Di Kota Malang beberapa bulan ini menggalakan pertemuan para tokoh Agama dan para Ulama karena sering terjadi banjir dan banyaknya wabah penyakit. Masalah kerusakan lingkungan, tumpukan sampah, hingga banjir di Kota Malang menjadi perhatian serius masyarakat. Dari pihak Katolik selalu mengutus pastor dan beberapa umat dari perwakilan Paroki-paroki di kota malang. Dari umat Katolik menjelaskan bahwa di wilayah Kota Malang dan Keuskupan Malang ( se Jawa Timur) selama tiga tahun terakhir tengah melakukan gerakan pertobatan ekologi. Di antaranya, dengan mengurangi konsumsi minuman kemasan plastik.

Ketua Dewan Paroki Gereja Katedral Ijen Malang  Nugroho Sugiwijono sebagai salah satu utusan dari keuskupan malang mengungkapkan, gerakan pertobatan ekologi itu merupakan upaya menjaga kelestarian bumi. “Kami berusaha agar bumi ini menjadi rumah bersama sehingga tidak hanya dieksploitasi, tapi juga diperbaiki. Kami berusaha agar mengurangi sampah, mengurangi pemakaian air, mengurangi plastik yang hancurnya bisa sampai ratusan tahun,” ungkapnya.

Tiga tahun terakhir, seluruh umat Katolik di Indonesia turut melakukan gerakan ekologis tersebut. “Ada surat dari Paus dan dilakukan oleh umat di Indonesia. Di gereja-gereja kami imbau begitu. Kalau rapat-rapat itu malah disediakan minum kemasan plastik, tetapi umat membawa botol dari rumah,” ujarnya di sela-sela kegiatan Silaturahmi Wali Kota Malang Bersama Tokoh Agama pada tanggal11/4/2019 di ruang sidang Balai Kota Malang.

Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Malang Sutiaji sempat menunjukkan gambaran permasalahan lingkungan di kota pendidikan itu. Misalnya kejadian-kejadian banjir, hingga tumpukan sampah yang menyumbat drainase.

Tentu sangat memprihatinkan. Maka, di Malang juga begitu kami lakukan pertobatan ekologi. Lalu di rumah-rumah membuat biopori. Yang dulunya usaha lemper pakai plastik, sekarang pakai daun lagi,”

Dia mengakui, kebiasaan mengurangi penggunaan plastik masih belum bisa dilakukan secara masif. “Kita akan berusaha melakukan pendidikan ke umat. Belum 100 persen tapi terus dilakukan. Ini contohnya, umat kita tidak minum dari kemasan gelas plastik tapi bawa botol sendiri. Saya juga bawa botol di mobil yang saya isi ulang,” urainya.

Gerakan tersebut juga diapresiasi Wali Kota Malang Sutiaji. Meski populasi umat Katolik di Malang tidak mendominasi, tetapi kelompok-kelompok yang memiliki kesadaran lingkungan akan berdampak positif. “Ini di lingkungan umat Katolik sudah ada soal pertobatan ekologi. Saya kira agama-agama lain juga sama. Islam juga,” tuturnya.

Sutiaji pun mengajak tokoh-tokoh agama untuk mengajak umat lebih peduli pada lingkungan. “Agama pun memerintahkan agar menjaga kebersihan, menjaga lingkungan. Semangat ini bisa dibangun dengan mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai key people untuk menggerakkan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here