SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2019

Saudara-saudari,

Segenap Umat Beriman,

Para Imam, Biarawan dan Biarawati,

di seluruh Wilayah Keuskupan Malang yang terkasih dalam Kristus.

Setiap tahun kita merayakan hari raya Paskah, yakni hari kebangkitan Yesus Kristus, hari kemenangan-Nya atas dosa dan kematian. Kita sungguh berharap, dengan merayakan Paskah, kita pun – dalam persatuan dengan Kristus — mampu mengalahkan dosa dan kematian. Untuk itu Gereja menyiapkan hati kita dengan masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari. Dalam masa yang penuh rahmat ini, kita semua, tanpa kecuali, diajak untuk bertobat. Tidak seorang pun bisa berkata, “Saya sudah suci dan sempurna. Saya tidak perlu bertobat lagi.” Sesungguhnya, kita harus bertobat sepanjang hidup kita. Mengapa demikian? Karena Yesus memberi kita perintah ini, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48). Karena kesempurnaan Bapa itu tidak ada batasnya, dan karena kita tidak pernah bisa menyamai kesempurnaan Bapa, maka pertobatan kita itu pun tidak ada batasnya.

Akan tetapi, apakah sesungguhnya arti bertobat? Dari Alkitab, dapat kita simpulkan dua arti pertobatan sebagai berikut. Pertama, bertobat berarti menyadari dosa-dosa yang menjauhkan kita dari Tuhan dan yang mendatangkan hukuman dari-Nya (Yer. 3:13-14). Sesudah itu, kita menyesalinya dan berusaha memperbaiki diri. Dengan demikian kita kembali kepada Tuhan. Itulah pertobatan yang dilakukan oleh anak yang hilang sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas 15. Anak yang durhaka itu telah meninggalkan rumah bapanya dan hidup dalam dosa di negeri orang. Ketika dia jatuh miskin dan sangat menderita, dia menyadari dan menyesali dosanya. Lalu dia memutuskan untuk pulang kepada bapanya, dan memang dia melaksanakan keputusannya itu!

Kedua, bertobat berarti mengubah cara berpikir kita yang sesat. Dalam Injil Bahasa Indonesia, kata “pertobatan” seringkali merupakan terjemahan dari kata Yunani metanoia, yang sebenarnya berarti perubahan cara berpikir. Mengubah cara berpikir itu amat penting, sebab cara berpikir atau mindset yang tidak tepat akan melahirkan perbuatan dan tingkah laku yang tidak tepat pula. Sebagai contoh, jika orang berpendapat bahwa kebahagiaan hanya bisa dialami oleh mereka yang hidup berkecukupan secara materiil, maka dia akan mengejar kekayaan dengan segala macam cara, mungkin termasuk cara yang tidak halal. Untuk mengejar kekayaan, bisa jadi dia mencari jabatan yang mendatangkan banyak uang. Jika perlu, untuk mendapatkan jabatan itu, dia rela meninggalkan agamanya. Karena sibuk mengejar kekayaan, mungkin dia melalaikan keluarga dan sabahat, dan tidak punya banyak waktu untuk berdoa dan melaksanakan kewajiban ibadat. Kalau dia tidak berhasil mengejar kekayaan, alias kalau dia tetap hidup serba kekurangan, dia akan merasa kecewa, bahkan marah kepada Tuhan. Pikiran yang tidak tepat itu perlu dikoreksi dengan sabda Yesus ini, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat 6:20). Sekali lagi perlu ditekankan bahwa bertobat berarti mengubah cara berpikir yang keliru menjadi cara berpikir yang sesuai dengan ajaran Tuhan.

Sekarang pertanyaannya ialah bagaimana kita dapat mengetahui cara berpikir yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Jawabannya ialah dengan mendengarkan Sabda Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Sesungguhnya, Alkitab itu semacam surat cinta yang ditulis Tuhan dari surga kepada kita, anak-anak-Nya. Lewat Alkitab, Tuhan berbicara dengan kita, menyapa kita, mengajak kita untuk membina hubungan mesra dengan-Nya. Lewat Alkitab Tuhan ingin menunjukkan kepada kita rencana agung-Nya bagi kita, dan menuntun kita menuju pemenuhan rencana itu. Dengan memberi kita berbagai ajaran, larangan serta perintah, Tuhan ingin mengarahkan langkah kita di jalan yang benar, di jalan yang menuju Tuhan, di jalan yang membawa kita kepada kehidupan dan kebahagiaan abadi. Itulah sebab kita perlu berdoa seperti pemazmur, “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku” (Mzm 25:4).

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus. Yesus sendiri memberi kita teladan yang indah dalam hal ini. Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar kisah tentang Yesus yang dicobai oleh Iblis di padang gurun. Ada tiga pencobaan. Dalam pencobaan yang pertama, Iblis menggoda Yesus  agar  melenyapkan rasa lapar-Nya dengan mengubah batu menjadi roti. Namun Yesus tidak mau menyalahgunakan kekuasaan-Nya sebagai Anak Allah hanya untuk urusan perut. Allah Bapa tidak menghendaki Yesus menjadi Mesias yang arogan, yang mencari enak-Nya sendiri dan yang menyalahgunakan kekuasaan ilahi-Nya untuk memenuhi keinginan dan kepentingan pribadi. Tidak! Sebaliknya, Allah menghendaki agar Yesus menjadi Mesias yang rendah hati, lemah lembut, hina dina, dan menderita sengsara, bahkan sampai rela wafat di kayu salib. Dari sebab itu, Yesus menolak bujukan Iblis dengan berpegang teguh pada sabda Allah yang berbunyi, “Manusia hidup bukan dari roti saja” (Ul. 8:3). Aslinya, ayat ini dilanjutkan dengan kalimat ini, “tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan.” Kemudian, Iblis menggoda Yesus untuk memiliki harta dan kemuliaan duniawi. Semuanya itu akan diberikan Iblis kepada Yesus, asalkan Yesus mau menyembah dia. Tidak! Allah menghendaki agar Yesus menjadi Mesias rohani, bukan seorang Raja duniawi yang penuh dengan kekayaan dan kemuliaan. Selain itu, hanya Allah yang layak disembah. Maka Yesus menolak bujukan Iblis dengan berpegang teguh pada sabda Allah yang berbunyi, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Ul. 6:13). Pada pencobaan yang ketiga, Iblis menggoda Yesus untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah yang amat tinggi ke bawah dan percaya bahwa Dia tidak akan mati. Iblis memberi alasan palsu dengan mengutip Mzm. 91 mengenai perlindungan yang akan diberikan malaikat Allah kepada orang benar. Namun, Yesus tidak mau mengikuti bujukan Iblis, sebab bagi Yesus menjatuhkan diri dari tempat setinggi itu dan percaya bahwa Tuhan berjanji akan melindungi Dia dari kematian adalah pemahaman keliru tentang janji Tuhan. Bahkan tindakan konyol seperti itu dianggap mencobai Tuhan. Yesus menolak godaan Iblis dengan berpegang teguh pada sabda Allah yang berbunyi, “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”(Ul. 6:16).

Para saudara yang terkasih. Sebagaimana kita lihat tadi, tiga kali Yesus digoda oleh Iblis, tiga kali pula Dia mengalahkan godaan itu dengan berpegang teguh pada sabda Allah. Memang Yesus selalu taat kepada perintah-perintah Bapa-Nya. Dia selalu berjalan menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan melalui kitab suci. Mengikuti teladan Yesus, marilah kita selama masa Prapaskah ini semakin rajin membaca Alkitab. Di dalamnya kita dapat berjumpa dengan Tuhan dan mendengarkan pengajaran-Nya. Sambil membaca kitab suci, marilah kita berdoa bersama pemazmur yang berkata kepada Tuhan, “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari” (Mzm. 25:5). Kiranya Tuhan menganugerahkan kepada kita belas-kasih dan pengampunan yang melimpah selama masa Prapaskah ini. Amin.

                                          Malang, 01 Maret 2019

Msgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm.

Uskup Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here