Memoria Passionis sebagai jantung hidup dan karya Bagi GEREJA

Peringatan 70 tahun Passionis di Indonesia dan 25 tahun berdirinya Biara Beato Pius Campidelli di Keuskupan Malang

 

Pada tanggal 19 Oktober 2016 pukul 17.00 kapela Rubiah Passionis dipenuhi dengan para Imam dari passionis yang akan mengikuti Misa peringatan 70 tahun Passionis di Indonesia, para Imam CP yang telah menyelesaikan rekoleksi dan pertemuan bersama ikut berarak bersama Bapak uskup Mgr Henricus Pidyarto,O.Carm memasuki Kapela Biara Rubiah Passionis. Tema yang diambil dalam pesta Ulang tahun ini  adalah memoria Passionis sebagai jantung hidup dan karya  mengingatkan kembali akan misi awal passionis masuk dan berkarya di Indonesia.

Pada tahun 1946 tepatnya pada tanggal 18 Juni tiga Misionaris dari Belanda dibawah naungan Provinsi Passionis Mater Sancta Spei datang di kabupaten Ketapang Kalimantan, disanalah Misi awal passionis di Indonesia dimulai oleh ketiga Misionaris itu adalah  : Pater Canisius Pijnapples, CP ; Pater Bernardinus Knipenberg,CP dan Pater Plecelmus Dullaert,CP.

Pada tahun-tahun tersebut pergolakan Politik Indonesia yang kurang sehat dan tidak memungkinkan dalam pelayanan para Missionaris sehingga pengiriman missionaris dari Belanda dihentikan. Akhirnya Mgr Gabriel Sillekens,CP sebagai Prefektur Apostolik Ketapang menghubungi Provinsial Roma untuk memohon Bantuan tenaga Missionaris. Pada tanggal 18 April 1961 Provinsi Italia mengirimkan Pater Marcello di Pietro,CP dan Pater Cornelio Serafini,CP sebagai Missionaris untuk Ketapang. Dalam perjalanan waktu selama empat periode  sebagai Vikariat, pada tanggal 4 November 2002 Vikariat Regional Provinsi diangkat sebagai Vikariat Regional Provinsi dan Pater Sabinus Lohin,CP sebagai Vice Provinsial Pertama. Keuskupan Malang dalam perjalanan waktu pelayanan di Indonesia juga mendapatkan tempat di hati para passionis, pada tahun 1981 didirikan Biara Beato Pius Campidelli dan 25 tahun yang lalu pembinaan demi pembinaan lahir di desa Bandulan ini berdiri juga Biara Rubiah yang manjadi biara pendoa dan pertapa.

Bapak Uskup Mgr. Henricus Pidyarto, O.Carm sebagai Pimpinan Keuskupan Malang  memberikan Pesan dalam Homilinya bahwa menjadi Imam yang baik adalah jika semua Imam mau bekerja dan berjuang membela kaum yang lemah mau berkarya mengembangkan Gereja Kudus Allah sampai ke pelosok ke sudut-sudut desa sehingga banyak Manusia dapat terselamatkan, Juga Bapak uskup mengucapkan terima kasih atas pelayanan para Imam Passionis dalam membantu karya gereja di Keuskupan Malang.

Profisiat buat para Romo, Suster, Bruder dan Frater keluarga besar passionis atas 70 tahun karya pelayanan di Indonesia dan 25 tahun karya di Keuskupan Malang ini. Tuhan Memberkati

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *