SURAT GEMBALA PRAPASKAH  2 0 2 0

KEUSKUPAN MALANG

Saudara-saudari, Segenap Umat Beriman,

Para Imam, Biarawan-biarawati, Se-Keuskupan Malang yang terkasih,

Kita baru saja memasuki masa Prapaskah yang disebut juga Masa Puasa. Masa suci ini merupakan masa persiapan untuk merayakan Kebangkitan Yesus. Gereja mengajak kita untuk mati terhadap dosa, lalu bangkit untuk hidup bagi Allah dalam Kristus (Rm 6:11). Selama 40 hari, kita ingin menjalani masa puasa ini sebagai kesempatan untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan memperbaiki diri. Santo Petrus menasihati kita, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8). Karena kita ini manusia lemah, tidak jarang kita menjadi mangsa Iblis. Dengan kata lain, kita sering berbuat dosa. Dari sebab itu, selama masa puasa ini Gereja mengajak kita untuk berjuang melawan bujukan Iblis. Untuk itu ada banyak hal yang bisa kita lakukan.  Pertama-tama, kita perlu banyak doa, agar Tuhan membantu kita yang lemah ini. Kedua, kita perlu menguatkan kehendak kita dengan melakukan puasa, pantang dan bentuk-bentuk matiraga lainnya. Ketiga, kita perlu melakukan karya amal bagi sesama yang berkekurangan sebagai tanda pertobatan kita. Masih ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan, yakni membaca dan merenungkan Sabda Allah. Dalam hal ini, Yesus memberi kita teladan yang cemerlang.

            Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang dicobai Iblis setelah berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun. Pencobaan Yesus ini mengingatkan kita pada pencobaan yang dialami bangsa Israel selama 40 tahun mengembara di padang gurun. Namun, berbeda dengan bangsa Israel yang sering kalah terhadap cobaan Iblis, Yesus selalu menang. Dalam pencobaan yang pertama, ketika Ia merasa amat lapar, Yesus dihasut oleh Iblis untuk mengubah batu menjadi roti.  Tetapi Yesus menolak bujukan itu. Sungguh tidak pada tempatnya menggunakan kekuasaan-Nya sebagai Anak Allah hanya untuk memenuhi rasa lapar-Nya. Yesus menolak godaan Iblis dengan berpegang pada sabda Tuhan yang berbunyi, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Ul 8:3). Sesudah itu, Yesus dihasut oleh Iblis untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah yang amat tinggi dengan suatu alasan yang sepintas lalu tampaknya suci, yaitu janji Tuhan yang berbunyi, “Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” (bdk. Mzm 91).  Dengan tegas Yesus menolak bujukan Iblis dengan mengutip Ul 6:16 yang berbunyi, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Bagi Yesus, melakukan tindakan konyol, yakni menjatuhkan diri dari tempat tinggi, dengan mengandalkan janji perlindungan dari Tuhan sama dengan mencobai Tuhan. Akhirnya, sebagai puncaknya, Iblis berjanji akan memberi Yesus harta dan kemegahan duniawi, asalkan Yesus mau menyembahnya. Sungguh sudah keterlaluan perbuatan Iblis ini. Karena itu Yesus mengusir Iblis dan dengan tegas menolak godaannya mengutip firman Allah dalam Ul 6:13 yang berbunyi, “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”  Tiga kali Yesus dicobai Iblis, tiga kali pula Dia telah menang karena berpegang teguh pada Sabda Allah. Tampak dengan jelas bahwa Yesus mengenal dan menghayati Sabda Allah sehingga mampu mengalahkan setiap godaan Iblis. Bagi Yesus, Sabda Allah itu adalah pedang Roh dalam perang melawan Iblis (Ef 6:17). Bagi Yesus, Sabda Allah adalah pelita bagi kaki-Nya dan cahaya bagi jalan-Nya (Mzm 119:105).

Para Saudara yang terkasih, paus Fransiskus telah menetapkan Hari Minggu Biasa Ketiga sebagai Hari Minggu Sabda Allah. Pada hari itu Gereja ingin mengingatkan kita akan pentingnya peranan Sabda Allah bagi kita. Sesungguhnya membaca kitab suci lebih merupakan suatu kebutuhan daripada suatu kewajiban. Sebagaimana badan kita membutuhkan makanan dan minuman jasmani agar bisa bertahan hidup serta berkembang, begitu juga jiwa kita membutuhkan Sabda Allah yang dalam tradisi Yahudi dilukiskan sebagai roti dan air yang menghidupkan. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Sabda Allah merupakan santapan rohani bagi je­maat yang disejajarkan dengan santapan rohani lainnya, yakni Tubuh dan Darah Tuhan Kristus (Dei Verbum 21dan 26). Gereja Ka­tolik tidak hidup dari Sakramen saja, tetapi juga dari Sabda Allah.

Sesungguhnya dengan mengikuti Ekaristi, kita menimba dari meja Sabda Allah dan dari meja Tubuh dan Darah Kristus kekuatan rohani yang sungguh memupuk jiwa kita (Pres­byterorum Ordinis no.18). Melalui kitab suci, Allah ingin berkomunikasi dengan kita, memberi kita petunjuk-petunjuk yang membawa kita kepada kehidupan. Ketika membaca Alkitab, kita harus percaya bahwa kita tidak hanya bertemu dengan perintah-perintah Allah atau dengan berita-berita tentang Allah, melainkan de­ngan pribadi Allah sendiri. Menurut para Bapak Gereja, Alkitab adalah surat cinta yang ditulis Bapa surgawi kepada kita demi keselamatan kita. Sadar akan makna dan fungsi Sabda Allah bagi manusia, maka Konsili Vatikan II mendesak agar seluruh umat beriman, istimewanya para imam dan biarawan-biarawati, rajin membaca dan merenungkan Sabda Allah yang “menerangi budi, meneguhkan kehendak, dan mengobarkan hati sesama untuk mengasihi Allah” (Dei Verbum 23). Kepada Timotius Paulus menulis demikian, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan me­nun­tun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk men­didik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk perbuatan baik” (2 Tim 3:15-17).

            Selamat memasuki masa Prapaskah. Semoga masa yang penuh rahmat ini membawa kita kepada pertobatan sejati sehingga pada saatnya kita bisa merayakan kebangkitan kita bersama dengan Kristus yang bangkit. Mari kita tingkatkan doa, puasa, pantang, amal kasih serta pembacaan kitab suci selama masa ini. Salam, doa serta berkat kami bagi Anda sekalian.

                                        Malang, 17 Februari 2020

                                       Uskup Keuskupan Malang,

                              Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm.

 

PESAN BAPA SUCI FRANSISKUS  UNTUK PRAPASKAH  2020

“Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu:   berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor 5:20).

Saudara-saudari terkasih,

Pada tahun ini, sekali lagi Tuhan menganugerahi kepada kita saat yang penuh rahmat untuk mempersiapkan diri  merayakan misteri agung wafat dan kebangkitan Yesus dengan hati yang dibarui. Dialah batu penjuru hidup Kristiani baik pribadi maupun komunitas.  Kita harus terus menerus kembali kepada misteri ini di dalam budi dan hati, karena misteri itu akan terus tumbuh di dalam diri kita sejauh kita terbuka pada kekuatan rohani dan menjawabnya  dengan bebas dan murah hati.

  1. Misteri Paskah sebagai dasar pertobatan

Sukacita Kristiani mengalir dari mendengarkan dan menerima Kabar Gembira akan wafat dan kebangkitan Yesus. Kerygma ini merangkum misteri cinta yang “begitu nyata, begitu sejati, dan konkret, yang menawarkan kepada kita sebuah relasi yang penuh dengan dialog yang tulus dan berbuah” (Christus vivit, 117). Siapapun yang percaya akan pesan ini akan menolak kebohongan bahwa hidup kita adalah milik kita sendiri yang dapat diperlakukan semaunya seturut keinginan kita.  Sesungguhnya hidup kita   lahir dari kasih Allah Bapa, dari keinginan-Nya untuk menganugerahkan kelimpahan dalam hidup kita (bdk. Yoh 10:10). Sebaliknya, jika kita mendengar suara yang menggoda dari “bapa segala dusta” (Yoh 8:44), maka kita akan jatuh ke dalam jurang malapetaka  dan mengalami nestapa di bumi ini. Sayangnya, ada begitu banyak pengalaman manusiawi yang tragis ini  dialami  baik  oleh  pribadi  maupun bersama.

Pada masa Prapaskah 2020 ini, saya ingin membagikan kepada setiap orang kristen apa yang saya tulis kepada orang-orang muda di dalam Seruan Apostolik Christus vivit: “Lihatlah tangan Kristus yang terentang disalib, biarkanlah diri kalian untuk diselamatkan terus menerus. Ketika kalian mendekatkan diri untuk mengakui dosa-dosa kalian, sesungguhnya kalian percaya pada belas kasih-Nya yang membebaskan kalian dari rasa bersalah. Renungkanlah darah-Nya yang ditumpahkan dengan penuh kasih sayang dan biarkanlah diri kalian dimurnikan oleh-Nya. Dengan demikian kalian selalu dapat dilahirkan secara baru” (No. 123). Paskah Yesus bukanlah peristiwa  masa lampau,  namun melalui kuasa Roh Kudus pada saat ini juga dan selamanya, kita dimampukan  untuk melihat dan menyentuh dengan iman tubuh Kristus di dalam diri mereka yang menderita.

  1. Kemendesakan pertobatan

Baiklah merenungkan lebih dalam lagi misteri Paskah ini melalui belas kasih Allah yang telah dilimpahkan kepada kita. Sungguh, pengalaman belas kasih hanya mungkin dialami oleh sahabat.  Itulah mengapa doa  begitu penting di masa Prapaskah. Lebih dari sekedar kewajiban, doa adalah pernyataan isi hati terdalam mengenai  kebutuhan kita akan kasih Allah  yang selalu menjadi dasar dan penopang hidup kita. Orang-orang kristen berdoa dalam kesadaran secara nyata   dalam relasi “dari muka ke muka” dengan Tuhan yang disalibkan dan bangkit, yang “mengasihiku dan memberikan diri-Nya bagiku” (Gal 2:20), di dalam sebuah dialog sepenuh hati, kendati tidak layak, kita masih tetap dicintai. Doa dapat diungkapkan dengan berbagai cara, namun hal yang paling penting di mata Allah ialah bahwa doa itu harus keluar dari hati kita, dan  mengenyahkan kekerasan hati kita, sehingga pertobatan kita menjadi  lebih penuh lagi  di hadapan  Allah dan kehendak-Nya.

Pada masa yang penuh rahmat ini, semoga kita membiarkan diri  dipimpin seperti Israel ketika di padang gurun (bdk. Hos 2:14), sehingga kita pada akhirnya mendengarkan suara mempelai dan membiarkannya bergema lebih dalam lagi di dalam lubuk hati kita. Semakin penuh kita dipersatukan dengan Sabda-Nya, maka kita akan semakin   mengalami belas kasih yang Ia berikan kepada kita secara bebas. Semoga kita tidak  menyia-nyiakan waktu berahmat ini berlalu begitu saja dan  berkhayal bahwa kita dapat mengatur waktu dan sarana  pertobatan kita kepada-Nya.

3. Kehendak Allah yang penuh-gairah untuk berdialog dengan anak-anak-Nya.

Pada masa Prapaskah ini, Tuhan sekali lagi memberi  kita waktu yang penuh rahmat untuk pertobatan. Hendaknya hal ini  jangan dianggap remeh. Kesempatan baru ini harus membangkitkan di dalam diri kita rasa syukur dan menyadarkan kita dari kemalasan. Meskipun kehadiran kejahatan terkadang tragis dalam hidup kita, dan dalam kehidupan Gereja dan dunia. Kesempatan  untuk mengubah arah kita ini mengungkapkan bahwa  Allah yang teguh tidak akan memutuskan dialog keselamatan-Nya dengan kita. Dalam diri Yesus yang tersalib, yang tidak mengenal dosa,  telah dibuat-Nya menjadi dosa  karena kita (bdk 2 Kor 5:21). Rencana Penyelamatan ini membiarkan Bapa menanggungkan kepada Putera-Nya beban dosa-dosa kita. Paus Benediktus XVI, mengungkapkannya dengan kata: “Tuhan berbalik melawan diriNya sendiri ” (Deus caritas est, 12). Sebab Allah juga mengasihi musuh-musuh-Nya (bdk. Mat 5:43-48).

Dialog yang Tuhan ingin jalin dengan kita masing-masing melalui misteri Paskah Putra-Nya tidak ada hubungannya dengan obrolan kosong, seperti yang dikaitkan dengan penduduk kuno Athena yang “tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar  segala sesuatu yang baru “ (Kis. 17.21). Perbincangan seperti itu, muncul dari keingintahuan yang sia-sia dan dangkal, yang mencirikan  keduniawian  di setiap zaman.  Di zaman sekarang, Hal seperti itu kadangkala terjadi juga dalam  penggunaan media yang tidak patut.

  1. Kekayaan untuk dibagikan, tidak disimpan untuk diri sendiri

Menempatkan misteri Paskah di tengah kehidupan  berarti kita turut  berbelarasa terhadap luka-luka Kristus tersalib yang tampak di dalam banyak korban tak bersalah  seperti yang terjadi dalam  peperangan, di dalam perlawanan terhadap hak atas kehidupan : mulai dari bayi yang belum lahir sampai pada orang-orang lanjut usia, dan di dalam  berbagai bentuk kekerasan lainnya. Hal tersebut   nampak pula dalam bencana-bencana lingkungan hidup, distribusi sumber kekayaan dunia yang tidak adil  dan merata,  perdagangan manusia dalam segala bentuknya, dan keserakahan yang tak terkendali akan keuntungan, yang merupakan bentuk penyembahan berhala.

Saat ini, ada dorongan  panggilan terhadap semua orang yang berkehendak baik untuk berbagi, dengan berderma dan memberikan  barang-barang milik mereka kepada sesama yang sangat membutuhkannya. Hal tersebut dilakukan sebagai ungkapan  partisipasi pribadi dalam membangun dunia yang lebih baik. Pemberian dengan kasih membuat kita semakin manusiawi, sementara penimbunan harta benda dan kekayaan beresiko membuat kita kurang manusiawi dan terpenjara oleh cinta diri kita sendiri.  Demikian pula kita  harus bisa  bergerak lebih jauh untuk  turut mempertimbangkan aspek-aspek struktural kehidupan ekonomi kita. Dengan alasan itulah, pada pertengahan masa Prapaskah tahun ini, dari tanggal 26 sampai dengan  28 Maret, saya berencana  akan menyelenggarakan pertemuan di Assisi dengan para ekonom muda, enterpreneur dan pelaku-pelaku perubahan, dengan tujuan untuk membentuk ekonomi yang lebih adil dan inklusif. Sebagaimana seringkali ditegaskan oleh Magisterium Gereja, bahwa kehidupan politik mengungkapkan bentuk luhur dari cinta kasih (bdk Pius XI, Arahan kepada Persekutuan Para Mahasiswa Universitas Katolik Italia, 18 Desember 1927). Hal yang sama berlaku pula untuk kehidupan ekonomi  yang bisa didekati   dalam semangat Injili yang sama, yakni  semangat Sabda Bahagia.

Saya mohon kepada Bunda Maria yang amat suci untuk berdoa agar perayaan Masa Prapaskah membuka hati  kita  mendengar panggilan Allah untuk didamaikan dengan diri-Nya, untuk memantapkan pandangan kita kepada misteri Paskah, dan mengarah  kepada dialog yang terbuka dan tulus dengan-Nya. Dengan cara ini, kita akan menjadi  seperti apa  yang diminta oleh Kristus kepada para murid-Nya, yakni menjadi  garam dan terang dunia (bdk. Mat 5:13

Paus Fransiskus

Roma, Basilika St. Yohanes Lateran,