Tim Retret & Rekoleksi Keuskupan Malang

Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani

I. Yesus melayani demi Kerajaan Allah ( bdk. RM 20 ) :

1. Kerajaan Allah:

Kita semua tahu bahwa Kerajaan Allah adalah tema inti dari seluruh pewartaan Yesus. Seperti Yohanes Pembaptis, Yesus juga mewartakan Kerajaan Allah. Hanya pewartaan Yesus berbeda dari Yohanes pembaptis; Kalau Yohanes Pembaptis mewartakan bahwa Kerajaan Allah “sudah dekat”, maka Yesus lebih menekankan bahwa Kerajaan Allah “sudah datang”, karena dengan kehadiran diriNya, sesungguhnya Kerajaan Allah itu sedang ditawarkan kepada manusia. Karena itu, berbeda dari Yohanes Pembaptis, Yesus mewartakan bahwa Kerajaan Allah itu adalah waktu keselamatan bagi manusia, bukan hukuman dan pengadilan akhir, sebagaimana diwartakan oleh Yohanes Pembaptis.

Umat Israel juga mengenal apa yang disebut “pemerintahan Allah”,  yaitu Allah yang masuk ke dalam sejarah manusia, yang bertindak demi umatNya, melindungi  dan memelihara, mengampuni dan menyembuhkan serta membuat perjanjian dengan umatNya ( Johann Fuellenbach – “ Kigdom of God” <KG> – p.73 ). Ini adalah suatu lukisan yang mau mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana tertentu atas manusia dan dunia ini, dan Ia setia memberikan daya dan mengawal perjalanan kehidupan di dunia ini.  Yesaya melukiskan Allah itu sebagai pengasih dan penyayang, dan ia selalu membela dan menuntut agar hak orang miskin dan yang tersingkirkan ditegakkan dalam masyarakat. Bandingkan dengan “ Tahun Yobel / Tahun Sabat” ( Yes. 61,2 ; Ul. 15 ; Im. 25 ) .

Selanjutnya Johann Fuellenbach menulis : “ tujuan dari KA adalah membentuk satu keluarga besar umat manusia, suatu persekutuan dimana semua manusia menemukan tempat tinggalnya dalam Allah” ( KG-p. 109 ). Ini suatu idealisme yang pasti tidak pernah akan tercapai sepenuhnya sepanjang sejarah hidup manusia di dunia, karena manusia itu sendiri penuh dengan pelbagai kelemahan dan keterbatasan; manusia akan senantiasa hidup dalam pergumulan antara yang baik dan yang jahat, antara kehendak Allah dan kehendak pribadi manusia. Kita sendiri terkadang menemukan diri sebagai sarana kasih Allah, namun terkadang juga lebih senang tertarik kepada tawaran-tawaran dunia yang menggiurkan. Namun Kerajaan Allah sudah masuk ke dunia oleh kehadiran Yesus, dan  ia terus memainkan perannya, menggeluti hati manusia, dan ia tidak akan kembali sebelum dunia ini lenyap . Yesus berkata : “ Selama langit dan bumi belum lenyap, tidak ada satu huruf terkecilpun atau satu titik akan dilenyapkan dari hukum taurat sampai terpenuhkan semuanya ( Mt. 5,18 ; bd.Lk. 16,17 ). Kisah penciptaan adalah kisah  tentang relasi  antara Allah dengan manusia dan relasi manusia dengan alam ciptaan, dan relasi antara manusia itu sendiri. Karena itulah Yesus merangkum semua hukum kedalam hukum cinta kasih : Kasihilah Tuhan, Allahmu…. Kasihilah sesamamu… ( Mk. 12, 30-31 ). Kerajaan Allah pada intinya berbicara tentang persekutuan hidup manusia dengan Allah, dan persektuan hidup antar manusia itu sendiri, dan antar manusia dan dengan alam ciptaan Tuhan. Demikian Kerajaan Allah yang sudah dihadirkan kedunia oleh kehadiran Yesus itu, tidak pernah berhenti berusaha memberikan pengaruh untuk memenangkan hati manusia.

Kerajaan Allah adalah suatu tantangan besar untuk kita, lebih lagi sebagai para pewarta Injil, karena Tuhan menuntut dari kita dalam kebersamaan dengan rahmat Allah sendiri harus  mengikhtiarkan pelbagai kemugkinan agar Kerajaan Allah ini semakin dicintai oleh semakin banyak hati umat manusia. Lofhink menulis : “ Disamping Kerajaan Allah itu sebagai hadiah dari Allah, ia juga adalah suatu tugas untuk manusia, dan ini nyata dalam perumpamaan tentang talenta” ( Mt. 25,14-30 ). Lofhink melihat bahwa datangnya Kerajaan Allah itu sepenuhnya adalah karya Allah dan juga karya manusia ( Exegetical Predication – p.106-108 ) Sejalan dengan itu , Anton Pernia ( Superior General SVD ) menulis ; “ Hadiah dari Allah adalah Yesus Kristus, dan tugas dari manusia adalah membawa Yesus kedalam dimensi horizontal, dengan menciptakan komunitas saudara-saudari ( “God’s Kingdom and Human Liberation” – p.28  ). Karena itu pada salah satu kesempatan para uskup Jerman pernah mengeluarkan statement bahwa Gereja harus kembali   ke semangat dasar pewartaan Yesus- yaitu Kerajaan Allah, kalau mau agar Gereja kembali menjadi sarana aktual bagi keselamatan manusia .

Dalam menggeluti tema “ pelayanan” dalam rekoleksi kita ini, sengaja saya mengajak kawan-kawan untuk berbalik sebentar ke tema dasar pewartaan Yesus, yaitu “Kerajaan Allah”, karena Kerajaan Allah harus menjadi  jiwa dan sekaligus motor penggerak dan  arah dari seluruh kegiatan misi dan pastoral kita. Semua pedoman kerja keuskupan dan  perencanaan misi dan pastoral Gereja akhirnya harus bertitik tolak  dan sekaligus bertujuan untuk terbentuknya Kerajaan Allah dimuka bumi ini. Semua kita menyadari bahwa setiap kita telah dipanggil oleh Tuhan dalam kelemahan dan keterbatasan kita. Namun tetap saja  Yesus menuntut dari kita suatu ketegasan komitmen untuk tetap setia mengikuti jalanNya, walau tantangan dan kesulitan tidak pernah berhenti menghadang kita. Kita tahu betapa Yesus sangat sedih melihat para muridNya, setelah tiga tahun membina mereka, ternyata belum juga percaya sepenuhnya kepada Yesus, malah Yudas mengkianati Dia, dan Petrus juga menyangkal Dia, serta Thomas yang kurang percaya itu meminta bukti untuk melihat sendiri luka-luka Yesus. Walau Yesus sangat sakit hati melihat sikap dari para murid, ternyata Ia tidak bisa meninggalkan mereka. Sesudah kebangkitanNya, Ia mengumpulkan kembali para muridNya, meyakinkan mereka bahwa Ia sungguh telah hidup. Paskah Tuhan inilah yang memberikan kembali semangat hidup baru kepada para murid. Peristiwa paskah telah menjadi harapan, dan optimisme bagi para murid  bahwa hidup ini mempunyai keterarahan; Kebangkitan Yesus sendiri telah menjadi jaminan untuk itu.

Kalau Johann Fuellenbach melihat tujuan utama dari Kerajaan Allah adalah untuk membentuk persekutuan hidup antar umat manusia dan antara manusia dengan Allah, maka kalau boleh, saya mau ungkapkan secara lain disini, dimana Kerajaan Allah itu bertujuan : agar setiap orang bisa menemukan dirinya dihadapan Tuhan dan dihadapan sesama. Menemukan diri dihadapan Tuhan dan dihadapan sesama, berarti menemukan eksistensinya, hakikatnya yang sebenarnya sebagai makluk yang diciptakan Tuhan, sebagai yang bermartabat dan mulia dihadapan Tuhan dan dihadapan sesama. Menemukan diri dihadapan sesama didasari kesadaran akan kecitraan semua manusia dalam  Allah, dan karena itu bersama dengan manusia-manusia lain mengadakan ziarah bersama, dimana setiap orang bisa saling meneguhkan, saling membantu, bekerja sama dalam semangat belas kasih, sehingga dalam ziarah bersama itu  setiap peserta mengalami perkembangan yang optimal dalam Allah, dan tidak seorangpun akan merasa seperti terkucilkan dari persekutuan hidup. Dalam kebersamaan itulah setiap orang akhirnya menemukan dirinya dihadapan sesama. Dengan kata lain, pada melihat orang lain, kita seperti melihat diri kita sendiri juga sebagai yang dicintai Tuhan.

Mendukung apa yang dikatakan oleh Johann Fuellenbach bahwa ide dasar Kerajaan Allah itu adalah pesekutuan hidup setiap orang dengan Tuhan dan sekaligus dengan sesamanya, maka Elisabeth A. Johnson ( Consider Jesus : Waves of Renewal in Christology” 1990- p. 54-56 ) menulis bahwa ada empat perilaku dan tindakan Yesus dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah di di dunia; Pertama : Yesus memanggil para murid untuk mengikuti Dia. Yesus membentuk satu komunitas baru disekitar diriNya. Kedua : Yesus menyatakan diri berpihak kepada kaum miskin, mereka yang tersisihkan dan yang terpinggirkan, termasuk mereka yang sakit dan para pendosa. Yesus mengembalikan mereka kepada komunitas masyarakatnya. Ketiga : Yesus menjalin persahabatan secara lebih meluas, dan makan bersama dengan mereka, untuk membentuk satu persekutuan baru. Keempat : Yesus menafsir hukum Taurat  secara baru yang didasasarkan pada belas kasih dan keadilan. Kasih adalah jantung dari Kerajaan Allah.

 

2. Yesus menemukan realitas – realitas misioner :

a. Yesus berpuasa di padang gurun :

Lewat pembaptisan di sungai Yordan, Yesus telah mengidentifikasikan diriNya dengan manusia dalam suka-duka hidup manusia, kecuali dalam hal berdosa. Yesus mau masuk ke dalam kehidupan manusia. Karena Ia datang untuk manusia, maka Ia tidak dapat memisahkan diri dari manusia. Karya penebusan sesungguhnya sudah dimulai lewat identifikasi diri Yesus di sungai Yordan .

Sesudah pembaptisan di sungai Yordan. Yesus membiarkan diriNya dituntun oleh Roh Kudus ke padang gurun. Tentu sekali, sebagai manusia, tidak mudah bagi Yesus untuk mengenal tugas dan perananNya sebagai Messias; karena itulah Ia merelakan dirinya dituntun oleh Roh Kudus kepada pengenalan yang semakin mendalam akan tugas misiNya. OrientasiNya adalah “ kehendak BapaNya”. Karena itu Ia selalu mencari apa yang Allah mau dari diriNya. Ia dituntun oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk lebih mengenal wujud konkrit dari situasi misioner yang harus dihadapiNya.

Dari injil kita mengetahui bahwa di padang gurun Yesus dicobai iblis tiga kali ( Lk. 4, 1-13 ). Lewat ketiga pencobaan yang dialamiNya itu, ia semakin mengenal realitas kehidupan di dunia, dimana Ia harus melaksanakan tugas misiNya.  Padang gurun dilukiskan oleh Denis Mcbride sebagai tempat  tidak terberkati oleh Tuhan, tempat dimana serigala berkeliaran, tempat setan-setan mengembara, tidak ada rasa aman, tempat tidak ada hiburan dan kegembiaraan, tidak ada tempat untuk berlindung,  ( The Gospel of Luke – a Reflective Commentary – p. 59 ). Padang gurun digambarkan oleh penginjil sebagai representasi situasi misi di dunia, yang harus dihadapi Yesus. Yesus ditawari dengan pelbagai kenikmatan barang dunia, ditawari kekuasaan duniawi, malah ditawari juga keharuman dan kebesaran nama serta popularitas duniawi. Tapi semuanya ditolak dengan tegas oleh Yesus, karena semua godaan itu menyangkut kepentingan pribadi Yesus; Kalau itu sudah menyangkut  “ kepentingan pribadi”, maka disana ada tawaran kehidupan dan kegembiaraan yang palsu. Yesus ditantang oleh setan “ kalau Engkau Putera Allah”-; Setan memakai kalimat yang sama seperti pemakluman dari Bapa di sungai Yordan “ Engkaulah PuteraKu yang terkasih”; Godaan yang sama juga dikeluarkan dari mulut para serdadu di bukit Golgotha: “ Kalau engkau Anak Allah, turunlah dari salib” ( Mt. 27,40 ). Yesus dirayu untuk memperhatikan kepentingan pribadiNya, dari pada memperhatikan kepentingan BapaNya dan umat manusia. Dalam situasi yang sangat sulit di padang gurun, Yesus telah dengan tegas mengingkari diriNya sendiri. Dia hanya mau mengadakan perbuatan besar, kalau itu menyangkut kepentingan Bapa dan secara khusus kepentingan umat manusia. Dalam kesadaran penuh akan penolakan ini, kemudian Yesus berkata : “ Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani” ( Mt.20,28 ). Yesus setia.

Dari tiga pencobaan di padang gurun Yesus menemukan realitas situasi misioner di dunia. Situasi misioner itu adalah : tawaran-tawaran kemudahan dan kenikmatan duniawi,  tawaran akan kekuasan duniawi, dan tawaran akan keharuman nama dan popularitas hidup di dunia. Semua realitas ini akhirnya berpusat  pada egoisme, egosentrisme dan kerakusan manusia.  Inilah beberapa akar dari dosa manusia. Dengan sukses berpuasa di padang gurun, Yesus sesungguhnya telah mengklaim bahwa Ia telah mengalahkan kekuasan dan kekuatan iblis, dan hal ini kemudian diratifikasi dengan peristiwa salib dan paskah Tuhan. Hanya tinggal satu pertanyaan: apakah kita sungguh telah mengimani salib dan Paskah Tuhan ? Egoisme dan kerakusan adalah akar dari dosa melawan nilai-nilai Kerajaan Allah.

 

b. Pelayanan dan otoritas kenizah Yerusalem dan tuntutan Kerajaan Allah:

Bangsa Israel sangat menghormati kenizah Yerusalem, karena kenizah dan tabut perjanjian yang ada di dalamnya adalah lambang kehadiran Allah ditengah umatNya. Penghancuran kenizah adalah suatu peringatan keras bagi umat bahwa Allah meninggalkan umatNya.

Namun dalam perkembangan kemudian, terutama pada jaman Yesus, otoritas kenizah sebagai tanda kehadiran Allah semakin memudar, dan diganti dengan otoritas para imam dan para pengurus kenizah, yang nota bene mempunyai kepentingan tersendiri dengan kenizah. G.V.Pixley menulis : Halangan utama bagi realisasi  gerakan Kerajaan Allah adalah kenizah dan struktur kelas masyarakat yang didukungnya. Yesus melihat bahwa dominasi kenizah lebih menindas dibandingkan dengan pasukan pendudukan Romawi ( God’s Kingdom p. 64 ). Kalau dulu kenizah dilihat sebagai jaminan kehadiran Allah ditengah umatNya, maka kemudian, oleh praktek kotor para pejabat kenizah, kenizah tidak dapat lagi menjadi jaminan keselamatan. Yesus mengarahkan orang  untuk kembali kepada  inti kenizah, yaitu Allah sendiri, yang telah membebaskan Israel. Kecaman Yesus terhadap praktek di kenizah sangat jelas terungkap dalam Mk. 11,15-19  ( mengutip Yer. 7,11 ). Yeremia sendiri menyebut Yerusalem sebagai tempat penuh kebohongan dan penindasan ( Yer. 6,6 ), dan kenizah Yerusalem sebagai sarang penyamun ( Yer. 7,11 ); Sedangkan Yesaya  membandingkan kota Yerusalem dengan Sodom dan Gomora, tempat para sundal dan pengkhianat ( Yes.1,10.21.23 ).Yesus menemukan ketidak-adilan dalam praktek jual beli binatang korban di halaman kenizah, termasuk sistim penukaran uang di halaman kenizah untuk urusan pajak kenizah. Banyak para perantau yang datang berziarah ke kenizah Yerusalem terpaksa harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk semua urusan dengan kenizah. Kenizah sudah menjadi tempat bisnis bagi kepentingan para imam dan para pengurus kenizah. Ini adalah suatu tantangan besar untuk kehadiran Kerajaan Allah di tengah manusia; terjadi ketidak adilan, ada eksploitasi antara manusia, terutama terhadap rakyat/ umat kecil/ perantau / TKI ?. Sementara itu para imam menjaga semakin ketat aturan “najis”, demi memperkuat posisi mereka dalam kepengurusan kenizah. Kita masih ingat perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati, yang menolong orang yang dirampok ditengah jalan ( Lk.  10. 25-37 ). Seorang imam dan seorang levi lewat disitu, tetapi tidak menolong orang yang dirampok itu, karena mereka takut menjadi “ najis”, dimana mereka tidak bisa masuk kenizah untuk pelbagai urusan , termasuk membawa kurban dalam kenizah. Yesus tidak setuju dengan sikap imam dan orang levi itu, karena kenizah dijadikan patokan untuk “najis atau tidak najis “ seseorang; pada hal Yesus menekankan bahwa sesuatu itu mejadi najis atau tidak najis, bergantung kepada hati manusia, hati yang jahat terhadap sesama atau hati yang baik dan tulus terhadap sesama/ Tuhan.

Orang yang dirampok itu dianggap najis, karena pasti ia dirampok karena kena kutukan Tuhan, karena ia berdosa. Moral Yesus didasari oleh sikap belas kasih terhadap sesama manusia; sedangkan moral Yahudi didasarkan pada ketaatan terhadap peraturan-peraturan, termasuk menjaga kesucian kenizah. Kalau suami-isteri berhubungan pada malam hari, mereka tidak layak masuk kenizah; mereka harus mandi dulu sebelum mata hari terbit, baru bisa masuk kenizah; wanita yang baru melahirkan, tidak boleh masuk kenizah selama satu minggu; kontak dengan orang penyakit lepra dan penyakit kelamin otomatis mendatangkan najis; kalau menyentuh mayat, juga orang menjadi najis. Singkatnya, belas kasih selalu menjadi lumpuh pada berhadapan dengan hukum najis. Bagi Yesus , kalau belas kasih menjadi lumpuh, maka tidak ada kehidupan dalam diri manusia. Ini betul menjadi kendala besar bagi kedatangan Kerajaan Allah.

Dari itu bisa dimengerti kalau Yesus sangat sakit hati terhadap praktek otoritas kenizah yang dibuat oleh para pemimpin Yahudi. Yesus katakan : “Rombaklah kenisah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunkannya kembali” ( Yoh. 2,19 ). Yesus mulai mempromosikan diriNya sebagai kenisah baru. Pada memasuki kota Yerusalem, sebelum kematianNya, Yesus disorak-sorai oleh orang banyak; Dia adalah kenizah baru, dalam mana orang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran ( bdk. Yoh. 4,23 ) Pada menyembah Allah orang tidak lagi terikat dengan kenisah Yerusalem. Otoritas kenisah Yerusalem memang kemudian secara bertahap melemah, karena semakin banyak synagoga, tempat dimana orang merayakan hari Sabath dan belajar kitab Taurat. Adanya synagoga-synagoga adalah satu bentuk reformasi yang diprakarsai oleh kaum Farisi ( Jesus of the Gospel – Arthur E. Zannoni ). Raja Salomo sendiri juga mengakui bahwa kenisah Yerusalem bukan abadi ( Raj. 8,27 ); Demikian juga kitab Wahyu melukiskan bahwa Tuhan tidak melihat ada bait uci, karena bait suci sesungguhnya adalah Allah sendiri ( Why 20,22); Para nabi juga mengakui bahwa bait suci tidak akan bertahan selamanya ( Mik. 3,12 ); Kemudian sekali Yesus sendiri meramalkan kehancuran kenisah ( Lk. 21,20124; 19,41-45 ). Demikianlah pergolakan batin Yesus terhadap otoritas kenisah. Kenisah sudah berubah fungsi menjadi penghambat bagi datangnya Kerajaan Allah. Bait Allah sudah berubah fungsi menjadi pendukung penguasa dan semua system yang membawakan beban bagi rakyat banyak. Memang Yesus sendiri juga menjadi korban dari kritikanya sendiri yang keras terhadap otoritas kenizah, karena itu juga menjadi salah satu alasan pencetus Yesus dihukum mati. Tetapi tentang Yesus Pilatus berkata : “ Lihatlah manusia itu” = ecce homo ( Yoh. 19,5 ). Kalimat yang pendek ini mau menunjukkan bahwa : lihatlah manusia yang tidak berdosa ini, tapi yang nasibnya malang. Pilatus melihat bahwa Yesus tidak bersalah, namun Ia telah terjebak dalam keserakahan duniawi; Pilatus sendiri tidak mampu  mengubah nasib Yesus, karena ia juga  sudah menjadi bagian dari aktor konspirasi dunia itu.

Sebagai kesimpulan dapat kita katakan bahwa kenizah dan seluruh perangkat pelayanannya sudah gagal pada menghadirkan Kerajaan Allah. Otoritas kenisah semakin  dominan memainkan peran penidasan, pemerasan, ketidakadilan, pembodohan, diskriminasi dan menjadi jaminan keamanan dan kemapanan hidup para penguasa. Kita berdoa agar Gereja, terutama kita sendiri tidak terjebak menjadi penghambat bagi datangnya kerajaan Allah.

 

c. Melayani Kerajaan Allah berarti melayani manusia, agar semakin menemukan dirinya dihadapan Allah dan dihadapan sesama.

Sangat jelas idealisme Yesus, agar setiap orang bertumbuh dan berkembang sebagai citra Allah, namun selalu dalam kebersamaan dengan semua manusia lainnya, setidak-tidaknya dengan manusia yang ada disekitar kita. Yesus tetap menempatkan hidup berbelaskasih sebagai kiblat dan sekaligus sebagai motor penggerak dari seluruh gerakan misiNya. Perumpaan tentang doa seorang Farisi dan doa seorang pemungut cukai sangat  jelas memberikan gambaran tentang sikap yang benar pada  berhadapan dengan Allah ( Lk. 18,9 ss ). Doa seorang Farisi sama sekali tidak menunjukkan sikap yang berpaling kepada Allah; Orang Farisi itu  justru hanya berpaling kepada dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan Allah, karena ia selalu membenarkan dirinya sendiri. Sebaliknya si pemungut cukai justru melihat dirinya sebagai orang berdosa di hadapan Allah. Ia membutuhkan Allah dan memohonkan belas kasihan dari Allah. Demi harkat dan pertumbuhan hidup manusia, Yesus tidak pernah canggung dan takut untuk bertentangan dengan para pemipin Yahudi.

Pertentangan karena hari sabat.

Hari sabath dianggap oleh orang Israel sebagai hari milik Tuhan, hari yang telah diberkati Tuhan sebagai peringatan akan karya penciptaanNya atas alam semesta. Karena itu hari sabath dikaitkan dengan penciptaan ( Kel 20.8-11 ). Peraturan inti hari sabath adalah larangan untuk bekerja ; dan ini berlaku untuk semua rakyat Israel, termasuk hewan-hewan peliharaan. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini < EAM> menulis : Peraturan mengenai sabath dapat dikatakan integral dan esensial bagi dasar hukum PL, yaiu kitab Pentateukh (bdk. Kel. 31,13-17; 34,21;35,2; Im 19,30;23,3; Ul.15,12-15. ) Dalam kitab  Ulangan malah ditekankan bahwa para hamba juga tidak boleh bekerja pada hari sabath ( Ul.15,14 ). Ini menunjukkan bahwa peraturan Sabath itu sesungguhnya untuk kebaikan manusia dan mengangkat kemanusiaan setiap orang (termasuk para hamba tidak diizinkan bekerja). Hari sabath adalah hari kesukaan ( Hos.2,11 ), dan hari untuk pergi ke bait Allah ( Yes. 1,13 ). Para ahli mengatakan bahwa tidak mungin peraturan hari sabath berasal dari jaman Musa ( situasi pengembaraan), karena peraturan hari Sabath mengandaikan latar belakang situasi masyarakat tani ( Kamus Alkitab < KA>; oleh W.R.F. Browning – p. 393 ). Setelah masa pembuangan di Babylon, Sabath semakin menjadi tanda nyata bagi identitas nasional Israel ( KA-p.393 ).Karena itu bisa dimengerti betapa orang Yahudi sakit hati terhadap Yesus yang dianggap tidak menghormati hari Sabath. Tidak menghormati hari Sabath, berarti mau menghapus identitas bangsa Israel. Pada jaman kekristenan, hari sabath dikaitkan dengan kebangkitan Yesus, sehingga orang kristen merayakan hari sabath itu pada hari Minggu ( 1 Kor. 16,2 ).

 

Mencermati peraturan dasar hari Sabath seperti diuraikan diatas, para ahli umumnya mengakui bahwa pada dasarnya peraturan sabath itu baik. Pertama-tama sebagai pengakuan umat Israel atas Yahwe sebagai pencipta dan Allah mereka. Pada hari sabath orang harus berperilaku sesuai dengan apa yang Tuhan mau, karena hari itu adalah hari milik Tuhan. Bagi yang taat kepada peratuan sabath akan mendapat berkat dari Tuhan ( Yes. 58,13-14 ). Kemudian pada masa pendudukan bangsa  Persia atas Palestina, penghormatan hari sabath dirincikan dan diperluas lagi dengan larangan berdagang pada hari sabath ( Am.8,5 ), juga larangan mengangkat barang pada hari sabath ( Yer. 17,21 ss ), hal mana juga sudah ditetapkan  oleh Nehemia ( Neh.10,32; 13,15-22 ).Tafsiran lebih rinci atas peraturan hari sabath, berupa tradisi-tradisi lisan, semakin berkembang pada waktu sekolah-sekolah alkitab bermunculan di synagoga-syanagoga yang diprakarsai oleh kelompok Farisi dan para ahli Taurat( EAM – p.336 ). Lama kelamaan tradisi-tradisi lisan dan rincian-rincian kecil dari peraturan Sabath yang dibuat itu semakin kuat mewarnai peraturan Sabath.

Pertanyan kita : Mengapa Yesus seringkali mengecam para ahli Taurat dan kaum Farisi berkenaan dengan peraturan hari Sabath ? Umumnya para ahli mengakui bahwa Yesus pada dasarnya tidak menentang peraturan hari Sabath. Yang menjadi permasalahan bagi Yesus adalah tafsiran-tafsiran berupa rincian-rincian dan tradisi lisan yang kemudian berkembang menjadi patokan yang mengikat  dalam peraturan hari sabath; padahal banyak rincian kecil itu malah menjadi beban berat bagi umat kebanyakan. Bagi Yesus hal ini merupakan hambatan bagi kedatangan Kerajaan Allah. Yesus malah melihat bahwa tradisi-tradisi lisan itu membebani firman itu sendiri, sehingga firman Allah/ hukum yang sebenarnya, malah luput dari perhatian umat banyak. ( EAM-p.336 ).

Kita menyebut beberapa peristiwa yang dinilai oleh orang Farisi  sebagai pelanggaran yang dibuat Yesus dan /atau oleh para muridNya : petik gandum dan makan gandum pada hari sabath ( Mt. 12,1ss) – menyembuhkan orang pada hari sabath dan suruh orang memikul tilam sebagai konsekuensi dari penyembuhan ( Yoh.5,1-17 ; Mk.3,1-6; Lk. 14,1-6 ). Yesus melayani pekerjaan penyembuhan, termasuk membiarkan para muridNya petik gandum pada hari sabath justru karena tuntutan nilai-nilai Kerajaan Allah yang harus terpenuhi untuk hidup manusia. Bagi Yesus hari sabath teruntuk bagi manusia, bukan manusia teruntuk bagi hari sabath. Bagi para pembesar Yahudi, terutama para ahli taurat dan kaum Farisi pelayanan itu adalah ketaatan terhadap pelbagai peraturan, kususnya peraturan hari sabath. Dibalik ketatnya ketaatan terhadap peraturan sabath, sebetulnya ada juga agenda tersembunyi yang sering tidak disadari yaitu demi kokohnya posisi para pembesar Yahudi dan  para pembesar agama terhadap rakyat banyak. Saya sangka tidak seorang pun dari kita dalam hal ini bersepihak kepada sikap para pembesar dan pengurus agama Yahudi.Tetapi saya sangka pantas kita bertanya: apakah sikap  pembesar Yahudi ini sudah tidak diketemukan pada jaman sekarang, termasuk tidak diketemukan juga dalam gereja Katolik ? Apakah pelayanan kita sungguh demi Kerajaan Allah, atau masih tercampur demi rasa aman kita sendiri sebagai petugas Gereja ?

Kita kembali melihat lagi pelayanan Yesus, khsususnya terhadap orang-orang menderita, sakit, diasingkan, termasuk orang berdosa. Hampir seluruh injil dipenuhi oleh ceritera tentang keberpihakan Yesus terhadap orang menderita dan tersingkirkan, baik karena penyakit, kemiskinan maupun karena diangap sebagai orang berdosa. Yesus membiarkan dirinya disentuh oleh wanita pendosa ( k.7,36-50 ), ia tidak takut dinilai sebagai najis; demikian juga Yesus berbicara dengan wanita samaria di Sumur Yakub ( Yoh.4,1-30 ). Cara berpikir Yesus dengan orang Yahudi bertentangan. Para pembesar agama dan pemerintah Yahudi melihat bahwa orang sakit dan orang berdosa harus dijauhi supaya tidak  najis; Sikap Yesus malah terbalik; Yesus mendatangi,  mendekati dan menjamah mereka,  untuk mengalirkan daya hidup kedalam diri orang berdosa dan orang sakit. Hati Yesus dipenuhi oleh belaskasih Allah, sehingga ia tidak takut; sedangkan hati kita sangat miskin dari belas kasih, sehingga selalu melihat orang-orang  berdosa secara lain. Hati kita sudah menjadi lumpuh untuk mengalirkan daya hidup kepada orang  sakit, menderita dan yang merasa dirinya berdosa. Seringkali kekerdilan iman kita sendiri menyebabkan kita belum mampu menyapa semua orang dengan roh belas kasih Tuhan.

Sikap Yesus yang inklusif terhadap semua orang adalah tanda yang nyata dari gerakan Kerajaan Allah. Yesus seringkali bertentangan dengan orang Farisi, tetapi Ia tetap terbuka kepada mereka. Malah dikatakan Ia juga diundang makan oleh orang Farisi (Mk.7,36 ss ); Pertemuan Yesus dengan wanita Samaria di Sumur Yakub ( Yoh. 4,1 ss ) dan perumpamaan tentang  orang Samaria yang baik hati ( Lk. 10,25 ss ) adalah suatu tanda respek  dan keterbukaan Yesus kepada kebaikan yang ternyata ada juga di luar orang Yahudi. Dalam perumpamaan tentang orang samaria yang baik hati, sangat jelas mau ditekankan disana,  sikap memandang orang lain sebagai “sesama”. Yesus tidak mau dikurung oleh agama. Walau orang Samaria beribadat di gunung Gerizim (  Yoh.4,20 ), mereka juga memiliki hati yang berbelas kasih; dengan kata lain orang Samaria juga pantas untuk diperhitungkan dalam”Kerajaan Allah”; malah seorang imam dan seorang Levi yang mengabaikan orang yang dirampok itu dinilai Yesus masih berdiri di luar lingkaran Kerajaan Allah. Di luar Gereja ada banyak orang yang menghayati nilai-nilai Kerajaan Allah dan berpotensi untuk mencintai dan mewujudkan nilai-nilai Kerajan Allah itu dengan sepenuh hati; Sebaliknya terjadi bahwa tidak setiap anggota Gereja menghargai harta karun “kerajaanAllah” itu, apa lagi untuk menghayatinya. Secara tidak sadar sering kali kita dibius oleh pelbagai macam ketertiban dalam Gereja katolik, sehingga  lupa dan lalai memberikan perhatian terhadap hal yang inti, yaitu cinta dan belas kasih.

Berkenaan dengan nilai inklusif  dari “Kerajaan Allah”, para uskup Asia ( FABC) dalam rapatnya pada thn 1974 menekankan pentingnya Gereja Asia berdialog: berdialog dengan semua agama disekitar kita, dengan budaya-budaya di Asia, dan dialog dengan orang-orang miskin. Kemudian P. Pedregosa Jr. O.P.  juga menulis : “ Semenjak akhir kolonialisme, terutama oleh dorongan Konsili Vat.II ( GS.1.4 ) Gereja

Asia mulai menemukan wajahnya di bumi Asia. Gereja memperbaharui diri menjadi Gereja dialog ( dengan agama-budaya dan orang miskin) dan  menjadi pelayan” ( Religious Life – Agst.98, p.25 ). Pater Pedregosa menulis “ Gereja menemukan wajahnya di bumi Asia”;  Ungkapan ini mau mengatakan bahwa walau Gereja  termasuk kelompok minoritas di bumi Asia, ternyata ada sangat banyak sahabat di luar Gereja yang bisa menjadi teman seperjalanan, untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di bumi Asia ini. Melihat gerakan Gereja yang sudah mulai terbuka kepada dialog ini, P. Franscisco F. Calver SJ menulis : Gereja Katolik tidak lagi hanya disebut Gereja di Asia, tetapi juga Gereja Katolik dari Asia ( FABC Papers, no. 117- p.77 ). Dengan berdialog  yang dilandasi iman katolik yang kita miliki, kita siap membagi kekayaan kita, sekaligus juga siap diperkaya oleh nilai-nilai luhur yang masih tercecer di luar Gereja ( bdk. AG 1.15; GS 92; RM 55 ). Dalam rangka dialog Paus Paulus VI, membuka Sekretariat Vatikan Untuk Agama lain pada thn 1964; Kemudian Paus Yoh. Paulus II membuka  Komisi Vatikan untuk Dialog antar Agama pada thn 1989. Demikian dialog dilihat Gereja sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dilaksanakan pada abad ini, untuk membangun Kerajaan Allah bersama semua orang yang berkehendak baik. Tentang dialog, P.Thomas Hughs, SVD menulis : Dialog bukan hanya aktivitas, tetapi juga sikap solider- hormat dan mencintai ( Verbum SVD – vol. 47- 2006, p.39 ). Gereja semakin menyadari dirinya sebagai sarana pemersatu untuk semua umat manusia, apapun agama, budaya dan pelbagai perbedaan latar belakangnya. Ini berarti bahwa tugas kita sebagai pastor/imam tidak cukup  hanya teruntuk bagi lingkungan katolik; Disamping tugas pewartaan ( kerygma dan didache ) serta pelayanan sakramental, dan pelbagai tugas penggembalaan umat, kita dituntut untuk terlibat aktif ( dialog) dalam pelbagai aspek kehidupan bersama dalam masyarakat, demi kesatuan semua umat manusia (Kerajaan Allah  ). Kita dituntut untuk  kreatif dan selalu terbuka kepada usaha-usaha inovatif demi pembangunan Kerajaan Allah. Dunia dan kehidupan umat manusia pada jaman ini semakin kompleks, dan kita tidak bisa bersikap minimalis dalam pelayanan kita. Sikap mediocre tidak mencerminkan sumpah setia kita pada waktu menerima tahbisan imamat. Timothy Radcliffe OP menulis : Cara beragama modern adalah ‘ berziarah bersama’-untuk terus menerus mencari kebenaran dalam kebersamaan dengan orang lain. Dimanapun kita berada, bagaimanapun bingung dan berantakannya diri kita, disitulah titik tolak kita untuk melakukan perjalanan bersama…. Titik itu adalah titik menuju kepada rahmat Allah ( What is the Point of being  a Christian – <PBC> / Apa makna dan tujuan menjadi Kristen – Dioma – p. 58 )

II. Dekrit Presbyterorum Ordinis < PO > ( no. 4-5 -6 )

A.  Pelayanan Sabda :

Umat Allah justru dihimpun oleh karena Sabda Allah ( PO n.4; LG 25 ; 1 Petr. 1,23; Kis. 6,7 ); karena itu diharapkan juga keluar dari mulut seorang imam kesaksian akan Sabda Allah ( PO n.4; Mt. 28.18-20 ; 1 Tim. 4,11-14; 2 Tim 4,5 ).

Walau unsur dialog sekarang memainkan peran utama dalam tugas kerasulan, aspek kerygmatis ( pewartaan perdana ) dari misi Gereja tetap aktual untuk dilaksanakan, karena perintah ini sudah keluar dari mulut Yesus, dan ini juga sebagai tanda dari integritas iman kita sendiri.  Dulu, sebelum konsili Vat.II tugas kerygmatis ini memainkan peran utama dalam cara kerasulan Gereja, karena adanya ajaran Gereja yang mengatakan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan ( secara definitif ajaran ini dikeluarkan pada abad 15 untuk semua orang non kristen ). Namun setelah Konsili Vat.II karya misi Gereja lebih ditandai oleh sikap dialog Gereja terhadap pelbagai unsur dalam masyarakat, entah itu  dengan agama lain, pelbagai budaya, dengan ideologi sekular, maupun dengan orang-orang miskin, dll. Singkatnya Gereja mau menampilkan dirinya sebagai partner penziarahan di dunia untuk semua kelompok dan semua umat manusia, terutama dengan mereka yang menderita. Kendati Dialog sudah memainkan peran utama dalam karya misi Gereja, unsur kerygmatis tetap mendapat perhatian sebagai salah satu sarana penting untuk pewartaan injil Tuhan. Yesus sendiri telah memulainya dengan pemanggilan murid-muridNya yang pertama. Pelaksanaan tugas kerygmatis diminta untuk diaksanakan dengan bijaksana, dalam arti sejauh memang kita harus membicarakan  Injil dan kebenarannya di hadapan orang non kristen, maka kita harus membicarakannya. Namun dalam situasi yang biasa hal itu biasanya kita laksanakan bagi para calon baptis, atau bagi para peminat iman kristiani. Tentu tugas pewartaan ini tidak kita laksanakan sendiri, karena ada banyak rekan awam yang bisa bantu; kendati demikian tetap tanggung jawab utama sebagai  penjamin kebenaran ajaran iman Gereja adalah pimpinan Gereja atau pastor, sebagai wakil dari uskup dalam unit karya Gereja.. Pewartaan perdana sangat menentukan bagi langkah lanjut penghayatan iman umat. Pelbagai aspek pengetahuan iman umat hendaknya juga menjadi perhatian seorang pastor, agar umat semakin mampu untuk menghayati imannya secara penuh, dan bertanggung jawab, dan sekalian menjadi kesaksian bagi orang  lain, terutama bagi mereka yang mau mengenal iman kristiani.

Jauh tak kalah pentingnya adalah pewartaan lanjut dalam  bentuk pengajaran ( didache ) untuk pendalaman iman umat. Ini  penting, karena setiap umat harus bertumbuh dalam kepenuhan imannya, dalam arti ia mampu menghayati imannya dengan baik, dan sekaligus pada gilirannya ia menjadi pewarta Gereja yang tangguh. Aspek pengkaderan jemaat harus tetap menjadi idealisme kita, karena setiap umat harus bertumbuh menjadi anggota Gereja yang bersemangat misioner. Bertumbuhnya Jiwa misioner dari setiap umat adalah tanda dari Gereja yang hidup . Kalau paroki kita hanya diarahkan kepada kesemarakan liturgi gereja, dan sekadar untuk kesemarakan aktivitas, tanpa mengandung pendidikan jiwa misioner, maka pastoral kita hanya menghamburkan energi- dan merupakan kesia-siaan. Gereja pada dasarnya adalah misioner; karena itu setiap umat harus bertumbuh dan berkembang dalam semangat misioner.

Kotbah adalah salah satu bentuk pewartaan lanjut. Saya sangka kita semua tahu, betapa umat sangat mendambakan “siraman rohani” yang menyegarkan lewat kotbah seorang imam. Sepanjang minggu umat kita berkutat dengan pelbagai urusan duniawi, demi kelangsungan penghidupan dalam keluarga. Ini adalah satu keharusan, dan merupakan salib yang utama bagi seorang awam.Tugas rutin ini bukan tidak membosankan dan meletihkan; Mereka harus setia pada menapaki perjuangan hidupnya sehari-hari, karena itu adalah satu tugas panggilan mereka. Dalam situasi kekeringan dan kehausan rohani itulah  mereka datang ke gereja, dan mendambakan sungguh aliran air kehidupan iman, lewat khotbah, sehingga mereka masih sanggup melihat makna perjuangan hidupnya dalam terang iman kristiani. Sebagai konsekuensi dari ini semua, maka tentu umat sangat mengharapkan agar setiap imam mempersiapkan khotbah dengan sebaik-baiknya. Ada kawan pastor yang menempatkan urusan administrasi paroki sebagai hal yang dinomor-satukan, dari pada mempersiapkan khotbah.Tugas mempersiapkan khotbah adalah salah satu bentuk pelayanan seorang imam. Pelayanan tidak hanya dinilai dari saat berkotbah, tetapi keseluruhan proses pewartaan itu sendiri, mulai dari persiapan materi – persiapan batin seorang pengkotbah – tobat pribadi dan akhirnya pekerjaan pewartaan itu sendiri. Saya sangka setiap imam perlu sendiri  bertobat lebih dahulu, sebelum ia menyampaikan apa yang mau dikhotbahkan. Hanya dalam semangat tobat, seorang pewarta mampu memelihara integritas hidupnya dengan apa yang ia wartakan. Dokumen konsili menulis : Sangat perlu “ Kesaksian para imam dengan pewartaan terbuka, dan sekaligus dengan kesaksian hidup mereka sendiri ( PO n.4 ) . Kesejalanan antara kata dan perbuatan,  sangat penting untuk kesaksian iman yang sejati. Pewartaan harus keluar dari penghayatan pribadi seorang pewarta. Pewartaan bukan suatu pengalihan pengetahuan teologi, tapi lebih sebagai kesaksian akan penghayatan iman pribadi. Ada banyak kawan pastor tidak mampu membawakan khotbah yang menarik, tapi ia sangat didengarkan umatnya karena kehidupan pribadinya yang dijiwai oleh imannya.

Khotbah yang dibawakan dalam perayaan misa kudus mempunyai peranan yang sangat istimewa. Ekaristi adalah perayaan kehidupan kita, dalam terang dan daya  salib dan paskah Tuhan. Selayaknya  suatu khotbah dalam misa kudus mampu menghantar orang  kepada pemaknaan atas  hidup  seorang kristen dalam terang salib dan paskah Tuhan itu. Khotbah dalam perayaan ekaristi mempunyai makna khusus, agar setelah mendengarkan firman Tuhan, seorang katolik dapat mengambil komitmen untuk mempersembahkan  hidup  dan karyanya , sebagai tanda pengambilan bagian dalam kurban salib Tuhan, yang dirayakan dalam ekaristi kudus.

 

B. Pelayanan Sakramen- terutama sakramen Ekaristi ( PO.n.5 ).

Dekrit konsili mengatakan : “ Allah mengikut-sertakan manusia lewat diri para imam untuk melaksanakan tugas pengudusan; Para imam diikut-sertakan untuk menghayati imamat Kristus” (  n.5 ).

Sakramen adalah tindakan penyelamatan dari Allah untuk umatNya. Dalam sakramen Allah memberikan hidupNya sendiri kepada manusia. Sungguh berbangga bahwa seorang pastor menemukan dirinya dilayakkan oleh Tuhan untuk  ambil bagian dalam imamat Kristus. Ini adalah kasih karunia dan sekaligus misteri yang besar yang Allah telah kerjakan dalam diri kita. Tentu sekali bukan karena jasa kita, tetapi semata karena anugerah bebas dari Allah. Ambil bagian dalam imamat Kristus berarti Kristus tetap adalah imam agungnya, dan kita adalah rekan Kristus dalam mewujudkan secara nyata tindakan penyelamatan Allah itu ( LG.28 ). Sebagai rekan yang mengambil bagian dalam imamat sang Imam Agung, dituntut suatu persyaratan mutlak, yaitu kesatuan kita yang tetap dengan Kristus.  Kesatuan itu menjadi nyata lewat doa-doa pribadi, meditasi, kesetiaan pada melayani sakramen-sakramen, secara khusus kesetiaan pada merayakan ekaristi kudus, lalu memuncak pada penghayatan iman kita yang utuh dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesadaran akan kesatuan dengan Kristus adalah suatu tugas ( misi kedalam diri kita sendiri), dan karena itu kita harus selalu mencari upaya, ditengah pelbagai kesibukan dan keberdosaan kita, agar Tuhan tetap melayakkan kita untuk merayakan tindakan penyelamatanNya untuk umat, lewat perayaan sakramen-sakramen yang kita rayakan bersama umat.

Kalau Gereja dilihat sebagai sakramen Allah bagi dunia ini, maka setiap anggota Gereja, khususnya para imam, juga adalah sakramen dari Allah. Tentu kita rasakan ini telalu mulia dan melihatnya sebagai impian muluk yang tidak pernah akan terjadi. Di satu pihak, tentu kita bersyukur kepada Tuhan atas kesadaran bahwa diri kita adalah orang bedosa dan selalu berdosa. Bersama dengan Musa mungkin kita akan berkata :  Tuhanku, aku bukanlah orang yang bisa berbicara fasih…. aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang hendak kukatakan” ( Kel. 4,10 ). Demikian Musa menyatakan ketidak-layakannya untuk tugas yang diberikan oleh Tuhan. Mungkin kita juga seperti Yeremia berkata kepada Tuhan : Tuhanku, aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda ( Yer.1,6 ). Demikian juga Yeremia menyatakan ketidak-layakannya untuk tugas yang diberikan Tuhan. Di satu pihak kita melihat diri kita sebagai orang berdosa dan tidak layak dihadapan Tuhan; Namun di lain pihak tugas perutusan adalah sesuatu yang sangat mendesak dari pihak Tuhan. Karena itu Tuhan menjawab, baik kepada Musa maupun Yeremia “ Jangan berkata ‘aku masih muda’ …Aku mengutus engkau ( Yer. 1, 7 ). Penekanan disini adalah “ Aku mengutus engkau”. Pangkal dan penyebab utama dari perutusan ini adalah Tuhan sendiri, dan karena itu Tuhan sendiri juga yang akan bertindak demi keselamatan umatNya, lewat utusanNya. Karena itu kalau seorang imam juga adalah “sakramen” untuk umatnya, maka disini lebih dimaksudkan bahwa oleh sikap penyerahan diri yang terus menerus kepada Allah dan kehendakNya, dalam semangat pertobatan, kita dilayakkan ambil bagian dalam imamat Kristus, dan dilayakkan menjadi tanda kasih Allah bagi sesama kita. Pembenahan diri ini adalah  tugas pelayanan, yang tidak  pernah akan berakhir sampai kita mati. Hanya lewat jalan inilah kita menjamin kesatuan kita dengan Tuhan yang mengutus kita.

Pelayanan sakramen-sakramen adalah pelayanan yang menjadikan orang masuk kedalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama, khususnya dengan sesama umat kristiani. Rahmat itu mengalir dari otoritas yang diberikan Kristus kepada sang imam, namun sekaligus juga mengalir dari kekudusan khidupan pribadi dari sang imam itu sendiri. Kekudusan itu mugkin secara nyata kita dapat gambarkan dalam bentuk relasi yang tetap dengan Tuhan, suatu kedekatan batin dengan Tuhan. Otoritas menguduskan harus dilasksanakan dalam semangat rendah hati dan penyerahan diri yang tulus kepada Tuhan yang memberikan tugas itu kepada kita. Katakanlah dalam pelayanan sakramen, seorang imam sesunggunya adalah tanda yang kudus dari kehadiran dan campur tangan Allah dalam hidup seseorang kepada dan dengan siapa kita rayakan sakramen itu.

Sebagai imam pilihan Allah kita terus menyadari bahwa ini sungguh adalah kepercayaan dan sekaligus anugerah bebas Allah kepada kita demi umat banyak. Rahmat dan berkat Allah tidak pernah hanya teruntuk bagi diri sendiri; Rahmat Allah selalu diperuntukkan bagi pelayanan terhadap orang banyak. Pelayanan sakramen adalah  kekhasan dan privilese seorang tertahbis, namun selalu karena Tuhan dan demi orang banyak. Pada setiap kali kita merayakan sakramen, kita merayakan persekutuan hidup dengan Allah dan dengan sesama. Sakramen adalah perayaan kerinduan Allah untuk satukan diri dengan umatNya. Jawaban dari manusia pada setiap kali merayakan sakramen adalah tobat dan penyerahan diri kepada Tuhan. Tobat adalah persyaratan mutlak, suatu sine qua non.

 

C. Imam sebagai pemimpin umat Allah ( PO n.6 ):

Adalah tugas seorang imam untuk menghimpun umat Allah dalam satu persekutuan  persaudaraan , sehingga persekutuan itu mampu menjadi suatu kesaksian akan suatu persekutuan persaudaraan yang lebih luas dalam hidup bermasyarakat. Dokumen Gereja LG juga menegaskan “ Dengan menunaikan tugas Kristus selaku gembala dan kepala menurut tingkat kewibawaan mereka, mereka menghimpun keluarga Allah dalam kerukunan persaudaraan yang berjiwa kesatuan” ( LG 28; bdk.  Ef. 4,12 ).

Sebagai seorang pemimpin, seorang imam membangun, menjaga dan memelihara persekutuan di antara umat Allah. Persekutuan itu bersifat inklusif, yaitu terbuka, untuk dijangkitkan kepada siapa saja, termasuk orang di luar lingkungan gereja. Kita merangkul setiap orang, bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk dibawa kepada sang gembala utama, yaitu Kristus sendiri. Yohanes Pembaptis adalah contoh yang baik untuk ini: Ia tidak menghimpun para murid di sekitar dirinya untuk kebesaran nama pribadinya, tetapi untuk membawa mereka bertemu dengan Yesus.

Yohanes menunjukkan Yesus kepada murid-muridnya : “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” ( Yoh.1,29 ). Yesuslah pemilik domba yang sesungguhnya. Jauh lebih tidak terpuji lagi kalau demi keamanan diri kita sendiri, kita membiarkan umat kita saling menggosip dan menuding satu sama lain.

Demi persekutuan dan kedewasaan iman umat seorang pemimpin harus berani tegur kalau salah, dan juga selalu siap  menasihati dalam kesabaran ( 2 Tim. 4,2 ). Rasanya berat utuk menegur dan menasihati orang, tapi kita tidak bisa menghindari ini demi kebenaran dan kesejahteraan semua umat.

Sebagai pemimpin, seorang imam harus memiliki integritas diri yaitu iman dan kebenaran injil, yang tergambar dalam penghayatan hidup sehari-hari. Ini sangat perlu, juga demi kepastian langkah yang harus diambil oleh setiap umat. Integritas diri seorang imam, akan memberikan peneguhan dan sekaligus keberanian kepada setiap umat dalam menentukan langkah dan pelbagai pilihan untuk perwujudan dirinya. Integritas diri seorang imam membuat ia memiliki kewibawaan dalam tugas penggembalaan. Kewibawaan disini adalah pengaruh  positif, yang mampu menggerakkan orang berjalan dalam kebenaran imannya.

Sebagai pemimpin , seorang imam perlu belajar untuk menjadi teladan bagi sesama,  secara istimewa bagi umatnya. Pepata latin mengatakan : verba movent, sed exempla trahunt. Kata-kata bisa menggerakkan orang ( namun sejauh suara kita masih menggema ), tapi keteladanan selalu menarik hati orang, dan memberikan daya hidup dan kegembiaraan bagi orang lain. Keteladanan sejati selalu diwarnai dan dijiwai  oleh ketulusan sikap.  Yang menjadi patokan bagi keteladanan kita adalah kesejalanan antara hidup dan impian kita dengan hidup dan impian Yesus sendiri. Karena itu Yesus dengan tegas menasihati kita untuk masuk melalui pintu kalau mau berjumpa dengan domba-domba dalam kandang ( Yoh. 10,2 ). Pintu kandang domba itu adalah Yesus sendiri. Cara Yesus menggembalakan dombaNya adalah: dengan mencintai domba-dombaNya, memberi makan domba-dombaNya, siap berkorban dan mempetaruhkan nyawa untuk keselamatan dombaNya, mencari dombaNya kalau ada yang hilang, mengumpulkan domba-dombanya dalam kandang, tidak membiarkan domba-dombanya tercerai-berai, merawat domba-domba yang sakit, bersabar pada berhadapan dengan domba-domba yang nakal, malas dan bertingka laku aneh, dll. Lebih-lebih yang Yesus pikul adalah domba yang sakit-sakitan, bukan domba yang tambun dan kuat.  Pasti dalam hati kecil kita berkata “ saya tidak mampu untuk menghayati  semangat penggembalaan Yesus”. Jelas, bahwa kia semua manusia terbatas, dengan pelbagi kelemahan, dan keterbatasan dalam diri kita. Namun, apa dengan itu kita lalu menyerah saja  ? Saya sangka pertama-tama kita harus terima bahwa itulah idealisme yang seharusnya kita secara nonstop kejar. Saya sangka yang paling penting adalah ketulusan kita, dalam semangat kerendahan hati untuk selalu belajar dari Yesus, demi kecintaan kita kepada Yesus dan umat yang telah dipercayakan Yesus  kepada kita. Kalau kita malas dan tidak bersedia belajar dari cara penggembalaan Yesus, itu sama dengan membiarkan diri kita berubah menjadi  pencuri, karena tidak bersedia masuk melalui pintu kandang domba, yaitu Yesus sendiri ( bdk.Yoh. 10,8-9 ) Lagi-lagi pekerjaan pembenahan diri ini adalah suatu tugas pelayanan yang non stop, yang harus kita  pikul dalam keseharian hidup kita.

Dokumen Gereja secara istimewa menyebut jiwa dari kepemiminan itu adalah  belas kasih ( PO n.6 ). Kepemimpinan Gereja harus dilaksanakan dalam kearifan kristiani dan semangat belas kasih. Seluruh gerakan kepemimpinan dalam Gereja mau mengarahkan semua umat kepada gerakan cinta kasih. Dokumen Gereja melukiskan, sia-sia semua kesemarakan liturgi, dan sia-sia semua terbentuknya  persekutuan-persekutuan rohani dan kesemarakan aktivitas gerejani,  kalau itu semua tidak diarahkan kepada kedewasaan iman umat – yaitu terbentuknya hati yang berbelas kasih (PO n.6 ). Gerakan cinta kasih adalah justru perayaan yang sebenarnya dalam kehidupan bergereja. Gereja selalu mengajarkan kepada kita bahwa puncak dari perayaan liturgi Gereja adalah ekaristi kudus. Dalam ekaristi kudus kita disatukan secara penuh dengan Kristus, baik itu lewat pertobatan, mendengarkan panggilanNya lewat ibadat Sabda, doa-doa dan membangun komitmen penyerahan diri kita untuk ikut ambil bagian dalam kurban Kristus lewat kehidupan sehari-hari, kemudian secara sakramental bersatu sepenuhnya dengan Kristus lewat komuni kudus. Setiap kali kita merayakan ekaristi kudus, kita mempunyai kesempatan untuk membaharui komitmen kita untuk mengambil bagian dalam kurban dan misi Tuhan.

Dokumen Gereja juga memberikan perhatian khusus  terhadap orang-orang miskin dan menderita. “ Walau imam bertanggung jawab atas semua orang, mereka secara istimewa bertanggung jawab atas kaum miskin dan lemah, sebab Tuhan sendiri menunjukkan betapa Ia menyatu dengan mereka ( PO n.6 ). Gerakan belas kasih harus menyapa semua orang, namun secara istimewa gerakan ini tertuju  bagi kaum miskin dan orang-orang yang menderita, dan terasingkan.  St. Hieronimus menulis : Apa gunanya dinding gemerlapan dengan butir-butir mutiara, kalau Kristus mati dalam diri orang-orang miskin ( surat 59,7 ). Ibu Theresa dari Kalkuta juga memberikan perhatian kepada orang-orang terlantar di jalanan bukan karena mereka kudus, juga bukan karena kebetulan ada dana, tetapi karena mereka adalah orang terbuang dan tersingkirkan, mereka tidak mengalami kasih dari siapa-siapa; Ibu Theresa coba memberikan perhatian kepada mereka, agar mereka menyadari bahwa Allah masih mengasihi mereka, sehingga mereka masih bisa berharap kepada Allah, secara khusus pada saat-saat akhir hidupnya mereka bisa berserah diri kepada Tuhan.

 

III. Yesus memanggil  dan mengutus kita:

Pada waktu kita ditahbiskan, kita sangat merasakan betapa kita bersyukur kepada Tuhan atas rahmat panggilanNya. Kita selalu mengatakan “ siapalah aku ini ya Tuhan, sehingga Engkau telah memilih aku ?”. Kita menemukan diri kita sebagai tidak layak dihadapan Tuhan, dan menyadari bahwa hanya oleh rahmat dan belas kasihNya, Tuhan telah membuat kita layak untuk ambil bagian dalam misiNya. Di muka kita sudah melihat pengalaman dari beberapa orang yang sebetulnya mau menolak pangilan Allah, karena merasa tidak sanggup dan tidak layak, seperti halnya:  Musa–  ( Kel.4,10 ); Yeremia – karena tidak pandai bicara dan masih terlalu muda ( Yer. 1, 6 ); Atau nabi Yesaya merasa tidak layak berhadapan dengan Tuhan, karena berbibir najis ( Yes.6,5 ). Atas semua kendala dari keterbatasan manusia itu, Tuhan memberikan janjiNya untuk menjadikan diriNya sebagai jaminan bagi efektifitas tugas perutusan yang diberikan itu. Di satu pihak Tuhan juga menuntut dari kita untuk memakai pertimbangan kita yang rasional itu  ( bdk perumpamaan tentang membuat anggaran sebelum membangun rumah – Lk. 14,28 ), namun bersamaan dengan itu, kita juga percaya bahwa Tuhanlah yang akan menyempurnakan semuanya; Bagi manusia itu sesuatu yang tidak mungkin, tapi bagi Allah segala sesuatu itu mungkin ( Mt. 19,26 ) Pointnya adalah kesadaran bahwa tanpa kesatuan dengan Tuhan dan berkatNya, kita tidak akan mampu untuk melaksanakan tugas panggilan ini. Henri J.M. Nouwen menulis buku yang sangat menarik dengan judul Life of the Beloved / Diambil-Diberkati-Dipecahkan Dibagi. Secara garis besar buku ini melukiskan empat point pokok.  Diambil : mau mengatakan bahwa sejak awal Allah mempunyai rencana untuk manusia;  Untuk Allah, hidup setiap manusia adalah panggilan. Diberkati : Setiap manusia dikasihi oleh Allah . Allah selalu menyertai manusia dengan berkatNya. Dipecahkan: Terkadang kita mengalami kebahagiaan- senang- puas; Namun terkadang kita mengalami sedih, gagal, menderita. Hidup kita seperti diobrak-abrik. Inilah bagian dari perjalanan hidup seorang utusan. Dibagikan : Hidup yang diobrak-abrik itu dimaksudkan untuk dibagi-bagikan untuk kepentingan sesama kita. Hidup yang berguna  adalah hidup yang : diambil – diberkati- dipecah-pecahkan dan dibagi-bagikan demi Tuhan, untuk kepentingan sesama.

Lalu menyusul pertanyaan : Untuk apa kita dipanggil Tuhan ? Seperti biasa pertanyaan semacam ini selalu dijawab dengan mudah  : Untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan dan misi Yesus . Jawaban ini tentu sekali sangat benar; Namun pada hemat saya, tujuan utama dan pertama sekali Tuhan memanggil kita adalah untuk ada dan tinggal   bersama Tuhan. Mewujudkan tugas perutusan adalah konsekuensi dari kesatuan dan kebersamaan  kita dengan Tuhan. Menjawab pertanyaan kedua murid Yohanes Pembaptis : “Guru, dimana  Engkau tinggal”, Yesus menjawab : “ Mari dan lihatlah” ( Yoh. 1,39 ). Kedua murid Yohanes Pembaptis diundang oleh Yesus untuk alami sendiri kebersamaan dengan Yesus. Yesus tidak langsung mengutus mereka. Demikian juga pada merekrut murid-murid pertama kalinya, Yesus selalu mengatakan “ Mari dan ikutilah Aku”; Itu maksudnya agar para murid relakan diri untuk tinggal dan hidup bersama Yesus, untuk semakin mengenal Yesus, dengan harapan bahwa akhirnya mereka mencintai Dia, lalu kemudian bersedia meneruskan karya misiNya di dunia. Sesudah kebangkitanNya, Yesus juga bertanya kepada Simon Petrus sampai tiga kali : “ Simon, adakah engkau mengasihi Aku, lebih dari pada mereka ini ?” ( Yoh. 21,15 ); Setiap kali sesudah Simon menjawab, Yesus lalu sambung : “ Gembalakanlah domba-dombaKu” (Yoh.21,15 ). Yesus mau meyakinkan Petrus bahwa tugasnya yang pertama sekali adalah belajar mengenal dan kemudian mengasihi Yesus. Ini persyaratan utama yang tidak bisa ditawar-tawar untuk seorang utusan Yesus. Semua sarana lain, seperti pengetahuan teologi dan pelbagai ketrampilan dan keahlian dalam berpastoral disamping bermakna juga untuk kedalaman dan peneguhan iman kita, secara isimewa adalah sebagai sarana untuk kemudahan pada melaksanakan tiga tugas utama kita sebagi imam.. Karena itu jalan bersama Tuhan dalam keseharian hidup  dan perjuangan kita diharapkan menjadi satu habit, dan kebutuhan serta akhirnya menjadi sumber kegembiraan untuk diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi sumber kegembiraan, karena hanya dalam relasi dan persahabatan dengan Tuhan kita menemukan kekuatan dan daya untuk menghidupkan diri dan panggilan kita. Timothy Radcliffe menulis : Kegembiraan adalah sesuatu yang lain dari ‘mekanisme persetujuan/ mekanisme persatuan. Mekanisme persetujuan adalah keselarasan sikap terhadap otoritas yang lebih tinggi, demi keamanan  kedudukan / posisi kita. … Mekanisme persetujuan cendrung melatih kita untuk menipu; sedangkan sukacita dan kegembiraan sejati mengundang kita tampil terbuka dan tampak sebagaimana apa adanya ( PBC – p.89 ). Kekayaan pengalaman iman dari hasil relasi pribadi dengan Tuhan selalu membawakan kehangatan hidup dan antusiasme yang tinggi dalam pelayanan dalam perutusan kita.

Berdoa adalah salah satu cara tradisional namun tetap aktual dan paling ampuh dalam memelihara kesatuan dan kebersamaan dengan Allah. Yesus selalu mencari waktu untuk membina relasi pribadiNya dengan BapaNya. Ini adalah sumber kekuatanNya agar tetap setia pada melaksanakan tugas perutusanNya. Pada setiap kali Ia menghadapi situasi batin yang dilematis, Ia selalu meminta petunjuk dan sekaligus peneguhan dari sang Bapa. Yesus selalu menyendiri ketempat yang sunyi, untuk berdoa kepada BapaNya. Sesudah mukjizat perbanyakan roti, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa ( Mt. 14,23; Mk.  6,46 ); Pada saat subuh sekali, sebelum mengawali kegiatanNya, Yesus pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa ( Mk.1,35; Lk.4,42 ); Sebelum memilih para muridNya, ia berdoa ( Lk. 6,12 ); Yesus membawa ketiga muridNya ke gunung untuk berdoa ( Lk.9,28 );Tempat yang sunyi adalah situasi dimana orang diundang masuk ke kedalaman batinnya, untuk berelasi dengan Allah. Tanpa membina relasi pribadi yang rutin dengan Allah, tidak mungkin kita dapat tetap menjadi utusan Tuhan yang sejati. Relasi dengan Tuhan adalah motor penggerak dari setiap karya perutusan kita. Dalam rekoleksi yang teakhir, P. Cyprianus Verbeek menyinggung bahwa berdoa tidak selalu dalam bentuk formal; Suatu kerinduan akan kehadiran Allah, berkat tuntunan Roh Kudus,  adalah juga suatu doa yang otentik, yang muncul dari kehangatan iman kita akan Allah. Allah tidak diparkir dalam tabernakel. Ia adalah Allah yang hidup, yang selalu menyertai manusia, lebih lagi menyertai para utusanNya. Hanya dengan doa, pewartaan dan kesaksian hidup kita memiliki daya transformatif untuk kehidupan kita sendiri dan juga bagi kehidupan orang lain, karena Tuhan sendiri hadir dan hidup dalam diri kita.

Sarana lain yang juga ampuh dalam membina relasi dan kebersamaan dengan Tuhan adalah refleksi dan pertobatan. Dalam refleksi dan pertobatan, Roh Kudus selalu memainkan peran utama dalam menunjukkan  jalan dan kebenaran Allah bagi kita, sekaligus menjadi daya dan sumber hidup kita. Dalam tuntunan Roh Kudus kita mengenal keberdosaan dan keterbatasan-keterbatasan kita; Kita mengenal potensi-potensi kita; Kita mengenal rencana dan kehendak Allah; Kita mengenal realitas yang ada disekitar kita serta tuntutan berupa kebutuhannya. Oleh Roh Kudus itu juga kita digerakkan menuju kepada pembaharuan diri yang terus menerus. Berkat Roh Kudus itulah Yesus mampu mengidentifikasikan dirinya dengan manusia. Karena Roh Kudus itulah Yesus tergerak membela yang lemah dan yang tidak berdaya, sebaliknya mengecam para penguasa yang menindas-koruptif dan tidak adil; Karena Roh Kudus  itulah Yesus berbelas kasih kepada yang lapar- yang sakit dan yang miskin; Karena Roh Kudus itu pula Yesus duduk makan bersama dengan orang berdosa; Karena Roh Kudus itulah Yesus mengusir semua orang yang berjual beli di halaman kenizah; Berkat Roh Kudus itu pula diri seorang pewarta mengalami transformasi sepenuhnya menjadi agen kasihTuhan bagi dunia. Berkat Roh Kudus itu pula pewartaan kita bisa mengalirkan daya hidup dan kegembiraan sejati kepada orang lain. Roh Kudus adalah prinsip perutusan Gereja. Karena itu sudah seharusnya kita selalu kembali kepadaNya untuk setiap kali menemukan kembali hakekat imamat kita. Lewat pertobatan sejati ( dibawah kuasa Roh Kudus ) kita diminta berani menelanjangi diri kita dihadapan Yesus. Penelanjangan diri mengandung dua aspek yang penting. Disatu pihak kita diminta untuk berani mengidentifikasi diri kita dihadapan Yesus, dan membongkar tembok-tembok pengaman ciptaan pribadi yang menghalangi Roh Kudus berkarya dalam diri kita. Tembok-tembok pengaman itu dapat berupa : sikap, perilaku, cara berpikir dan penghayatan tertentu yang sudah berurat akar dalam diri kita, yang membuat kita senang bersembunyi dalam keamanan yang palsu. Di lain pihak, penelanjangan diri juga bermaksud  agar kita kembali kosong dan bebas, serta siap menerima Roh Allah untuk berkarya secara bebas dan efekif dalam diri kita. Hidup yang senantiasa digerakkan oleh Roh Tuhan akan senantiasa membuat manusia selalu terbakar oleh kasih Allah.

Sarana yang lain untuk tetap tinggal dalam kebersamaan dengan Tuhan adalah kerja sama / mendengarkan sesama imam-uskup sebagai satu korps dalam perutusan, dan sekaligus mendengarkan umat. Kita semua percaya bahwa Roh Kudus bekerja secara bebas dalam diri seiap orang, terisimewa dalam diri para utusan. Yesus mengutus para muridNya berdua-dua, agar mereka bisa saling meneguhkan dan saling membantu dalam menghadapi pelbagai beban perutusan. Dekrit Presbyterorum Ordinis menulis : “ Semua imam diutus untuk bekerja sama demi hanya satu karya, entah mereka di paroki..tugas penelitian ilmiah…menyalurkan ilmu…Semua imam bekerja sama hanya demi satu tujuan, yaitu pembangunan Tubuh Kristus… Karena itu pentinglah bahwa semua imam, baik diosesan maupun religius, saling membantu, supaya mereka selalu mengerjakan karya bersama demi kebenaran ( PO. N.8 ). Semua imam ada dibawah persekutuan dengan Imam Agung, yaitu Yesus Krisus. Kesadaran akan “misi bersama” adalah sangat penting, sehingga setiap kali kita terbuka selalu kepada sesama imam, apa lagi kepada uskup, dimana beliau adalah wakil dari Imam Agung yang nyata di dunia. Dalam keterbukaan dan kerja sama inilah kita akan selalu sadar bahwa tugas dan pastoral yang dipercayakan kepada kita bukanlah proyek pribadi; Sehingga dalam kerendahan hati kita selalu berpaling kepada Dia yang mengutus kita, dan sekaligus terbuka kepada sesama rekan imam dan uskup setempat.

Kita dipanggil untuk memikul salib. Panggilan tidak pernah terlepas dari salib. Yesus berkata : “ Jika seorang  hendak mengikuti Aku, hendaklah ia menyangkal dirinya, mengangkat salibnya, lalu mengikuti Aku” ( Mt. 16,24 ). Di lain kesempatan Yesus juga berkata : “ Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, tidak dapat menjadi muridKu” ( Lk. 14,27 ). Ibu dari Yakobus dan Yohanes meminta Yesus  menempatkan kedua anaknya kelak untuk duduk di sisi kanan dan kiri Yesus, tapi Yesus menantang mereka untuk memikul salib ( Mt. 20,22 ). Dengan kematianNya di kayu salib, Yesus telah mengajarkan kepada kita bahwa tanpa salib, tidak ada kebahagiaan sejati. Salib adalah bagian dari kehidupan dan panggilan kita. Setiap kita tentu mempunyai aneka ragam pengalaman beban salib. Ada salib karena kebodohan dan keberdosaan kita; tapi tidak sedikit juga salib sebagai konsekuensi tugas perutusan. Entah karena kebodohan atau karena keberdosaan kita, maupun karena konsekuensi tugas perutusan, semuanya pantas disebut “salib keselamatan” sejauh kita dengan tulus, sikap tobat dan semangat kerendahan hati, mempersembahkannya semuanya kembali kebawah kaki salib Tuhan. Kesetiaan adalah salah satu bentuk salib yang berat, yang harus kita pikul. Kita dituntut setia terhadap Tuhan yang memanggil dan mengutus kita, setia kepada sumpah imamat kita, dan itu berarti setia kepada Gereja, termasuk didalamnya uskup, sesama rekan imam dan secara khusus kepada umat / kelompok orang yang dipercayakan kepada kita. Biasanya harga diri kita juga sangat ditentukan oleh kesetiaan terhadap umat atau kepada tugas yang dipercayakan kepada kita. Kesetiaan erat berhubungan dengan semangat kegembalaan. Seorang  gembala selalu setia mendampingi dombanya; ia tidak mau membiarkan dombanya terlantar sendirian. Sejauh pengalaman saya, umumnya umat sangat setia kepada pastornya; Mereka menghormati pastor, mendengarkan pastor, tidak membiarkan pastornya terlantar secara jasmani, mendoakan pastor, memberikan selalu yang terbaik untuk pastornya. Terkadang kita merasa sangat  malu, karna sangat diperhatikan umat. Namun sering kali kita tidak berdaya untuk menghindari semua ini. Tapi pertanyaannya adalah, apakah kita juga setia hadir dan ada di tengah  umat kita / ditengah tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita ? Bukankah kita juga harus beranggung jawab kepada umat, kepada mereka yang dipercayakan kepada kita ? Saya sangka hal inilah yang paling dituntut oleh Tuhan dari kita, lebih dari pada tanggung jawab kita kepada uskup. Kalau peraturan PNS berlaku juga untuk kita, mungkin terbanyak dari antara kita ini sudah dipecat oleh Tuhan. Tapi Tuhan selalu sabar dan setia. Namun yang menjadi ketakutan untuk kita adalah “diam” dan “sakit hatinya” umat, karena perilaku maupun karena kelalaian / ketidak-pedulian pastornya. Dalam hal ini umat diposisikan sebagai “orang kcil”. Yang pasti, sesuai dengan Injil, Tuhan selalu berpihak kepada “orang kecil”. Mungkin umat tidak akan meminta pertanggungan jawab dari kita; Namun yang jelas atas nama umat, Tuhan akan meminta dari kita pertanggungan jawab untuk itu.

Akhirnya kita juga menyadari bahwa Tuhan setia selalu berjalan bersama kita. Pada saat mengutus muridNya, Yesus berkata : “ Aku akan selalu beserta kamu sampai akhir dunia” ( Mt. 28.20 ). Anthony Bannon mengajak kita untuk tidak takut seperti Petrus, yang akhirnya tenggelam, karena ia hanya melihat kedalam dirinya sendiri, matanya tidak terarah kepada Yesus; Kita diajak untuk tidak takut seperti pemuda yang kaya itu, yang sangat terikat dengan cara hidupnya yang lama, lalu mundur; Kita diajak untuk tidak takut seperti orang yang dipercayakan satu talenta itu, takut ambil resiko, lalu menyembunyikannya di dalam tanah; atau seperti Pilatus,  yang karena takutnya,  coba menghindar dari permasalahan Yesus lalu mencuci tangan ( Peter on the Shore : Vocation in Scripture and real life ). Sebaliknya kita diminta harus berani terus berlangkah mewujudkan perutusan yang telah dipercayakan kepada kita, karena Tuhan menyertai kita. Paus Yohanes Paulus II lewat surat apostoliknya “ Novo Millenio Ineunte, mengajak kita untuk berani bertolak ke tempat yang lebih dalam – Duc in altum. Kita jangan hanya membuang jala di tepian, sekedar untuk aktualisasi diri. Pada memperjuangkan hak-hak orang banyak / orang kecil, uskup  Oscar Romero bertanya kepada temannya, apakah ia takut mati. Temannya mengatakan bahwa ia tidak takut mati. Uskup Romero berkata : tapi aku sangat takut akan kematian. Ternyata uskup Romero kemudian berani menyerahkan nyawanya demi memperjuangkan hak-hak kaum miskin dan tertindas. Keberanian itu datangnya dari Tuhan, berupa karya Roh Kudus; keberanian itu bukanlah semangat  manusiawi. Hendaknya kita selalu berdoa, agar Tuhan menguatkan iman kta, supaya kita setia dan tidak takut dan tidak bimbang dalam menyerahkan hidup dan panggilan kita kebawah pimpinan rahmat dan belas kasih Allah.

Saya menutup refleksi ini dengan mengutip apa yang ditulis oleh Doug Banister – dalam bukunya Sacred Quest / Haus akan Allah : Banyak pria dan wanita yang baik, yang dengan susah payah menjalani hidup mereka, tanpa mengenal visi unik yang Allah miliki untuk mereka.  Ini adalah sebuah tragedi, baik bagi diri mereka sendiri, mapun bagi orang lain, yang akan disentuh oleh pelayanan mereka “- p.19.

 

 

Disampaikan dalam Rekoleksi para Imam Se-Keuskupan Malang

Prigen, 7 Maret 2012

oleh : Pater Martin M. Anggut, SVD

 

 

 

=============================================

BERILAH KEPADA HAMBAMU INI

HATI YANG PAHAM MENIMBANG PERKARA

(bdk. 1 Raj 3: 9)

 

Dalam rekoleksi imam bulan Maret 2012 yang lalu, ada pembicaraan (sharing/diskusi) menarik tentang istilah/ungkapan (jarwo dhosok) “PASTUR”, yang dimaknai sebagai “LEPAS ING PITUTUR”. Artinya (kurang lebih), ketika seseorang sudah menjadi imam, maka diandaikan tidak butuh/tidak perlu lagi dinasihati tetapi justru menjadi sumber nasihat. Orang yang menjadi sumber nasihat artinya tergolong orang bijaksana. Orang yang bijaksana adalah orang yang hatinya paham untuk menimbang  aneka perkara, baik perkara dirinya sendiri maupun perkara orang lain. Dalam Kitab 1 Raja-Raja 3: 1-12, seseorang menjadi bijaksana karena diberi anugerah kebijaksanaan oleh Tuhan seperti Raja Salomo. Kalo menjadi bijaksana semata-mata hanya anugerah, maka hanya sedikit saja orang bijaksana di dunia ini. Faktanya, ada banyak orang yang bijaksana di dunia ini, pertama-tama bukan karena semata-mata “pemberian dari atas” tetapi terlebih karena mengalir dari perjuangan dan pergulatan hidupnya. Persoalannya : bagaimana kita bisa menjadi orang bijaksana atau mengusahakan hati yang paham menimbang perkara seandainya tidak mendapat anugerah istimewa seperti Raja Salomo?

 

MANAJEMEN HATI

Menurut St. Ignatius Loyola, seseorang bisa memiliki hati yang paham menimbang perkara melalui yang namanya manajemen hati. Kita tahu bahwa hati adalah pusat hidup manusia, dimana Allah menaruh suaraNya atau kehendakNya sekaligus melalui gerak hati jugalah, dinamika hidup kita diatur, diproses, dikendalikan, dst. Bagi St. Ignatius, seseorang yang mampu me-manage hidupnya lewat gerak hatinya, maka diandaikan orang tersebut juga mampu untuk membantu orang lain dalam menimbang perkara-perkara. Manajemen hati ala St. Ignatius ini dijalankan melalui kebiasaan-kebiasaan rutin dan praktis yang disebut dengan PEMERIKSAAN HATI/BATIN, baik pemeriksaan hati umum (Latihan Rohani no.32-43), pemeriksaan hati khusus (Latihan Rohani no.24-31) maupun pemeriksaan hati komuniter/bersama.

Bagi St. Ignatius, pemeriksaan hati adalah sebuah doa, bukan sekedar teknik/cara untuk mengenali dosa atau kelemahan. Sebagai sebuah doa, diandaikan bahwa orang yang menjalani kebiasaan ini memiliki sikap jujur terhadap dirinya sendiri. Sikap jujur seseorang paling mudah ditampakkan dengan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan-nya (bukan pikiran tentang perasaan). Sebagai orang yang hidup dalam “budaya timur”, kita terbiasa “menutup/menyembunyikan” rasa perasaan kita karena  dianggap “tidak pantas/tabu” untuk menampakkan rasa perasaan kita. Padahal melalui rasa perasaan inilah, gerak hati seseorang dan “campur tangan rahmat Tuhan” paling mudah dikenali dalam dinamika hidup kita.

Kebiasaan pemeriksaan hati ala St Ignatius ini masih mengandaikan syarat lain lagi yaitu pengenalan akan sifat/karakter/ciri diri seseorang. Dengan pengenalan diri ini, pada akhirnya seseorang yang melakukan kebiasaan pemeriksaan hati akan tahu dalam membedakan gerak “roh-roh” yang sesungguhnya mengatur gerak hidupnya lewat dinamika hatinya.

Dengan kebiasaan pemeriksaan hati secara terus menerus setiap hari, pada akhirnya seseorang akan menemukan aneka pola : pola dinamika hatinya, pola titik lemah dan titik kekuatan hidupnya, pola Allah membisikkan kehendakNya, dst. Pengenalan akan “aneka pola” inilah yang nantinya akan membantu seseorang untuk mampu membedakan hal-hal yang disebut sebagai: sangat penting atau sekedar perlu, sangat mendesak atau kurang mendesak, hal utama atau sekedar sampingan, dst. Kemampuan untuk membuat prioritas/urutan yang sederhana ini, pada akhirnya akan membentuk sebuah habitus yang mempertajam ketrampilan seseorang dalam proses menimbang-nimbang perkara yang berkaitan dengan hidupnya sendiri maupun hidup orang lain.

MENIMBANG PERKARA

Pengenalan akan “aneka pola” yang bergerak dalam hati kita, tentu belumlah cukup untuk menjadi landasan dalam membuat sebuah keputusan yang bijak, masih diperlukan bantuan lain yaitu “aneka informasi” tentang perkara-perkara. Informasi-informasi yang akurat dan tepat merupakan sarana penting untuk memetakan (mengenali) perkara yang dihadapi, sehingga persoalannya menjadi terang benderang dan  mudah dipilah-pilah (mana yang penting, mana yang tidak penting, dsb) dan pada akhirnya proses menimbang-nimbang bisa dilakukan lebih matang.

Sebagai imam, secara umum kita sadar bahwa ilmu dasar yang kita kuasai adalah filsafat dan teologi. Maka, dengan rendah hati, kita  harus berani membatasi ruang lingkup perkara-perkara yang kita bantu proses pertimbangannya, sehingga perkara-perkara iman dan moral-lah yang menjadi  fokus utama pelayanan kita. Kecuali, ada imam yang memiliki latar belakang ilmu lain diluar filsafat dan teologi. Maka, cakupan perkara bisa diperluas.

Mengingat bahwa perkara-perkara tentang iman dan moral terus berkembang di sepanjang jaman, menjadi penting bagi kita sebagai pelayan umat untuk terus menerus meng-upgrade informasi dan pengetahuan kita tentang perkara-perkara iman dan moral itu lewat berbagai cara (membaca, ikut seminar, kursus-kursus, dsb). Tidak kalah pentingnya adalah kerendahan hati kita untuk mau bertanya kepada mereka yang lebih tahu. Dengan terus menerus memperkaya khazanah ilmu dan informasi tentang iman dan moral, diandaikan kita semakin jeli dan tajam dalam menimbang-nimbang aneka perkara.

Menurut St. Ignatius, ketrampilan dan ketajaman untuk menimbang-nimbang diperoleh melalui latihan-latihan (exercises) terus menerus. Tidak ada orang bijak atau keputusan yang baik yang sifatnya instan dalam pandangan Ignatius, kecuali ada campur tangan langsung dari yang Ilahi. Melalui pengalaman “jatuh bangun”, melalui pertimbangan-pertimbangan yang benar dan yang salah, melalui logika lurus dan logika bengkok, dst, ketrampilan dan ketajaman untuk menimbang perkara pelan-pelan akan diperoleh. Menurut St. Ignatius, hati-lah yang akan merekam bentuk latihan-latihan ini dan ketika kita mampu me-manage dan bekerjasama dengan hati secara rutin, maka rekaman-rekaman dalam hati kita itu akan menambah kemampuan kita dalam menimbang perkara dan akhirnya mampu melahirkan keputusan yang bijaksana.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa ada 3 proses untuk menjadi bijaksana atau memiliki hati yang mampu menimbang perkara ala St. Ignatius yaitu terus menerus berlatih (exercises), belajar dari pengalaman dan mampu mengelola hati. AMDG

 

Seminari Tinggi Praja Malang

A. Mulyadi  SJ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *