SURAT GEMBALA PRAPASKAH KEUSKUPAN MALANG tahun 2018

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2018

KEUSKUPAN MALANG

“Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan”

Saudara-saudari,

Segenap Umat Beriman,

Para Imam, Biarawan dan Biarawati,

di seluruh Wilayah Keuskupan Malang yang terkasih dalam Kristus.

 

Kita baru saja memasuki Masa Prapaskah, masa puasa, masa pertobatan yang ditandai dengan penerimaan abu pada dahi kita. Abu mengingatkan kita pada kehinaan kita. Selama masa ini, kita diajak untuk bertobat. Seperti kata nabi Yesaya, bertobat berarti berhenti berbuat dosa, dan belajar berbuat baik (Yes. 1:16-17). Dalam arti seperti itu, pertobatan kita butuhkan sepanjang hidup kita. Kita tidak pernah bisa berkata, “Saya sudah suci, saya tidak perlu bertobat.” Di satu sisi, pertobatan tidak pernah selesai karena kita harus terus menerus memberantas dosa dan kekurangan kita. Di sisi lain, pertobatan itu berlangsung seumur hidup karena sampai mati pun kita tidak pernah akan mampu memenuhi perintah Yesus ini, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” Menjadi sempurna seperti Allah yang Maha sempurna tidak ada batasnya!

Para Saudara yang terkasih, pada kesempatan ini perkenankan kami sedikit menyinggung apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam Surat Gembala yang beliau tulis untuk Masa Prapaskah 2018 ini. Beliau mengutip nubuatan Yesus ini, “Karena makin bertambahnya kedurhakaan, makakasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat 24:12). Beliau melihat bahwa nubuatan Yesus itu mulai menjadi kenyataan. Cintakasih yang menjadi intisari Injil mulai luntur, mulai menjadi dingin dalam diri banyak orang, termasuk orang Kristen. Lunturnya kasih kepada Allah, kasih kepada sesama manusia dan kasih kepada alam semesta disebabkan oleh banyak hal, antara lain oleh keserakahan orang akan uang. Dalam Suratnya yang pertama kepada Timotius, S. Paulus menulis demikian, “Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:10). Karena sibuk mengumpulkan uang, orang menjauhi  Allah dan Sabda-Nya. Demi uang, orang cenderung memusuhi orang lain yang dianggap membahayakan dirinya. Demi uang juga manusia tega mencemari alam dengan limbah industri dan sebagainya. Itulah antara lain tanda-tanda lunturnya kasih manusia kepada Allah, sesama dan ciptaan.

Apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus mengenai pencemaran alam cocok dengan tema Aksi Puasa Pembangunan Gereja Katolik Indonesia beberapa tahun ini. Jika tahun lalu tema APP adalah “Keluarga yang Berwawasan Ekologi,” maka pada tahun ini temanya adalah “Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan.” Sebagaimana sudah kita ketahui, alam yang menjadi tempat tinggal kita sedang mengalami kerusakan yang semakin parah. Hal itu amat membahayakan kehidupan generasi manusia sesudah kita. Terjadinya iklim ekstrim dan banjir yang mengerikan di banyak tempat di dunia merupakan salah satu tandanya. Jelas, kerusakan alam menjadi persoalan serius, suatu persoalan yang terlalu besar untuk diatasi oleh segelintir manusia saja. Oleh karena itu, Gereja ingin menggerakkan sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelamatkan ciptaan. Dibutuhkan kesadaran bersama dan usaha bersama. Itulah yang dimaksud dengan solidaritas sosial. Bila suatu keluarga yang mengalami masalah besar, maka untuk mengatasinya, diperlukan solidaritas dari semua anggotanya. Itu berarti, semua anggota sama-sama menyadari adanya persoalan, sama-sama bertekad untuk mengambil tindakan, sama-sama rela untuk saling menolong. Itulah gambaran suatu keluarga yang memiliki solidaritas sosial. Begitu juga dengan umat manusia yang merupakan satu keluarga besar. Diperlukan kesadaran bersama mengenai kerusakan alam yang sedang terjadi. Diperlukan tekad bersama untuk menyelamatkan alam semesta, yang menjadi rumah bersama kita.

Ada beberapa alasan mengapa kita wajib memelihara alam. Pertama, kita harus sadar bahwa Allah menciptakan alam sebagai kediaman manusia sepanjang zaman, dan bukan hanya untuk generasi kita. Bahwa alam adalah tempat tinggal kita, hal itu dilambangkan dengan penciptaan taman Eden yang indah dan subur, di mana Tuhan menempatkan manusia yang baru diciptakan-Nya. Dikatakan dalamKej 2:15, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Dari ayat ini menjadi jelas bahwa manusia diberi tugas untuk menggarap taman itu. Manusia menjadi mitra kerja Allah dalam mengolah serta mengembangkan alam (Kej 1:25). Akan tetapi, kekuasaan manusia atas alam ada batasnya. Manusia harus memelihara alam yang diciptakan Tuhan dalam keadaan baik. Manusia tidak ditugaskan untuk menggarapnya secara semena-mena, mengeruk kekayaannya habis-habisan dan merusaknya, Manusia ditugaskan Allah untuk mengolah alam demi memenuhi kebutuhan dirinya tetapi sekaligus untuk memeliharanya baik-baik. Kedua, kita perlu menyadari bahwa manusia dan alam adalah sama-sama ciptaan Allah. Ada semacam persaudaraan antara manusia dan alam. Ketika manusia berdosa, alam juga ikut merasakan akibatnya, sebab gara-gara dosa Adam, tanah menjadi terkutuk dan kurang subur (Kej 3:17). Manusia tidak boleh memperlakukan alam sebagai obyek pemerasan, sebab alam memiliki nilai sendiri yang harus dihormati. Alam mengandung dan memancarkan kemuliaan Allah. Dari sebab itu, menghormati alam berarti juga menghormati Allah, Sang Penciptanya. Dalam Alkitab, manusia sering mengajak alam untuk bersama-sama memuji Tuhan. Ketiga, penelitian membuktikan bahwa yang paling menderita akibat kerusakan alam adalah kaum miskin dan kecil.

Para saudara yang terkasih, dalam Masa Prapaskah ini, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk bertobat. Beliau juga menghimbau agar di setiap keuskupan, paling kurang di salah satu gereja, diadakan adorasi Sakramen Mahakudus selama 24 jam penuh, yakni dari 9 Maret hingga 10 Maret 2018. Selama sehari penuh umat dapat datang untuk menyembah Sakramen Mahakudus serta mendapat kesempatan untuk menerima Sakramen Tobat.

Cintakasih Allah tidak pernah berubah, sebaliknya cintakasih manusia bisa memudar. Oleh karena itu, paus mengajak kita untuk menghangatkannya kembali. Paus menyatakan bahwa dalam Masa Prapaskah, Gereja yang adalah Bunda dan Guru kita, memberi kita obat pereda untuk penyakit-penyakit rohani kita. Obat yang dimaksud adalah puasa, doa, dan sedekah. Gereja juga memberi kita obat kebenaran yang sering kali terasa pahit. Selain hal-hal yang disebutkan oleh paus, kita bisa menambahkan obat-obat lain, seperti pembacaan Firman, penerimaan Sakramen-sakramen secara lebih sering, dan sebagainya. Dalam kaitan dengan tema APP 2018, marilah kita ikut serta dalam gerakan bersama untuk menjaga dan menyelamatkan alam. Sekecil apa pun usaha Anda untuk menjaga lingkungan hidup, akan sangat berarti karena dikerjakan bersama dengan banyak orang lain. Kita bisa memelihara alam dengan gerakan menanam pohon, ikut menjaga kebersihan sungai dan laut, mengurangi pencemaran udara, dan sebaganya. Marilah kita menjalani masa prapaskah 2018 ini dengan penuh semangat dan ketulusan hati sehingga pada hari raya Paskah nanti kita layak bangkit bersama Kristus dan menikmati keselamatan dan sukacita sejati. Tuhan memberkati.

Malang, 11 Pebruari 2018

Msgr. Henricus Pidyarto, O.Carm.

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *