Pertemuan tahunan rutin yang selalu dilaksanakn setiap tahun setelah Bapak Uskup mengikuti sidang tahuunan KWI. Pertemuan ini dilaksanakan sebagai bagian karya gereja dalam mengemban tugas penggembalaan di keuskupan Malang. Pelayanan-pelayanan semua Imam DPP dan komisi-komisi se keuskupan Malang dilaporkan bersama sebagai bentuk evaluasi atas segala kegiatan-kegiatan yang sudah dan yang akan dikerjakan ke depan. Dalam pembukaan pertemuan tahunan ini Mgr. Henricus Pidyarto membukanya dengan memberikan oleh-oleh sidang KWI 2019

Bapak Uskup membuka dengan salam  bertemu kembali setelah pertemuan keuskupan sebelumnya satu tahun lalu.Tidak hanya pertemuan, tapi juga doa-doa agar langkah-langkah serta pertemuan yang dibahas menjadi konkret dan terlaksana di Keuskupan Malang. oleh-oleh sidang KWI 4-14 November yang dibuka di Bandung dan ditutup di Jakarta.  Dengan tema: “Persaudaraan Manusiawi untuk Perdamaian Dunia”, Dokumen Abu Dhabi yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam besar Al-Azhar Ahmad Al Tayeb. Dokumen ini adalah bahan studi para bapak uskup yang mengikuti suidang.

  • Undangan pertama adalah KH. Nasraludin Umar, Imam Agung Masjid Istiqlal Jakarta Hal-hal yang disampaikan adalah: konflik, korupsi, ekstremisme, dekadensi moral Beliau juga menyampaikan apa yang mendorong Paus dan Imam Al-Azhar bertemu dan membuat dokumen. Tujuannya adalah memperkokoh persatuan umat lintas agama. Saat ad limina juga dibicarakan dan disampaikan langsung oleh bapa Suci, latar belakang lainnya adalah terorisme. Agama adalah sumber persatuan dan rahmat bagi dunia. Maka perlu dilaksanakan tradisi cinta damai, mengutamakan hak asasi dan membudayakan dialog. Ada kisah pengalaman beliau bertemu dan menumpang tinggal dengan seorang pejabat tinggi Gereja di Amerika. Intinya adalah persahabatan yang dijalin di luar hal formal serigkali berdampak besar. Sangat pentinglah dialog hidup, menjalin persahabatan dengan siapapun.
  • Pembicara berikutnya adalah Mgr. Christophorus Tri Harsono Uskup Keuskupan Purwokerto memberikan inti dari dokumen yang bersejarah ini. Imam Al-Azhar sekalipun tidak seperti Paus tapi sangat disegani oleh umat Islam. Pembelaan martabat manusia, itulah yang menjadi sangat penting. Agama tidak boleh menjadi penghasut kebencian, perang, kekerasan. Salah satu yang menarik dari dokumen ini ialah menyebut keluarga sebagai elemen penting yang menciptakan dialog. Karena keluarga adalah pangkal terkecil hidup bermasyarakat. Betapa penting keluarga dalam penanaman nilai-nilai kekeluargaan. Mgr. Christophorus Tri Harsono yang ahli di bidang Islam dan Alquran memberi beberapa catatan: semoga dokumen ini sampai ke masing-masing agama, dan semua pemimpin negara dan dunia yang berpengaruh.

Rencana tindak  lanjut KWI:

  • Keuskupan menyosialisasikan dokumen persaudaraan insani sehingga diketahui dan dihayati oleh umat di tingkat angkar rumput dan tingkat lebih lanjut.
  • Keuskupan mendorong pastor dan umat berjejaring dengan kelompok pluralis dan nasionalis: Gusdurian (salah satu narasumber Anissa Wahid)
  • Gereja Katolik menjadi promotor dan inisiator persaudaraan insani, serta kerja sama dialogal dengan umat agama lain. Mulai dari keuskupan, paroki hingga lingkungan.
  • Rumpun kemasyarakatan dan dokpen KWI bekerja sama dengan Prof. Nasarudin dan Quraish Shihab membuat dokumen ‘Abu Dhabi’ ini dengan menyertakan juga komentar dari perwakilan masing-masing agama.
  • Sidang dilanjutkan dengan melihat terorisme di Indonesia oleh Prof. Ridwan dari Bandung. Data-data terrorisme disampaikan cukup rumit. Intinya adalah kita perlu bekerja sama untuk meredam sikap intoleransi. Intoleransi menumbuhkan radikalisme, dan radikalisme membuahkan terorisme. Kita harus all out untuk melawan sikap-sikap intoleran yang telah ditanamkan sejak dini. Allisa Wahid putri Gus Dur juga menyampaikan semua Insan harus mau Membangun Persaudaraan Insani Anak Gusdur yang aktif dalam kelompok Gusdurian dan kelompok lintas agama yang melesatarikan nilai-nilai Gusdu giat membangun persaudaraan insani. Allisa berkata jujur merasa sangat aman berada tinggal di antara para uskup dari pada diluar bersama para pejabat

Intinya para uskup menganjurkan kita untuk bekerja sama dalam membangun dialog dengan kelompok-kelompok terbuka agar Gereja dapat menyebarkan pesan kasih damai. Sangat dianjurkan inti dokumen ini dibacakan baik di paroki (pesan pra-misa) atau saat pertemuan lingkungan. Inilah inti studi para uskup yang telah dikristalisasikan.

Itulah oleh-oleh yang disampaikan Mgr. Henricus Pidyarto dalam pertemuan tahunan kali ini, sebagai bahan refleksi semua peserta pertemuan dalam berdiskusi dan bapak Uskup meminta kepada komisi-komisi yang ada di Keuskupan Malang untuk bekerja sama antar komisi dan bisa berjalan baik. Kerjasama dalam pelayanan dan kegiatan menjadikan Komisi-komisi bisa berjalan bersama dalam melakukan semua karya . Komisi yang belum ada adalah Komisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Baik juga keuskupan memiliki komisi Perlindungan Anak seperti keuskupan Surabaya yang sudah ada.

Rapat tahunan keuskupan ini dilanjutkan dengan laporan masing-masing komisi sebagai bahan diskusi bersama, selanjutnya setelah semua Komisi melaporkan karya dan kegiatannya selama satu tahun  semua peserta diajak untuk mendalami dan meikirkan bersama karya-karya gereja Keuskupan Malang kedepan, agar semua bisa seiring sejalan dalam melaksanakan tujuan mulia yaitu membawa keuskupan malang yang semakin INJILI. Visi Misi keuskupan Malang juga sebagai bahan dalam tiap-tiap bidang untuk mendalami dan menyempurkan karya-karya yang sudah ada dan kedepan untuk semakin menjadi Geerja keuskupan Malang yang INJILI.

Penutup pertemuan diakhiri oleh laporan-2 oleh Kuria mulai dari EKONOM yang menjelaskan tentang keuangan keuskupan dan dilanjutkan oleh UGT yang menjelaskan tentang urusan-urusan tanah-tanah dan pengurusan surat-surat balik nama yang sudah bisa diselesaikan. Terakhir dari sekretariat yang melaporkan tentang BIDUK mulai pelatihan sampai peresmian Keuskupan Malang bergabung dalam Biduk Nusantara. Dan pada Siang hari pukul 12.00 Bapak uskup menutup acara pertemuan tahunan Keuskupan Malang dengan misa kudus dan melantik 32 anggota Dewan Pastoral Keuskupan Malang periode 2019-2022. Profisiat kepada pastor paroki anggota DPP dan anggota Dewan Pastoral Keuskupan yang sudah menyelesaikan pertemuan Tahunan Keuskupan Malang dengan lancar dan aman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here