda sekalian kami telah menyatukan hati dan pikiran kami untuk menggumuli masalah-masalah keuskupan, untuk menegaskan kembali cita-cita dan arah dasar Gereja kita tercinta, dengan belajar bersama dari sejarah masa lampau keuskupan kita, menyimak situasi dan menjawab kebutuhan masyarakat sekitar kita dewasa ini, dan mengarahkan pandangan kita jauh kedepan.”

 

5.6.1 Visi Keuskupan Malang Hasil Sinode 2002

“Gereja Keuskupan Malang adalah persekutuan umat Allah, garam dan terang dunia, yang senantiasa merayakan Sabda Allah dan Misteri Keselamatan, mewartakan Kabar Gembira Kristus secara otentik dan berakar dalam budaya, melayani orang miskin secara integral, dalam bimbingan Roh Kudus.”

Gagasan “communio” (=persekutuan) sebagai visi Keuskupan Malang dengan demikian ditetapkan menjadi sumber arah dasar yang perlu dituju bersama seluruh orang. Adanya arah dasar berarti bahwa semua usaha, betapapun aneka ragamnya, siapa pun pemrakarsa dan pelaksananya, kalangan mana pun kelompok sasarannya, perlu diarahkan tanpa penyeragaman yang menghambat, tetapi secara terpadu, untuk mewujudkan visi bersama.

 

5.6.2. Sikap Dasar Orang Katolik Keuskupan Malang Berdasarkan Hasil Sinode 2002

Gereja sebagai communio yang telah dipilih sebagai visi bersama yang menentukan arah dasar Keuskupan Malang dijabarkan dan dikembangkan dalam sikap-sikap dasar orang dan masing-masing warganya.

a. Iman yang mendalam:  iman orang ditumbuhkembangkan secara mendalam kualitas hidup imannya melalui pembinaan-pembinaan iman baik secara teritorial maupun kategorial.

b. Iman yang dewasa dan mandiri: sikap iman yang telah cukup berkembang mantap sehingga tercermin dalam perilaku yang matang dan mandiri. Orang dengan iman yang dewasa tak hanya lebih “tahan banting” dalam menghadapi segala tantangan, melainkan juga lebih bersedi dan mampu berperan serta mengemban tanggung jawab bersama atas hidup dan pelayanan Gereja secara dewasa. Kemandirian tidak hanya menyangkut hal-hal spiritual, melainkan juga bidang sumber daya manusia dan pendanaan.

c. Iman yang berakar dalam budaya: perpaduan serasi antara iman yang dianugrahkan Tuhan dan budaya bangsa sebagai akar hidup kita sendiri sedemikian rupa, sehingga keduanya saling menyatu dan memperkaya sesuai dengan cita-cita katolisitas. Saat ini sedang digarap bersama dengan elemen-elemen dalam masyarakat budaya Jawa, budaya Osing, budaya Tionghoa, melalui pendekatan seni, budaya, ritual, dan karya-karya sosial-ekonomi

d. Iman yang menggereja: persekutuan kaum beriman yang dipersatukan oleh sabda dan sakramen-sakramen, melainkan juga dipanggil untuk mengemban tanggung jawab bersama dan peran serta dalam membangun Gereja lebih lanjut. Dalam kenyataantelah terjadi gerakan bersama di semua paroki, unit kelembagaan baik yang dikelola secara perorangan maupun tarekat-tarekat. Orang merasa ikut memiliki, maka juga merasa ikut memikirkan, merencanakan, serta melaksanakan keputusan bersama. Dalam hal ini terus digalakkan perwujudan kepemimpinan partisipatif di antara orang beriman.

e. Iman yang memasyarakat:  sikap iman yang seutuh-utuhnya dalam arti meliputi dimensi kemasyarakatan sebagai sikap integral: kejelian membaca tanda-tanda zaman, kepekaan sosial, kesediaan dan kemampuan untuk berdialog. Gereja tidak boleh terpaku pada pikiran “minoritas”, tetapi dalam wawasannya harus menampilkan wawasan yang berkualitas.

f. Iman yang misioner: sikap beriman yang ingin berbagi dengan sesama, baik Katolik maupun belum Katolik, dengan harapan bahwa yang indah dan bernilai juga dapat ditawarkan kepada orang lain, meski dengan bahasa yang sesuai dengan konteks Indonesia; terutama membagikan harta yang telah diketemukan sendiri kepada orang yang masih mengalami kesenjangan dengan kenyataan kesehariannya melalui jalan evangelisasi baru.

g. Iman yang dialogal: sikap iman yang menghargai segala yang baik dan benar dalam agama lain serta para penganutnya dan menjauhkan diri dari segala bentuk fanatisme. Dalam dialog kita juga dapat meneguhkan iman kita sendiri. Dari musibah Situbondo 10 Oktober terselubung berkat dan hikmat “Allah membuka kisi-kisi hati orang, yang selama banyak tahun sebelumnya cukup dihayati suatu paguyuban yang eksklusif yang terkadang juga disertai sikap triumfalistis.” Meskipun di sisi lain keterbukaan dari pihak bukan-Katolik masih dirasakan terbatas pada lapisan menengah (terpelajar) ke atas. Sementara itu lapisan bawah harus lebih dipersiapkan lagi.

 

5.7 SITUBONDO II: KEBANJIRAN DUA KALI DAN GEMPA BUMI

Situbondo tiba-tiba dikejutkan oleh banjir bandang Sungai Sampean karena jebolnya Dam Sampean Baru pada Februari tahun 2002. Romo Haryono O.Carm, pastor paroki saat itu, menanggapi bencana tersebut dengan mendirikan posko untuk membantu korban banjir. Posko penyimpanan dan distribusi bantuan material berada di gedung SDK lama di Jl. Mawar. Dapur umum dibuka di Jl. Anggrek Gg. VII di rumah Klg. Andreas dan Klg. Agustinus Tri Suradi. Namun karena luasnya wilayah dampak banjir dan keterbatasan tenaga relawan, dapur umum kemudian disebar di berbagai lokasi dengan melibatkan warga setempat. Posko mengambil peran sebagai pemasok bahan dan peralatan memasak selama kurang lebih tiga minggu.  Setelah melewati masa darurat, Paroki mengupayakan penanganan lanjut dampak banjir dengan mendirikan Balai Pengobatan di gedung SDK lama dan bertahan kurang lebih selama setahun. Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal, paroki juga membangunkan beberapa rumah re-lokasi di Karang Asem, Talkandang dan Salewung dengan dana dari para donatur. Tragedi kali ini tidak hanya menyadarkan umat untuk lebih memasyarakat, namun juga menjadi pelajaran arti bermasyarakat. Meskipun diri sendiri sama dengan yang lain menjadi korban, namun tetap mengulurkan tanggan untuk menolong korban yang lain.

Pada tanggal 10 September 2007, gempa menguncang Asembagus. Bermodal dana sosial paroki dan bantuan dari Panitia Aksi Puasa Pembangunan KWI , Suster Putri Kasih Kediri, PT Era Data Surabaya, Paroki St. Andreas Malang dan sejumlah donatur, Paroki Situbondo menanggapi bencana Gempa Asembagus dengan membangun 6 lokal kelas di tiga SD Negeri Kedunglo. Di SDN II, III, dan VI Kedunglo masing-masing dibangunkan 2 lokal untuk mengatasi kesulitan sekolah menghadapi ujian akhir dan kelangsungan proses belajar mengajar karena kerusakan parah di gedung yang mereka miliki. Diperoleh beras sebanyak 3,4 ton yang dihimpun pada misa pembukaan peringatan 50 tahun paroki 7 Oktober 2007 dan ratusan dus mie instan yang belum habis terbagi sampai datang musibah banjir 8 Februari 2008.

Banjir bandang 8 Februari 2008 dirasakan lebih parah dan meluas dari banjir 2002, karena banyaknya kawasan dampak banjir yang terkena. Banjir dari Sungai Sampean yang membelah Situbondo melanda 7 Kecamatan, 28 desa. Di bagian barat banjir datang dari bukit di Kecamatan Mlandingan melanda 3 Kecamatan 12 desa dengan karakter berbeda karena membawa bongkah batu besar-besar. Halaman gereja paroki kali ini dipenuhi lumpur sebatas mata kaki. Teras dan aula masih aman sehingga dapat digunakan untuk pengungsian warga sekitar ketika peristiwa terjadi dan sesudahnya. Dengan berbekal mie instan yang masih tersisa dari Bakti Sosial Gempa Asembagus, mulai malam peristiwa itu, Paroki langsung membuka Posko Dapur Umum di garasi pastoran. Relawan berdatangan dari berbagai tempat. Paroki Jember, Banyuwangi, Probolinggo dengan penuh semangat membantu posko selama hampir sebulan. Demikian pula pelbagai lembaga dari Malang dan Surabaya silih berganti mengirimkan santunan dan tenaga untuk meringankan beban korban. Pelayanan kesehatan yang berlangsung beberapa kali mendapat sumbangan besar dari kehadiran suster-suster PK, Perdhaki Keuskupan Malang dan Surabaya, serta PT Jamu Sidomuncul. Semua dapat merasakan, gereja benar-benar menjadi tumpuan korban di tengah situasi kalut dampak banjir. Selain bantuan kesehatan, perlengkapan tidur, pakaian dan perlengkapan dapur, Posko Mawar 50 bagian Dapur Umum mampu menyuplai sekitar 4000-7000 nasi bungkus setiap hari selama tiga pekan. Posko baru ditutup pada akhir Mei setelah menyelesaikan semua tanggung-jawab distribusi bantuan kepada korban, baik di lingkungan umat Katolik sendiri maupun di tengah masyarakat warga. Semua memiliki harapan agar musibah tidak menjadi langanan berkala, karena setiap musibah datang berarti harus mengawali hidup mulai dari titik nol lagi

 

5.8 TAHUN TEMATIS SEBAGAI DASAR KEBERSAMAAN KEGIATAN PASTORAL KEUSKUPAN MALANG

Tahun tematis merupakan upaya Keuskupan Malang menyelaraskan gerak elemen-elemen gerejawi dalam rangka pemeliharaan rohani orang Katolik.   Umat Allah Keuskupan Malang sebagai Tubuh Tuhan yang menerima kehadiran semua elemen Keuskupan Malang sebagai berkat Allah untuk semua (bdk. Rm 12:7) yang perlu ditata dan dipikirkan (bdk. LG 12) dengan selaras agar senantiasa berkobar tumbuh di dalam segala hal ke arah Kristus (bdk. Gal 4:15). Skema ini mempunyai dasar pikiran bahwa ada nilai-nilai tertentu yang menggerakkan orang Katolik dalam menjalankan kehidupan imannya. Karena itu, sepanjang proses ini selalu ditanyakan: “Nilai-nilai apa yang selama ini menggerakkan kehidupan? Nilai-nilai apa yang selama ini menyebabkan pergumulan iman kelompok kategorial / tarekat/ jemaat-jemaat paroki?” Harapan di balik semuanya adalah bahwa Keuskupan Malang dapat menjadi “ladang Allah” (bdk. 1 Kor 3:9) yang makin subur bagi aneka “tanaman” yang ditabur dan dikehendaki Allah agar tumbuh baik dan menghasilkan buah-buah rohani yang tetap (bdk. Mat 21:33-34; Yoh 15:16) [bdk LG 6].

 

Skema Masukan-Proses-Hasil Tahun Tematis 2002-2011

Masukan Tgl. Pertemuan Pembahasan Tema Hasil
Situasi keuskupan dan keprihatin-an serta harapan yang ada 24-27/07/2002 sinode keuskupan A. Dampak Langsung? Adanya aksi-aksi Katolik. 

B. Dampak Pengiring? Lahirnya cara berpikir, merasakan, dan bertindak dalam kesatuan  Tubuh Kristus.

2003 sosialisasi hasil sinode
2004 tahun kaum muda
2005 tahun keluarga
2006 tahun pendidikan
2007 tahun pengembangan SDM gerejani
2008 tahun keberpihakan kepada orang miskin
2009 tahun pengembangan paguyuban gerejani
2010 tahun refleksi ke-1
2011 tahun refleksi ke-2

 

5.8.1 Kaum Muda

Tahun Pemuda Keuskupan Malang 2004 merupakan program tindak lanjut Sinode Keuskupan Malang 2002. Dengan Tahun Pemuda dimaksudkan ‘waktu tertentu untuk penjabaran hasil-hasil Sinode dalam konteks pastoral kaum muda pada setiap unit karya di Keuskupan Malang’.

Tahun Pemuda berlaku bagi seluruh umat di Keuskupan dengan sasaran utama kaum mudanya. Sesudah tahun 2004 tetap dilanjutkan, meskipun tidak dalam posisi diprioritaskan.

 

5.8.2 Keluarga

Arah Pastoral keluarga dalam Tahun Keluarga 2005 adalah pemberdayaan komunitas basis. Tahun Keluarga 2005 Keuskupan Malang memanggil keluarga sebagai subjek, artinya: keluarga dipanggil untuk lebih berdaya dalam memantapkan hidupnya sendiri, menghidupkan Parokinya berdasarkan sakramen Baptis, sakramen Krisma, sakramen Perkawinan.

Melalui ketiga sakramen itulah keluarga-keluarga dipanggil untuk turut berpartisipasi dalam tri tugas Kristus, sebagai Imam, Nabi dan Raja.

Agar hidup keluarga sendiri maupun keluarga sesama mencapai kehendak Kristus Yesus yaitu: “ Mereka memperoleh hidup, dan memperolehnya dalam segala kelimpahan” ( Yoh 10:10 ), seraya mewujudkan gereja yang dicita-citakan.

Pertama-tama Gereja Rumah Tangga sendiri, yaitu Keluarga, selanjutnya Gereja Paroki (dengan Blok, Lingkungan/ Stasi  dan Wilayah).

Wujud Gereja yang paling nyata adalah Paroki. Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium 28 menyatakan Paroki sebagai “keluarga Allah, kekerabatan yang dinyalakan dengan roh yang mempersatukan”, yang adalah “persekutuan kaum beriman” menurut KHK 1983 kan. 515 §1, atau gereja yang hidup di tengah rumah tangga putera-puterinya  (CL 26). Di parokilah keluarga-keluarga kristiani paling langsung dan jelas dalam kehidupan sehari-hari mengemban aneka tugas dan pelayanan menurut karisma yang beragam memajukan gereja, yang adalah jati diri mereka sendiri. Tahun Keluarga 2005, yang adalah undangan pada keluarga  Katolik pada dasarnya adalah panggilan untuk mewujudkan paroki masing-masing lebih baik ke arah yang dicita-citakan.

 

5.8.3 Pendidikan

Keluarga adalah pendidik pertama dan utama (GS 52), ibu dan pengemban pendidikan menyeluruh (GS 61) maka upaya-upaya di Tahun  Pendidikan 2006 merupakan kesinambungan dari Tahun Keluarga 2005, dan arena tugas pendidikan lebih-lebih terarah kepada kaum muda yang menjadi peserta didik, maka Tahun Pendidikan 2006 juga merupakan kelanjutan dari Tahun Pemuda 2004. Apa yang telah dicapai umat dalam Tahun Pemuda 2004 dan Tahun Keluarga 2005 menjadi modal yang akan dikembangkan dalam Tahun Pendidikan 2006.

Tahun Pendidikan Keuskupan Malang 2006 memberi kesempatan kepada segenap umat memikirkan kembali tujuan karya pendidikan yang dilaksanakan (re-orientasi), memadukan semua jalur upaya pendidikan (re-integrasi) demi integritas umat dalam pendewasaannya, dan mengatur kembali upaya-upaya itu (re-organisasi) demi efektivitas yang lebih besar di masa depan. Sebuah momentum yang tidak boleh kita lewatkan. Arus utama karya misi rupanya mengalami pergeseran, bukan lagi terarah pada pertobatan individual melainkan lebih terarah kepada pendewasaan umat dan kualitas manusianya.

 

5.8.4 Pengembangan Sumber Daya Manusia Gerejawi

Tujuan Tahun PSDM 2007 adalah tersedianya jumlah sumber daya manusia yang mencukupi kebutuhan secara berkesinambungan bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam rangka pelaksanaan Misi untuk mewujudkan Visi, di semua paroki dalam Keuskupan Malang, dengan rasa tanggungjawab yang lebih besar, berbekal kemauan yang kuat dan stabil, wawasan dan pengetahuan yang cukup, serta  kemampuan teknis yang makin baik dalam mengembangkan persekutuan, ibadat, pewartaan, pelayanan kasih, kesaksian dan pengelolaan sumber-sumber daya gerejawi.

Tahun PSDM 2007 hendaknya merupakan paket utuh yang sekaligus menambah semangat berperan-serta, mempertebal kerelaan melayani sesama, menambah keikatan persekutuan persaudaraan iman untuk bekerja sama dalam tim, dan penyegaran wawasan serta teknis pelayanan yang terpadu dalam setiap acara.

Tahun PSDM 2007 hendak mewujudkan pemberdayaan komunitas basis, khususnya meningkatkan swadaya dan swakelola untuk mencukupi kebutuhan jumlah dan kualitas tenaga untuk kelangsungan dan penyempurnaan kegiatan masing-masing, namun dengan semangat komunio dan kerja-sama sekeuskupan, hendaknya dapat diselenggarakan pinjam-meminjam tenaga-tenaga pengembang di antara unit-unit (antar paroki, antar lingkungan, antar organisasi, antar komunitas).

 

5.8.5 Keberpihakan Kepada Orang Miskin

Karena duka derita kemiskinan akan selalu ada sepanjang zaman berdasarkan petunjuk Tuhan, segenap Umat Allah Keuskupan Malang menyadari hal itu sebagai tantangan bagi pelaksanaan kasih. Maka Tahun Keberpihakan dan Pelayanan Kepada Kaum Miskin 2008  dimaksudkan untuk memperkuat harapan Umat pada Janji Bahagia Tuhan. Adapun tujuannya adalah memelihara dan meningkatkan semangat segenap Umat untuk menjalani kehidupan, berjuang dengan gembira bersama saudara seiman mewujudkan taraf hidup yang layak, serta peka dan bersedia membantu sesama yang mengalami kemalangan dengan cara-cara yang lebih integral dan tranformatif.

Adanya pembaruan sikap keberpihakan pada kaum miskin yang tercermin dalam penegasan pola hidup sederhana dan kaul kemiskinan yang menghindari kecemburuan sosial dalam penggunaan barang-barang dan uang. Untuk itu perlu dikembangkan selalu Spiritualitas Pengharapan, Spiritualitas Kemiskinan, dan Spiritualitas Keugaharian.

 

5.8.6 Pengembangan Paguyuban Gerejawi

Tahun Pengembangan Persekutuan Gerejawi 2009 Keuskupan Malang dimaksudkan memperoleh kemajuan selanjutnya yang makin nyata di dalam ziarah bersama mewujudkan diri sesuai dengan sebagian dari gambaran (visi) Keuskupan Malang berdasarkan realitas yang disadari, terutama sebagai persekutuan umat Allah yang merayakan Sabda Allah dan misteri keselamatan, mewartakan kabar gembira Kristus secara otentik dan melayani orang miskin secara integral melalui komunitas basis, dalam rangka menjadi garam dan terang dunia. Keuskupan Malang digambarkan dalam maksud itu:

(1). menjadi ladang Allah (1 Kor 3:9) yang makin subur bagi aneka tanaman yang ditabur dan dikehendaki Allah agar tumbuh baik dan menghasilkan buah-buah rohani yang tetap (Mat 21:33-34; Yoh 15:16) [bdk LG 6];

(2). persekutuan umat Allah yang lebih berdaya guna bergiat di dalam menanggapi panggilan umum pada kekudusan (LG 40) merupakan “alat penyelamatan semua orang” (LG 9), atau “sakramen keselamatan bagi semua orang” (LG 48) dengan menghayati dan mengamalkan baik kesatuan Ekaristis maupun dorongan misioner mengikuti teladan Santo Paulus; dan

(3). menjadi Tubuh Kristus yang [makin] bersatu padu, serta dibangun menjadi satu kenisah Roh Kudus [AG 7]. Memanfaatkan berbagai kharisma dan pelayanan yang diperlengkapi oleh Kristus semua warga membantu satu sama lain dan bertumbuh bersama dengan gembira. Dalam situasi umum krisis dan pasca krisis perlu selalu mengobarkan nyala Roh dan segala anugerahnya, pelbagai kebajikan yang mendorong perbuatan baik, pelbagai kharisma yang membuat umat beriman mampu dan bersedia melaksanakan berbagai tugas dan karya yang membarui Gereja dan melanjutkan pengembangannya (LG 12).

Selaras dengan maksud yang dipaparkan di atas, tujuan Tahun Pengembangan Persekutuan Gerejawi 2009 Keuskupan Malang adalah untuk mengajak seluruh umat untuk lebih memahami, menghayati dan mewartakan Ekaristi sebagai sakramen Gereja untuk kesatuan dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari dengan konsekuensi misioner bagi dunia sekeliling: “Dihimpun dalam persekutuan, diutus menghasilkan persekutuan.”

 

5.9 IMAM DIOSESAN KEUSKUPAN MALANG

Partisipasi konkret dalam  kasih Yesus bagi karya Allah diwujudkan dalam panggilan menjadi imam. Kasih Kristus terhadap kawanan-Nya ditampakkan bukan pertama-tama melalui apa yang dibuat oleh imam-imam, melainkan melalui penyerahan diri mereka bagi pelayanan Gereja. Panggilan khas seorang imam terletak dalam upaya menyerupai Kristus, ambil bagian dalam pelayanan-Nya dengan bertindak atas nama-Nya, dan membangun tubuh-Nya, yakni Gereja. Wujud konkret Gereja dimana kita hidup dan ada adalah Keuskupan Malang. Tenaga inti untuk Keuskupan Malang adalah imam-imam diosesan (=imam sekuler/ romo praja).[17] Imam diosesan yang menunjukkan pengabdian kepada Allah melalui pelayanan dalam aneka kerasulan Keuskupan. Imam diosesan Keuskupan Malang hidup, bergerak dan ada seiring dengan dinamika hidup keuskupan Malang. Sejak awal panggilan mereka, mereka mendedikasikan hidup mereka sepenuhnya untuk Keuskupan Malang.

Baru pada tahun 1974, ada tahbisan imam sekuler lagi yaitu tahbisan Romo Paulus Suwita (lahir: wafat: Malang, 9 Okt 2006). Menyusul kemudian tahun 1975 ditahbiskan Romo Agustinus Sutarto (lahir:Blitar  wafat: Malang, 7 Des 2005).

Pada tanggal 19 Agustus 1988, Walikota Malang Tom Uripan meresmikan Seminari Tinggi antar-Keuskupan Giovanni di Jln. Bendungan Sigura-gura Barat 2, Malang.  Mgr. Hadisumarta memberkatinya. Tempat tersebut adalah yang terakhir setelah berpindah-pindah tempat: dimulai di Jln. Tanggamus, 9 Malang (1977), di Jln. Bromo 22 (1979), di Jln. J.A. Suprapto 75 (1983).

 

Tahbisan Imam Diosesan Keuskupan Malang 1979-2012

Thn T M Thn T M Thn T M
1979 1 1991 4 -2 2003
1980 1992 2 2004 1
1981 1 -1 1993 2005
1982 2 -1 1994 2006 2
1983 1 -1 1995 2007
1984 1 -1 1996 2 2008
1985 1997 3 2009 1
1986 1 -1 1998 2010 2
1987 1999 5 -1 2011
1988 2000 2012
1989 4 2001 4 -1
1990 2002 2
Jumlah Imam Diosesan Pada Tahun 2012: 30 imam 39 -9

T: Jumlah yang ditahbiskan tahun itu

M: Jumlah yang meninggalkan pelayanan imamat dari mereka yang ditahbiskan pada tahun itu.

 

Pada tahun 1987, didirikan Tahun Rohani di Jln. J.A. Suprapto 75 sebagai tahun persiapan sebelum mengikuti pendidikan calon imam di seminari tinggi. Pada tahun 2007, tahun rohani dipindah ke bekas Seminari Menengah Marianum di Jln. Sumberwuni, Lawang.

Keberadaan imam diosesan dengan jumlah tersebut belum memadai untuk menangani semua paroki di keuskupan Malang (ada dua puluh sembilan paroki) dan aneka karya kerasulan keuskupan.

 

5.10 KELOMPOK BIARAWAN/BIARAWATI DAN HIDUP BAKTI

Konsili Vatikan II mengakui keluhuran hidup membiara dengan mengatakan: “sejumlah orang beriman dipanggil Allah, supaya menikmati anugerah khusus dalam hidup Gereja, dan penyelamatan Gereja” (LG 43).  Hidup membiara merupakan pengabdian istimewa kepada Allah yang “mendorong dan memupuk pengalaman keutamaan-keutamaan, teristimewa kerendahan hati dan ketaatan, kekuatan dan kemurnian.”(PC 5).

Mereka yang hidup membiara bertekad melayani Allah dengan cara atau karisma khusus yang yang dihayati oleh pendiri ordo atau konggregasi yang bersangkutan (bdk. PC 8). Karena itu, hidup membiara selalu bersifat karismatis di mana nampak lebih jelas baik kebebasan Roh Kudus maupun kesediaan orang yang bersangkutan: “Dengan ikrar nasihat-nasihat Injil dalam Gereja, ia berusaha membebaskan diri dari hambatan, yang dapat menjauhkan dia dari semangat cinta kasih dan kesempurnaan ibadat ilahi, serta menyerahkan dirinya lebih mesra kepada kepada pengabdian Allah. Maka akan lebih sempurna pengabdian apabila melalui ikatan yang lebih kuat dan lebih mantap, Kristus lebih dicerminkan, Kristus yang berhubungan dengan mempelai-Nya, Gereja, dengan jalinan yang tak terceraikan” (LG 44).

Konsili Vatikan II memberikan dasar teologis kepada keanekaragaman konggregasi dan ordo pada LG no. 46: “Hendaknya para biarawan-biarawati memperhatikan dengan cermat agar melalui mereka, Gereja benar-benar makin hari makin lebih menampilkan, baik kepada orang beriman maupun kepada yang tidak beriman, Kristus yang bersemedi di bukit, atau yang mewartakan kerajaan Allah kepada orang banyak, Dia yang menyehatkan orang sakit dan cedera atau Dia yang mempertobatkan orang berdosa ke jalan yang baik, Dia yang memberkati anak-anak atau berbuat baik kepada semua orang dan yang selalu taat kepada kehendak Bapa, yang mengutuskanNya” (PC 2a).

Hidup kebiaraan juga memiliki dan menjalankan fungsi eskatologis: “Karena umat Allah tidak memiliki kediaman tetap di sini tetapi mencari kediaman yang akan datang, maka status kebiaraan, yang lebih membebaskan para pengikutnya dari urusan duniawi, juga lebih menunjukkan kepada semua orang beriman harta surgawi yang sudah ada di dunia ini. Demikian pula ia memberikan kesaksian tentang hidup baru dan abadi yang diperoleh berkat penebusan Kristus, serta menyampaikan prawarta kebangkitan yang akan datang dan kemuliaan Kerajaan surgawi” (LG 44).

Kelompok imam/ biarawan yang berkarya atau berada di keuskupan Malang pada tahun 2011 adalah O.Carm,  Congregatio Discipulorum Domini (=CDD), Congregatio Missionis (=CM), Societas Verbi Divini (=SVD), Congregatio Pasionis (=CP), Serikat Maria Monfortan (=SMM), Ordo Hamba-hamba Maria (=OSM),

Kelompok bruder/frater O.Carm, ALMA Putra, Bunda Hati Kudus (=BHK), Budi Mulia (=BM).

Kelompok biarawati yang berkarya di keuskupan Malang adalah para suster Abdi Kristus (=AK), ALMA Putri, Congregatio Imitationis Jesu (=CIJ), Congregatio Passionis (=CP), Hermanas Carmelitas (=H.Carm), Hati Kudus (=HK), Kongregasi Fransiskanes Sambas (=KFS), Kongregasi Suster Cinta Kasih dari Yesus Maria (=KYM), Misericordia (=Misc.), Karmelites (=O.Carm), Ordo Sancti Augustini (=OSA), Ursulin (=OSU), Sang Timur (=PIJ), Putri Kasih (=PK), Putri Karmel (=P.Karm), St. Perawan Maria (=SPM), Abdi Roh Kudus (=SSpS).


[1] Melangkah Bersama: Kenangan perpisahan dengan Uskup Malang Mgr. F.X. Hadisumarto, O. Carm, hlm. 11.

[2] AAS 81 (1989), hlm. 1181.

[3] Massa juga membakar gedung pengadilan negeri. Kerusuhan sehari itu meluas di lima kecamatan. Terdapat beberapa korban jiwa. Terhitung ada 24 gereja dibakar: di Situbondo menimpa 8 gereja, 3 Sekolah, 1 susteran, 1 panti asuhan; di Panarukan: 2 gereja; di Besuki: 4 gereja dan 1 klenteng Budha; di Asembagus: 3 gereja; di Banyu Putih: 7 gereja.

 

[4] Alur pikir bagian ini diambil dari: Berita KWI, BKM 32 No. 5 (2005) 510-514.

[5] Surat gembala Paskah 2003: Bangkit bersama Kristus untuk mengembangkan budaya hidup bersama.

[6] Pesan Natal bersama PGI dan KWI 2005: Janganlah takut sebab aku menyertai engkau (Yes 41:10a).

[7]Seruan KWI pada hari Natal 2000 mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan berikut: bahwa kekuatan besar, terorganisir yang memiliki jaringan maupun kekuatan finansial cukup besar ada dibalik peristiwa-peristiwa yang ada, bahwa sedang ada kekuatan yang ingin mencari keuntungan dengan cara memprovokasi agar terjadi konflik horizontal.

[8] Nota Pastoral KWI 2004, butir 12

[9] Nota Pastoral KWI 2004, butir 13

[10] Nota Pastoral KWI 2004, butir 14

[11] Misalnya: tidak memecahkan persoalan karena cari aman, mental instan, cari enak dan selamat, merasa tidak berdaya karena minoritas, pemisahan antara sakral-profan rohani-sekuler, lebih banyak mengkritik daripada berbuat, sombong, lebih banyak memperjuangkan agama dan lebih banya omong daripada hidup beriman. Hasil SAGKI 2005, Bangkit dan Bergeraklah, butir 8.

[12] Ketidakadaban publik dalam tiga poros, yakni: Badan Publik, Pasar, dan Masyarakat. Gereja tidak selalu menunjukkan komitmen jelas. Karenanya, dimaknai sebagai juga gerakan pertobatan internal Gereja. Hasil SAGKI 2005, Bangkit dan Bergeraklah, butir 7.

[13] Siapa saja yang juga mencintai bangsa kita: mereka yang selama ini telah bekerja tekun, jujur, bertanggung jawab dan berdisiplin. Surat Gembala pada akhir sidang KWI 2004: Tuhan tetap mencintai bangsa kita.

[14] Waligereja Indonesia, Menindaklanjuti SAGKI 2005, butir 4.

[15] Hasil SAGKI 2005, Bangkit dan Bergeraklah, butir 8.

[16] Nota Pastoral KWI 2004, butir 21.

[17] Bdk. PO 5. KHK 1983 kan 787 menggambarkan garis besar karya mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *