SURAT GEMBALA PRAPASKAH  2015

K E U S K U P A N  M A L A N G

Keluarga SEHAT akan mewujudkan GEREJA yang KUAT”

(Luk 4 : 18-19)

 

 

Saudara-saudari

Segenap Umat Beriman

Para Imam, Biarawan dan Biarawati

di seluruh Wilayah Keuskupan Malang terkasih,

 

Pengantar

Sebagai Gereja Keuskupan Malang kita bersama-sama memasuki masa Prapaskah. Prapaskah adalah saat untuk mewujudkan secara nyata puasa, pantang dan derma dalam perbagai bentuk kegiatan yang membangun masyarakat yang secara nyata membawa dampak kesejahteraan banyak orang. Sehingga gerakan masa puasa tidak hanya berhenti pada kegiatan liturgis melainkan sampai pada gerakan sosial yang nyata.

Tema APP Nasional 2015 adalah “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” dan penekanan gerakan APP Keuskupan Malang adalah membangun Keluarga Sehat untuk mencapai Gereja yang kuat. Hal ini berarti melakukan kegiatan olah rohani dan jasmani yang teratur, terus menerus dan seimbang dalam mencapai pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Kesehatan dimengerti sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif dan kreatif seturut hidup kristiani. Situasi dan kondisi seperti ini yang membuat manusia mempunyai daya hidup untuk memberdayakan segala sesuatu dengan maksimal, baik yang dimilikinya maupun lingkungan hidupnya demi mewujudkan kesejahteraan bersama.

Saudara dan saudari yang terkasih, segenap umat Keuskupan Malang yang tercinta, mewujudkan kesejahteraan bersama dalam gerakan APP menjadi kuat kalau dimulai dari fondasi Gereja yang pertama dan utama yaitu Keluarga. Gerakan bersama mewujudkan kesejahteraan tidak ada gunanya kalau sel kebersamaan yaitu keluarga dilalaikan. Keluarga sebagai kekuatan Gereja membutuhkan hal-hal atau nutrisi yang menjadikan dirinya sehat sehingga Gereja menjadi kuat.

 

Menumbuh kembangkan keluarga yang sehat

Kesadaran bahwa keluarga merupakan fondasi Gereja mengingatkan kita akan refleksi teologis dalam pertemuan keluarga sedunia. Menegaskan bahwa membangun keluarga yang sehat harus diletakkan pada  kerangka pikir himbauan Gereja kepada keluarga-keluarga untuk kembali pada jatidirinya sendiri dan tugas perutusannya. “Keluarga, jadilah sebagaimana seharusnya!” Demikian himbauan Paus Yohanes Paulus II beberapa puluh tahun yang lalu melalui Himbauan apostoliknya Familiaris Consortio. Sebagai pendidik dan sekolah nilai-nilai kemanusiaan dan iman, keluarga harus membangun kerjasama dengan komunitas sekolah, Negara, dan Gereja. Tiga lembaga itu menurut kodratnya, juga mempunyai tugas dan tanggungjawab memberikan pendidikan kepada anak-anak. Tetapi pelaksanaan tugas dan hak ketiga lembaga itu bersifat kontributif. Karena orangtua adalah pendidik yang utama dan pertama bagi anak-anak.

Mensikapi himbauan Familiaris Consortio dan sekaligus menegaskan arah gerakan APP Keuskupan Malang, khususnya para orang tua memiliki tanggungjawab untuk membina dan menumbuhkan keluarga yang sehat. Sehat di sini bukan sekedar tercukupi kebutuhan jasmani melainkan keluarga juga disempurnakan dengan pemahaman nilai-nilai luhur iman kristiani untuk dihayati dalam kehidupannya. Menumbuh kembangkan kesehatan iman kristiani dalam arti sejatinya adalah bagaimana nilai-nilai iman ditanamkan dan menjadi kesadaran hidup keluarga. Baik nilai spiritualitas (iman, harap dan kasih) maupun nilai moral sosial (keadilan, kebenaran, kedamaian dsb). Kesadaran bahwa keluhuran martabat perkawinan dan jalan kesucian orang tua, ibu dan bapak tidak lain adalah keberanian membentuk jiwa anak-anaknya dalam Kristus dengan menanamkan nilai-nilai iman kristiani dengan benar dan tegas. Khususnya pada situasi di mana tata nilai dan martabat keluhuran manusia sangat subyektif sekali. Penegasan bahwa orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anak dalam kehidupan iman dan moral bukanlah suatu pengajaran yang tanpa dasar. Dasar-dasar tersebut dapat kita temukan dalam Kitab Suci dan beberapa ajaran Gereja.

 

Gereja sebagai Kegembiraan dan Harapan terwujud melalui Keluarga

Saat puasa atau masa Prapaskah sebagai suatu gerakan harus dipahami sebagai persiapan untuk mencapai puncak pengalaman iman kita yaitu Paskah. Paskah tidak berhenti pada persoalan liturgi Paskah melainkan bagaimana kita mengalami sebuah peristiwa kebangkitan. Kebangkitan karena kita menang atas segala peristiwa kehidupan yang sering membelenggu kita untuk bangkit dari kematian. Sehingga tanggungjawab dan buah-buah puasa dan pantang harus tampak dan dirasakan oleh banyak orang. Hal ini bisa kita upayakan dalam gerakan untuk mewujudkan lima pilar sebagai tanggungjawab misi dan perutusan agar Gereja semakin kuat dan menjadi berkat bagi masyarakat. Gerakan keluarga sehat dalam iman kita wujudkan dalam proses menghidupi lima pilar Gereja yaitu:

 

a. Persekutuan (Koinonia)

Keluarga adalah ‘persekutuan seluruh hidup’ (consortium totius vitae) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan berlandaskan perjanjian antara kedua belah pihak dan diteguhkan melalui kesepakatan perkawinan. Persekutuan antara mereka berdua diperluas dengan  kehadiran anak-anak dan keluarga besar. Ciri pokok dari persekutuan  tersebut adalah hidup bersama berdasarkan iman dan cinta kasih serta kesediaan untuk saling mengembangkan pribadi satu sama lain. Persekutuan dalam keluarga diwujudkan dengan menciptakan saat-saat bersama, doa bersama, kesetiaan dalam suka dan duka, untung dan malang, ketika sehat dan sakit.

 

b. Liturgi (Leiturgia)

Kepenuhan hidup Katolik tercapai dalam sakramen- sakramen dan hidup doa. Melalui sakramen-sakramen dan hidup doa, keluarga bertemu dan berdialog dengan Allah. Dengannya mereka dikuduskan dan menguduskan jemaat gerejawi serta dunia. Relasi antara Kristus dengan Gereja terwujud nyata dalam Sakramen Perkawinan, yang menjadi dasar panggilan dan tugas perutusan suami-istri. Suami-istri mempunyai tanggung jawab membangun kesejahteraan rohani dan jasmani keluarganya, dengan doa dan karya. Doa keluarga yang dilakukan setiap hari dengan setia akan memberi kekuatan iman dalam hidup mereka, terutama ketika mereka sedang menghadapi dan mengalami persoalan sulit dan berat, dan membuahkan berkat rohani, yaitu relasi yang mesra dengan Allah.

 

c. Pewartaan Injil (Kerygma)

Karena keluarga merupakan Gereja Rumah Tangga, keluarga mengambil bagian dalam tugas Gereja untuk mewartakan Injil. Tugas itu dilaksanakan terutama dengan mendengarkan, menghayati, melaksanakan, dan mewartakan Sabda Allah. Dari hari ke hari mereka semakin berkembang sebagai persekutuan yang hidup dan dikuduskan  oleh Sabda. “Keluarga, seperti Gereja, harus menjadi tempat Injil disalurkan dan memancarkan sinarnya. Dalam keluarga, yang menyadari tugas perutusan itu, semua anggota mewartakan dan menerima pewartaan Injil. Orang tua tidak sekedar menyampaikan Injil kepada anak-anak mereka, melainkan dari anak-anak mereka sendiri, mereka dapat menerima Injil itu juga, dalam bentuk penghayatan mereka yang mendalam. Dan keluarga seperti itu menjadi pewarta Injil bagi banyak keluarga lain dan bagi lingkungan di sekitarnya.” (Paus Paulus VI, Himbauan Apostolik, “Evangelii Nuntiandi“, EN, 71). Sabda Allah itu termuat dalam Kitab Suci, yang tidak selalu mudah dipahami, maka keluarga sebaiknya ikut mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan- kegiatan pendalaman Kitab Suci.

 

d. Pelayanan (Diakonia)

Keluarga merupakan persekutuan cinta kasih, maka keluarga dipanggil untuk mengamalkan cinta kasih itu melalui pengabdiannya kepada sesama, terutama bagi mereka yang papa. Dijiwai oleh cinta kasih dan semangat pelayanan, keluarga katolik menyediakan diri untuk melayani setiap orang sebagai pribadi dan anak Allah. Pelayanan keluarga hendaknya bertujuan memberdayakan mereka yang dilayani, sehingga mereka dapat mandiri.

 

e. Kesaksian Iman (Martyria)

Keluarga hendaknya berani memberi kesaksian imannya dengan perkataan maupun tindakan serta siap menanggung resiko yang muncul dari imannya itu. Kesaksian iman itu dilakukan dengan berani menyuarakan kebenaran, bersikap kritis terhadap berbagai ketidakadilan dan tindak kekerasan yang merendahkan martabat manusia serta merugikan masyarakat umum.”

 

Saudara dan saudari yang terkasih, segenap umat Keuskupan Malang yang tercinta. Ketika lima pilar Gereja dihidupi di dalam keluarga dengan baik dan benar maka Gereja sebagai perwujudan misi Kristus dalam membangun budaya pertobatan juga akan semakin nyata.  Berkenaan dengan hal tersebut mari kita manfaatkan kesempatan masa puasa ini untuk mengembangkan hidup gerejani agar melalui lima pilar ini kita semakin mampu menyapa kehidupan dan membawa rahmat penebusan. Selamat memasuki masa puasa, Tuhan senantiasa memberkati usaha-usaha baik segenap umat Keuskupan Malang.

Selamat memasuki Masa Puasa Prapaskah dengan hati terbuka. Tuhan memberkati.

Malang, 6 Februari 2015

Peringatan St. Paulus Miki dan kawan-kawan – Martir

 

Msgr. Herman Joseph Pandoyoputro O. Carm

Mohon dibacakan di Gereja-gereja Paroki, Kapel semi publik di seluruh wilayah Keuskupan Malang pada Rabu Abu dan misa Minggu Prapaskah I tanggal 21-22 Februari  2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here