Sidang KWI 2016

Foto bersama para Uskup KWI dengan Mgr. Antonio Guido Filipazzi (Duta Besar Vatikan untuk Indonesia), Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Ketua PGI) dan Bapak Eusabius Binsasi (Dirjen Bimas Katolik) dalam Sidang Tahunan KWI 2016 (Foto: Yohanes Indra/Dokpen KWI).

Pembukaan Sidang KWI 2016:  Membedah dan Mencegah Mentalitas Serta Perilaku Koruptif

Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya awal November merupakan  hari-hari para Uskup Gereja Katolik Indonesia bertemu dalam sebuah perhelatan yang disebut Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tahun ini gelaran Sidang Tahunan KWI ini berlangsung dari 31 Oktober sampai 10 November 2016 bertempat di Aula KWI, Jalan Cut Meutia. Sidang ini dihadiri oleh 37 Uskup se-Indonesia atau yang mewakilinya dan beberapa Uskup Emeritus, antara lain Yulius Kardinal Darmaatmaja SJ, Mgr. Michael Angkur OFM, dan lain-lain. Selain itu hadir juga Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, Direktur Jenderal Bimas Katolik Kementerian Agama RI Bp. Eusebius Binsasi,  Ketua PGI Pdt Henriette T. H – Lebang , para sekretaris Komisi, Lembaga, Sekretariat dan Departemen d lingkungan KWI, wakil UNIO, wakil KOPTARI dan para tamu undangan lainnya.

Sidang diawali dengan ibadat pagi yang dipimpin oleh Mgr. Nico Adi, Uskup Keuskupan Agung Merauke dengan menyanyikan Veni Creator Spiritus. Setelah ibadat selesai para peserta diminta untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dalam kata sambutannya Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo menyapa semua yang hadir pada pembukaan Sidang Tahunan KWI. Beliau juga mengajak semua yang hadir agar perjumpaan dan pengalaman akan Allah Maharahim dapat membuahkan kegembiraan yang tidak akan pernah luntur.  Dengan kegembiraan ini bisa mengikuti ajakan Paus Fransiskus untuk mengawali “cara baru” evangelisasi yang ditandai sukacita seraya menunjukkan jalan baru bagi perjalanan Gereja Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Sementara itu Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Ibu Pdt. Henriette T.H – Lebang menyatakan bahwa undangan menghadiri pembukaan Sidang Tahunan KWI tahun ini merupakan ajakan untuk semakin mewujudnyatakan persaudaraan dan persatuan dalam Yesus Kristus dan persatuan umat Kristiani untuk mewartakan Injil perdamaian di tengah situasi dunia dan masyarakat Indonesia yang dikuasai oleh ketakutan, kecurigaan dan permusuhan yang satu terhadap yang lain.

Pdt. Henriette juga merasa tersentuh dan terharu oleh kesediaan dan kebesaran hati oleh Paus Fransiskus untuk menghadiri undangan dari Lutheran World Federation pada ibadah peringatan 500 tahun reformasi yang melahirkan Gereja Protestan. Menurutnya, kehadiran Paus menjadi langkah untuk mengupayakan rekonsiliasi demi meningkatkan hubungan dan kerja sama dengan agama-agama lain di dunia bagi kesejahteraan seluruh ciptan Allah. “Inilah keteladanan beliau bagi kita dalam upaya meneladani Yesus Kristus. Kata-kata beliau  ‘I ask you all to please pray that my journey to Sweden may  contribute  the unity of all Christian’,  sangat mengesankan.  ‘Let us abandon of the language of condemnation and embrace one of mercy’, sangat menggugah banyak orang,” demikian paparnya

Maka, Ketua PGI ini juga mengharapkan agar KWI dan PGI bisa mengupayakan kerja sama dan membuat program-program yang bisa menyejahterakan umat bersama. Beliau juga mengimbau agar para pemuka agama Kristiani bisa menjadi teladan untuk menjauhi sikap permusuhan dan memfitnah serta berjalan bersama untuk mencari cara mengatasi mentalitas koruptif,  belajar menghidupi rahmat Allah yang merangkul semua orang apa pun latar belakangnya dan merawat seluruh ciptaan.

Sementara itu, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI Eusebius Binsasi mengharapkan agar pertemuan tahunan para Uskup ini bisa mendorong semua pihak sesuai dengan fungsi dan peranannya masing-masing untuk mengembangkan iman keluarga dalam masyarakat plural yang terus berubah. Diharapkan fondasi iman yang kuat akan membuat orang tahan terhadap  tekanan perubahan zaman atau perubahan sosial yang begitu kuat.

“Dengan kerja sama yang erat antara Pemerintah dan Gereja Katolik akan semakin membuat umat Katolik maju dan mandiri dalam melaksanakan tugas dan perannya untuk mencapai cita-cita mulia yaitu terwujudnya  100% Katolik dan 100% pancasilais,” demikian pungkasnya di akhir sambutannya.

Sedangkan Duta Besar Takhta Suci untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, mengingatkan pentingnya Sakramen Rekonsiliasi karena sakramen ini menjadi sarana bagi umat Katolik untuk menerima rahmat kerahiman Allah. Para Uskup sebagai gembala utama di keuskupannya diimbau untuk dapat mempromosikan Sakramen Rekonsiliasi dan menimbulkan kesadaran dan komitmen tentang pentingnya sakramen ini bagi setiap orang Kristiani.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang muda Katolik membutuhkan tempat untuk mengungkapkan iman dan kegembiraan mereka. Maka dibuatlah acara youth day di setiap tingkat, yakni: World Youth Day di tingkat dunia, Asian Youth Day di tingkat regional maupun Indonesian Youth Day di tingkat lokal yang baru-baru ini diselenggarakan di Manado. Pada  2018 juga diselenggarakan sidang umum biasa sinode para uskup dengan tema kaum muda, iman dan discernment panggilan.  Semua kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pewartaan iman kepada generasi muda serta mempromosikan panggilan khusus kepada mereka. Mgr. Antonio Filipazzi menyadari bahwa “Tidaklah mudah membantu orang muda Katolik  zaman sekarang untuk menghayati baptisan mereka dalam dunia dan menanggapi panggilan dengan penuh kesediaan.” Maka, perlulah meningkatkan pastoral kaum muda dan promosi panggilan melalui berbagai bidang: keluarga, katekese, liturgi, karya sosial, keluarga, dan lain-lain.

Selain itu, menurutnya ada 3 hal yang perlu tetap diperhatikan oleh para Uskup dalam pelayanan mereka sebagaimana diamanatkan Paus Fransiskus dalam pertemuan  Evangelisasi Bangsa-Bangsa, yakni:

  1. Mencari cara baru untuk evangelisasi.
  2. Memberi perhatian pada persiapan calon imam selama di seminari, memperhatikan para imam sesudah pentahbisan melalui bina lanjut, memberikan teladan konkret dan nyata kepada para imam.
  3. Menjaga dengan penuh perhatian agar karya evangelisasi tidak terbengkalai dan menjadi sia-sia karena adanya perpecahan .

Sumber  Data dari DOKPEN KWI  2016

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *